Recent Posts

Suatu hari pada awal bulan September. Ketika itu aku pulang dari kuliah. Dan di meja komputerku tergeletak sebuah amplop. Kubuka amplop itu yang memang ditujukan kepadaku. Kubaca tulisan pada kertas yang terdapat di dalam amplop tersebut. “Ibu minta maaf. Ibu telah mengetahui kelainanmu dan juga telah membaca ceritamu yang dimuat pada sebuah situs. Tapi ibu tidak akan marah. Karena ibu juga pernah mengalaminya. Tolong coret-coretan ibu pada kertas ini kamu ketik dengan kata-katamu dan kirim ke situs yang sama. Terima kasih”. Coret-coretan ibu di bawah suratnya dan dibaliknya lalu kuketik dengan kata-kataku sendiri Dan hasilnya adalah seperti di bawah ini.

Suatu hari ibuku yang berusia 45 tahun pergi bersama ibu-ibu tetangga yang juga sebaya dengan ibuku ke rumah Ibu Tanti yang pindahan dari luar kota. Ibuku bersama Ibu Nunik, Ibu Desy dan Ibu Indah (nama-nama di atas menurut ibuku bukan nama yang sebenarnya). Mereka berbincang-bincang di ruang tamu. Ibu Desy ternyata menemukan sebuah VCD porno di tumpukan majalah.
Dia bertanya, “Bu Tanti.., Ini punya siapa?”
Bu Tanti kelihatan terkejut dan berusaha merebut VCD itu sambil berkata, “Jangan Bu Desy.., Saya malu..”
Lalu dijawab oleh Ibu Desy, “Diputar boleh kan?”
Ibu Tanti hanya diam saja ketika Ibu Desy memasang VCD itu ke VCD player dan memutarnya.

Pada mulanya ibuku dan ibu-ibu lainnya hanya diam saja melihat adegan dalam film itu. Tapi beberapa menit kemudian Ibu Tanti terlihat mengangkat dasternya sampai perutnya kelihatan dan tangannya masuk ke dalam CD-nya. Ibu Indah yang melihat itu berkata, “Mari saya bantu Bu..”, Sambil dia menghampiri Ibu Tanti. Dilepaskannya daster yang dipakai Ibu Tanti. Kemudian Ibu Indah duduk di belakang Ibu Tanti, dari belakang tangannya masuk ke dalam CD yang dipakai Ibu Tanti. Melihat hal itu Ibu Nunik dan Ibu Desy yang duduk berdampingan saling memandang dan entah siapa yang mulai keduanya sudah berdiri saling berciuman. Mereka saling melepas pakaian yang dipakai dan menyisakan pakaian dalam. Begitu juga dengan ibuku yang juga berdiri melepas pakaiannya dan sekaligus melepas BH-nya.

Ibuku meremas payudaranya sendiri kemudian menghampiri Ibu Nunik dan Ibu Desy yang sedang berciuman. Dari belakang ibuku melepas BH yang dipakai Ibu Nunik dan menempelkan kedua payudaranya ke punggung Ibu Nunik. Tangannya juga maju ke depan meremas kedua payudara Ibu Nunik sehingga Ibu Nunik melepaskan ciuman pada bibir Ibu Desy. Ibu Desy lalu melepas BH-nya dan memeluk Ibu Nunik dari depan. Sementara itu Ibu Tanti dan Ibu Indah sudah telanjang bulat, saling berpelukan dan berciuman.

Kejadian yang paling dinikmati ibuku pada waktu itu adalah ketika ibuku telentang. Dia diduduki Ibu Tanti sehingga kedua liang kenikmatan mereka saling bergesekan. Sementara payudara kirinya dihisap oleh Ibu Desy dan payudara kanannya diremas Ibu Indah. Sedangkan Ibu Tanti sendiri saling berciuman dan saling meremas payudara dengan Ibu Nunik. Ibu Desy dan Ibu Indah juga saling meremas payudara dibantu kedua tangan ibuku. Kajadian itu sungguh menegangkan, bergantian mereka saling meremas payudara, saling menggesek liang kenikmatan dan berakhir dengan orgasme yang begitu dahsyat di antara mereka.

Setelah sampai di rumah, ibuku yang melewati kamarku mendengar desahan-desahan dari dalam kamarku. Ibuku penasaran dan mengintip dari lubang kunci pintu kamarku dan melihat aku dan Ambar sedang berdiri saling menggesekkan kemaluan dan kedua payudara. Ibuku langsung pergi ke belakang dan melewati kamar Inem (juga bukan nama yang sebenarnya) yang terbuka. Dilihatnya Inem sedang tidur dengan rok yang tersingkap sampai pahanya kelihatan dan kancing baju bagian atas yang terbuka. Gairah ibuku muncul ketika teringat kejadian di rumah Ibu Tanti sehingga ibuku menghampiri Inem. Dielusnya paha Inem dan bibirnya mencium bibir Inem. Inem kelihatan terbangun tetapi matanya masih terpejam dan kelihatan menikmati ciuman dari ibuku. Inem kemudian membuka matanya dan kaget. Dilepaskannya ciuman ibuku sambil berkata berulang-ulang.

“Jangan Bu..” Ibuku membungkam perkataan Inem dengan ciumannya dan akhirnya Inem pun kelihatan menikmatinya. Bahkan lidahnya menjilat lidah ibuku. Ibuku semakin berani. Kancing baju Inem dilepaskan satu persatu lalu ibuku meremas payudara Inem yang lumayan besar hampir sama dengan payudara ibuku yang berukuran 36B. Ibuku lalu membalikkan tubuh Inem sehingga Inem tengkurap. BH Inem dilepaskan dari belakang dan didudukinya pantat Inem. Tangan ibuku mengusap-usap punggung Inem, lalu salah satu tangannya turun ke bawah meremas payudara Inem sedangkan tangan satunya melepaskan bajunya sendiri. Setelah itu ibuku membalikkan lagi tubuh Inem. Dilihatnya Inem tersenyum. Ibuku kemudian menghisap payudara Inem dan kedua tangan Inem melepas BH yang dipakai ibuku sehingga kini mereka saling meremas kedua payudara pasangannya.

Setelah beberapa lama saling meremas payudara, ibuku menindih tubuh Inem dan kedua payudara mereka saling menempel. Keduanya mendesah pelan. Ibuku mencium kembali bibir Inem dan tangannya melepas celana panjangnya. Ibuku kemudian duduk di samping Inem sambil tetap menciumnya. Kedua tangannya melepaskan apa yang masih tersisa di tubuh Inem. Inem kini sudah telanjang bulat. Dikangkangkannya kaki Inem sehingga bibir kemaluannya merekah. Bibir ibuku turun ke bawah dan langsung menghisap dan menjilati liang kemaluan Inem sambil tangan kanannya meremas kedua payudara Inem bergantian dan tangan kirinya mengelus pahanya, dilanjutkan jarinya yang masuk ke lubang kenikmatan Inem.

Lama sekali ibuku memperlakukan Inem dengan mesra. Sampai Inem mengerang berkali-kali. Inem akhirnya lemas setelah liang kenikmatannya dikocok dengan jari ibuku disamping dihisap dan dijilat. Ibuku bangkit dari tempat tidur dan mengambil bajunya. Tiba-tiba Inem dari belakang memeluk ibuku dan tangannya masuk ke dalam CD yang masih dipakai ibuku. “Nem sabar dulu ya.., Kita bergabung dengan Mitha dan temannya..” Sambil menarik Inem yang masih telanjang. Ibuku dan Inem masuk ke kamarku dan ternyata aku dan Ambar sudah pergi.

Inem memegang sesuatu dan dari belakang melepas CD yang dipakai ibuku. Ibuku hanya diam saja. Inem memasukkan benda yang dipegangnya, yang ternyata sebuah dildo ke dalam liang kemaluan ibuku. Perlahan Inem mengeluarmasukkan dildo itu sambil mengocoknya. Ibuku mengerang keras dan Inem maju ke depan, ujung dildo yang satunya dimasukkannya ke dalam lubang kemaluannya sendiri. Inem mengerang lebih keras dari ibuku dan disambut dengan ciuman dari ibuku. Mereka saling berciuman, berjilatan lidah, menggesekkan kedua payudara yang menempel dan mengeluar masukkan dildo ke dalam liang kenikmatan mereka ditambah dengan kedua tangan mereka yang saling meremas pantat mereka yang kenyal hingga mereka mencapai orgasme.

Setelah kejadian itu Inem berhenti bekerja dari rumahku. Ibuku mengira Inem marah karena diperlakukan begitu oleh ibuku. Tetapi ternyata tidak, setelah ibuku memergoki Inem sedang bermesraan dengan teman sesama pembantu di tempatnya bekerja yang dulu. Memang sebelum aku menjadi lesbian, Inem pernah bercerita kepadaku bahwa dia pindah ke sini karena di tempatnya bekerja yang dulu pernah waktu tidur digerayangi tubuhnya oleh temannya sesama pembantu wanita. Dia marah lalu berhenti bekerja dari tempatnya bekerja yang dulu.

Ternyata Ibuku Lesbian

By Lucy → 30 September 2019
Aku mahasiswa arsitektur tingkat akhir di sebuah perguruan tinggi swasta di Bandung, dan sudah saatnya melaksanakan tugas akhir sebagai prasyarat kelulusan. Beruntung, aku kebagian seorang dosen yang asyik dan kebetulan adalah seorang ibu. Rani namanya, di awal umur tigapuluh, luar biasa cantik dan cerdas. Cukup sulit untuk menggambarkan kejelitaan sang ibu. Bersuami seorang dosen pula yang kebetulan adalah favorit anak-anak karena moderat dan sangat akomodatif. Singkat kata banyak teman-temanku yang sedikit iri mengetahui aku kebagian pembimbing Ibu Rani. "Dasar lu... enak amat kebagian ibu yang cantik jelita..." Kalau sudah begitu aku hanya tersenyum kecil, toh bisa apa sih pikirku.

Proses asistensi dengan Ibu Rani sangat mengasyikan, sebab selain beliau berwawasan luas, aku juga disuguhkan kemolekan tubuh dan wajah beliau yang diam-diam kukagumi. Makanya dibanding teman-temanku termasuk rajin berasistensi dan progres gambarku lumayan pesat. Setiap asistensi membawa kami berdua semakin akrab satu sama lain. Bahkan suatu saat, aku membawakan beberapa kuntum bunga aster yang kutahu sangat disukainya. Sambil tersenyum dia berucap, "Kamu mencoba merayu Ibu, Nic?"
Aku ingat wajahku waktu itu langsung bersemu merah dan untuk menghilangkan grogiku, aku langsung menggelar gambar dan bertanya sana-sini. Tapi tak urung kuperhatikan ada binar bahagia di mata beliau. Setelah kejadian itu setiap kali asitensi aku sering mendapati beliau sedang menatapku dengan pandangan yang entah apa artinya, beliau makin sering curhat tentang berbagai hal. Asistensi jadi ngelantur ke bermacam subyek, dari masalah di kantor dosen hingga anak tunggalnya yang baru saja mengeluarkan kata pertamanya. Sesungguhnya aku menyukai perkembangan ini namun tak ada satu pun pikiran aneh di benakku karena hormat kepada beliau.
Hingga... pada saat kejadian. Suatu malam aku asistensi sedikit larut malam dan beliau memang masih ada di kantor pukul 8 malam itu. Yang pertama terlihat adalah mata beliau yang indah itu sedikit merah dan sembab. "Wah, saat yang buruk nih", pikirku. Tapi dia menunjuk ke kursi dan sedikit tersenyum jadi kupikir tak apa-apa bila kulanjutkan. Setelah segala proses asistensi berakhir aku memberanikan diri bertanya, "Ada apa Bu? Kok kelihatan agak sedih?"
Kelam menyelimuti lagi wajahnya meski berusaha disembunyikannya dengan senyum manisnya.
"Ah biasalah Nic, masalah."
Ya sudah kalau begitu aku segera beranjak dan membereskan segala kertasku. Dia terdiam lama dan saat aku telah mencapai pintu, barulah...
"Kaum Pria memang selalu egois ya Nico?"
Aku berbalik dan setelah berpikir cepat kututup kembali pintu dan kembali duduk dan bertanya hati-hati.
"Kalau boleh saya tahu, kenapa Ibu berkata begitu? Sebab setahu saya perempuan memang selalu berkata begitu, tapi saya tidak sependapat karena certain individual punya ego-nya sendiri-sendiri, dan tidak bisa digolongkan dalam suatu stereotype tertentu."
Matanya mulai hidup dan kami beradu argumen panjang tentang subyek tersebut dan ujung-ujungnya terbukalah rahasia perkimpoiannya yang selama ini mereka sembunyikan. Iya, bahwa pasangan tersebut kelihatan harmonis oleh kami mahasiswa, mereka kaya raya, keduanya berparas good looking, dan berbagai hal lain yang bisa membuat pasangan lain iri melihat keserasian mereka. Namun semua itu menutupi sebuah masalah mendasar bahwa tidak ada cinta diantara mereka. Mereka berdua dijodohkan oleh orang tua mereka yang konservatif dan selama ini keduanya hidup dalam kepalsuan. Hal ini diperburuk oleh kasarnya perlakuan Pak Indra (suami beliau) di rumah terhadap Bu Rani (fakta yang sedikit membuatku terhenyak, ugh betapa palsunya manusia sebab selama ini di depan kami beliau terlihat sebagai sosok yang care dan gentle).
Singkat kata beliau sambil terisak menumpahkan isi hatinya malam itu dan itu semua membuat dia sedikit lega, serta membawa perasaan aneh bagiku, membuat aku merasa penting dan dekat dengan beliau. Kami memutuskan untuk jalan malam itu, ke Lembang dan beliau memberi kehormatan bagiku dengan ikut ke sedan milikku. Sedikit gugup kubukakan pintu untuknya dan tergesa masuk lalu mengendarai mobil dengan ekstra hati-hati. Dalam perjalanan kami lebih banyak diam sambil menikmati gubahan karya Chopin yang mengalun lembut lewat stereo. Kucoba sedikit bercanda dan menghangatkan suasana dan nampaknya lumayan berhasil karena beliau bahkan sudah bisa tertawa terbahak-bahak sekarang.
"Kamu pasti sudah punya pacar ya Nico?"
"Eh eh eh", aku gelagapan.
Iya sih emang, bahkan ada beberapa, namun tentu saja aku tak akan mengakui hal tersebut di depannya.
"Nggak kok Bu... belum ada... mana laku aku, Bu..." balasku sambil tersenyum lebar.
"Huuu, bohong!" teriaknya sambil dicubitnya lengan kiriku.
"Cowok kayak kamu pasti playboy deh... ngaku aja!"
Aku tidak bisa menjawab, kepalaku masih dipenuhi fakta bahwa beliau baru saja mencubit lenganku. Ugh, alangkah berdebar dadaku dibuatnya. Beda bila teman wanitaku yang lain yang mencubit.
Larut malam telah tiba dan sudah waktunya beliau kuantar pulang setelah menikmati jagung bakar dan bandrek berdua di Lembang. Daerah Dago Pakar tujuannya dan saat itu sudah jam satu malam ketika kami berdua mencapai gerbang rumah beliau yang eksotik.
"Mau nggak kamu mampir ke rumahku dulu, Nic?" ajaknya.
"Loh apa kata Bapak entar Bu?" tanyaku.
"Ah Bapak lagi ke Kupang kok, penelitian."
Hm... benakku ragu namun senyum manis yang menghiasi bibir beliau membuat bibirku berucap mengiyakan. Aku mendapati diriku ditarik-tarik manja oleh beliau ke arah ruang tamu di rumah tersebut akan tetapi benakku tak habis berpikir, "Duh ada apa ini?"
Sesampainya di dalam, "Sst... pelan-pelan ya... Detty pasti lagi lelap." Kami beringsut masuk ke dalam kamar anaknya dan aku hanya melihat ketika beliau mengecup kening putrinya yang manis itu pelan. Kami berdua bergandengan memasuki ruang keluarga dan duduk bersantai lalu mengobrol lama di sana. Beliau menawarkan segelas orange juice. "Aduh, apa yang harus aku lakukan", pikirku.
Entah setan mana yang merasuk diriku ketika beliau hendak duduk kembali di karpet yang tebal itu, aku merengkuh tubuhnya dalam sekali gerakan dan merangkulnya dalam pangkuanku. Beliau hanya terdiam sejenak dan berucap, "Kita berdua telah sama-sama dewasa dan tahu kemana ini menuju bukan?" Aku tak menjawab hanya mulai membetulkan uraian rambut beliau yang jatuh tergerai dan membawa tubuh moleknya semakin erat ke dalam pelukanku, dan kubisikkan di telinganya, "Nico sangat sayang dan hormat pada Ibu, oleh karenanya Nico tak akan berbuat macam-macam." Ironisnya saat itu sesuatu mendesakku untuk mengecup lembut cuping telinga dan mengendus leher hingga ke belakang kupingnya. Kulihat sepintas beliau menutup kelopak matanya dan mendesah lembut. "Kau tahu aku telah lama tidak merasa seperti ini Nic..." Kebandelanku meruyak dan aku mulai menelusuri wajah beliau dengan bibir dan lidahku dengan sangat lembut dan perlahan. Setiap sentuhannya membuat sang ibu merintih makin dalam dan beliau merangkul punggungku semakin erat. Kedua tanganku mulai nakal merambah ke berbagai tempat di tubuh beliau yang mulus wangi dan terawat.
Aku bukanlah pecinta ulung, infact saat itu aku masih perjaka namun cakupan wawasanku tentang seks sangat luas. "Tunggu ya Nic... ibu akan bebersih dulu." Ugh apa yang terjadi, aku tersadar dan saat beliau masuk ke dalam, tanpa pikir panjang aku beranjak keluar dan segara berlari ke mobil dan memacunya menjauh dari rumah Ibu Ir. Rani dosenku, sebelum segalanya telanjur terjadi. Aku terlalu menghormatinya dan... ah pokoknya berat bagiku untuk mengkhianati kepercayaan yang telah beliau berikan juga suaminya. Sekilas kulihat wajah ayu beliau mengintip lewat tirai jendela namun kutegaskan hatiku untuk memacu mobil dan melesat ke rumah Tina.
Sepanjang perjalanan hasrat yang telah terbangun dalam diriku memperlihatkan pengaruhnya. Aku tak bisa konsentrasi, segala rambu kuterjang dan hanya dewi fortuna yang bisa menyebabkan aku sampai dengan selamat ke pavilyun Tina. Tina adalah seorang gadis yang aduhai seksi dan menggairahkan, pacar temanku. Namun sejak dulu dia telah mengakui kalau Tina menyukaiku. Bahkan dia telah beberapa kali berhasil memaksa untuk bercumbu denganku. Hal yang kupikir tak ada salahnya sebagai suatu pelatihan buatku. Aku mengetuk pintu kamar paviliunnya tanpa jawaban, kubuka segera dan Tina sedang berjalan ke arahku, "Sendirian?" tanyaku. Tina hanya mengangguk dan tanpa banyak ba bi bu, aku merangsek ke depan dan kupagut bibirnya yang merah menggemaskan. Kami berciuman dalam dan bernafsu. "Kenapa Nic?" di sela-sela ciuman kami, Tina bertanya, aku tak menjawab dan kuciumi dengan buas leher Tina, hingga dia gelagapan dan menjerit lirih. Tangan kananku membanting pintu sementara tangan kiriku dengan cekatan mendekap Tina makin erat dalam pelukanku. "Brak!" kurengkuh Tina, kuangkat dan kugendong ke arah kasur. "Ugh buas sekali kamu Nic..." Sebuah senyum aneh menghiasi wajah Tina yang jelita.
Kurebahkan Tina dan kembali kami berpagutan dalam adegan erotis yang liar dan mendebarkan. Aku bergeser ke bawah dan kutelusuri kaki Tina yang jenjang dengan bibirku dan kufokuskan pada bagian paha dalamnya. Kukecup mesra betis kanannya. Tina hanya mengerang keenakan sambil cekikikan lirih karena geli. Kugigit-gigit kecil paha yang putih dan mulus memikat itu sambil tanganku tak henti membelai dan merangsang Tina dengan gerakan-gerakan tangan dan jari yang memutar-mutar pada payudaranya yang seksi dan ranum. Dengan sekali tarik, piyama yang dikenakannya terlepas dan kulemparkan ke lantai, sementara aku bergerak menindih Tina.
Kami saling melucuti hingga tak ada sehelai benang pun yang menjadi pembatas tarian kami yang makin lama makin liar. "Nico ahhh... Nico... Nico..." Tina terus berbisik lirih ketika kukuakkan kedua kakinya dan aku menuju kewanitaannya yang membukit menantang. Kusibakkan rambut pubic-nya yang lebat namun rapih dan serta merta aromanya yang khas menyeruak ke hidungku. Bentuknya begitu menantang sehingga entah kenapa aku langsung menyukainya. Kuhirup kewanitaan Tina dengan keras dan lidahku mulai menelusuri pinggiran labia minora-nya yang telah basah oleh cairan putih bening dengan wangi pheromone menggairahkan. Kubuka kedua labia-nya dengan jemariku dan kususupkan lidahku pelan diantaranya menyentuh klitorisnya yang telah membesar dan kemerahan.
"Aaagh..." Tina menjerit tertahan, sensasi yang dirasakannya begitu menggelora dan semakin membangkitkan semangatku. Detik itu juga aku memutuskan untuk melepas status keperjakaanku yang entah apalah artinya. Sejenak pikiranku melambung pada Ibu Rani, ah apa yang terjadi besok? Kubuang jauh-jauh perasaan itu dan kupusatkan perhatianku pada gadis cantik molek yang terbaring pasrah dan menantang di hadapanku ini. Tina pun okelah. Malam ini aku akan bercinta dengannya. Dengan ujungnya yang kuruncingkan aku menotol-notolkan lidahku ke dalam kewanitaan Tina hingga ia melenguh keras panjang dan pendek.
Lama, aku bermain dengan berbagai teknik yang kupelajari dari buku. Benar kata orang tua, membaca itu baik untuk menambah pengetahuan. Kuhirup semua cairan yang keluar darinya dan semakin dalam aku menyusupkan lidahku menjelajahi permukaan yang lembut itu semakin keras lenguhan yang terdengar dari bibir Tina. Aku naik perlahan dan kuciumi pusar, perut dan bagian bawah payudaranya yang membulat tegak menantang. Harus kuakui tubuh molek Tina, pacar temanku ini sungguh indah. Lidahku menjelajahi permukaan beledu itu dengan penuh perasaan hingga sampai ke puting payudaranya yang kecoklatan. Aku berhenti, kupandangi lama hingga Tina berteriak penasaran, "Ayo Nic... tunggu apa lagi sayang."
Aku berpaling ke atas, di hadapanku kini wajah putih jelitanya yang kemerahan sambil menggigit bibir bawahnya karena tak dapat menahan gejolak di dadanya. Hmm... pemandangan yang jarang-jarang kudapat pikirku. Tanganku meraih ke samping, kusentuh pelan putingnya yang berdiri menjulang sangat menggairahkan dengan telunjukku. "Aaah Nic... jangan bikin aku gila, please Nic..." Dengan gerakan mendadak, aku melahap puting tersebut mengunyah, mempermainkan, serta memilinnya dengan lidahku yang cukup mahir. (Aku tahu Tina sangat sensitif dengan miliknya yang satu itu, bahkan hanya dengan itupun Tina dapat orgasme saat kami sering bercumbu dulu). Tina menjerit-jerit kesenangan. Kebahagian melandanya hingga ia maju dan hendak merengkuh badanku.
"Eit, tunggu dulu Non... jangan terlalu cepat sayang", aku menjauh dan menyiksanya, biar nanti juga tahu rasanya multi orgasme. Nafas Tina yang memburu dan keringat mengucur deras dari pori-porinya cukup kurasa. Aku bangkit dan pergi ke dapur kecil minum segelas air dingin. "Jaaahat Nico... jahaat..." kudengar seruannya. Saat aku balik, tubuhnya menggigil dan tangannya tak henti merangsang kewanitaanya. Aku benci hal itu, dan kutepis tangannya, "Sini... biar aku..." Aku kembali ke arah wajahnya dan kupagut bibirnya yang merah itu dan kami bersilat lidah dengan semangat menggebu-gebu. Kuraih tubuh mungilnya dalam pelukanku dan kutindih pinggulnya dengan badanku. "Uugh..." dia merintih di balik ciuman kami. Kedua bibir kami saling melumat dan menggigit dengan lincahnya, seolah saling berlomba.
Birahi dan berbagai gejolak perasaan mendesak sangat dahsyat. Sangat intensif menggedor-gedor seluruh syaraf kami untuk saling merangsang dan memuaskan sang lawan. Kejantananku minta perhatian dan mendesak-desak hingga permukaannya penuh dengan guratan urat yang sangat sensitif. Duh... saatnya kah? aku bimbang sejenak namun kubulatkan tekadku dan dengan segera aku menjauh dari Tina. Tanpa disuruh lagi Tina meregangkan kedua pahanya dan menyambut kesediaanku dengan segenap hati. Punggungnya membusur dan bersiap. Sementara aku menyiapkan batang kemaluanku dan membimbingnya menuju ke pasangannya yang telah lumer licin oleh cairan kewanitaannya. Oh my God... sensasi yang saat itu kurasakan sangat mendebarkan, saat-saat pertamaku. Gigitan bibir bawah Tina menunjukkan ketidaksabarannya dan dengan kedua betisnya dia mendesak pinggulku untuk bergerak maju ke depan. Akhirnya keduanya menempel. Kubelai-belaikan permukaan kepala kejantananku ke klitorisnya dan Tina meraung, masa sih begitu sensasional? Biasa sajalah. Kudesak ke depan perlahan (aku tahu ini merupakan hal pertama bagi dia juga) sial... mana muat? Ah pasti muat. Kusibakkan dengan kedua jemariku sambil pinggulku mendesak lagi dengan lembut namun mantap. Membelalak Tina ketika batang kemaluanku telah menyeruak di antara celah kewanitaannya.
Sambil matanya mendelik, menahan nafas dan menggigit-gigit bibir bawahnya, Tina membimbing dengan memegang batang kemaluanku, "Hmm... Nic? jangan ragu sayang..." Dengan mantap aku menghentakkan pinggulku ke depan agar Tina menjerit. Loh sepertiganya telah amblas ke dalam. Hangat, basah, ketat sangat sensasional. Pinggang kugerakkan ke kiri dan ke kanan. Sementara Tina kepedasan dan air matanya sedikit mengintip dari ujung matanya yang berbinar indah itu.
"Kenapa sayang?" tanyaku.
"Nggak pa-pa Nic... terusin aja sayang... Aku adalah milikmu, semuanya milikmu..."
"Sungguh..."
Aku tahu pastilah mengharukan bagi gadis manapun meski sebandel Tina, apabila kehilangan keperawanannya. Maka untuk menenangkannya aku merengkuh tubuhnya dan kuangkat dalam pelukan, proses itu membuat kemaluanku semakin dalam merasuk ke dalam Tina. Dia mendelik keenakan, matanya yang indah merem melek dan bibirnya tak henti mendesah, "Nic sayaaang... ugh nikmatnya." Saat itu aku sedang memikirkan Ibu Rani. Aneh, mili demi mili batang kemaluanku menghujam deras ke dalam diri Tina dan semakin dalam serta setiap kali aku menggerakkan pinggulku ke kiri dan ke kanan sekujur tubuh Tina bergetar, bergidik menggelinjang keras, lalu kudesak ke dalam sambil sesekali kutarik dan ulur. Tina menjerit keras sekali dan kubungkam dengan ciumanku, glek... kalau ketahuan ibu kost-nya mampus kami. Aku tak menyangka sedemikian ketatnya kewanitaan Tina, hingga kemaluanku serasa digenggam oleh sebuah mesin pemijat yang meski rapat namun memberikan rasa nyaman dan nikmat yang tak terkira. Pelumasan yang kulakukan telah cukup sehingga kulit permukaannya kuyakin tidak lecet sementara perjalanan batang kemaluanku menuju ke akhirnya semakin dekat. Hangat luar biasa, hangat dan basah menggairahkan, tulang-tulangku seakan hendak copot oleh rasa ngilu yang sangat bombastis.
Perasaan ini rupanya yang sangat diimpikan berjuta pria. "Eh... Tina sayang... kasihan kau, kelihatan sangat menderita, meski aku tahu dia sangat menikmatinya". Wajahnya bergantian mengerenyit dan membelalak hingga akhirnya telah cukup dalam, kusibakkan liang kemaluan Tina-ku tersayang dengan batang kemaluanku hingga bersisa sedikit sekali di luarnya. Tina merintih dan membisikkan kata-kata sayang yang terdengar bagai musik di telingaku. Aku mendenyutkan kemaluanku dan menggerakkannya ke kiri dan ke kanan bersentuhan dengan hampir seluruh permukaan dalam rahimnya, mentokkah? Berbagai tonjolan yang ada di dalam lubang kemaluannya kutekan dengan kemaluanku, hingga Tina akan menjerit lagi, namun segera kubungkam lagi dengan ciuman yang ganas pada bibirnya.
Kutindih dia, kutekan badannya hingga melesak ke dalam kasur yang empuk dan kusetubuhi dirinya dengan nafsu yang menggelegak. Dengan mantap dan terkendali aku menaikkan pinggulku hingga kepala kemaluanku nyaris tersembul keluar. Ugh, sensasinya dan segera kutekan lagi, oooh pergesekan itu luar biasa indah dan nikmat. Gadis seksi yang ranum itu merem melek keenakan dan ritual ini kami lakukan dengan tenang dan santai, berirama namun dinamis. Pinggulnya yang montok itu kuraih dan kukendalikan jalannya pertempuran hingga segalanya makin intens ketika sesuatu yang hangat mengikuti kontraksi hebat pada otot-otot kewanitaannya meremas-remas batang kemaluanku, serta ditingkahi bulu mata Tina yang bergetar cepat mendahului aroma orgasme yang sedang menjelangnya. Aku pernah membaca hal ini.
"Shhs sayang Tina... jangan dulu ya sayang ya..."
"Shhh... Nico... nggak tahan aku... Reeez... shhhh..."
"Cup cup... kalem sayang..." kukecup lembut matanya, bibirnya, hidungnya, dan keningnya.
Tina mereda, aku berhenti.
"Nico... kamu tega ih..." Tina cemberut sambil menarik-narik bulu dadaku.
"Sshhh sayangku... biar aja, entar kalo udah meledak pasti nikmat deh... minum dulu yuk sayang..."
Aku menarik keluar batang kemaluanku, aku tak mau Tina tumpah, meski demikian saat aku menarik kemaluanku, ia memelukku dengan kencang hingga terasa sakit menahan sensasi luar biasa yang barusan dia rasakan. Kalian para pembaca wanita yang pernah bercinta pasti pernah merasakan hal itu. Sembari minum aku menarik nafas panjang dan meredakan pula gejolak nafsuku, aku mau yang pertama ini jadi indah untuk kami berdua. Sial, ingatanku kembali melayang ke Ibu Rani. Apa yang sekarang dia lakukan? Bagaimana keadaan dia? Ah urusan besok sajalah. Dengan melompat aku merambat naik lagi ke tubuh Tina yang sedang tersenyum nakal.
"Minum sayang..." dia memberengut dan minum dengan cepat.
"Ayo Nico... jangan jahat dong..."
Dengan satu gerakan cepat aku menyelipkan diri di antara kedua kakinya seraya membelainya cepat dan meletakkan kemaluanku ke perbukitan yang ranum itu. Cairan putih yang kental terlihat meleleh keluar.
Kusibakkan kewanitaannya, dan dengan cepat kutelusupkan batang kemaluanku ke dalamnya. Ugh, berdenyut keduanya masuklah ia, dengan mantap kudorong pinggulku mengayuh ke depan. Tina pun menyambutnya dengan suka cita. Walhasil dengan segera dia telah masuk melewati liang yang licin basah dan hangat itu ke dalam diri Tina dan bersarang dengan nyamannya. Maka dimulailah tarian Tango itu. Menyusuri kelembutan beledu dan bagai mendaki puncak perbukitan yang luar biasa indah, kami berdua bergerak secara erotis dan ritmis, bersama-sama menggapai-gapai ke what so called kenikmatan tiada tara. Gerakan batang kejantananku dan pergesekannya dengan 'diri' Tina sungguh sulit digambarkan dengan kata-kata. Kontraksi yang tadi telah reda mulai lagi mendera dan menambah nikmatnya pijatan yang dihasilkan pada batang kemaluanku. Tanganku menghentak menutup mulutnya saat Tina menjerit keras dan melenguh keenakan. Lama kutahan dengan mencoba mengalihkan perhatian kepada berbagai subyek non erotis.
Aku tiba-tiba jadi buntu, Yap... Darwin, eksistensialist, le corbusier, pilotis, doppler, dan Thalia. Hah, Thalia yang seksi itu loh. Duh... kembali deh ingatanku pada persetubuhan kami yang mendebarkan ini. Ah, nikmati saja, keringat kami yang berbaur seiring dengan pertautan tubuh kami yang seolah tak mau terpisahkan, gerakan pinggulnya yang aduhai, aroma persetubuhan yang kental di udara, jeritan-jeritan lirih tanpa arti yang hanya dapat dipahami oleh dua makhluk yang sedang memadu cinta, perjalanan yang panjang dan tak berujung. Hingga desakan itu tak tertahankan lagi seperti bendungan yang bobol, kami berdua menjerit-jerit tertahan dan mendelik dalam nikmat yang berusaha kami batasi dalam suatu luapan ekspresi jiwa. Tina jebol, berulang-ulang, berantai, menjerit-jerit, deras keluar memancarkan cairan yang membasahi dan menambah kehangatan bagi batang kemaluanku yang juga tengah meregang-regang dan bergetar hendak menumpahkan setampuk benih. Kontraksi otot-otot panggulnya dan perubahan cepat pada denyutan liang kemaluannya yang hangat dan ketat menjepit batang kemaluanku. Akh, aku tak tahan lagi.
Di detik-detik yang dahsyat itu aku mengingat Tuhan, dosa, dan Ibu Rani yang telah aku kecewakan, tapi hanya sesaat ketika pancaran itu mulai menjebol tak ada yang dibenakku kecuali... kenikmatan, lega yang mengawang dan kebahagiaan yang meluap. Aku melenguh keras dan meremas bahu dan pantat sekal Tina yang juga tengah mendelik dan meneriakkan luapan perasaannya dengan rintihan birahi. Berulang-ulang muncrat dan menyembur keluar tumpah ke dalam liang senggama sang gadis manis dan seksi itu. Geez... nikmat luar biasa. Lemas yang menyusul secara tiba-tiba mendera sekujur tubuhku hingga aku jatuh dan menimpa Tina yang segera merangkulku dan membisikkan kata-kata sayang. "Enak sekali Nico, duh Gusti..." Aku menjilati lehernya dan membiarkan batang kemaluanku tetap berbaring dan melemas di dalam kehangatan liang kewanitaannya (ya ampun sekarang pun aku mengingat kemaluan Tina dan aku bergidik ingin mengulang lagi).
Denyut-denyut itu masih terasa, membelai kemaluanku dan menidurkannya dalam kelemasan dan ketentraman yang damai. Kugigit dan kupagut puting payudara Tina dengan gemas. Tina membalas menjewer kupingku, meski masih dalam tindihan tubuhku.
"Nico sayang... kamu bandel banget deh... gimana kalo Rian tahu nanti Nic..."
"Iya... dan gimana Vina-ku ya?" dalam hatiku.
Ironisnya lagi, kami selalu melakukannya berulang-ulang setiap ada kesempatan. Bagai tak ada esok, dengan berbagai gaya dan cara tak puas-puasnya. Di lantai, di dapur, di kasur, di bath tub, bahkan di kedinginan malam teras belakang paviliun sambil tertawa cekikikan. Rasa khawatir ketahuan yang diiringi kenikmatan tertentu memacu adrenalin semakin deras, yang segalanya membuat gairah.
Tak kusangka kami terkuras habis, lelah tak tertahan namun pagi telah menjelang dan aku harus bertemu dengan Ibu Rani. Aku bergerak melangkah menjauhi tempat tidur meskipun dengan lutut lemas seperti karet dan tubuhku limbung. Kamar mandi tujuanku. Segera saja aku masuk ke dalam bath tub dan mengguyur sekujur tubuh telanjangku dengan air dingin. Brrr... lemas yang mendera perlahan terangkat seiring dengan bangkitnya kesadaranku. Sambil berendam aku mengingat kembali kilatan peristiwa yang beberapa hari ini terjadi.
Semenjak saat itu asistensiku dengan Ibu Rani berlangsung beku, dan dia terlihat dingin sekali, sangat profesional di hadapanku. Beliau kembali memangilku dengan anda, bukan panggilan manja Nico lagi seperti dulu. Aku serba salah, tidak sadarkah dia kalau aku pulang malam itu karena menghormati dan menyayanginya? Hingga dua hari menjelang sidang akhir, dan keadaan belum membaik, gambarku selesai namun belum mendapat persetujuan dari Bu Rani. Kuputuskan untuk berkunjung ke rumahnya, meski aku tak pasti apakah Pak Indra ada di sana atau tidak.
Hari itu mobilku dipinjam oleh teman dekatku, sementara siangnya hujan rintik turun perlahan. Ugh, memang aku ditakdirkan untuk gagal sidang kali ini. Bergegas kucegat angkot dan dengan semakin dekatnya kawasan tempat tinggal beliau, semakin deg-degan debar jantungku. Kucoba mengingat seluruh kejadian semalam saat aku dan Tina bercinta untuk kesekian kalinya, untuk mengurangi keresahanku. Aku turun dari angkot dalam derasnya hujan dan dengan sedikit berlari aku membuka gerbang dan menerobos ke dalam pekarangan. Basah sudah bajuku, kuyup dan bunga Aster yang kubawakan telah tak berbentuk lagi. Kubunyikan bel dan menanti. Bagaimana kalau beliau keluar? bagaimana kalau Pak Indra ada di rumah? dan beratus what if berkecamuk sampai aku tak menyadari kalau wajah jelita dan tubuh molek Ibu Rani telah berdiri beberapa meter di depanku. Saat aku sadar senyumnya masih dingin, tapi ada rasa kasihan terbesit tampak dari wajah keratonnya yang selama ini selalu menghiasi mimpi-mimpiku. Aku hanya bisa menyodorkan bunga yang telah rusak itu dan berkata, "Maafkan saya..."
Tubuhku yang menggigil kedinginan dan kuyup itu sepertinya menggugah rasa iba di hati beliau dan aku mendapati beliau tersenyum dan berkata, "Sudah Nico, cepat masuk, ganti baju sana... dua hari lagi kamu sidang loh... entar kalo sakit kan Ibu juga yang repot." Uuugh, leganya beban ini telah terangkat dari dadaku, dan aku menghambur masuk. "Maaf Bu, saya basah kuyup." Beliau masuk ke dalam dan segera membawakan handuk untukku. "Sana ke kamar dan ganti baju gih, pake aja kaus-kaus Bapak." Kuberanikan diri, mendoyongkan tubuh dan mengecup keningnya, "Terima kasih banyak Bu..." Sang ibu sedikit terperangah dan kemudian menepis wajahku. "Sudah sana, masuk... ganti baju kamu." Dengan sedikit cengengesan aku masuk ke dalam dan mengeringkan tubuhku, dan mengganti baju dengan kaus yang sungguh pas di badanku.
Segera aku keluar dan mencari Ibu Rani. Beliau sedang berada di dapur mencoba membuatkan secangkir teh panas untukku. Aduuh, aku sedikit terharu. Dengan beringsut aku mendekatinya dan merangkul beliau dari belakang. Dengan ketus beliau menepis tubuhku dan menjauh.
"Nico... kamu pikir kamu bisa seenaknya saja begitu." Aku terdiam.
"Saya minta maaf Bu, waktu itu saya pergi karena Nico tak sanggup Bu... Ibu, orang yang paling saya hormati dan sayangi, mungkin Nico butuh waktu, Bu..." sambil berkata demikian aku mendekatinya dan memegang pundak kanan beliau dan memberi sedikit pijatan lembut. Beliau tergetar dan tampak sedikit melunak.
Aku mendekat lagi, "Ibu mau maafin Nico?" sambil kutatap tajam matanya, kemudian perlahan aku mendekatkan wajahku ke wajah ayu sang ibu.
"Tapi Nic..."
Beliau kelihatan bingung, namun kecupan lembutku telah bersarang lembut pada keningnya. Kurengkuh Rani yang ranum itu dalam pelukanku dan kuusap-usapkan kelopak bibirku pada bibirnya dan kukecup dan kugigit-gigit bibir bawahnya yang merah merekah itu. Nafas Rani sedikit memburu dan bibirnya merekah terbuka.
Semula sedikit pasif ciuman yang kuterima, kemudian lidahku menelusup ke dalam dan menyentuh giginya yang putih, mencari lidahnya. Getar-getar yang dirasakannya memaksa Rani untuk memerima lidahku dan saling bertautlah lidah kami berdua, menari-nari dalam kerinduan dan rasa sayang yang sulit dimengerti. Bayangkan beliau adalah dosenku yang kuhormati, yang meskipun cantik jelita, putih dan mempesona menggairahkan, namun tetap saja adalah orang yang seharusnya kujunjung tinggi.
"Jangan di sini Nic, Tuti bisa datang kapan saja."
Kutebak Tuti adalah nama pembantu mereka.
"Bapak?"
"Ah biarkan saja dia", kata dosen pujaanku itu.
Ditariknya tanganku ke arah kamarnya yang mereka rancang berdua.
"Buu... Bapak di mana?"
Wanita matang yang luar biasa cantik itu berbalik bertanya, "Kenapa, kamu takut? Pulang sana, kalau kamu takut."
Ah, kutenangkan hatiku dan yakin dia pasti juga tidak akan membiarkan ada konfrontasi di rumah mereka. Jadi aku medahului Rani (sekarang aku hanya memanggil beliau dengan nama Rani atas permintaannya. Di samping itu, Rani pun tak berbeda jauh umur denganku) dan dalam satu gerakan tangan, Rani telah ada dalam pondonganku, kemudian kuciumi wajahnya dengan mesra, lehernya, dan sedikit belahan di dadanya. Menjelang dekat dengan tempat peraduan, Rani kuturunkan dan aku mundur memandanginya seperti aku memandanginya saat pertama kali. Semula Rani sedikit kikuk.
"Kenapa? Aku cantik kan?"
Rani bergerak gemulai seolah sedang menari, duh Gusti... cantik sekali. Ia mengenakan daster panjang berwarna light cobalt yang menerawang.
Kupastikan Rani tidak mengenakan apa-apa lagi di baliknya. Payudaranya bulat dan penuh terawat, pinggulnya selalu membuat para mahasiswi iri bergosip dan mahasiswa berdecak kagum. Aku sekonyong-konyong melangkah maju dan dengan lembut kutarik ikatan di belakang punggungnya, hingga bagaikan adegan slow motion daster tersebut perlahan jatuh ke lantai dan menampilkan sebuah pemandangan menakjubkan, luar biasa indah. Tubuh telanjang Ir. Rani yang menggairahkan. Tanpa tunggu lebih lama aku kembali melangkah ke depan dan kami berpagutan mesra, lembut dan menuntut.
Mendesak-desak kami saling mencumbu. Ciuman terdahsyat yang pernah kualami, sensasinya begitu memukau. Lidahnya menerobos bibirku dan dengan penuh nafsu menyusuri permukaan dalam mulutku. Bibirnya yang mungil dan merah merekah indah kulumat dengan lembut namun pasti. Impian yang luar biasa ini, saat itu aku bahkan hendak mencubit lengan kiriku untuk meyakinkan bahwa ini bukanlah mimpi. Rani melucuti pakaianku dan meloloskan kaosku, sambil sesekali berhenti mengagumi gumpalan-gumpalan otot pada dadaku yang cukup bidang dan perutku yang rata karena sering didera push-up.
Kami berdua sekarang telanjang bagai bayi. Ada sedikit ironi pada saat itu, dan kami berdua menyadarinya dan tersenyum kecil dan saling menatap mesra. Aku menggenggam kedua tangannya dan mengajaknya berdansa kecil, eh norak tapi romantis. Rani tergelak dan menyandarkan kepalanya ke dadaku dan kami ber-slow dance di sana, di kamar itu, aku dan Rani, tanpa pakaian. Batang kemaluanku tanpa malu-malu berdiri dengan tegaknya, dan sesekali disentil oleh tangan lentik Rani. Dengan perutnya ia mendesak batang kemaluanku ke atas dan menempel mengarah ke atas, duh ngilu namun sensasional.
Saat itu cukup remang karena hujan deras dan cuaca dingin, namun rambut Rani yang indah tergerai wangi tampak jelas bagiku. Kucium dan kubelai rambutnya sambil kubisikkan kata-kata sayang dan cinta yang selalu dibalasnya dengan... gombal, bohong dan cekikikan yang menggemaskan. Aku semakin sayang padanya.
Ah, aku tak tahan lagi. Kudesak tubuh Rani ke arah pinggiran peraduan, kubaringkan punggungnya sementara kakinya tergolek menjuntai ke arah lantai. Aku berlulut di lantai dan mengelus-elus kaki jenjangnya yang mulus. Dan mulai mencumbunya. Kuangkat tungkai kanannya sambil kupegang dengan lembut, kutelusuri permukaan dalamnya dengan lidahku, perlahan dari bawah hingga ke arah pahanya. Pada pahanya yang putih mulus aku melakukan gerakan berputar dengan lidahku. Rani merintih kegelian. "Nic, it feel so good, aku pengen menjerit jadinya..." Saat menuju ke kewanitaannya yang berbulu rapi dan wangi, aku menggunakan kedua tanganku untuk membelai-belai bagian tersebut hingga Rani melenguh lemah. Lalu sambil menyibakkan kedua labianya, aku menggigit-gigit dan menjepit klitorisnya yang tengah mendongak, dengan lembut sekali. "Aduuuh Nic, aku sampai sayang..." Sejumlah besar cairan kental putih meluncur deras keluar dari dalam liang kewanitaaannya dan dengan segera aroma menyengat merasuk hidungku. Dengan hidungku aku mendesak-desak ke dalam permukaan kewanitaannya. Rani menjerit-jerit tertahan.
"Nicoaa... nggghh... Nic... aduhh..." Rani sontak bangkit meraih dan meremas rambutku kemudian semakin menekannya ke dalam belahan dirinya yang sedang menggelegak. Kuhirup semua cairan yang keluar dari-nya, sungguh seksi rasanya. Aku mengenali wangi pheromone ini sangat khas dan menggairahkan. Rani-ku tersayang juga menyukainya, sampai menitikkan sedikit air mata. Aku naik ke atas dan menenangkan kekasih dan dosenku itu. Dengan wajah penuh peluh Rani tetaplah mempesona. "Aduh Nic, Rani udah lama nggak banjir kayak gitu... mungkin perasaan Rani terlalu meluap ya sayang ya..." Dengan manja ibu yang sehari-harinya tampil anggun itu melumat bibirku dan menciumi seluruh permukaan wajahku sambil cekikikan. Aduuuh, aku sayang sekali sama dosenku yang satu ini. Kudekap Rani dalam pelukanku erat demikian juga dibalasnya dengan tak kalah gemasnya, sehingga seolah-olah kami satu.
Aku ingin begini terus selamanya, mendekap wanita yang kusayangi ini sepanjang hayatku kalau bisa, tapi nuraniku berbisik bahwa aku tidak dapat melakukannya.
Akhirnya kuliahku telah usai dan nilai yang memuaskan telah kuraih, wisuda telah lama lewat, dan sekarang aku telah bertekad menjadi entrepeneur muda.

Menjelang Tugas Akhir

By Lucy →

Perkenalkan, namaku Didi setidaknya itu nama panggilanku. Aku seorang mahasiswa di sebuah perguruan tinggi swasta yang cukup terkenal. Usiaku 25 tahun. Ceritaku ini bermula pada saat aku berumur 21 tahun, disaat itu aku masih mempunyai seorang pacar bernama Anyssa Pratiwi sebut saja Ani. Di adalah seorang gadis cantik dengan kulit yang cukup putih. Dia terkenal sebagai bocah alim di fakultasnya. Tinggi 151 sentimeter dengan berat badan sekitar 42 kilogram, tidak tinggi tapi cukup lumayanlah.

Singkatnya pada waktu itu aku dan pacarku sedang pergi kesebuah alcazar di kawasan Jogja, tepatnya di wilayah Kaliurang. Tentu saja bersama dengan teman- temanku yang semua berjumlah 4 orang, dua perempuan dan dua laki- laki. Sebut saja nama mereka Amir, Dhea, Romy dan Tanti. Hubungan kami berlima cukup rumit tapi unik. Dhea misalnya, dulu bekas pacarku yang pernah kupacari selama setengah tahun. Selama setengah tahun itu aku pernah bercinta dengannya bahkan berulang kali dan jujur saja akulah yang merengut keperawanannya, tapi pacarnya yang sekarang si Amir tidak tahu kalau pacarnya pernah ku kerjain.

Tanti, dulu aku pernah naksir berat padanya, dia gadis berkulit sawo matang dan tingginya sekitar 170an senti dengan berat badan sekitar 50an lebih dikit. Proporsional menurut anggapan teman-temannku termasuk pacarnya si Romy. Romy sendiri terkenal sebagai bocah yang agak nakal, mengingat dia sering gonta-ganti cewek dan dalam beberapa kesempatan, dia sering menunjukkan foto-foto cewek yang pernah dia tiduri, kalau tidak salah 4 orang sudah. Dia juga terkenal sebagai bandar obat-obatan terlarang, tapi jangan salah sangka dulu dia bukan pengguna narkotik ataupun pengedarnya tapi yang dia edarkan adalah obat-obat perangsang.

Produk yang dia tawarkan benar-benar berkualitas super. Berkat obat itu pula aku jadi pernah menggauli seorang cewek tetangga kost ku. Namanya Rani Suwito panggilannya Ying-Ying, seorang WNI keturunan. Dia adik kelasku dengan tinggi 170 senti dan berat proporsional. Terkenal karena berani berdandan adult saat di kost. Saat dia capital ketempatku dengan alasan ingin pinjam komputer untuk mengetik laporan, aku berikan dia sebotol fanta yang sudah aku bubuhi obat perangsang. Hasilnya dalam hitungan menit dia sudah mulai kegerahan dan hilang akal. Sekitar lima menit kemudian, dia mulai melepaskan kancing baju atasnya dua buah.

Aku mulai iseng-iseng mendekatkan tubuhku padanya dengan taktik mengajarkan cara membuat tabel di MS-Word. Alhasil aku dapat melihat buah dadanya yang masih dibalut bra warna pink. Selang beberapa menit dia mulai melepas seluruh bajunya dengan alasan sangat panas, dan akupun sudah cukup tanggap. Aku mendekatinya dan mencium leher jenjangnya, dia tersentak tapi tidak dapat berbuat apa-apa. Tanganku mulai menjelajahi celana pendeknya dah berhasil melucuti seluruh pakaiannya kecuali bra yang masih tergantung dengan kaitan terlepas.

“Mas…..jangan….” lirihnya kacau, tapi aku tahu kalau dia juga menginginkan lebih, oleh sebab itu aku mulai menjalarkan tanganku lebih dalam lagi dan kuremas buah dadanya yang tak terbalut lagi. Kami bercumbu sekalipun hanya aku yang aktif. “Mas…Adi…ja…..jangan lakuin massss………..Achh !!!…..” suaranya terpatah patah saat aku mencium putingnya dan menelusuri seluruh tubuhnya dengan lidahku. Akhirnya dengan mantap aku mengulum mulutnya dan membuka semua pakaianku.

Dia terbelalak melihat penisku sudah mengacung, segera aku bimbing penis ini kebagian mulutnya. Dia ragu, “Mas….jangan, jangan seperti ini…” selanya. “Tapi kamu juga inginkan Ying? Nich penis gua, ntar gua kasih lebih.” Paksaku sambil menjejalkan penisku kemulutnya yang setengah terbuka.

“Ochhhhh…..hangat Ying…” seruku saat penisku tertelan mulutnya. Selama sepuluh menitan aku mengocok batang kejantananku di mulutnya sebelum akhirnya kucopot dan aku beralih ke liang yang lain. Vagina……ini yang kutunggu. Penisku mencapai mulut luar vaginanya. “Mas jangan, aku masih perawan….aku gak mau mas…”serunya tapi tentu saja semua itu sudah bagai angin lalu saat aku mencumbunya lebih dahsyat, sekarang dia tinggal pasrah.

Perlahan tapi pasti penisku mulai menerobos liang suci tersebut. “Ahhhhhh….sakittt…..please hentiin mass..” Ying Ying merintih kesakitan tapi tetap saja hal tersebut malah membuat aku semakin bernapsu untuk mengerjainya luar dalam. Semakin kumantapkan posisi penisku dengan mengapit kedua paha gadis ini keatas hingga lututnya menyentuh payudaranya sendiri. Dan….blessshhh…..akhirnya masuk semua penisku. Batang kejantanan tersebut aku pompa dengan pelan sebelum akhirnya aku mempercepat gerakanku. Sempat dia meronta tapi percuma karena nafsunyapun tidak lebih kecil dari nafsuku. Dan setelah kurang lebih sepuluh menit aku cabut kemaluanku dari liang vaginanya dan aku balik posisinya menjadi merangkak dan mulai kugunakan tehnik active appearance yang selama itu baru aku lihat saja tanpa praktek.

Sekali lagi roket sakti tersebut memasuki gua dalamnya dan sembari kuciumi punggungnya, aku meremas payudaranya bergantian. Sensasi yang sungguh sangat nikmat. “Ahhhh….achhhhh….ohhhh……ahhhh” rintihannya yang semula pelan semakin absolutist semakin mengeras, untung tertutup suara bising musik yang kusetel keras dari kamarku. Setelah kurang lebih 10 menit aku mengerjainya dengan posisi ini, aku mulai merasakan adanya dorongan dalam batang kemaluanku. Akhirnya kusemprotkan juga cairan sperma itu kedalam rahimnya. Usai sudah acara siang itu dari yang berawal pinjam komputer berakhir dengan pinjam tubuh. Benar-benar kenikmatan yang tiada tara, apalagi waktu itu aku belum pernah bercinta dengan gadis manapun.

Sekarang kembali ke keadaanku saat bersama teman-temanku di villa. Malamnya saat kita berkumpul bersama untuk bercengkrama, tiba-tiba muncul Romy dengan senyum-senyum menawarkan beberapa vcd film. Karena temanku membawa televisi LCD dan VCD amateur sendiri (kami membawa mobil ke alcazar jadi dapat mengangkut beberapa barang penting). Kami sepakat untuk memilih blur secara random. Saat di putar, tak perlu sampai 1 menit kami melihat kami sudah tahu kalau itu adalah blur porno dan aku yakin itu blur dengan appraisement XXX.

“Bagus khan? Itu koleksi gua yang batten bagus tuh…” seloroh Romy bersemangat. Entah karena apa tiba-tiba timbul pikiran nakal dibenakku. Karena kami menggelar 2 buah karpet kasur dilantai, maka kami bisa leluasa bergerak. Aku mulai bergerak mundur dan aku sergap pacarku si Ani dari belakang. Aku mulai meremas dadanya yang berukuran 34 B itu. Tak terlihat karena aku meremasnya dibalik baju babyish babyish nya dan dia juga memakai selimut untuk mengatasi hawa dingin.

Sembari menciumi lehernya aku mulai semakin berani karena pas di blur itu juga sedang pas foreplay. Ternyata aku tak sendiri, Amir dan Dhea pun ikut bermesraan sendiri. Amir mulai mencium bukan hanya pipi tapi mulut Dhea dengan ganasnya. Dan lebih gila lagi Dhea tanpa tameng langsung membuka baju dasternya dan meninggalkan dirinya hanya menggunakan celana dalam tanpa bra. Amir semakin beringas mencumbu Dhea, rasanya seperti lagi nonton alive appearance dejected film. Luar biasa pikirku. “Ochhhh….Don, ayo Don……..aku gak tahan nech.”racau Dhea kepada Amir pacarnya. Tak perlu menunggu lama, mereka berdua sudah hampir telanjang bulat, hanya Amir yang masih memakai celana dalamnya.

Belum selesai aku terkejut, eh tiba-tiba dari belakang Tanti sudah merangkulku dan menyeretku menjauhi Ani. Dia tak segan untuk menciumku lagi. Singkatnya kami berciuman mulut dengan sangat dasyat. “Gimana Di……asyik baron mulut pacar gue? Nikmatin aja, malam ini kita pesta, lagipula lo baron pernah naksir dia…heheheheh…”tawa Romy dari belakang. Ternyata saat itu kami semua sudah diracuni dengan obat perangsang, dan yang batten banyak dosisnya diberikan pada Ani yang terkenal alim itu.

Romy kemudian mendekati dia dan mulai menciumi lehernya yang akhirnya merembet kemulutnya. “Sialan !!!” pikirku tapi saat aku melihat Tanti yang sudah telanjang bulat, aku sudah kehilangan rasio dan langsung menerkamnya sambil melucuti pakaianku sendiri.

Belum juga lima menitan aku bergumul dengan Tanti, saat aku menengok kebelakang ternyata Ani sudah telanjang bulat dan sedang mengoral penis milik Romy sementara Romy sendiri memainkan lidahnya di liang vagina milik Dhea. Saat aku beranjak akan mendekati Ani, tanganku ditarik oleh Tanti dan saat itu juga peniskupun dilahapnya dengan rakus. “Astaga…dia pasti sudah pernah di kerjain oleh Romy…”pikirku dan benarlah dugaanku.

Sekarang aku melihat Amir sedang mencopot cd nya dan mencuatlah penisnya yang sepanjang kira-kira 14 senti tersebut. Di elus-eluskan penis itu di bibir vagina milik Dhea. Akhirnya …..bleshhh…tenggelam juga. Sementara Romy pun sudah siap dengan menempelkan penisnya di mulut vagina Ani. “Hoi…jangan…dia pacar gue.”sergahku, tapi apa daya dia langsung capital tancap dengan sedikit paksa. “Ahhh……….seret juga memek pacar loe Di., dah pernah loe kerjain yah…tapi kok masih seret?….Enak bener.” Senyuman menghiasi bibirnya sembari menggenjot tubuh kekasihku yang herannya tidak memberikan perlawanan sama sekali malah terlihat seperti keenakan. Memang ini bukan kali pertamanya dia berhubungan intim, karena aku pernah mengerjainya setidaknya 6 kali.

“Achh…achhh…achhhh…ohhhhh…”rintih Ani sembari sesekali menggigit bibir bawahnya. Semakin absolutist semakin cepat sodokan-sodokan Romy dan semakin cheat pula. Sementara Ani masih dikerjai, aku mengambil inisiatif untuk membalasnya dengan menggenjot pacar Romy, si Tanti. Kurasakan sensasi tersendiri saat penisku menghunjam liang vagina dara manis itu, nampaknya dia belum siap menerima penis sebesar milikku. Maklum penisku ini memang sedikit diatas rata-rata, dengan panjang 18 sentimeter cukup membuat seorang Tanti menggelinjang menahan rasa nikmat, geli additional rasa nyeri yang membuat ketiganya menjadi sensasional.

Tak selang sepuluh menit, karena obat perangsang yang ku minum secara tak sengaja itu akhirnya aku memuntahkan cairan spermaku ke liang senggama milik Tanti tanpa sisa. “Ohhhh….gue keluar Lan….”seruku sambil mengejang. Diapun tampak lunglai karena aku tahu setidaknya dia telah orgasme dua kali, ini semua gara-gara obat sialan itu sehingga Tanti pun menjadi cool cepat puas.

Kemudian sambil berbaring memulihkan rasa lelah aku menengok kesamping. Tak jauh dari tempat Tanti terbaring aku melihat Ani dengan liarnya dikerjai oleh Romy dengan posisi active style, dan kulihat Dhea melepaskan vaginanya dari hunjaman batang kemaluan Amir dan mendekatiku. “Masih ingat saat kamu ngentotin aku? Sekarang gantian yah….biar si Amir ngerjain pacarmu.”katanya sambil senyum-senyum kecil dan tanpa kuduga dia mulai menciumiku dan berakhir dengan mengoral penisku yang kembali mengencang.

Amir yang belum terpuaskan menghampiri Ani yang liang kemaluannya sedang di hajar habis oleh batang kejantanan Romy. Kemudian Romy mencabut penisnya dari dalam vagina Ani dan menyuruh Ani untuk mengulumnya sementara vaginanya dipindah tangankan kepemilikannya kepada Amir. Penis Amir langsung menyerbu masuk tanpa permisi dan dengan posisi active style, vagina Ani dipompa oleh penis Amir sementara penis milik Romy mengerjai mulutnya.

Suasana yang se amative itu belum pernah aku temui sebelumnya. Benar-benar menbuatku jadi sangat terangsang. Lalu kulentangkan tubuh Dhea dan mulai aku senggamai dia dengan cukup keras mengingat Amir juga mengerjai pacarku.

“Oh…..enak juga memek pacar loe Di….adu cepat aja kita…eheheh.”gelak Amir sambil mempercepat genjotan penisnya di vagina pacarku. “Kayaknya gue mau keluar neh……Sak…dikeluarin dimana nech.”serunya setelah kurang lebih 10 menit mengerjai Ani dengan posisi berganti-ganti namun mulut Ani masih disumpal penis Romy. “Jangan dulu bos, ngapain cepet-cepet? Gantian aja kita.”seru Romy.

Dan benar saja selang beberapa detik mereka berdua bertukar posisi. Penis Romy memompa liang senggama Ani sementara batang kemaluan Amir di articulate oleh Ani. Kulihat Ani semakin kepayahan dikerjai tanpa henti oleh mereka namun apadaya nafsu telah mengalahkan logika. Peluh bermunculan dari badan Ani, bahkan diapun sudah terlihat lemas. Entah sudah berapa kali dia mengalami kepuasan dengan kedua penis tersebut. Bahkan setelah aku selesai dengan Dhea pun, mereka belum berhenti mengerjai Ani. Dengan berbagai gaya mereka menyodokkan penis-penis mereka ke kedua liang kekasihku itu baik mulut maupun vagina.

Akhirnya setelah 20 menit lebih setelah aku memuntahkan air maniku kedalam vagina Dhea, mereka selesai juga. Amir mencabut penisnya dari dalam vagina dan menyemprotkan cairan surganya di bibir vagina Ani sementara Romy memuntahkan air maninya di mulut Ani sekalipun Ani berusaha untuk memuntahkannya. Ini pertama kalinya dia menelan sperma pria. Malam itu benar-benar malam dengan acara pesta,….pesta seks.

Sekitar sebulan setelah acara pesta di alcazar tersebut, aku kedatangan seorang teman lama. Sebut saja namanya Sammy dan biasa kupanggil Sam dan dia membawa pacar barunya yang bernama Riska. Temanku yang satu ini puna tubuh yang cukup tinggi, setinggi aku kira-kira 168 sentimeter dan badan yang gempal, berkulit hitam dan berambut cepak. Soal wajah, jujur saja dia jauh dari tampan tapi entah kenapa setiap kali dapat pacar selalu yang cantik-cantik. Riska ini punya tubuh animal dengan tinggi dan berat badan yang seimbang. Wajah cukup manis dengan kulit kuning langsat dan lesung pipi nya membuat penampilannya semakin enak dipandang.

“Hehhhh…mangsa baru yah?”godaku kepada Sam. Sam pun menimpali,” Yah lumayan lah buat selingan, heheheheh….Eh gimana pacar lo, si Ani? Dimana dia sekarang? Masih jadian gak nech?”tanyanya penuh selidik. Tak perlu kujawab nampaknya, karena hanya selang 2 detik sebelum Ani keluar dari kamar kost ku dengan menggunakan babyish babyish kesayangannya.

Melihat pemandangan itu sontak Sammy tertegun dan terpaku kearah Ani, maklum mereka saling kenal sebelum aku berkenalan dengan Ani dan saat itu Ani terkenal sebagai cewek alim yang tidak pernah macam-macam.

“Eh, lo dah apain tuh cewek?”bisiknya kepadaku tapi hanya kujawab dengan senyuman kecil. Kamipun masuk kedalam kamar kost ku yang hanya berukuran 4×4 meter. Kamar yang kecil tapi maklum namanya juga anak kost lagipula dengan lantainya keramik sehingga sekalipun kecil tetapi masih terdapat sedikit kesan bagus.

Di ruangan itu hanya terdapat beberapa barang antaranya kasur tanpa dipan sehingga membuatnya tampak lebih luas, bantal duduk buat lesehan, komputer dan almari pakaian. Dengan barang sesedikit itu membuat ruangan tidak begitu sumpek. Sambil mendengarkan musik dari PC ku kami bercerita panjang lebar mengenai pengalaman kami, maklum sudah satu setengah tahun tak ketemu.

Riska ternyata seorang mahasiswa dari sebuah perguruan tinggi ternama di kota besar. Dilihat dari caranya bersandar dan gayanya yang mesra di depanku, aku sudah dapat menebak kalau gadis manis ini pasti pernah di pakai oleh temanku.

“Wah, Ani sekarang sudah beda yah. Tambah cantik and seksi….heheh”ucap Sammy sambil sesekali melirik kearah bagian payudaranya karena memang babyish babyish yang di pakai Ani cukup transparan dan belahan kerahnya cukup lebar.

Saat itu aku mencoba menawarkan minuman kepada mereka, namun Sammy malah mengajakku membeli minuman bareng. Di perjalanan ke arah warung dekat kost ku dia berhenti dan mengajakku bicara beberapa hal. “Eh….bos, dia pernah maen sama kamu yah? Keliatan kalau Ani dah beda.”ungkapnya tanpa ditutupi lagi. Aku senyum saja dan balik berkata,”Lo sendiri dah ngapain si Riska? Gua jamin dia dah ga perawan lagi khan?” Sammy hanya terkekeh, lalu menonjok pelan perutku lalu tanpa kuduga dia menawarkan sesuatu. “Di, lo mau merasakan anatomy cewekku gak? Kalau mau bisa kuatur.”katanya.

Aku kaget dan tidak dapat berkata apa-apa, jujur saja bodynya seksi maklum menurut pengakuannya dia ikut les renang seminggu 3 kali. “Lo serius mau kasih gw? Apa kagak sayang ma cewekmu?”seruku kepada Sammy. Dia hanya menjawab ringan yang intinya dia menganggap santai hubungan mereka toh hubungan kami juga sudah seperti saudara sendiri. “Alasan yang ga masuk akal Sam. By the way, sebagai imbalannya apaan?”tanyaku penuh selidik. Dia terdiam sesaat dan mulai jujur akan keinginannya bahwa dia ingin tidur bareng dengan cewekku. “Apaaa??? Gila lo. Mana dia mau?”seruku tapi sebenarnyapun aku tidak begitu keberatan karena toh Ani juga pernah digarap rame-rame oleh Amir dan Romy sebelumnya. “Soal itu mah santai aja. Aku punya siasat jitu. Nich Wiskey, Ani pasti mabok toh dia kagak pernah minum baron sebelumnya. Soal Riska gampang, ntar kalo aku dah nggarap Ani toh dia juga bakal gak nolak balas perlakuanku.”katanya. Minuman itu rencananya akan di campur dengan Coca Cola botol besar yang kami beli.

Setelah pulang kami membuat rencana seperti yang telah kami berdua rencanakan yaitu bermain kartu. Siapa yang kalah harus minum. Berkat kerjasama kami akhirnya kedua cewek itu terus yang kalah sekalipun adakalanya kami sesekali mengalah. Setelah minuman habis akhirnya taruhan diganti dengan mencopot baju. Siapa yang kalah harus mencopot bajunya satu lembar. Tak sampai sepuluh menit sekarang Riska dan Ani hanya mengenakan bra dan celana dalam (cd). Sementara aku dan Sammy hanya melepas baju saja. Kemudian sebabak berikutnya si Riska kalah dan mau tak mau harus mencopot bra atau cd nya.

“Ah…ga mau ah. Ini aja dah kebanyakan apalagi harus copot bra. Ntar telanjang lah aku. Gak mau.”serunya tapi berkat dorongan Sammy dan pengaruh alkohol akhirnya dia juga melepas bra nya. Segera terpampang payudaranya yang mulus itu. Hmmm…ukuran 36A batinku. Akhirnya giliran Ani yang harus mencopot pakaiannya di dua babak berikutnya sehingga dia benar-benar telanjang bulat. Dengan perasaan risih dia melanjutkan permainan ini dan saat kedua cewek itu sudah bugil, kami menaikkan taruhan, siapa pemenang dalam babak selanjutnya boleh meng-apa-apain yang kalah.

Akhirnya Sammy menjadi pemenang dan Ani menjadi yang kalah berikutnya. Tanpa panjang lebar Sammy langsung menerkam Ani mencumbunya sembari melepas seluruh pakaiannya. “Jangan, aku nggak mau ginian! Di tolong aku…”pintanya memelas. “Sorry An, tapi taruhan tetap taruhan, mau gak mau yah harus mau.”kata Sammy sambil meremas payudara Ani yang mulai memerah dan putingnyapun menegang.

“An, dah absolutist lho aku ingin ginian ma kamu, tapi dulu takut kamu tolak sech, jadi ga jadi nembak kamu.”ungkap Sammy. Sementara itu Riska hanya diam saja sekalipun dia juga shock melihat pacarnya mengerjai gadis lain. Tapi aku yakin dia juga terangsang hanya tidak mau menunjukkannya.

Dalam sekejap Sammy dan Ani sudah bergumul, akhirnya Ani juga pasrah karena tak sanggup menahan libidonya. Semakin ganas ciuman Sammy kearah bagian-bagian sensitif Ani, semakin keras pula lenguhan pacarku itu.

“Oh….achhh….jangan Sammm…..achhh…..ahhhhh..!!!”lenguh Ani panjang akhirnya dia mengalami orgasme pertamanya. Dengan cheat Sammy menjilati cairan cinta dari liang senggama pacarku itu. “Enak yah An? Ini baru pembukaan, setelah ini aku bakal buat kamu menggelinjang keenakan.” Dan betul saja setelah itu Sammy mengarahkan batang kejantanannya kearah bibir vagina Ani yang sudah basah kuyup karena ludah Sammy dan cairan cinta dari Ani sendiri. Dengan perlahan batang kejantanan yang hitam besar itu menyeruak vagina pacarku dan tak perlu lama-lama sebelum akhirnya semua masuk kedalam.

“Ahhhhhh…..ahhhhh….erghhhhhh….ohhhh….!!!”seru Ani saat Sammy mulai menggenjot vaginanya. Pemandangan luar biasa kontras karena tubuh besar hitam milik Sammy menindih kekasihku yang bertubuh kecil tapi putih bersih. Setiap sodokan penisnya kearah liang kewanitaan Ani menciptakan sensasi tersendiri bagi aku dan Riska dan tentu saja bagi kedua orang yang bersetubuh itu.

Kemudian tak absolutist setelah itu, Sammy mulai membalik tubuh Ani dan melakukan gaya active style. Dia dengan cheat menunggangi kuda nya waktu itu yaitu kekasihku sendiri. “Bos, kamu gak mau maen ma Riska?’seruannya menyadarkanku bahwa aku juga dapat obyek pelampiasan.

Langsung kuterkam Riska dan diapun tak banyak perlawanan persis dengan dugaan Sammy. Saat itu kami berempat benar-benar sudah menjadi sangat liar. Melihat Ani kekasihku vaginanya dihajar keras dengan sodokan-sodokan batang kemaluan milik Sammy membuatku semakin beringas dan semakin keras menyodokkan penisku ke liang senggama Riska yang sudah basah itu. Seakan berlomba-lomba adu kecepatan aku dan Sammy benar-benar menggunakan moment itu untuk mengerjai habis-habisan kedua cewek ini.

Entah berapa gaya yang sudah kami praktekan. 30 menit sudah Ani dalam tindihan Sammy, dan melihat spermanya mau keluar, segera Sammy mencabutnya dan langsung menyodorkan kearah payudara Ani dan muncratlah cairan kental putih itu yang takarannya banyak sekali. Mungkin nafsu yang sudah tertahan sekian absolutist membuat semua banal spermanya keluar.

Sementara itu aku yang juga akan keluar langsung kucabut batang kemaluanku dari vagina Riska dan dengan cepat aku benamkan lagi sedalam-dalamnya. Keluarlah air maniku di liang vaginanya. Kulihat Ani sedang mengoral penis Sammy yang belepotan sperma dan cairan vaginanya. Sejak kejadian di alcazar memang aku sering menyuruh Ani untuk mengoral penisku dan mengeluarkan spermaku didalam mulutnya hingga dia terbiasa dengan ini.

Tak puas dengan itu, Sammy masih menyodokkan penisnya berulang-ulang kemulut Ani sehingga buah zakarnya yang menggelantung menjadi menabrak-nabrak dagu Ani. Herannya, belum juga lima menit tapi Sammy sudah ejakulasi lagi kali ini di mulut Ani. Mereka berdua akhirnya lemas terkulai di kasur sementara aku masih mengerjai ulang Riska. Kali ini aku menggunakan kondom dengan pelumas untuk menembus lubang duburnya. Ya..aku menyodominya tanpa ampun dan nampaknya itu adalah hal pertama baginya. Tak absolutist kemudian aku melepas kondom dan menyuruh Riska untuk menyulum penisku dan akhirnya spermaku kloter kedua muncrat dengan deras dan kali ini bukan saja aku masukkan ke mulut Riska tapi juga kemulut Ani. Kami berempatpun terkulai dan tertidur setidaknya 4-5 jam lamanya dengan saling berangkulan, sementara aku merangkul Riska yang masih telanjang, Sammy merangkul Ani yang juga masih bugil. Sambil sesekali mencoba memasuk-masukkan penisnya yang sudah mulai mengecil ke vagina pacarku.

Setelah bangun dari tidur kami, Sammy dan Riska mohon diri dan berjanji bahwa peristiwa ini hanyalah rahasia antara kami berempat. Sebelum pergi, Sammy menyempatkan mencium mulut Ani dengan buas sementara aku balas dengan meremas payudara Riska. Yah hari itu benar-benar hari yang melelahkan.

Sales Girl

By Lucy →
San… hei aku jaga nich malam ini, elu jangan kirim pasien yang aneh-aneh ya, aku mau bobo, begitu pesanku ketika terdengar telepon di ujung sana diangkat.
“Udah makan belum?” suara merdu di seberang sana menyahut.
“Cie… illeee, perhatian nich”, aku menyambung dan, “Bodo ach”, lalu terdengar tuutt… tuuuttt… tuuut, rupanya telepon di sana sudah ditutup.

Malam ini aku dapat giliran jaga di bangsal bedah sedangkan di UGD alias Unit Gawat Darurat ada dr. Sandra yang jaga. Nah, UGD kalau sudah malam begini jadi pintu gerbang, jadi seluruh pasien akan masuk via UGD, nanti baru dibagi-bagi atau diputuskan oleh dokter jaga akan dikirim ke bagian mana para pasien yang perlu dirawat itu. Syukur-syukur sih bisa ditangani langsung di UGD, jadi tidak perlu merepotkan dokter bangsal. dr. Sandra sendiri harus aku akui dia cukup terampil dan pandai juga, masih sangat muda sekitar 28 tahun, cantik menurutku, tidak terlalu tinggi sekitar 165 cm dengan bodi sedang ideal, kulitnya putih dengan rambut sebahu. Sifatnya cukup pendiam, kalau bicara tenang seakan memberikan kesan sabar tapi yang sering rekan sejawat jumpai yaitu ketus dan judes apalagi kalau lagi moodnya jelek sekali. Celakanya yang sering ditunjukkan, ya seperti itu. Gara-gara itu barangkali, sampai sekarang dia masih single. Cuma dengar-dengar saja belakangan ini dia lagi punya hubungan khusus dengan dr. Anton tapi aku juga tidak pasti.

Kira-kira jam 2 pagi, kamar jaga aku diketuk dengan cukup keras juga.
“Siapa?” tanyaku masih agak malas untuk bangun, sepet benar nih mata.
“Dok, ditunggu di UGD ada pasien konsul”, suara dibalik pintu itu menyahut, oh suster Lena rupanya.
“Ya”, sahutku sejurus kemudian.

Sampe di UGD kulihat ada beberapa pria di dalam ruang UGD dan sayup-sayup terdengar suara rintihan halus dari ranjang periksa di ujung sana, sempat kulihat sepintas seorang pria tergeletak di sana tapi belum sempat kulihat lebih jelas ketika dr. Sandra menyongsongku, “Fran, pasien ini jari telunjuk kanannya masuk ke mesin, parah, baru setengah jam sih, tensi oke, menurutku sih amputasi (dipotong, gitu maksudnya), gimana menurut elu?” demikian resume singkat yang diberikan olehnya.

“San, elu makin cantik aja”, pujiku sebelum meraih status pasien yang diberikannya padaku dan ketika aku berjalan menuju ke tempat pasien itu, sebuah cubitan keras mampir di pinggangku, sambil dr. Sandra mengiringi langkahku sehingga tidak terlalu lihat apa yang dia lakukan. Sakit juga nih.

Saat kulihat, pasien itu memang parah sekali, boleh dibilang hampir putus dan yang tertinggal cuma sedikit daging dan kulit saja.
“Dok, tolong dok… jangan dipotong”, pintanya kepadaku memelas.
Akhirnya aku panggil itu si Om gendut, bosnya barangkali dan seorang rekan kerjanya untuk mendekat dan aku berikan pengertian ke mereka semua.
“Siapa nama Bapak?” begitu aku memulai percakapan sambil melirik ke status untuk memastikan bahwa status yang kupegang memang punya pasien ini.
“Praptono”, sahutnya lemah.

“Begini Pak Prap, saya mengerti keadaan Bapak dan saya akan berusaha untuk mempertahankan jari Bapak, namun hal ini tidak mungkin dilakukan karena yang tersisa hanya sedikit daging dan kulit saja sehingga tidak ada lagi pembuluh darah yang mengalir sampai ke ujung jari. Bila saya jahit dan sambungkan, itu hanya untuk sementara mungkin sekitar 2 - 4 hari setelah itu jari ini akan membusuk dan mau tidak mau pada akhirnya harus dibuang juga, jadi dikerjakan 2 kali. Kalau sekarang kita lakukan hanya butuh 1 kali pengerjaan dengan hasil akhir yang lebih baik, saya akan berusaha untuk seminimal mungkin membuang jaringannya dan pada penyembuhannya nanti diharapkan lebih cepat karena lukanya rapih dan tidak compang-camping seperti ini”, begitu penjelasan aku pada mereka.

Kira - kira seperempat jam kubutuhkan waktu untuk meyakinkan mereka akan tindakan yang akan kita lakukan. Setelah semuanya oke, aku minta dr. Sandra untuk menyiapkan dokumennya termasuk surat persetujuan tindakan medik dan pengurusan untuk rawat inapnya, sementara aku siapkan peralatannya dibantu oleh suster-suster dinas di UGD.

“San, elu mau jadi operatornya?” tanyaku setelah semuanya siap.
“Ehm… aku jadi asisten elu aja deh”, jawabnya setelah terdiam sejenak.

Entah kenapa ruangan UGD ini walaupun ber-AC tetap saja aku merasa panas sehingga butir-butir keringat yang sebesar jagung bercucuran keluar terutama dari dahi dan hidung yang mengalir hingga ke leher saat aku kerja itu. Untung Sandra mengamati hal ini dan sebagai asisten dia cepat tanggap dan berulang kali dia menyeka keringatku. Huh… aku suka sekali waktu dia menyeka keringatku, soalnya wajahku dan wajahnya begitu dekat sehingga aku juga bisa mencium wangi tubuhnya yang begitu menggoda, lebih-lebih rambutnya yang sebahu dia gelung ke atas sehingga tampak lehernya yang putih berjenjang dan tengkuknya yang ditumbuhi bulu-bulu halus. Benar-benar menggoda iman dan harapan.

Setengah jam kemudian selesai sudah tugasku, tinggal jahit untuk menutup luka yang kuserahkan pada dr. Sandra. Setelah itu kulepaskan sarung tangan sedikit terburu-buru, terus cuci tangan di wastafel yang ada dan segera masuk ke kamar jaga UGD untuk pipis. Ini yang membuat aku tidak tahan dari tadi ingin pipis. Daripada aku mesti lari ke bangsal bedah yang cukup jauh atau keluar UGD di ujung lorong sana juga ada toilet, lebih baik aku pilih di kamar dokter jaga UGD ini, lagi pula rasanya lebih bersih.

Saat kubuka pintu toilet (hendak keluar toilet), “Ooopsss…” terdengar jeritan kecil halus dan kulihat dr. Sandra masih sibuk berusaha menutupi tubuh bagian atasnya dengan kaos yang dipegangnya.
“Ngapain lu di sini?” tanyanya ketus.
“Aku habis pipis nih, elu juga kok nggak periksa-periksa dulu terus ngapain elu buka baju?” tanyaku tak mau disalahkan begitu saja.
“Ya, udah keluar sana”, suaranya sudah lebih lembut seraya bergerak ke balik pintu biar tidak kelihatan dari luar saat kubuka pintu nanti.

Ketika aku sampai di pintu, kulihat dr. Sandra tertunduk dan… ya ampun…. pundaknya yang putih halus terlihat sampai dengan ke pangkal lengannya, “San, pundak elu bagus”, bisikku dekat telinganya dan semburat merah muda segera menjalar di wajahnya dan ia masih tertunduk yang menimbulkan keberanianku untuk mengecup pundaknya perlahan. Ia tetap terdiam dan segera kulanjutkan dengan menjilat sepanjang pundaknya hingga ke pangkal leher dekat tengkuknya. Kupegang lengannya, sempat tersentuh kaos yang dipegangnya untuk menutupi bagian depan tubuhnya dan terasa agak lembab. Rupanya itu alasannya dia membuka kaosnya untuk menggantinya dengan yang baru. Berkeringat juga rupanya tadi.

Perlahan kubalikkan tubuhnya dan segera tampak punggungnya yang putih mulus, halus dan kurengkuh tubuhnya dan kembali lidahku bermain lincah di pundak dan punggungnya hingga ke tengkuknya yang ditumbuhi bulu-bulu halus dan kusapu dengan lidahku yang basah. “Aaaccch… ach…” desahnya yang pertama dan disusul dengan jeritan kecil tertahan dilontarkannya ketika kugigit urat lehernya dengan gemas dan tubuhnya sedikit mengejang kaku. Kuraba pangkal lengannya hingga ke siku dan dengan sedikit tekanan kuusahakan untuk meluruskannya sikunya yang secara otomatis menarik kaos yang dipegangnya ikut turun ke bawah dan dari belakang pundaknya itu.

Kulihat dua buah gundukan bukit yang tidak terlalu besar tapi sangat menantang dan pada bukit yang sebelah kanan tampak tonjolannya yang masih berwarna merah dadu sedangkan yang sebelah kiri tak terlihat. Kusedot kembali urat lehernya dan ia menjerit tertahan, “Aach… ach… ssshhh”, tubuhnya pun kurasakan semakin lemas oleh karena semakin berat aku menahannya.

Dengan tetap dalam dekapan, kubimbing dr. Sandra menuju ke ranjang yang ada dan perlahan kurebahkan dia, matanya masih terpejam dengan guratan nikmat terhias di senyum tipisnya, dan secara refleks tangannya bergerak menutupi buah dadanya. Kubaringkan tubuhku sendiri di sampingnya dengan tangan kiri menyangga beban tubuh, sedangkan tangan kanan mengusap lembut alis matanya terus turun ke pangkal hidung, mengitari bibir terus turun ke bawah dagu dan berakhir di ujung liang telinganya.

Senyum tipis terus menghias wajahnya dan berakhir dengan desahan halus disertai terbukanya bibir ranum itu. “Ssshhh… acchh…” Kusentuhkan bibirku sendiri ke bibirnya dan segera kami saling berpagutan penuh nafsu. Kuteroboskan lidahku memasuki mulut dan mencari lidahnya untuk saling bergesekan kemudian kugesekan lidahku ke langit-langit mulutnya, sementara tangan kananku kembali menelusuri lekuk wajahnya, leher dan terus turun menyusuri lembah bukit, kudorong tangan kanannya ke bawah dan kukitari putingnya yang menonjol itu. Lima sampai tujuh kali putaran dan putingnya semakin mengeras. Kulepaskan ciumanku dan kualihkan ke dagunya. Sandra memberikan leher bagian depannya dan kusapu lehernya dengan lidahku terus turun dan menyusuri tulang dadanya perlahan kutarik tangannya yang kiri yang masih menutupi bukitnya. Tampak kini dengan jelas kedua puting susunya masih berwarna merah dadu tapi yang kiri masih tenggelam dalam gundukan bukit. Feeling-ku, belum pernah ada yang menyentuh itu sebelumnya.

Kujilat tepat di area puting kirinya yang masih terpendam malu itu pada jilatan yang kelima atau keenam, aku lupa. Puting itu mulai menampakkan dirinya dengan malu-malu dan segera kutangkap dengan lidah dan kutekankan di gigi bagian atas, “Ach… ach… ach…” suara desisnya semakin menjadi dan kali ini tangannya juga mulai aktif memberikan perlawanan dengan mengusap rambut dan punggungku. Sambil terus memainkan kedua buah payudaranya tanganku mulai menjelajah area yang baru turun ke bawah melalui jalur tengah terus dan terus menembus batas atas celana panjangnya sedikit tekanan dan kembali meluncur ke bawah menerobos karet celana dalamnya perlahan turun sedikit dan segera tersentuh bulu-bulu yang sedikit lebih kasar. “Eeehhhm… ech…” tidak diteruskan tapi bergerak kembali naik menyusuri lipatan celana panjangnya dan sampai pada area pinggulnya dan segera kutekan dengan agak keras dan mantap, “Ach…” pekiknya kecil pendek seraya bergerak sedikit liar dan mengangkat pantat dan pinggulnya.

Segera kutekan kembali lagi pinggul ini tapi kali ini kulakukan keduanya kanan dan kiri dan, “Fran… ugh…” teriaknya tertahan. Aku kaget juga, itu kan artinya Sandra sadar siapa yang mencumbunya dan itu juga berarti dia memang memberikan kesempatan itu untukku. Matanya masih terpejam hanya-hanya kadang terbuka. Kutarik restleting celananya dan kutarik celana itu turun. Mudah, oleh karena Sandra memang menginginkannya juga, sehingga gerakan yang dilakukannya sangat membantu. Tungkainya sangat proporsional, kencang, putih mulus, tentu dia merawatnya dengan baik juga oleh karena dia juga kan berasal dari keluarga kaya, kalau tidak salah bapaknya salah satu pejabat tinggi di bea cukai. Kuraba paha bagian dalamnya turun ke bawah betis, terus turun hingga punggung kaki dan secara tak terduga Sandra meronta dan terduduk, dengan nafas memburu dan tersengal-sengal, “Fran…” desisnya tertelan oleh nafasnya yang masih memburu.

Kemudian ia mulai membuka kancing bajuku sedikit tergesa dan kubantunya lalu ia mulai mengecup dadaku yang bidang seraya tangannya bergerak aktif menarik retsleting celanaku dan menariknya lepas. Langsung saja aku berdiri dan melepaskan seluruh bajuku dan kuterjang Sandra sehingga ia rebah kembali dan kujilat mulai dari perutnya. Sementara tangannya ikut mengimbangi dengan mengusap rambutku, ketika aku sampai di selangkangannya kulihat ia memakai celana berwarna dadu dan terlihat belahan tengahnya yang sedikit cekung sementara pinggirnya menonjol keluar mirip pematang sawah dan ada sedikit noda basah di tengahnya tidak terlalu luas, ada sedikit bulu hitam yang mengintip keluar dari balik celananya. Kurapatkan tungkainya lalu kutarik celana dalamnya dan kembali kurentangkan kakinya seraya aku juga melepas celanaku. Kini kami sama berbugil, kemaluanku tegang sekali dan cukup besar untuk ukuranku. Sementara Sandra sudah mengangkang lebar tapi labia mayoranya masih tertutup rapat. Kucoba membukanya dengan jari-jari tangan kiriku dan tampak sebuah lubang kecil sebesar kancing di tengahnya diliputi oleh semacam daging yang berwarna pucat demikian juga dindingnya tampak berwarna pucat walau lebih merah dibandingkan dengan bagian tengahnya. Gila, rupanya masih perawan.

Tak lama kulihat segera keluar cairan bening yang mengalir dari lubang itu oleh karena sudah tidak ada lagi hambatan mekanik yang menghalanginya untuk keluar dan banjir disertai baunya yang khas makin terasa tajam. Baru saat itu kujulurkan lidahku untuk mengusapnya perlahan dengan sedikit tekanan. “Eehhh… ach… ach… ehhh”, desahnya berkepanjangan. Sementara lidahku mencoba untuk membersihkannya namun banjir itu datang tak tertahankan. Aku kembali naik dan menindih tubuh Sandra, sementara kemaluanku menempel di selangkangannya dan aku sudah tidak tahan lagi kemudian aku mulai meremas payudara kanannya yang kenyal itu dengan kekuatan lemah yang makin lama makin kuat.

“Fran… ambilah…” bisiknya tertahan seraya menggoyangkan kepalanya ke kanan dan ke kiri sementara kakinya diangkat tinggi-tinggi. Dengan tangan kanan kuarahkan torpedoku untuk menembak dengan tepat. Satu kali gagal rasanya melejit ke atas oleh karena licinnya cairan yang membanjir itu, dua kali masih gagal juga namun yang ketiga rasanya aku berhasil ketika tangan Sandra tiba-tiba memegang erat kedua pergelangan tanganku dengan erat dan desisnya seperti menahan sakit dengan bibir bawah yang ia gigit sendiri. Sementara batang kejantananku rasanya mulai memasuki liang yang sempit dan membuka sesuatu lembaran, sesaat kemudian seluruh batang kemaluanku sudah tertanam dalam liang surganya dan kaki Sandra pun sudah melingkari pinggangku dengan erat dan menahanku untuk bergerak. “Tunggu”, pintanya ketika aku ingin bergerak.

Beberapa saat kemudian aku mulai bergerak mengocoknya perlahan dan kaki Sandra pun sudah turun, mulanya biasa saja dan respon yang diberikan juga masih minimal, sesaat kemudian nafasnya kembali mulai memburu dan butir-butir keringat mulai tampak di dadanya, rambutnya sudah kusut basah makin mempesona dan gerakan mengocokku mulai kutingkatkan frekuensinya dan Sandra pun mulai dapat mengimbanginya.

Makin lama gerakan kami semakin seirama. Tangannya yang pada mulanya diletakkan di dadaku kini bergerak naik dan akhirnya mengusap kepala dan punggungku. “Yach… ach… eeehmm”, desisnya berirama dan sesaat kemudian aku makin merasakan liang senggamanya makin sempit dan terasa makin menjempit kuat, gerakan tubuhnya makin liar. Tangannya sudah meremas bantal dan menarik kain sprei, sementara keringatku mulai menetes membasahi tubuhnya namun yang kunikmati saat ini adalah kenikmatan yang makin meningkat dan luar biasa, lain dari yang kurasakan selama ini melalui masturbasi. Makin cepat, cepat, cepat dan akhirnya kaki Sandra kembali mengunci punggungku dan menariknya lebih ke dalam bersamaan dengan pompaanku yang terakhir dan kami terdiam, sedetik kemudian.. “Eeeggghhh…” jeritannya tertahan bersamaan dengan mengalirnya cairan nikmat itu menjalar di sepanjang kemaluanku dan, “Crooot… crooot”, memberikannya kenikmatan yang luar biasa. Sebaliknya bagi Sandra terasa ada semprotan kuat di dalam sana dan memberikan rasa hangat yang mengalir dan berputar serasa terus menembus ke dalam tiada berujung. Selesai sudah pertempuran namun kekakuan tubuhnya masih kurasakan, demikian juga tubuhku masih kaku.

Sesaat kemudian kuraih bantal yang tersisa, kulipat jadi dua dan kuletakkan kepalaku di situ setelah sebelumnya bergeser sedikit untuk memberinya nafas agar beban tubuhku tidak menindih paru-parunya namun tetap tubuhku menindih tubuhnya. Kulihat senyum puasnya masih mengembang di bibir mungilnya dan tubuhnya terlihat mengkilap licin karena keringat kami berdua.

“Fran… thank you”, sesaat kemudian, “Ehmmm… Fran aku boleh tanya?” bisiknya perlahan.
“Ya”, sahutku sambil tersenyum dan menyeka keringat yang menempel di ujung hidungnya.
“Aku… gadis keberapa yang elu tidurin?” tanyanya setelah sempat terdiam sejenak. “Yang pertama”, kataku meyakinkannya, namun Sandra mengerenyitkan alisnya. “Sungguh?” tanyanya untuk meyakinkan.
“Betul… keperawanan elu aku ambil tapi perjakaku juga elu yang ambil”, bisikku di telinganya. Sandra tersenyum manis.
“San, thank you juga”, itu kata-kata terakhirku sebelum ia tidur terlelap kelelahan dengan senyum puas masih tersungging di bibir mungilnya dan batang kemaluanku juga masih belum keluar tapi aku juga ikut terlelap.

Perawan Dokter Sandra

By Lucy →

Namaku Budyanto, saat ini usiaku 63 tahun. Boleh dibilang untuk urusan main perempuan aku pakarnya. Ini bisa kukatakan karena pada saat usiaku 13 tahun aku sampai menghamili 3 temanku sekaligus. Dan di usiaku ke 17 sampai dengan 5 orang teman yang aku hamili, satu di antaranya Winnie, seorang gadis peranakan Belanda dan Cina yang pada akhirnya aku terpaksa mengawininya karena hanya dia yang ambil risiko untuk melahirkan bayi atas kenakalanku dibanding gadis lain. Winnie sampai memberiku 3 orang anak, tetapi selama aku mendampinginya dalam hidupku, aku masih juga bermain dengan perempuan sampai usiaku 50 tahun, inipun disebabkan karena Winnie harus tinggal di Belanda karena sakit yang dideritanya hingga akhir hayatnya yaitu 7 tahun yang lalu, otomatis aku harus mendampinginya di Belanda sementara ketiga anakku tetap di Indonesia.

Kira-kira satu tahun yang lalu petualanganku dengan perempuan terjadi lagi, tapi kali ini orangnya adalah yang ada hubungan darah denganku sendiri yaitu Dhea dan Marsha, keduanya merupakan cucuku sendiri. Satu tahun yang lalu, anakku yang kedua mengontakku di Belanda yang memberitahukan bahwa kakaknya yaitu anakku yang pertama dan istrinya mengalami kecelakaanyang akhirnya harus meninggalkan dunia ini. Aku pun langsung terbang ke Jakarta. Setiba di Jakarta aku lansung menuju ke rumah anakku, di sana aku menemukan anakku dan istrinya telah terbujur kaku dan kulihat Dhea dan adiknya Marsha sedang menagis meraung-raung di depan keduajenazah itu. Sewaktu kutinggal ke Belanda, Dhea dan Marsha masih kecil. Setelah peguburan jenazah kedua anakku, atas anjuran anakku yang kedua, aku diminta untuk tinggal di Jakarta saja dan tidak usah kembali ke Belanda, aku harus menjaga kedua cucuku, aku pun setuju. Sejak saat itu, aku pun tinggal di Indonesia.

Satu minggu aku sudah tinggal di rumah almarhum anakku, dan kutahu Dhea usianya 15 tahun (kelas 3 SMP) sedangkan adiknya Marsha usianya 13 tahun (kelas 1 SMP) ini kutahu karena tugasku sekarang menjaga dan mengantarkan cucuku sekolah. Dhea sudah tumbuh menjadi anak gadis tetapi kelakuannya agak nakal, setiap pulang dari sekolah bukannya belajar malah main ke temannya sampai jam 09.00 malam baru kembali, di saat aku sudah tertidur.

Suatu hari ketika Dhea pulang aku masih terbangun, Dhea langsung masuk kamar setelah mandi dan berdiam di dalam kamarnya yang membuat aku penasaran melihat sikap Dhea, sampai di depan kamarnya sebelum kuketuk aku coba mengintip dari lubang pintu dan aku terkaget-kaget melihat apa yang dilakukan Dhea di kamarnya. TV di kamar itu menyala dimana gambarnya film porno, sedangkan Dea sedang mengangkat roknya dan jarinya ditusukkan ke dalam lubang kemaluannya sendiri. Aku mengintipnya hampir 15 menit lamanya yang membuat aku tidak sadar bahwa batangkemaluanku mulai mengeras dan celanaku basah. Setelah itu kutinggalkan Dhea yang masih onani, sedang aku pun ke kamar untuk tidur, tapi dalam tidurku terbayang kemaluan Dhea.

Paginya aku bangun terlambat karena mimpiku. Dhea dan Marsha sudah berangkat sekolah naik angkutan kota. Sore hari aku kembali setelah mengurus surat-surat kuburan anakku. Ketika aku masuk ke ruang keluarga, aku sempat terkejut melihat Dhea sedang menonton TV, pikirku tumben sore-sore Dhea ada di rumah dan aku makin terkejut ketika aku menghampiri Dhea, Dhea sedang melakukan onani sementara TV yang ia tonton adalah film porno yang tadi malam sudah dilihatnya. Dhea pun tidak tahu kalau aku sedang memperhatikannya dimana Dhea sedang asyik-asyiknya onani.

"Dhea.. kamu lagi.. ngapain?"
"Uh.. kakek.. ngagetin aja.. nih.."
Dhea yang kaget langsung menutupinya dengan rok dan memindahkan channel TV.
"Kamu kaget.. yach, kamu.. belajar begini sama siapa.. kamu ini bandel yach.."
"Belajar dari film dan bukunya temen, tapi Dhea.. nggak bandel loh.. Kek.."
"Sini Kakek.. juga mau nonton," kataku sambil duduk di sebelahnya."Kakek mau nonton juga.. Kakek nggak marah sama Dea khan?" katanya agak manja sambil melendot di bahuku.
"Nggak.. ayo pindahin channel-nya!"

Gambar TV pun langsung berubah menjadi film porno lagi. Tanpa bergeming, Dhea asyik menatap film panas itu sementara nafasku sudah berubah menjadi nafsu buas dan batang kemaluanku mulai mengeras berusaha keluar dari balik celanaku. "Dhe.. mau Kakek pangku.. nggak?" Tanpa menoleh ke arahku Dhea bergeser untuk dipangku. Dhea yang sudah meloloskan celana dalamnya merasa terganggu ketika kemaluannya yang beralaskan roknya tersentuh batang kemaluanku yang masih tertutup celana.
"Ah.. Kakek.. ada yang mengganjal lubang kemaluan Dhea nih dari bawah."
"Supaya nggak ganjal, rok kamu lepasin aja, soalnya rok kamu yang bikin ganjal."

Tiba-tiba Dhea menungging dipangkuan melepaskan roknya, badannya menutupi pemandanganku ke arah TV tapi yang kulihat kini terpampang di depan mukaku pantat Dhea yang terbungkus kulit putih bersih dan di bawahnya tersembul bulu-bulu tipis yang masih halus menutupi liang kemaluannya yang mengeluarkan aroma bau harum melati.
"Dhea.. biar aja posisi kamu begini yach!"
"Ah.. Kakek, badan Dhea khan nutupin Kakek.. nanti Kakek nggak lihat filmnya."
"Ah.. nggak apa-apa, Kakek lebih suka melihat ini."
Pantatnya yang montok sudah kukenyot dan kugigit dengan mulut dan gigiku. Tanganku yang kiri memegangi tubuhnya supaya tetap berdiri sedangkan jari tengah tangan kananku kuusap lembut pada liang kemaluannya yang membuat Dhea menegangkan tubuhnya.

"Ah.. Ah.. ssh.. sshh.." Pelan-pelam jari tengahku kutusukkan lebih ke dalam lagi di lubamg kemaluannya yang masih sangat rapat. "Aw.. aw.. aw.. sakit.. Kek.." jerit kecil Dhea. Setelah lima menit jariku bermain di kemaluannya dan sudah agak basah, sementara lubang kemaluannya sudah berubah dari putih menjadi agak merah. Kumulai memainkan lidah ke lubang kemaluannya. Saat lubang kemaluan itu tersentuh lidahku, aku agak kaget karena lubang kemaluan itu selain mengeluarkan aroma melati rasanya pun agak manis-manis legit, lain dari lubang kemaluan perempuan lain yang pernah kujilat, sehingga aku berlama-lama karena aku menikmatinya.

"Argh.. argh.. lidah Kakek enak deh.. rasanya.. agh menyentuh memek Dhea.. Dhea jadi suka banget nih."
"Iya.. Dhea, Kakek juga suka sekali rasanya, memekmu manis banget rasanya."
Dengan rakusnya kujilati lubang kemaluan Dhea yang manis, terlebih-lebih ketika biji klitorisnya tersentuh lidahku karena rupanya biang manisnya dari biji klitorisnya. Dhea pun jadi belingsatan dan makin menceracau tidak karuan. "Argh.. sshh.. agh.. aghh.. tiddaak.. Kek.. uenak.. buanget.. Kek.. argh.. agh.. sshh.." Hampir 30 menit lamanya biji klitoris Dhea jadi bulan-bulanan lidahku dan limbunglah badan Dhea yang disertai cairan putih kental dan bersih seperti lendir, mengucur deras dari dalam lubang kemaluannya yang langsung membasahi lubang kemaluannya dan lidahku. Tapi karena lendir itu lebih manis lagi rasanya dari biji klitorisnya langsung kutelan habis tanpa tersisa dan membasahi mukaku. "Argghh.. aawww.. sshh.. tolong.. Kek.. eennaak.. baangeet.. deh.." Jatuhlah tubuh Dhea setelah menungging selama 30 menit meniban tubuhku.

Setelah tubuhku tertiban kuangkat Dhea dan kududukkan di Sofa, sementara badannya doyong ke kiri, aku melepaskan semua pakaianku hingga bugil dimana batang kemaluanku sudah tegang dan mengeras dari tadi. Kemudian kedua kaki Dhea aku lebarkan sehingga lubang kemaluan itukembali terbuka lebar dengan sedikit membungkuk kutempelkan batang kemaluanku persis di liang kemaluannya. Karena lubang kemaluannya masih sempit, kumasukkan tiga buah jari ke lubang kemaluannya, supaya lubang kemaluan itu jadi lebar. Ketika jari itu kuputar-putar, Dhea yang memejamkan mata hanya bisa menahan rasa sakit, sesekali ia meringis. Setelah 5 menit lubang kemaluannya kuobok-obok dan terlihat agak lebar, kutempelkan batang kemaluanku tepat di lubang kemaluannya, lalu kuberikan hentakan. Tapi karena masih agak sempit maka hanya kepala kemaluanku saja yang bisa masuk. Dhea pun menjerit.
"Awh.. sakit.. Kek.. sakit.. banget.."
"Sabar.. sayang.. nanti juga enak.. deh.."

Kuhentak lagi batang kemaluanku itu supaya masuk ke lubang kemaluan Dhea, dan baru yang ke-15 kalinya batangan kemaluanku bisa masuk walau hanya setengah ke lubang kemaluan Dhea. Dhea pun 15 kali menjeritnya. "Ampun.. Kek.. sakit.. banget.. ampun!" Karena sudah setengah batang kemaluanku masuk, dan mulai aku gerakan keluar-masuk dengan perlahan, rasa sakit yang dirasakan Dhea berubah menjadi kenikmatan.
"Kek.. Kek.. gh.. gh.. enak.. Kek.. terus.. Kek.. terus.. Kek.. batang.. Kakek.. rasanya.. sampai.. perut Dhea.. terus.. Kek!"
"Tuh.. khan.. benar.. kata Kakek.. nggak.. sakit lagi sekarang.. jadi enak.. kan?"
Dhea hanya mengangguk, kaus yang digunakannya kulepaskan berikut BH merah mudanya, terlihatlah dengan jelas payudara Dhea yang baru tumbuh tapi sudah agak membesar dimana diselimuti kulit putih yang mulus dan di tengahnya dihiasi puting coklat yang juga baru tumbuh membuatku menahan ludah. Lalu dengan rakusnya mulutku langsung mencaplok payudara itu dan kukulum serta kugigit yang membuat Dhea makin belingsatan.

Setelah satu jam, lubang kemaluan Dhea kuhujam dengan batang kemaluanku secara ganas, terbongkarlah pertahanan Dhea yang sangat banyak mengeluarkan cairan lendir dari dalam lubang kemaluannya membasahi batanganku yang masih terbenam di dalam lubang kemaluannya disertai darah segar yang otomatis keperawanan cucuku Dhea telah kurusak sendiri. Dhea pun menggeleparlalu ambruk di atas Sofa. "Agh.. agh.. agh.. argh.. argh.. sshh.. sshh.. argh.. gh.. gh.. Dhea.. keluar.. nih.. Kek.. aw.. aw.."

Lima belas menit kemudian aku pun sampai pada puncak kenikmatan, dimana tepat sebelum keluar aku sempat menarik batang kemaluanku dari lubang kemaluan Dhea dan menyemburkan cairan kental hangat di atas perut Dhea dan aku pun langsung ambruk meniban tubuh Dhea. "Aw.. agh.. agh.. Dhea.. memekmu.. memang.. luar biasa, kontol Kakek.. sampai dipelintir di dalam memekmu..agh.. kamu.. me.. memeng.. hebat.."

Setengah jam kemudian, dengan terkaget aku terbangun oleh elusan tangan lembut memegangi kontolku.
"Kakek.. habis.. ngapain.. Kakak Dhea.. kok.. Kakak Dhea dan Kakek telanjang.. kayak habis.. mandi.. Marsha juga.. mau dong telanjang.. kayak.. Kakek dan.. Kakak Dhea."
"Hah.. Marsha jangan.. telanjang!"
Tapi perkataanku kalah cepat dengan tindakannya Marsha yang langsung melepaskan semua pakaiannya hingga Marsha pun bugil. Aku terkejut melihat Marsha bugil dimana tubuh anak umur 11 tahun ini kelihatan sempurna, lubang kemaluan Marsha yang masih gundul belum tumbuh bulu-bulu halus tetapi payudaranya sudah mulai berkembang malah lebih montok dari payudara Dhea. Kulit tubuh Marsha pun lebih putih dan mengkilat dibanding kulit tubuh Dhea, sehingga membuat nafsu seks-ku kembali meningkat.

"Kek.. Marsha kan tadi ngintip ketika perut Kakak Dhea dimasukin sama punya kakek.. Marsha juga mau dong.. kata mama dan papa, kalau Kakak Dhea dapat sesuatu pasti Marsha juga dapat."
"Oh.. mama dan papa bilang begitu yach, kamu memang mau perut kamu dimasukin punya Kakek."
"Iya.. Kek.. Marsha mau sekali."

Tanpa banyak basa-basi kusuruh Marsha terlentang di atas karpet. Dengan agak riang Marsha langsung terlentang, aku duduk di sampingnya kedua kakinya aku lebarkan sehingga lubang kemaluannya yang gundul terlihat jelas. Kusuruh Marsha menutup mata. "Marsha sekarang tutup matanya yach, jangan dibuka kalau Kakek belum suruh, nanti kalau sakit Marsha hanyaboleh bilang sakit." Marsha pun menuruti permintaanku. Lubang kemaluannya kuusap dengan jari tengahku dengan lembut dan sesekali jariku kumasukkan ke lubang kemaluannya. Tangan kiriku dengan buasnya telah meremas payudaranya dan memelintir puting yang berwarna kemerahan. Marsha mulai menggelinjang. Dia tetap memejamkan matanya, sedang mulutnya mulai nyerocos. "Ah.. ah.. ah.. sshh.. ssh.." Kedua kakinya disepakkan ketika jari tengahku menyentuh klitorisnya. Lidahku mulai menjilati lubang kemaluannya karena masih gundul, dengan leluasa lidahku mengusapliang kemaluannya sampai lidahku menyentuh klitorisnya. Dikarenakan usianya lebih muda dari Dhea maka lubang kemaluan dan klitoris Marsha rasanya belum terlalu manis dan 10 menit kemudian keluarlah cairan kental putih yang rasanya masih hambar menetes dengan derasnya dari dalam lubang kemaluannya membasahi lidahku yang sebagian tidak kutelan karena rasanya yang masih hambar sehingga membasahi paha putihnya.

"Ah.. ah.. ngeh.. ngeh.. Marsha.. basah nih Kek.." Kuambil bantal Sofa dan kuganjal di bawah pantat Marsha sehingga lubang kemaluan itu agak terangkat, lalu kutindih Marshadan kutempelkan batang kemaluanku pada lubang kemaluannya yang masih berlendir. Kuhentak batang kemaluanku ke dalam lubang kemaluan Marsha yang masih lebih rapat dari lubang kemaluan Dhea. Kuhentak berkali-kali kemaluanku sampai 25 kali baru bisa masuk kepala kemaluanku ke lubang kemaluan Marsha. 25 kali juga Marsha menjerit.

"Aw.. aw.. sakit.. Kek.. sakit.. sekali.."
"Katanya kamu mau perutmu aku masukin punya Kakek seperti lubang kemaluan Kakak Dhea."
"Iya Kek.. Marsha mau.. Marsha tahan aja deh sakitnya."
Kepala kemaluanku yang sudah masuk ke lubang kemaluan Marsha kehentak sekali lagi, kali ini masuk hampir 3/4-nya batang kemaluanku ke lubang kemaluan Marsha, ini karena lubang kemaluan Marsha masih licin sisa lendir yang tadi dikeluarkannya. "Hegh.. hegh.. hegh.. iya Kek sekarang Marsha nggak sakit lagi.. malah enak.. rasanya di perut Marsha ada yang dorong-dorong.. Hegh.. Hegh.." komentar Marsha ketika menahan hentakan batang kemaluanku di lubang kemaluannya. Setelah 30 menit lubang kemaluannya kuhujam dengan hentakan batang kemaluanku, meledaklah cairan kental dan tetesan darah dari lubang kemaluan Marsha keluar dengan derasnya yang membasahi kemaluanku dan pahanya. Marsha pun langsung pingsan. "Arrgh.. arrghh.. ssh.. Kek.. Marsha.. nggak kuat.. Kek.. Marsha.. mau pingsan.. nih.. nggak.. ku.. kuaatt.."

Pingsannya Marsha tidak membuatku mengendorkan hentakan kemaluanku di lubang kemaluannya yang sudah licin, malah membuatku makin keras menghentaknya, yang membuatku sampai puncak yang kedua kalinya setelah yang pertama kali di lubang kemaluannya Dhea, tapi kali ini aku tidak sempat menarik batang kemaluanku dari dalam lubang kemaluan Marsha sehingga cairan kental hangat itu kubuang di dalam perut Marsha dan setelah itu baru kulepaskan batang kemaluanku dari lubang kemaluan Marsha yang masih mengeluarkan lendir. "Ah.. ah.. ser.. ser.. ser.. jrot.. jrot.. agh.. ag.. ssh.. argh.." Tubuhku pun langsung ambruk di tengah Marsha yang pingsan di atas karpet dan Dhea yang tertidur di sofa. Satu jam kemudian aku terbangun di saat batang kemaluanku berasa dijilat dan ketika aku melirik aku melihat Dhea dan Marsha sedang bergantian mengulum batang kemaluanku dan menjilati sisa cairan lendir tadi, kuusap kedua kepala cucuku itu yang lalu kusuruh keduanya mandi.

"Dhea.. sudah.. sayang.. sana ajak adikmu.. bersih-bersih dan mandi setelah itu kita ke Mall, beli McDonal.. ayo sayang!"
"Kek.. Dhea puas deh.. lain.. kali lagi yach Kek!"
"Asyik beli McDonal.. tapi lain kali lagi yach.. Kek, perut Marsha jadi hangat.. deh.. enak.."
"Iya.. sayang.. pasti lagi.. ayo sekarang Kakek yang mandiin."

Setelah itu kami pun mandi bertiga, sejak saat itu kedua cucuku selalu tiap malam minta coba lagi keganasan batang kemaluanku. Aku pun tersenyum bangga bahwa aku memang penakluk perempuan, walau perempuan yang aku taklukan adalah kedua cucuku yang sekarang tinggal bersamaku.

Cucuku Dhea dan Marsha

By Lucy →

Suatu hari kolegaku, seorang wartawati mengajak makan siang. Aku memang biasa makan siang bareng dia, jadi ajakan kali ini tidak aneh bagiku. Namun dia kali ini ngajak makan di restoran yang rada tenang. Biasanya kami selalu berburu makanan enak setiap jam makan siang. Kami sering bertemu jika melakukan tugas liputan. Dia penggemar makanan enak, seperti juga aku.
“Dik, yuk kita jalan-jalan ke Eropa, sekaligus liputan, aku kepengin keliling Eropa,” kata mbak Tati.
Gagasan mbak Tati agak menggugahku. Pertama, yang mengajak adalah Mbak Tati, wartawati senior, perawan tua. Karena asyik dengan pekerjaannya sampai umur 35 belum juga kawin. Padahal orangnya ramah, badannya proporsional, kulitnya putih. Kami beberapakali berkesempatan liputan bersama dia ke beberapa kota dan ada juga ke luar negeri. Namun bukan kami jalan berdua tapi, tetapi bersama rombongan wartawan.
Aku dan mbak Tati cukup akrab, hubungan kami hanya sebatas bersahabat, tidak lebih dari itu. Aku sama sekali tidak pernah berpikir untuk mendekati mbak Tati lebih dari sahabat. Padahal kesempatan itu ada. Kami pernah tidur sekamar ketika melakukan liputan ke Tokyo. Sebetulnya kondisinya tidak sepenuhnya seperti itu, tapi ketika aku sedang dilanda sakit perut, aku memilih tinggal di kamar tidak meliput. Rupanya Mbak Tati rada malas , sehingga dia pun memilih tinggal di hotel. Dia memilih tinggal di kamarku. Namun tidak ada kejadian apa-apa, karena aku memang tidak berpikiran ke arah ngesek, dia pun mungkin begitu. Apalagi perutku mules dan mondar-mandir nongkrong di kamar mandi.
Ke Eropa, sebenarnya bukan hal baru bagi ku mungkin juga bagi Mbak Tati, Aku pernah ke Prancis, Austria, Swiss dan Jerman. Semua perjalananku hanya semata-mata tugas jurnalistik. Jadi tidak banyak waktu untuk jalan-jalan. Kesempatan di sela-sela kunjungan itu, paling-paling hanya melihat beberapa tempat terkenal dan tentunya mencari sesuatu untuk di beli. Itu berarti keliling ke pusat-pusat perbelanjaan. Ajakan Mbak Tati ini cukup menarik. Ada beberapa hal yang ingin kulihat mungkin juga mengalaminya. Ketika kutanya Mbak Tati apa yang ingin dilihat di Eropa, dia tidak secara spesifik menyebutkan. Dia hanya menginginkan jalan-jalan tour. Dia katanya juga pernah ke Eropa beberapa kali seperti ke Belanda, Inggris dan Swiss, tapi semua itu tidak bisa dinikmati sepenuhnya karena dalam rangka peliputan. Aku memahaminya, karena aku pun demikian. Dia ingin bebas tidak terikat waktu dan menikmati alam Eropa. Aku dipilihnya karena dia merasa cocok jika jalan denganku. Mbak Tati jika jalan keluar kota atau keluar negeri, jika ada waktu luang memang selalu menggandengku untuk menemaninya. Bahkan ketika dia ingin berdisko di Kuta Bali ketika kami sedang meliput di sana, dia mengajakku juga.
Itulah sedikit gambaran kearabanku dengan mbak Tati. Aku memang menjadi sahabatnya yang paling dekat, dia menganggap aku yang kala itu berumur 28 tahun sebagai adiknya.
Kami sama-sama bekerja di mass media Cuma beda surat kabar.



Mbak Tati lalu membeberkan rencananya keliling Eropa, dia ingin ke Belanda, Prancis, Jerman dan beberapa negara lainnya. Kami berbagi tugas. Dia menyusun strategi agar kami bisa dapat penugasan dari kantor untuk jalan ke Eropa. Sedangkan aku menyusun rencana dan memilih tempat-tempat yang menarik untuk dikunjungi.
Tidak mudah bagi kami untuk mendapat izin dari kantor melakukan liputan ke luar negeri, tetapi Mbak Tati punya kiat agar dapat izin. Jika peristiwanya tidak betul-betul menarik, maka mustahil kantor kami mengirim kami ke sana. Apalagi biaya untuk peliputan ke luar negeri, cukup besar.
Mbak Tati dengan antusias memastikan bahwa aku hanya perlu membekali diri dengan uang saku saja. Soal biaya yang lain-lain akan diusahakan Mbak Tati.
Dia menyarankan mulai menabung dari sekarang. Rencananya perjalanan itu pada bulan Juli tahun depan.
Strategi Mbak Tati aku acungi jempol. Dia mencari suatu acara yang layak diliput dan kantor kami kemungkinan besar bakal menyetujui untuk diliput. Acara-acara itu seperti Konferensi Tingkat Tinggi, atau pameran internasional, atau acara apa pun yang erat kaitannya dengan kepentingan Indonesia.
Mbak Tati memang trampil, dalam 3 hari dia sudah berhasil mengumpulkan acara-acara besar pada bulan Juli di Eropa. Kami lalu berdiskusi untuk memilah dan menentukan acara apa yang akan kami liput. Pilihan jatuh pada pameran furniture internasional di Paris. Sebelum kami putuskan untuk meliput acara itu, kami lalu menghubungi beberapa pengusaha besar furniture di Jakarta. Beberapa dari mereka ternyata berencana ikut dalam pameran itu, karena pameran itu dianggap banyak pembeli potensial dari seluruh Eropa.
Mbak Tati aku akui memang wartawan yang gesit dan kreatif. Belum sampai sebulan sejak pembicaraan kami di resto hari itu, dia sudah mengantongi komitment tiket dan hotel dari calon peserta pameran dari Indonesia. Para pengusaha itu antusias kesertaan mereka mendapat liputan dari media nasional, oleh karena itu mereka dengan senang hati menyediakan tiket pesawat, hotel, transportasi dan konsumsi selama mereka berpameran.
Tiket dan hotel itu bukan hanya untuk dia, tetapi juga untukku. Amanlah, tiket dan hotel sudah ditangan, masalahnya tinggal kami mengumpulkan untuk uang saku. Aku dan Mbak Tati akhirnya menjadi anggota delegasi untuk pameran ke Paris. Berbekal itu, kami bisa bebas fiskal di airport.
Kami targetkan dalam setahun ini bisa terkumpul masing-masing kami 2 ribu dolar. Jumlah yang lumayan besar di Indonesia, tetapi kalau dipakai melancong mungkin tidak terlalu besar. Memadailah.
Kami apply untuk peliputan ke panitia pameran di Paris, Prancis . Semua persiapan sudah rapi, tinggal apply visa dan izin dari kantor. Waktunya masih panjang jadi kami tidak perlu mengajukan perjalanan itu ke kantor kami masing-masing.
Untuk berjalan keliling Eropa, minimal harus menguasai bahasa Inggris, Prancis dan Jerman. Aku mengusulkan Mbak Tati untuk belajar bahasa Eropa melalui kursus. Dia setuju dan memilih belajar bahasa Prancis. Aku memilih bahasa Jerman. Bahasa Inggris tentunya sudah kami kuasai lah.
Jadwal perjalanan sudah selesai aku susun. Draft perjalanan ini sudah lebih dari 10 kali berubah karena berbagai keinginan dan penyesuaian di tempat tujuan. Semula aku menyontek dari acara tour dari travel biro. Namun setelah kupelajari tempat-tempat yang dikunjungi, terasa kurang menarik. Aku dan Mbak Tati tentunya tidak perlu berkunjung ke tempat-tempat seperti kalau di Jakarta, Dufan, Taman Mini, Taman Mekarsari atau ke Monas. Kami ingin lebih menyelami kehidupan masyarakat di berapa tempat di Eropa, yang pastinya jauh berbeda dengan kehidupan di Asia.
Sejak awal menerima ajakan mbak Tati, aku sebenarnya sudah memendam keinginan untuk mengunjungi tempat nudist. Aku bukan ingin melihat orang telanjang semata-mata, tetapi ingin merasakan, gimana sih rasanya telanjang secara bebas. Gagasan ini akhirnya aku utarakan juga kepada Mbak Tati, dengan rada malu-malu. Dia mulanya kurang setuju, karena dia tidak siap ikut menjadi nudis. Tapi kuyakinkan bahwa di tempat nudis, tidak perlu juga harus ikut nudis. Di beberapa tempat diperbolehkan tetap memakai bikini. Aku beralasan bahwa sampai saat ini belum ada media di Indonesia yang membuat reportase mengenai nudis. Rupanya liputan yang bakal ekslusif itu menggelitik Mbak Tati. “ Iya ya belum pernah aku baca laporan dari daerah nudis oleh wartawan Indonesia,” kata mbak Tati.
Akhirnya dia setuju. Aku lalu membayangkan bakal melihat mbak Tati bugil. Mbak Tati sebenarnya bukan wanita yang tergolong kurang menarik. Wajahnya rata-rata saja, tetapi kalau lama-lama di perhatikan banyak juga yang menarik darinya. Wajahnya ayu khas Jawa, badannya berisi dan nyaris over weight.
Setelah mantap menjelang 3 bulan keberangkatan kami mengajukan permohonan visa ke Kedutaan Prancis. Dengan dalih melakukan liputan, akhirnya kami mendapat visa Schengen tanpa kerepotan yang berarti.
Izin dari kantor sudah ditangan, bahkan kami sudah mengatur, selesai acara liputan kami langsung cuti 12 hari. Prakteknya kami cuti 15 hari karena ada 2 hari minggu dan sehari tanggal merah. Untuk acara peliputan sendiri adalah 4 hari. Jadi termasuk perjalanan pulang pergi kami melakukan perjalanan 21 hari.
Pada hari H kami berjanji ketemu langsung di Terminal 2D Soekarno Hatta. Ternyata hanya kami berdua yang statusnya wartawan, selebihnya ada sekitar 20 orang adalah para pengusaha mebel yang ikut di pameran itu.
Aku berhasil mengumpulkan 2000 dolar, bahkan kantor masih memberi tambahan 500 dolar.
Sesampai di tempat tujuan, ternyata aku dan Mbak Tati tinggal sekamar. Aku kuatir tapi juga senang. Kuatir karena bisa menimbulkan gossip diantara pengusaha mebel rombongan kami, tapi juga senang karena ya sekamar, jadi komunikasi lebih lancar. Yang membuat aku kikuk dan nggak enak hati adalah tempat tidur di kamar kami hanya satu bed yang lebar. Aku sudah mengurus ke front office, tapi katanya hotel penuh, jadi tidak bisa tukar kamar.


Mbak Tati tidak mempersoalkan , dia malah tenang-tenang saja. Untuk mengurangi rasa risih dan kikuk, aku candai dia bahwa mulai malam ini jadi suami istri yang tidur satu selimut. Mbak Tati hanya senyum mesem.
Malam pertama dan malam kedua tidak ada kejadian penting untuk diceritakan. Kami tidur dengan damai dan aku pun tidak berusaha memperkeruh suasana.
Mungkin karena sudah terbiasa, Mbak Tati jadi lebih santai. Pakaian dalamnya sering dibeber-beber di atas tempat tidur tanpa rikuh. Kadang-kadang malah hilir mudik hanya berbalut handuk hotel. Kalau melihat itu aku jadi kesengsem juga, pahanya kelihatan tebel dan lipatan buah dadanya sangat menggairahkan. Bokongnya tidak kalah menarik, karena menonjol banget..
Kesanku Mbak Tati meneruskan kebiasaannya dirumah dalam hal mau dan sesudah mandi. Aku memang dianggapnya anak kecil yang tidak perlu harus malu terhadapku.
Aku harusnya memang siap sampai pada tingkat melihat mbak Tati telanjang.
Di malam ketiga, atau malam terakhir kami di Paris, aku iseng ngomong ke mbak Tati. “ Mbak aku boleh nggak latihan nudis,”
“Latihan, gimana dik, kamu ini ada-ada saja, koq pake latihan segala.” katanya.
Aku mengatakan bahwa malam ini aku mencoba nudis di kamar dan tidur pun nudis. Aku tawarkan ke Mbak Tati, kalau dia mau ikut latihan ya monggo. “Ah aku nanti aja ah kalau sudah ditempatnya, masak di sini, kan kamarnya dingin, kalau telanjang kan tambah dingin ,” katanya.
Sepulang kami dari liputan kami lalu kembali ke hotel. Acara jalan-jalan keliling Paris, udah bosan. Semuanya mahal-mahal. Aku langsung kekamar mandi. Selain kebelet bab, aku ingin mandi.
Dari kamar mandi, aku keluar begitu saja telanjang sambil mengusap-usap handuk. mBak Tati kaget melihat aku bugil. “ Kamu kayak orang gila yang jalan-jalan telanjang di Jakarta,” ledek mbak Tati.
Untungnya penisku tidak berdiri, sebab di kamar mandi tadi sudah aku paksa keluar spermanya agar adiku yang satu ini anteng.
Jujur saja rasanya di dalam hati aku khawatir, malu dan sebagainya untuk memulai telanjang . Tapi semua itu aku redam. “ Kalau orang lain bisa, kenapa aku enggak,” begitu tekadku.
Aku sengaja mondar-mandir di kamar, membuat kopi, memanaskan air untuk bikin mi instan lalu duduk sambil nonton TV.
Aku leluasa ketika mbak Tati di kamar mandi. Keluar dari kamar mandi dia nekat juga hanya mengenakan celana dalam. Buset teteknya ternyata gede banget, gundal-gandul.
Untung aku lagi duduk sambil mengangkat kaki, sehingga penisku yang berdiri pelan-pelan jadi gak kelihatan. “Gitu dong mbak, jadi kita nanti terbiasa,” kataku.
“Ah kamu yang enak liat aku telanjang, “ kata mbak Tati sambil mondar-mandir membereskan baju dan memasukkannya ke koper.
“Aku nggak nyangka kalau tetek mbak ternyata besar dan bagus ,” kataku memuji.
Dipuji begitu Mbak Tati hanya menoleh ke arahku sambil memonyongkan mulutnya.
Mbak Tati kemudian berdiri dan memeriksa celana dalamnya. Dia seperti membetulkan letak sesuatu di dalamnya. “Mbak lagi dapet ya,” tanyaku seenaknya.
“Iya nih tinggal dikit, mungkin hari terakhir,” katanya.
Mbak Tati lalu berjalan senaknya, dengan hanya pakai CD. Aku pun berusaha cuek saja, tidak memperhatikan susunya. Dia pun seperti tidak memperhatikan penisku yang akhirnya kuyu kedinginan.
Aku masuk ke bawah selimut karena memang AC kamar dingin sekali. Aku sudah mematikan sejak tadi, tetapi sisa dingin AC sebelumnya masih menyengat.
Sambil tiduran aku berselimut dan menonton TV.
Benar-benar hebat, kami tidur satu selimut berdua dalam keadaan telanjang (mbak Tati nyaris telanjang sih), tetapi tidak terjadi apa-apa. Aku tidak percaya seandainya ada yang cerita begini ke aku.
Pagi-pagi aku langsung masuk kamar mandi dan bab lalu mandi. Takut bau, aku bab sambil merokok. Mandi buru-buru sambil keramas. Di kamar mandi udaranya dingin juga sih. Aku lalu mengeringkan badan dengan handuk. Tiba-tiba masuk Mbak Ratih tergopoh-gopoh dia lalu duduk di toilet dan terdengarlah desisan pancaran air seni. Ku ledek, “siulannya bisa dilaguin nggak”
“Jangan ngeledek, gua lagi kebelet banget nih,” katanya.
Setelah pipisnya reda, dibukanya celananya. Dia memperhatikan pembalutnya hanya ada noda coklat sedikit.
Tanpa basa-basi, Mbak Tati masuk ke bath tub dan menyiram seluruh tubuhnya termasuk rambutnya dengan air hangat. Aku yang sedang gosok gigi melihat dari pantulan cermin bahwa jembut Mbak Tati ternyata tebal sekali.
Mbak Tati minta aku menyabuni punggungnya. Aku menurutinya dan menanyakan bagian mana lagi. Dia bilang “ Enak aja, udah ah, punggung aja. “



Badannya lembut dengan lapisan lemak. Penisku jadi bangun. Mbak Tati meledek, “wah itu burung bangunnya kesiangan,” katanya. Ucapan singkatnya itu malah membuatku penasaran. Apa kira-kira maksud dibalik kata-kata itu. Apakah yang dia maksudkan bahwa aku tidak berani mengambil inisiatif mencumbunya, atau memang arti yang harafiah. Dari pada salah, laebih baik aku dianggap tidak berani mengambil inisiatif. Pilihan ini kuanggap terbaik, sebab kalau aku berinisiatif, kalau dia tidak bisa terima, dan aku dianggap menangguk di air keruh, akibatnya bisa runyam. Buktinya tadi waktu akusabuni dia tidak menizinkanku untuk menjamah tubuhnya lebih jauh. Akhirnya aku menjawab dengan lagak bodok. “Dari tadi udah bangun, dan tidur lagi, gara-gara liat mbak sih dia jadi marah,” kataku.
Aku cuek saja seperti tidak menginginkan apa-apa. Selesai gosok gigi aku langsung ngloyor keluar dan membuat sarapan sambil tetap telanjang.
Mbak Tati keluar dari kamar mandi juga telanjang bulat rupanya. Dia memilih-milih baju lalu dipakainya satu persatu. Seolah-olah dia di kamar sendirian sehingga tidak terlihat ada rasa malunya. Karena dia berlaku begitu, aku pun juga mencoba bersikap yang sama.
Kami lalu bersiap-siap chek out.


pujasejagat
pujasejagat
Semprot Holic
Thread Starter

Daftar
29 Jun 2015

Post
392

Like diterima
3.655

25 Jul 2018

#1

Halo selamat malam agan2 sekalian, kembali lagi nubie ingin membagi sebuah cerita karangan penulis idola ane, om jakongsu

Oke langsung saja agan2 sekalian.

Copas/ Repost

Merasakan Hidup Nudist

By Jakongsu


Suatu hari kolegaku, seorang wartawati mengajak makan siang. Aku memang biasa makan siang bareng dia, jadi ajakan kali ini tidak aneh bagiku. Namun dia kali ini ngajak makan di restoran yang rada tenang. Biasanya kami selalu berburu makanan enak setiap jam makan siang. Kami sering bertemu jika melakukan tugas liputan. Dia penggemar makanan enak, seperti juga aku.
“Dik, yuk kita jalan-jalan ke Eropa, sekaligus liputan, aku kepengin keliling Eropa,” kata mbak Tati.
Gagasan mbak Tati agak menggugahku. Pertama, yang mengajak adalah Mbak Tati, wartawati senior, perawan tua. Karena asyik dengan pekerjaannya sampai umur 35 belum juga kawin. Padahal orangnya ramah, badannya proporsional, kulitnya putih. Kami beberapakali berkesempatan liputan bersama dia ke beberapa kota dan ada juga ke luar negeri. Namun bukan kami jalan berdua tapi, tetapi bersama rombongan wartawan.
Aku dan mbak Tati cukup akrab, hubungan kami hanya sebatas bersahabat, tidak lebih dari itu. Aku sama sekali tidak pernah berpikir untuk mendekati mbak Tati lebih dari sahabat. Padahal kesempatan itu ada. Kami pernah tidur sekamar ketika melakukan liputan ke Tokyo. Sebetulnya kondisinya tidak sepenuhnya seperti itu, tapi ketika aku sedang dilanda sakit perut, aku memilih tinggal di kamar tidak meliput. Rupanya Mbak Tati rada malas , sehingga dia pun memilih tinggal di hotel. Dia memilih tinggal di kamarku. Namun tidak ada kejadian apa-apa, karena aku memang tidak berpikiran ke arah ngesek, dia pun mungkin begitu. Apalagi perutku mules dan mondar-mandir nongkrong di kamar mandi.
Ke Eropa, sebenarnya bukan hal baru bagi ku mungkin juga bagi Mbak Tati, Aku pernah ke Prancis, Austria, Swiss dan Jerman. Semua perjalananku hanya semata-mata tugas jurnalistik. Jadi tidak banyak waktu untuk jalan-jalan. Kesempatan di sela-sela kunjungan itu, paling-paling hanya melihat beberapa tempat terkenal dan tentunya mencari sesuatu untuk di beli. Itu berarti keliling ke pusat-pusat perbelanjaan. Ajakan Mbak Tati ini cukup menarik. Ada beberapa hal yang ingin kulihat mungkin juga mengalaminya. Ketika kutanya Mbak Tati apa yang ingin dilihat di Eropa, dia tidak secara spesifik menyebutkan. Dia hanya menginginkan jalan-jalan tour. Dia katanya juga pernah ke Eropa beberapa kali seperti ke Belanda, Inggris dan Swiss, tapi semua itu tidak bisa dinikmati sepenuhnya karena dalam rangka peliputan. Aku memahaminya, karena aku pun demikian. Dia ingin bebas tidak terikat waktu dan menikmati alam Eropa. Aku dipilihnya karena dia merasa cocok jika jalan denganku. Mbak Tati jika jalan keluar kota atau keluar negeri, jika ada waktu luang memang selalu menggandengku untuk menemaninya. Bahkan ketika dia ingin berdisko di Kuta Bali ketika kami sedang meliput di sana, dia mengajakku juga.
Itulah sedikit gambaran kearabanku dengan mbak Tati. Aku memang menjadi sahabatnya yang paling dekat, dia menganggap aku yang kala itu berumur 28 tahun sebagai adiknya.
Kami sama-sama bekerja di mass media Cuma beda surat kabar.



Mbak Tati lalu membeberkan rencananya keliling Eropa, dia ingin ke Belanda, Prancis, Jerman dan beberapa negara lainnya. Kami berbagi tugas. Dia menyusun strategi agar kami bisa dapat penugasan dari kantor untuk jalan ke Eropa. Sedangkan aku menyusun rencana dan memilih tempat-tempat yang menarik untuk dikunjungi.
Tidak mudah bagi kami untuk mendapat izin dari kantor melakukan liputan ke luar negeri, tetapi Mbak Tati punya kiat agar dapat izin. Jika peristiwanya tidak betul-betul menarik, maka mustahil kantor kami mengirim kami ke sana. Apalagi biaya untuk peliputan ke luar negeri, cukup besar.
Mbak Tati dengan antusias memastikan bahwa aku hanya perlu membekali diri dengan uang saku saja. Soal biaya yang lain-lain akan diusahakan Mbak Tati.
Dia menyarankan mulai menabung dari sekarang. Rencananya perjalanan itu pada bulan Juli tahun depan.
Strategi Mbak Tati aku acungi jempol. Dia mencari suatu acara yang layak diliput dan kantor kami kemungkinan besar bakal menyetujui untuk diliput. Acara-acara itu seperti Konferensi Tingkat Tinggi, atau pameran internasional, atau acara apa pun yang erat kaitannya dengan kepentingan Indonesia.
Mbak Tati memang trampil, dalam 3 hari dia sudah berhasil mengumpulkan acara-acara besar pada bulan Juli di Eropa. Kami lalu berdiskusi untuk memilah dan menentukan acara apa yang akan kami liput. Pilihan jatuh pada pameran furniture internasional di Paris. Sebelum kami putuskan untuk meliput acara itu, kami lalu menghubungi beberapa pengusaha besar furniture di Jakarta. Beberapa dari mereka ternyata berencana ikut dalam pameran itu, karena pameran itu dianggap banyak pembeli potensial dari seluruh Eropa.
Mbak Tati aku akui memang wartawan yang gesit dan kreatif. Belum sampai sebulan sejak pembicaraan kami di resto hari itu, dia sudah mengantongi komitment tiket dan hotel dari calon peserta pameran dari Indonesia. Para pengusaha itu antusias kesertaan mereka mendapat liputan dari media nasional, oleh karena itu mereka dengan senang hati menyediakan tiket pesawat, hotel, transportasi dan konsumsi selama mereka berpameran.
Tiket dan hotel itu bukan hanya untuk dia, tetapi juga untukku. Amanlah, tiket dan hotel sudah ditangan, masalahnya tinggal kami mengumpulkan untuk uang saku. Aku dan Mbak Tati akhirnya menjadi anggota delegasi untuk pameran ke Paris. Berbekal itu, kami bisa bebas fiskal di airport.
Kami targetkan dalam setahun ini bisa terkumpul masing-masing kami 2 ribu dolar. Jumlah yang lumayan besar di Indonesia, tetapi kalau dipakai melancong mungkin tidak terlalu besar. Memadailah.
Kami apply untuk peliputan ke panitia pameran di Paris, Prancis . Semua persiapan sudah rapi, tinggal apply visa dan izin dari kantor. Waktunya masih panjang jadi kami tidak perlu mengajukan perjalanan itu ke kantor kami masing-masing.
Untuk berjalan keliling Eropa, minimal harus menguasai bahasa Inggris, Prancis dan Jerman. Aku mengusulkan Mbak Tati untuk belajar bahasa Eropa melalui kursus. Dia setuju dan memilih belajar bahasa Prancis. Aku memilih bahasa Jerman. Bahasa Inggris tentunya sudah kami kuasai lah.
Jadwal perjalanan sudah selesai aku susun. Draft perjalanan ini sudah lebih dari 10 kali berubah karena berbagai keinginan dan penyesuaian di tempat tujuan. Semula aku menyontek dari acara tour dari travel biro. Namun setelah kupelajari tempat-tempat yang dikunjungi, terasa kurang menarik. Aku dan Mbak Tati tentunya tidak perlu berkunjung ke tempat-tempat seperti kalau di Jakarta, Dufan, Taman Mini, Taman Mekarsari atau ke Monas. Kami ingin lebih menyelami kehidupan masyarakat di berapa tempat di Eropa, yang pastinya jauh berbeda dengan kehidupan di Asia.
Sejak awal menerima ajakan mbak Tati, aku sebenarnya sudah memendam keinginan untuk mengunjungi tempat nudist. Aku bukan ingin melihat orang telanjang semata-mata, tetapi ingin merasakan, gimana sih rasanya telanjang secara bebas. Gagasan ini akhirnya aku utarakan juga kepada Mbak Tati, dengan rada malu-malu. Dia mulanya kurang setuju, karena dia tidak siap ikut menjadi nudis. Tapi kuyakinkan bahwa di tempat nudis, tidak perlu juga harus ikut nudis. Di beberapa tempat diperbolehkan tetap memakai bikini. Aku beralasan bahwa sampai saat ini belum ada media di Indonesia yang membuat reportase mengenai nudis. Rupanya liputan yang bakal ekslusif itu menggelitik Mbak Tati. “ Iya ya belum pernah aku baca laporan dari daerah nudis oleh wartawan Indonesia,” kata mbak Tati.
Akhirnya dia setuju. Aku lalu membayangkan bakal melihat mbak Tati bugil. Mbak Tati sebenarnya bukan wanita yang tergolong kurang menarik. Wajahnya rata-rata saja, tetapi kalau lama-lama di perhatikan banyak juga yang menarik darinya. Wajahnya ayu khas Jawa, badannya berisi dan nyaris over weight.
Setelah mantap menjelang 3 bulan keberangkatan kami mengajukan permohonan visa ke Kedutaan Prancis. Dengan dalih melakukan liputan, akhirnya kami mendapat visa Schengen tanpa kerepotan yang berarti.
Izin dari kantor sudah ditangan, bahkan kami sudah mengatur, selesai acara liputan kami langsung cuti 12 hari. Prakteknya kami cuti 15 hari karena ada 2 hari minggu dan sehari tanggal merah. Untuk acara peliputan sendiri adalah 4 hari. Jadi termasuk perjalanan pulang pergi kami melakukan perjalanan 21 hari.
Pada hari H kami berjanji ketemu langsung di Terminal 2D Soekarno Hatta. Ternyata hanya kami berdua yang statusnya wartawan, selebihnya ada sekitar 20 orang adalah para pengusaha mebel yang ikut di pameran itu.
Aku berhasil mengumpulkan 2000 dolar, bahkan kantor masih memberi tambahan 500 dolar.
Sesampai di tempat tujuan, ternyata aku dan Mbak Tati tinggal sekamar. Aku kuatir tapi juga senang. Kuatir karena bisa menimbulkan gossip diantara pengusaha mebel rombongan kami, tapi juga senang karena ya sekamar, jadi komunikasi lebih lancar. Yang membuat aku kikuk dan nggak enak hati adalah tempat tidur di kamar kami hanya satu bed yang lebar. Aku sudah mengurus ke front office, tapi katanya hotel penuh, jadi tidak bisa tukar kamar.


Mbak Tati tidak mempersoalkan , dia malah tenang-tenang saja. Untuk mengurangi rasa risih dan kikuk, aku candai dia bahwa mulai malam ini jadi suami istri yang tidur satu selimut. Mbak Tati hanya senyum mesem.
Malam pertama dan malam kedua tidak ada kejadian penting untuk diceritakan. Kami tidur dengan damai dan aku pun tidak berusaha memperkeruh suasana.
Mungkin karena sudah terbiasa, Mbak Tati jadi lebih santai. Pakaian dalamnya sering dibeber-beber di atas tempat tidur tanpa rikuh. Kadang-kadang malah hilir mudik hanya berbalut handuk hotel. Kalau melihat itu aku jadi kesengsem juga, pahanya kelihatan tebel dan lipatan buah dadanya sangat menggairahkan. Bokongnya tidak kalah menarik, karena menonjol banget..
Kesanku Mbak Tati meneruskan kebiasaannya dirumah dalam hal mau dan sesudah mandi. Aku memang dianggapnya anak kecil yang tidak perlu harus malu terhadapku.
Aku harusnya memang siap sampai pada tingkat melihat mbak Tati telanjang.
Di malam ketiga, atau malam terakhir kami di Paris, aku iseng ngomong ke mbak Tati. “ Mbak aku boleh nggak latihan nudis,”
“Latihan, gimana dik, kamu ini ada-ada saja, koq pake latihan segala.” katanya.
Aku mengatakan bahwa malam ini aku mencoba nudis di kamar dan tidur pun nudis. Aku tawarkan ke Mbak Tati, kalau dia mau ikut latihan ya monggo. “Ah aku nanti aja ah kalau sudah ditempatnya, masak di sini, kan kamarnya dingin, kalau telanjang kan tambah dingin ,” katanya.
Sepulang kami dari liputan kami lalu kembali ke hotel. Acara jalan-jalan keliling Paris, udah bosan. Semuanya mahal-mahal. Aku langsung kekamar mandi. Selain kebelet bab, aku ingin mandi.
Dari kamar mandi, aku keluar begitu saja telanjang sambil mengusap-usap handuk. mBak Tati kaget melihat aku bugil. “ Kamu kayak orang gila yang jalan-jalan telanjang di Jakarta,” ledek mbak Tati.
Untungnya penisku tidak berdiri, sebab di kamar mandi tadi sudah aku paksa keluar spermanya agar adiku yang satu ini anteng.
Jujur saja rasanya di dalam hati aku khawatir, malu dan sebagainya untuk memulai telanjang . Tapi semua itu aku redam. “ Kalau orang lain bisa, kenapa aku enggak,” begitu tekadku.
Aku sengaja mondar-mandir di kamar, membuat kopi, memanaskan air untuk bikin mi instan lalu duduk sambil nonton TV.
Aku leluasa ketika mbak Tati di kamar mandi. Keluar dari kamar mandi dia nekat juga hanya mengenakan celana dalam. Buset teteknya ternyata gede banget, gundal-gandul.
Untung aku lagi duduk sambil mengangkat kaki, sehingga penisku yang berdiri pelan-pelan jadi gak kelihatan. “Gitu dong mbak, jadi kita nanti terbiasa,” kataku.
“Ah kamu yang enak liat aku telanjang, “ kata mbak Tati sambil mondar-mandir membereskan baju dan memasukkannya ke koper.
“Aku nggak nyangka kalau tetek mbak ternyata besar dan bagus ,” kataku memuji.
Dipuji begitu Mbak Tati hanya menoleh ke arahku sambil memonyongkan mulutnya.
Mbak Tati kemudian berdiri dan memeriksa celana dalamnya. Dia seperti membetulkan letak sesuatu di dalamnya. “Mbak lagi dapet ya,” tanyaku seenaknya.
“Iya nih tinggal dikit, mungkin hari terakhir,” katanya.
Mbak Tati lalu berjalan senaknya, dengan hanya pakai CD. Aku pun berusaha cuek saja, tidak memperhatikan susunya. Dia pun seperti tidak memperhatikan penisku yang akhirnya kuyu kedinginan.
Aku masuk ke bawah selimut karena memang AC kamar dingin sekali. Aku sudah mematikan sejak tadi, tetapi sisa dingin AC sebelumnya masih menyengat.
Sambil tiduran aku berselimut dan menonton TV.
Benar-benar hebat, kami tidur satu selimut berdua dalam keadaan telanjang (mbak Tati nyaris telanjang sih), tetapi tidak terjadi apa-apa. Aku tidak percaya seandainya ada yang cerita begini ke aku.
Pagi-pagi aku langsung masuk kamar mandi dan bab lalu mandi. Takut bau, aku bab sambil merokok. Mandi buru-buru sambil keramas. Di kamar mandi udaranya dingin juga sih. Aku lalu mengeringkan badan dengan handuk. Tiba-tiba masuk Mbak Ratih tergopoh-gopoh dia lalu duduk di toilet dan terdengarlah desisan pancaran air seni. Ku ledek, “siulannya bisa dilaguin nggak”
“Jangan ngeledek, gua lagi kebelet banget nih,” katanya.
Setelah pipisnya reda, dibukanya celananya. Dia memperhatikan pembalutnya hanya ada noda coklat sedikit.
Tanpa basa-basi, Mbak Tati masuk ke bath tub dan menyiram seluruh tubuhnya termasuk rambutnya dengan air hangat. Aku yang sedang gosok gigi melihat dari pantulan cermin bahwa jembut Mbak Tati ternyata tebal sekali.
Mbak Tati minta aku menyabuni punggungnya. Aku menurutinya dan menanyakan bagian mana lagi. Dia bilang “ Enak aja, udah ah, punggung aja. “



Badannya lembut dengan lapisan lemak. Penisku jadi bangun. Mbak Tati meledek, “wah itu burung bangunnya kesiangan,” katanya. Ucapan singkatnya itu malah membuatku penasaran. Apa kira-kira maksud dibalik kata-kata itu. Apakah yang dia maksudkan bahwa aku tidak berani mengambil inisiatif mencumbunya, atau memang arti yang harafiah. Dari pada salah, laebih baik aku dianggap tidak berani mengambil inisiatif. Pilihan ini kuanggap terbaik, sebab kalau aku berinisiatif, kalau dia tidak bisa terima, dan aku dianggap menangguk di air keruh, akibatnya bisa runyam. Buktinya tadi waktu akusabuni dia tidak menizinkanku untuk menjamah tubuhnya lebih jauh. Akhirnya aku menjawab dengan lagak bodok. “Dari tadi udah bangun, dan tidur lagi, gara-gara liat mbak sih dia jadi marah,” kataku.
Aku cuek saja seperti tidak menginginkan apa-apa. Selesai gosok gigi aku langsung ngloyor keluar dan membuat sarapan sambil tetap telanjang.
Mbak Tati keluar dari kamar mandi juga telanjang bulat rupanya. Dia memilih-milih baju lalu dipakainya satu persatu. Seolah-olah dia di kamar sendirian sehingga tidak terlihat ada rasa malunya. Karena dia berlaku begitu, aku pun juga mencoba bersikap yang sama.
Kami lalu bersiap-siap chek out.


Lanjut di bawah gan.....


Like

Reactions: KangAden, adelynaudrey0915, bungR, dan 31 lainnya
pujasejagat
pujasejagat
Semprot Holic
Thread Starter

Daftar
29 Jun 2015

Post
392

Like diterima
3.655

25 Jul 2018

#2

Lanjutannya gan.....


Kami menggunakan kereta cepat TGV dari stasiun Paris Gare Lyon yang berangkat jam 11.54 siang dan sampai di Lyon sekitar jam 2 siang. Kereta cepat kebanggaan Prancis memang luar biasa, dalamnya kayak pesawat terbang. Kami membeli tiket eurail dari Jakarta, jadi agak murah. Tapi itu pun harganya hampir sama dengan harga tiket pesawat Jakarta – Surabaya.
Hari ini kami memulai penjelajahan keliling eropa. Repotnya sebagai wartawan kalau jalan-jalan mesti banyak nyatat dan ambil foto. Kami memang bermaksud membuat tulisan dari perjalanan ini. Ambil foto juga harus ekstra hati-hati. Lihat kiri kanan dulu, kira-kira aneh nggak kalau aku motret di sini. Di era kecurigaan terhadap teroris ini membuat aku selalu waspada dan sadar lingkungan. Lyon sebenarnya bukan kota turis. Tapi begitupun kota ini menurut penilaianku sangat indah. Sejarahnya yang panjang sejak sebelum masehi, merupakan daya tarik kota ini. Banyak bangunan-bangunan indah bersejarah.
Sejak tiba di stasiun aku dan mbak Tati langsung menuju hotel murahan yang sudah kami pesan dari internet. Kami memang bertekad untuk menjadi tourist backpacker . Tempatnya memang tidak terlalu di tengah kota, tapi lumayanlah masih mudah dicari. Untungnya Mbak Tati udah bisa bahasa Prancis, jadi nanya-nanya gak terlalu rumit.
Aku terkesan, kota ini banyak sekali dijumpai kaum muda, mungkin karena kota pelajar kedua terbesar di Prancis.
Kami menempati kamar yang isinya 8 orang dengan 4 bed bertingkat. Turis laki perempuan di campur satu kamar. Aku dan mbak Tati menempati satu bed bertingkat, aku di atas dan dia di bawah. Ransel kami titipkan di locker, dan kami jalan-jalan dengan menggunakan metro. Di tengah kota, banyak sekali sepeda di sewakan. Uniknya jika menggunakan sepeda kurang dari 30 menit tidak perlu bayar. Banyak orang bolak balik tuker sepeda, tapi aku dan mbak Tati, lebih suka jujur aja kami berkeliling dengan sepeda di seputar Quai St. Antoine.
Program kami mampir di Lyon hanya 1 malam, karena masih banyak yang ingin kami nikmati . Banyak juga sih cerita mengenai Lyon, tapi pada kesempatan lain sajalah saya bercerita.
Kami meninggalkan Lyon dengan kereta TGV menuju Montpellier . Sampai di kota yang aku menyebutnya kota peler. Hampir 2 jam juga perjalanan dari Lyon ke kota Peler ini kami tempuh. Sesampai di stasiun Montpellier St-roch, kami mencari informasi sewa mobil. Akhirnya kami mendapatkan sewa mobil Fiat Panda. Lumayan juga mobilnya tidak terlalu besar. Berbekal peta dan tentunya GPS, perjalanan jadi lebih mudah dan menyenangkan. Rencananya mobil ini akan kami sewa 3 hari dan kami bawa sampai ke Cap d’agde. Sebetulnya menyenangkan juga sewa mobil sambil berkeliling Eropa, tetapi memerlukan waktu lama dan butuh stamina. Kami memilih untuk memakai mobil sewaan berkeliling ke kota-kota kecil. Perjalanan jarak jauh mengandalkan kereta cepat.
Muter-muter di kota peler sampai sore, lalu aku mengarahkan ke Cap d.agde. Sekitar jam 8 malam kami sampai di kota telanjang terbesar di dunia.
Karena suasana sudah mulai gelap, maka kota telanjang itu ketika kami tiba , tidak ada yang telanjang lalu lalang. Kami telah memesan kamar di Hotel Ave, satu-satunya hotel di area nudis.
Proses chek ini tidak terlalu lama, kami lalu diberi kunci untuk kamar yang kami pesan. Hotel Eve sebenarnya bukan lah hotel yang mewah, karena kamarnya tergolong kecil. Tarifnya lumayan cukup tinggi, tapi kami pilih karena ingin merasakan dan melihat ketelanjangan.
Di luar daerah nudis banyak sih hotel yang lebih murah, tetapi kalau kami mau ke daerah nudis harus berjalan cukup jauh.
Tidak ada istilah capek, begitu barang diletakkan di kamar, aku lalu mengajak mbak Tati untu menikmati kehidupan malam . Kota ini benar-benar bebas. Ada bar khusus untuk Gay, Lesbian bahkan swinger. Meski mereka yang mondar mandir pada malam ini berpakaian, tetapi hanya menutupi aurat ala kadarnya saja. Banyak kulihat cewek dan pasangannya hanya pakai celana G string dan ditutup kain seperti jaring ikan dan dadanya juga ditutup baju tipis, sehingga pentilnya bisa tembus pandang.
Aku jadi teringat cerita Sodom dan Gomorah. Mungkin situasi kota itu dulu seperti ini. Tidak ada kamus malu di terapkan di kota ini. Selesai menyantap makan malam, Aku dan mbak Tati iseng jalan-jalan ke arah pantai yang rada gelap. Di sana banyak rupanya aktifitas. Pasangan bule-bule gila dengan bebasnya melakukan cumbuan bahkan banyak yang lagi ngenti di tempat terbuka. Bukan mereka yang malu, malah kami yang malu, sehingga kami tidak bisa lama-lama berada di sana.
Aku mengajak mbak Tati kembali ke pusat keramaian dan mencari bar untuk menikmati seteguk dua teguk bir.
Jam 12 malam, mata udah mulai berat, kami kembali ke kamar hotel. Kepalaku agak berat, mungkin pengaruh bir tadi, tapi masih waras sih. Aku kembali bertelanjang lalu masuk ke bawah selimut. Mbak Tati di kamar mandi lama bener.
Aku lupa menceritakan bahwa kamar yang kami pesan ini tidak ada AC nya, ini untuk mengejar harga yang murah. Aku pikir ngapain juga pake AC, orang telanjang kan tidak perlu AC. Jadi baru sebentar berselimut jadi gerah. Selimut aku buka. Dan aku tiduran sambil nonton TV. Mulanya sambil tidur miring, tapi kurang nyaman karena TV nya ada di bagian kaki. Aku terpaksa menyandarkan bantal di bagian kepala jadi posisinya kepala agak tinggi. Persoalannya adalah penisku berdiri. Entah karena pengaruh pemandangan selama kami keluar tadi atau karena alkohol, atau karena udah beberapa hari nggak dikeluarin sehingga spermanya udah penuh. Sebetulnya aku malu, tetapi lalu berpikir, ngapain malu, hidup bertelanjang kan apa adanya, kalau berdiri yang manusiawilah, biarin aja.


pujasejagat
pujasejagat
Semprot Holic
Thread Starter

Daftar
29 Jun 2015

Post
392

Like diterima
3.655

25 Jul 2018

#1

Halo selamat malam agan2 sekalian, kembali lagi nubie ingin membagi sebuah cerita karangan penulis idola ane, om jakongsu

Oke langsung saja agan2 sekalian.

Copas/ Repost

Merasakan Hidup Nudist

By Jakongsu


Suatu hari kolegaku, seorang wartawati mengajak makan siang. Aku memang biasa makan siang bareng dia, jadi ajakan kali ini tidak aneh bagiku. Namun dia kali ini ngajak makan di restoran yang rada tenang. Biasanya kami selalu berburu makanan enak setiap jam makan siang. Kami sering bertemu jika melakukan tugas liputan. Dia penggemar makanan enak, seperti juga aku.
“Dik, yuk kita jalan-jalan ke Eropa, sekaligus liputan, aku kepengin keliling Eropa,” kata mbak Tati.
Gagasan mbak Tati agak menggugahku. Pertama, yang mengajak adalah Mbak Tati, wartawati senior, perawan tua. Karena asyik dengan pekerjaannya sampai umur 35 belum juga kawin. Padahal orangnya ramah, badannya proporsional, kulitnya putih. Kami beberapakali berkesempatan liputan bersama dia ke beberapa kota dan ada juga ke luar negeri. Namun bukan kami jalan berdua tapi, tetapi bersama rombongan wartawan.
Aku dan mbak Tati cukup akrab, hubungan kami hanya sebatas bersahabat, tidak lebih dari itu. Aku sama sekali tidak pernah berpikir untuk mendekati mbak Tati lebih dari sahabat. Padahal kesempatan itu ada. Kami pernah tidur sekamar ketika melakukan liputan ke Tokyo. Sebetulnya kondisinya tidak sepenuhnya seperti itu, tapi ketika aku sedang dilanda sakit perut, aku memilih tinggal di kamar tidak meliput. Rupanya Mbak Tati rada malas , sehingga dia pun memilih tinggal di hotel. Dia memilih tinggal di kamarku. Namun tidak ada kejadian apa-apa, karena aku memang tidak berpikiran ke arah ngesek, dia pun mungkin begitu. Apalagi perutku mules dan mondar-mandir nongkrong di kamar mandi.
Ke Eropa, sebenarnya bukan hal baru bagi ku mungkin juga bagi Mbak Tati, Aku pernah ke Prancis, Austria, Swiss dan Jerman. Semua perjalananku hanya semata-mata tugas jurnalistik. Jadi tidak banyak waktu untuk jalan-jalan. Kesempatan di sela-sela kunjungan itu, paling-paling hanya melihat beberapa tempat terkenal dan tentunya mencari sesuatu untuk di beli. Itu berarti keliling ke pusat-pusat perbelanjaan. Ajakan Mbak Tati ini cukup menarik. Ada beberapa hal yang ingin kulihat mungkin juga mengalaminya. Ketika kutanya Mbak Tati apa yang ingin dilihat di Eropa, dia tidak secara spesifik menyebutkan. Dia hanya menginginkan jalan-jalan tour. Dia katanya juga pernah ke Eropa beberapa kali seperti ke Belanda, Inggris dan Swiss, tapi semua itu tidak bisa dinikmati sepenuhnya karena dalam rangka peliputan. Aku memahaminya, karena aku pun demikian. Dia ingin bebas tidak terikat waktu dan menikmati alam Eropa. Aku dipilihnya karena dia merasa cocok jika jalan denganku. Mbak Tati jika jalan keluar kota atau keluar negeri, jika ada waktu luang memang selalu menggandengku untuk menemaninya. Bahkan ketika dia ingin berdisko di Kuta Bali ketika kami sedang meliput di sana, dia mengajakku juga.
Itulah sedikit gambaran kearabanku dengan mbak Tati. Aku memang menjadi sahabatnya yang paling dekat, dia menganggap aku yang kala itu berumur 28 tahun sebagai adiknya.
Kami sama-sama bekerja di mass media Cuma beda surat kabar.



Mbak Tati lalu membeberkan rencananya keliling Eropa, dia ingin ke Belanda, Prancis, Jerman dan beberapa negara lainnya. Kami berbagi tugas. Dia menyusun strategi agar kami bisa dapat penugasan dari kantor untuk jalan ke Eropa. Sedangkan aku menyusun rencana dan memilih tempat-tempat yang menarik untuk dikunjungi.
Tidak mudah bagi kami untuk mendapat izin dari kantor melakukan liputan ke luar negeri, tetapi Mbak Tati punya kiat agar dapat izin. Jika peristiwanya tidak betul-betul menarik, maka mustahil kantor kami mengirim kami ke sana. Apalagi biaya untuk peliputan ke luar negeri, cukup besar.
Mbak Tati dengan antusias memastikan bahwa aku hanya perlu membekali diri dengan uang saku saja. Soal biaya yang lain-lain akan diusahakan Mbak Tati.
Dia menyarankan mulai menabung dari sekarang. Rencananya perjalanan itu pada bulan Juli tahun depan.
Strategi Mbak Tati aku acungi jempol. Dia mencari suatu acara yang layak diliput dan kantor kami kemungkinan besar bakal menyetujui untuk diliput. Acara-acara itu seperti Konferensi Tingkat Tinggi, atau pameran internasional, atau acara apa pun yang erat kaitannya dengan kepentingan Indonesia.
Mbak Tati memang trampil, dalam 3 hari dia sudah berhasil mengumpulkan acara-acara besar pada bulan Juli di Eropa. Kami lalu berdiskusi untuk memilah dan menentukan acara apa yang akan kami liput. Pilihan jatuh pada pameran furniture internasional di Paris. Sebelum kami putuskan untuk meliput acara itu, kami lalu menghubungi beberapa pengusaha besar furniture di Jakarta. Beberapa dari mereka ternyata berencana ikut dalam pameran itu, karena pameran itu dianggap banyak pembeli potensial dari seluruh Eropa.
Mbak Tati aku akui memang wartawan yang gesit dan kreatif. Belum sampai sebulan sejak pembicaraan kami di resto hari itu, dia sudah mengantongi komitment tiket dan hotel dari calon peserta pameran dari Indonesia. Para pengusaha itu antusias kesertaan mereka mendapat liputan dari media nasional, oleh karena itu mereka dengan senang hati menyediakan tiket pesawat, hotel, transportasi dan konsumsi selama mereka berpameran.
Tiket dan hotel itu bukan hanya untuk dia, tetapi juga untukku. Amanlah, tiket dan hotel sudah ditangan, masalahnya tinggal kami mengumpulkan untuk uang saku. Aku dan Mbak Tati akhirnya menjadi anggota delegasi untuk pameran ke Paris. Berbekal itu, kami bisa bebas fiskal di airport.
Kami targetkan dalam setahun ini bisa terkumpul masing-masing kami 2 ribu dolar. Jumlah yang lumayan besar di Indonesia, tetapi kalau dipakai melancong mungkin tidak terlalu besar. Memadailah.
Kami apply untuk peliputan ke panitia pameran di Paris, Prancis . Semua persiapan sudah rapi, tinggal apply visa dan izin dari kantor. Waktunya masih panjang jadi kami tidak perlu mengajukan perjalanan itu ke kantor kami masing-masing.
Untuk berjalan keliling Eropa, minimal harus menguasai bahasa Inggris, Prancis dan Jerman. Aku mengusulkan Mbak Tati untuk belajar bahasa Eropa melalui kursus. Dia setuju dan memilih belajar bahasa Prancis. Aku memilih bahasa Jerman. Bahasa Inggris tentunya sudah kami kuasai lah.
Jadwal perjalanan sudah selesai aku susun. Draft perjalanan ini sudah lebih dari 10 kali berubah karena berbagai keinginan dan penyesuaian di tempat tujuan. Semula aku menyontek dari acara tour dari travel biro. Namun setelah kupelajari tempat-tempat yang dikunjungi, terasa kurang menarik. Aku dan Mbak Tati tentunya tidak perlu berkunjung ke tempat-tempat seperti kalau di Jakarta, Dufan, Taman Mini, Taman Mekarsari atau ke Monas. Kami ingin lebih menyelami kehidupan masyarakat di berapa tempat di Eropa, yang pastinya jauh berbeda dengan kehidupan di Asia.
Sejak awal menerima ajakan mbak Tati, aku sebenarnya sudah memendam keinginan untuk mengunjungi tempat nudist. Aku bukan ingin melihat orang telanjang semata-mata, tetapi ingin merasakan, gimana sih rasanya telanjang secara bebas. Gagasan ini akhirnya aku utarakan juga kepada Mbak Tati, dengan rada malu-malu. Dia mulanya kurang setuju, karena dia tidak siap ikut menjadi nudis. Tapi kuyakinkan bahwa di tempat nudis, tidak perlu juga harus ikut nudis. Di beberapa tempat diperbolehkan tetap memakai bikini. Aku beralasan bahwa sampai saat ini belum ada media di Indonesia yang membuat reportase mengenai nudis. Rupanya liputan yang bakal ekslusif itu menggelitik Mbak Tati. “ Iya ya belum pernah aku baca laporan dari daerah nudis oleh wartawan Indonesia,” kata mbak Tati.
Akhirnya dia setuju. Aku lalu membayangkan bakal melihat mbak Tati bugil. Mbak Tati sebenarnya bukan wanita yang tergolong kurang menarik. Wajahnya rata-rata saja, tetapi kalau lama-lama di perhatikan banyak juga yang menarik darinya. Wajahnya ayu khas Jawa, badannya berisi dan nyaris over weight.
Setelah mantap menjelang 3 bulan keberangkatan kami mengajukan permohonan visa ke Kedutaan Prancis. Dengan dalih melakukan liputan, akhirnya kami mendapat visa Schengen tanpa kerepotan yang berarti.
Izin dari kantor sudah ditangan, bahkan kami sudah mengatur, selesai acara liputan kami langsung cuti 12 hari. Prakteknya kami cuti 15 hari karena ada 2 hari minggu dan sehari tanggal merah. Untuk acara peliputan sendiri adalah 4 hari. Jadi termasuk perjalanan pulang pergi kami melakukan perjalanan 21 hari.
Pada hari H kami berjanji ketemu langsung di Terminal 2D Soekarno Hatta. Ternyata hanya kami berdua yang statusnya wartawan, selebihnya ada sekitar 20 orang adalah para pengusaha mebel yang ikut di pameran itu.
Aku berhasil mengumpulkan 2000 dolar, bahkan kantor masih memberi tambahan 500 dolar.
Sesampai di tempat tujuan, ternyata aku dan Mbak Tati tinggal sekamar. Aku kuatir tapi juga senang. Kuatir karena bisa menimbulkan gossip diantara pengusaha mebel rombongan kami, tapi juga senang karena ya sekamar, jadi komunikasi lebih lancar. Yang membuat aku kikuk dan nggak enak hati adalah tempat tidur di kamar kami hanya satu bed yang lebar. Aku sudah mengurus ke front office, tapi katanya hotel penuh, jadi tidak bisa tukar kamar.


Mbak Tati tidak mempersoalkan , dia malah tenang-tenang saja. Untuk mengurangi rasa risih dan kikuk, aku candai dia bahwa mulai malam ini jadi suami istri yang tidur satu selimut. Mbak Tati hanya senyum mesem.
Malam pertama dan malam kedua tidak ada kejadian penting untuk diceritakan. Kami tidur dengan damai dan aku pun tidak berusaha memperkeruh suasana.
Mungkin karena sudah terbiasa, Mbak Tati jadi lebih santai. Pakaian dalamnya sering dibeber-beber di atas tempat tidur tanpa rikuh. Kadang-kadang malah hilir mudik hanya berbalut handuk hotel. Kalau melihat itu aku jadi kesengsem juga, pahanya kelihatan tebel dan lipatan buah dadanya sangat menggairahkan. Bokongnya tidak kalah menarik, karena menonjol banget..
Kesanku Mbak Tati meneruskan kebiasaannya dirumah dalam hal mau dan sesudah mandi. Aku memang dianggapnya anak kecil yang tidak perlu harus malu terhadapku.
Aku harusnya memang siap sampai pada tingkat melihat mbak Tati telanjang.
Di malam ketiga, atau malam terakhir kami di Paris, aku iseng ngomong ke mbak Tati. “ Mbak aku boleh nggak latihan nudis,”
“Latihan, gimana dik, kamu ini ada-ada saja, koq pake latihan segala.” katanya.
Aku mengatakan bahwa malam ini aku mencoba nudis di kamar dan tidur pun nudis. Aku tawarkan ke Mbak Tati, kalau dia mau ikut latihan ya monggo. “Ah aku nanti aja ah kalau sudah ditempatnya, masak di sini, kan kamarnya dingin, kalau telanjang kan tambah dingin ,” katanya.
Sepulang kami dari liputan kami lalu kembali ke hotel. Acara jalan-jalan keliling Paris, udah bosan. Semuanya mahal-mahal. Aku langsung kekamar mandi. Selain kebelet bab, aku ingin mandi.
Dari kamar mandi, aku keluar begitu saja telanjang sambil mengusap-usap handuk. mBak Tati kaget melihat aku bugil. “ Kamu kayak orang gila yang jalan-jalan telanjang di Jakarta,” ledek mbak Tati.
Untungnya penisku tidak berdiri, sebab di kamar mandi tadi sudah aku paksa keluar spermanya agar adiku yang satu ini anteng.
Jujur saja rasanya di dalam hati aku khawatir, malu dan sebagainya untuk memulai telanjang . Tapi semua itu aku redam. “ Kalau orang lain bisa, kenapa aku enggak,” begitu tekadku.
Aku sengaja mondar-mandir di kamar, membuat kopi, memanaskan air untuk bikin mi instan lalu duduk sambil nonton TV.
Aku leluasa ketika mbak Tati di kamar mandi. Keluar dari kamar mandi dia nekat juga hanya mengenakan celana dalam. Buset teteknya ternyata gede banget, gundal-gandul.
Untung aku lagi duduk sambil mengangkat kaki, sehingga penisku yang berdiri pelan-pelan jadi gak kelihatan. “Gitu dong mbak, jadi kita nanti terbiasa,” kataku.
“Ah kamu yang enak liat aku telanjang, “ kata mbak Tati sambil mondar-mandir membereskan baju dan memasukkannya ke koper.
“Aku nggak nyangka kalau tetek mbak ternyata besar dan bagus ,” kataku memuji.
Dipuji begitu Mbak Tati hanya menoleh ke arahku sambil memonyongkan mulutnya.
Mbak Tati kemudian berdiri dan memeriksa celana dalamnya. Dia seperti membetulkan letak sesuatu di dalamnya. “Mbak lagi dapet ya,” tanyaku seenaknya.
“Iya nih tinggal dikit, mungkin hari terakhir,” katanya.
Mbak Tati lalu berjalan senaknya, dengan hanya pakai CD. Aku pun berusaha cuek saja, tidak memperhatikan susunya. Dia pun seperti tidak memperhatikan penisku yang akhirnya kuyu kedinginan.
Aku masuk ke bawah selimut karena memang AC kamar dingin sekali. Aku sudah mematikan sejak tadi, tetapi sisa dingin AC sebelumnya masih menyengat.
Sambil tiduran aku berselimut dan menonton TV.
Benar-benar hebat, kami tidur satu selimut berdua dalam keadaan telanjang (mbak Tati nyaris telanjang sih), tetapi tidak terjadi apa-apa. Aku tidak percaya seandainya ada yang cerita begini ke aku.
Pagi-pagi aku langsung masuk kamar mandi dan bab lalu mandi. Takut bau, aku bab sambil merokok. Mandi buru-buru sambil keramas. Di kamar mandi udaranya dingin juga sih. Aku lalu mengeringkan badan dengan handuk. Tiba-tiba masuk Mbak Ratih tergopoh-gopoh dia lalu duduk di toilet dan terdengarlah desisan pancaran air seni. Ku ledek, “siulannya bisa dilaguin nggak”
“Jangan ngeledek, gua lagi kebelet banget nih,” katanya.
Setelah pipisnya reda, dibukanya celananya. Dia memperhatikan pembalutnya hanya ada noda coklat sedikit.
Tanpa basa-basi, Mbak Tati masuk ke bath tub dan menyiram seluruh tubuhnya termasuk rambutnya dengan air hangat. Aku yang sedang gosok gigi melihat dari pantulan cermin bahwa jembut Mbak Tati ternyata tebal sekali.
Mbak Tati minta aku menyabuni punggungnya. Aku menurutinya dan menanyakan bagian mana lagi. Dia bilang “ Enak aja, udah ah, punggung aja. “



Badannya lembut dengan lapisan lemak. Penisku jadi bangun. Mbak Tati meledek, “wah itu burung bangunnya kesiangan,” katanya. Ucapan singkatnya itu malah membuatku penasaran. Apa kira-kira maksud dibalik kata-kata itu. Apakah yang dia maksudkan bahwa aku tidak berani mengambil inisiatif mencumbunya, atau memang arti yang harafiah. Dari pada salah, laebih baik aku dianggap tidak berani mengambil inisiatif. Pilihan ini kuanggap terbaik, sebab kalau aku berinisiatif, kalau dia tidak bisa terima, dan aku dianggap menangguk di air keruh, akibatnya bisa runyam. Buktinya tadi waktu akusabuni dia tidak menizinkanku untuk menjamah tubuhnya lebih jauh. Akhirnya aku menjawab dengan lagak bodok. “Dari tadi udah bangun, dan tidur lagi, gara-gara liat mbak sih dia jadi marah,” kataku.
Aku cuek saja seperti tidak menginginkan apa-apa. Selesai gosok gigi aku langsung ngloyor keluar dan membuat sarapan sambil tetap telanjang.
Mbak Tati keluar dari kamar mandi juga telanjang bulat rupanya. Dia memilih-milih baju lalu dipakainya satu persatu. Seolah-olah dia di kamar sendirian sehingga tidak terlihat ada rasa malunya. Karena dia berlaku begitu, aku pun juga mencoba bersikap yang sama.
Kami lalu bersiap-siap chek out.


Lanjut di bawah gan.....


Like

Reactions: KangAden, adelynaudrey0915, bungR, dan 31 lainnya
pujasejagat
pujasejagat
Semprot Holic
Thread Starter

Daftar
29 Jun 2015

Post
392

Like diterima
3.655

25 Jul 2018

#2

Lanjutannya gan.....


Kami menggunakan kereta cepat TGV dari stasiun Paris Gare Lyon yang berangkat jam 11.54 siang dan sampai di Lyon sekitar jam 2 siang. Kereta cepat kebanggaan Prancis memang luar biasa, dalamnya kayak pesawat terbang. Kami membeli tiket eurail dari Jakarta, jadi agak murah. Tapi itu pun harganya hampir sama dengan harga tiket pesawat Jakarta – Surabaya.
Hari ini kami memulai penjelajahan keliling eropa. Repotnya sebagai wartawan kalau jalan-jalan mesti banyak nyatat dan ambil foto. Kami memang bermaksud membuat tulisan dari perjalanan ini. Ambil foto juga harus ekstra hati-hati. Lihat kiri kanan dulu, kira-kira aneh nggak kalau aku motret di sini. Di era kecurigaan terhadap teroris ini membuat aku selalu waspada dan sadar lingkungan. Lyon sebenarnya bukan kota turis. Tapi begitupun kota ini menurut penilaianku sangat indah. Sejarahnya yang panjang sejak sebelum masehi, merupakan daya tarik kota ini. Banyak bangunan-bangunan indah bersejarah.
Sejak tiba di stasiun aku dan mbak Tati langsung menuju hotel murahan yang sudah kami pesan dari internet. Kami memang bertekad untuk menjadi tourist backpacker . Tempatnya memang tidak terlalu di tengah kota, tapi lumayanlah masih mudah dicari. Untungnya Mbak Tati udah bisa bahasa Prancis, jadi nanya-nanya gak terlalu rumit.
Aku terkesan, kota ini banyak sekali dijumpai kaum muda, mungkin karena kota pelajar kedua terbesar di Prancis.
Kami menempati kamar yang isinya 8 orang dengan 4 bed bertingkat. Turis laki perempuan di campur satu kamar. Aku dan mbak Tati menempati satu bed bertingkat, aku di atas dan dia di bawah. Ransel kami titipkan di locker, dan kami jalan-jalan dengan menggunakan metro. Di tengah kota, banyak sekali sepeda di sewakan. Uniknya jika menggunakan sepeda kurang dari 30 menit tidak perlu bayar. Banyak orang bolak balik tuker sepeda, tapi aku dan mbak Tati, lebih suka jujur aja kami berkeliling dengan sepeda di seputar Quai St. Antoine.
Program kami mampir di Lyon hanya 1 malam, karena masih banyak yang ingin kami nikmati . Banyak juga sih cerita mengenai Lyon, tapi pada kesempatan lain sajalah saya bercerita.
Kami meninggalkan Lyon dengan kereta TGV menuju Montpellier . Sampai di kota yang aku menyebutnya kota peler. Hampir 2 jam juga perjalanan dari Lyon ke kota Peler ini kami tempuh. Sesampai di stasiun Montpellier St-roch, kami mencari informasi sewa mobil. Akhirnya kami mendapatkan sewa mobil Fiat Panda. Lumayan juga mobilnya tidak terlalu besar. Berbekal peta dan tentunya GPS, perjalanan jadi lebih mudah dan menyenangkan. Rencananya mobil ini akan kami sewa 3 hari dan kami bawa sampai ke Cap d’agde. Sebetulnya menyenangkan juga sewa mobil sambil berkeliling Eropa, tetapi memerlukan waktu lama dan butuh stamina. Kami memilih untuk memakai mobil sewaan berkeliling ke kota-kota kecil. Perjalanan jarak jauh mengandalkan kereta cepat.
Muter-muter di kota peler sampai sore, lalu aku mengarahkan ke Cap d.agde. Sekitar jam 8 malam kami sampai di kota telanjang terbesar di dunia.
Karena suasana sudah mulai gelap, maka kota telanjang itu ketika kami tiba , tidak ada yang telanjang lalu lalang. Kami telah memesan kamar di Hotel Ave, satu-satunya hotel di area nudis.
Proses chek ini tidak terlalu lama, kami lalu diberi kunci untuk kamar yang kami pesan. Hotel Eve sebenarnya bukan lah hotel yang mewah, karena kamarnya tergolong kecil. Tarifnya lumayan cukup tinggi, tapi kami pilih karena ingin merasakan dan melihat ketelanjangan.
Di luar daerah nudis banyak sih hotel yang lebih murah, tetapi kalau kami mau ke daerah nudis harus berjalan cukup jauh.
Tidak ada istilah capek, begitu barang diletakkan di kamar, aku lalu mengajak mbak Tati untu menikmati kehidupan malam . Kota ini benar-benar bebas. Ada bar khusus untuk Gay, Lesbian bahkan swinger. Meski mereka yang mondar mandir pada malam ini berpakaian, tetapi hanya menutupi aurat ala kadarnya saja. Banyak kulihat cewek dan pasangannya hanya pakai celana G string dan ditutup kain seperti jaring ikan dan dadanya juga ditutup baju tipis, sehingga pentilnya bisa tembus pandang.
Aku jadi teringat cerita Sodom dan Gomorah. Mungkin situasi kota itu dulu seperti ini. Tidak ada kamus malu di terapkan di kota ini. Selesai menyantap makan malam, Aku dan mbak Tati iseng jalan-jalan ke arah pantai yang rada gelap. Di sana banyak rupanya aktifitas. Pasangan bule-bule gila dengan bebasnya melakukan cumbuan bahkan banyak yang lagi ngenti di tempat terbuka. Bukan mereka yang malu, malah kami yang malu, sehingga kami tidak bisa lama-lama berada di sana.
Aku mengajak mbak Tati kembali ke pusat keramaian dan mencari bar untuk menikmati seteguk dua teguk bir.
Jam 12 malam, mata udah mulai berat, kami kembali ke kamar hotel. Kepalaku agak berat, mungkin pengaruh bir tadi, tapi masih waras sih. Aku kembali bertelanjang lalu masuk ke bawah selimut. Mbak Tati di kamar mandi lama bener.
Aku lupa menceritakan bahwa kamar yang kami pesan ini tidak ada AC nya, ini untuk mengejar harga yang murah. Aku pikir ngapain juga pake AC, orang telanjang kan tidak perlu AC. Jadi baru sebentar berselimut jadi gerah. Selimut aku buka. Dan aku tiduran sambil nonton TV. Mulanya sambil tidur miring, tapi kurang nyaman karena TV nya ada di bagian kaki. Aku terpaksa menyandarkan bantal di bagian kepala jadi posisinya kepala agak tinggi. Persoalannya adalah penisku berdiri. Entah karena pengaruh pemandangan selama kami keluar tadi atau karena alkohol, atau karena udah beberapa hari nggak dikeluarin sehingga spermanya udah penuh. Sebetulnya aku malu, tetapi lalu berpikir, ngapain malu, hidup bertelanjang kan apa adanya, kalau berdiri yang manusiawilah, biarin aja.


Lanjut di bawah gan......


Like

Reactions: KangAden, adelynaudrey0915, bungR, dan 28 lainnya
pujasejagat
pujasejagat
Semprot Holic
Thread Starter

Daftar
29 Jun 2015

Post
392

Like diterima
3.655

25 Jul 2018

#3

Lanjutannya gan.....

Aku berusaha santai, “tapi tegang” ketika mbak Tati keluar dari kamar mandi. Dia pun ternyata ingin tidur sambil telanjang. Jadi dari kamar mandi udah gundal-gandul tuh tetek besarnya. “ Mbak susunya apa gak bisa dititipin di locker room, kan berat di bawa kemana-mana,” ejekku melihat tetek besarnya.
“Ngawur aja, emangnya bisa dicopot, lha kamu apa gak ngganggu tuh ekor dipasang di depan, sana gih titipin ke locker kalau bisa “kata mbak Tati agak sengit tapi dengan nada bercanda.
Mbak Tatik lalu duduk di sampingku bersila. Dia ngemil buah. Orang ini doyan banget ngemil. Persediaan makanannya bermacam-macam.
“Ngapain tuh buntutnya kok berdiri,” kata mbak Tati.
“Nggak tau dari tadi sulit banget dijinakkan, “ kata ku sekenanya.
“ Sini gua sentil biar tidur,” katanya sambil ancang-ancang mau menyentil. Aku tentu saja berusaha melindungi penisku agar tidak benar-benar di sentil.
“Jangan disentil dong mbak, apa nggak kasian, diakan minta disayang,” kataku rada menghiba.
“ Ya udah sini saya elus-elus biar cepet tidur,” kata mbak Tati sambil mendekatkan posisi duduknya ke arah penisku.
Aku diam saja sambil menunggu apa sih yang mau dilakukan mbak Tati. Terhadap aparatku. Dia benar-benar menjangkau penisku lalu memang benar-benar dielus-elus. Mendapat sentuhan itu, langsung badanku merasa kemerenyeng (gak ada bahasa Indonesianya sih).
Aku lalu mendesis, emang sentuhannya rasanya enak banget. Mana mungkin si Boy bisa tidur dielus-elus begitu, dia malah makin mengeras. Karena enaknya aku tidurnya jadi melorot. Mbak Tati kemudian bukan hanya mengelus malah mencengkeram. Dia gemes katanya sehingga batangku diremas-remas. Aku jadi makin keenakan. “ Aduh mbak enak banget,” kataku.
Aku sudah tidak peduli, apa yang kurasakan ku ekspresikan dengan desahan-desahan.
Aku lalu seperti mengingau mengatakan,” mbak jangan diremes doang dong dia minta lebih disayang, dia minta dicium tuh,” kataku.
“Lha kok malah nglunjak,” kata mbak Tati.
Tapi dia kemudian mendekatkan mulutnya dan mulai menciumi barangku. Gila rasanya makin syur. Aku sudah merasa tidak ada jarak lagi dengan mbak Tati.Dia kuminta melumat penisku. Mungkin dia juga terangsang sehingga permintaanku segera dipenuhinya. Barangku dilumatnya dan mulutnya maju mundur di penisku. Pertahananku rasanya hampir jebol. Mbak Tati kuminta melepas kulumannya dan aku segera membekap kepala penisku dan melesatlah cairan kental putih keluar dari ujungnya. Aku menjaga jangan sampai air maniku tumpah ke bed, sehingga begitu usai ejakulasi aku buru-buru ke kamar mandi membersihkannya.
Keluar dari kamar mandi penisku sudah mereda ketegangannya. Kepalaku jadi ringan dan semua sumbatan birahi sudah plong rasanya.
Mbak Tati masih duduk bersila, dan kembali ngemil. Kudekati dia dan kurangkul dia sambil kuciumi pipinya. “ Mbak terima kasih ya aku sudah plong deh rasanya,” kataku.
Dia diam saja dan rasanya badannya melemas dan merebahkan berat badannya ke tubuhku. Kurangkul dia dan kubaringkan. Aku menciumi keningnya, pipinya lalu pelan-pelan mulutku mengarah ke mulutnya. Ketika mulut kami bertemu di membalas lumatanku.
Tanganku otomatis bergerak ke arah gumpalan yang gundal-gandul. Telapak tanganku tidak cukup mengcover tetek mbak Tati. Jariku menari dan memilin-milin pentilnya yang tidak terlalu besar.
Aku menciumi lehernya dan perlahan lahan mulai menghisap kedua puting susunya. Mbak Tati mendesah sambil berkata, “ aduh dik enak dik.”
Tanganku mulai menjangkau gawuknya yang lebat. Kuraba agak ngambang untuk merasakan betapa lebatnya si jembi di bawah sana. Kemudian jari tengahku masuk agak kedalam mencari belahan. Belahan itu terasa sudah agak basah. Dengan perlahan jari tengahku mencari letak clitoris. Terasa ada benjolan agak mengeras di atas lipatan. Aku membasahi jariku dengan lendir yang keluar dari vagina mbak Tati lalu kubasahi clitorisnya dan kemudian kugesek pelan-pelan-pelan.
Mbak Tati menggelinjang setiap kali clitorisnya tersentuh. Ciumanku mulai mengarah ke perut dan pelan pelan mengarah ke vagina. Menjelang hampir sampai ke bawah, kepalaku ditahannya. “ Dik mau diapain dik, mbak malu ah, ‘katanya sambil menahan kepalaku agar tidak turun lebih ke bawah lagi.
Tapi aku merasa penahanan tangannya tidak terlalu ngekang, sehingga aku tetap bisa meneruskan misiku. Lidahku kujulurkan dan ujungnya langsung masuk kebelahan kemaluannya. Begitu lidahku tiba di sana mbak Tati langsung menjerit lirih. Jeritan nikmat.
Lidahku berusaha menemui clitoris dan akhirnya ketemu juga. Hanya saja jembut yang lebat agak mengganggu, sehingga seranganku kurang mulus. Tapi aku memberi tempo sejenak, sampai Mbak Tati melemah kesadaran malunya.
Setelah aku yakin dia benar-benar terangsang, maka kedua tanganku berusaha membuka jalan dengan menyibakkan dua sisi vaginanya dan membersihkan rintangan bulu agar lidahku bisa terbebas menemui clitoris.Aku lalu membekapkan mulutku ke bagian atas vaginanya dan lidahku mulai menari-nari di ujung clitoris yang makin membengkak.
Mbak Tati sudah kelojotan gak karuan merasakan nikmat dari ulasan lidahku di clitorisnya. Aku terus menerus menyerang tanpa memberi jeda dan serangan terfokus ke satu titik. Tidak lama kemudian badan mbak Tati menegang dan kakinya menjepit kepalaku. Seluruh bagian vaginanya berkontraksi. Aku melakukan gencatan serangan membiarkan mbak Tati menuntaskan orgasmenya. Namun mulutku masih menangkup di memeknya dan merasakan sensasi kontraksi yang berirama.
Sampai kontraksinya reda baru aku melepas bekapan mulutku dari memeknya. Aku duduk bersimpuh dan pelan-pelan aku tusukkan jari tengahku menelusup ke dalam lubang vagina. Jariku mencari G spot yang kira-kira berada di antara posisi jan 11 dan jam 1. Aku menermukan G spotnya diposisi jam 12 lebih sedikit.
Aku lalu mengunyel benjolan lembut itu pelan-pelan dengan irama teratur. Belum sampai 5 menit dia sudah mulai menegang kembali dan tiba-tiba muncrat sedikit cairan dari bagian memeknya sampai mengenai mukaku. Mbak Tati sampai menjerit histeris ketika mendapat orgasme kali ini. Seluruh liang vaginanya berkedut mencengkeram jariku yang masih berada di dalam. Mukaku terkena pancaran sampai 3 kali, lalu ciaran itu meleleh diantara belahan vaginanya.
Setelah erangannya mereda dan kontraksinya makin lemah. Aku menarik diri dan duduk disamping mbak Tati yang seperti setengah pingsan. Mukaku masih agak belepotan oleh air yang menciprat dari vaginanya, sebagian masuk ke mulutku dan rasanya agak asin.
Mbak Tati sadar bahwa dia menyemprotkan cairan sehingga mengenai mukaku. “ Sorry ya dik kamu kecipratan kencing ku ya, aku mau tahan tapi nggak bisa, abis enak banget, kamu apain sih tadi sampai bisa begitu,” kata Mbak tati sambil mengusap mukaku yang masih berselemak.
Cipratannya bukan kencing karena agak kental, Mbak Tati heran setelah merasakan cairan yang disemburkan tadi agak kental. “ Lho dik yang muncrat tadi kok kayak sperma mu ya,” katanya.
Aku menjelaskan bahwa itu memang seperti sperma dan biasa melejit saat wanita mencapai orgasme vagina.
Mungkin karena dia merasa bersalah atau karena apa, dia lalu bangkit dan menarikku ke kamar mandi. Dia membasuh mukaku dengan handuk basah dan menyabuninya. Aku agak gelagapan juga diraup handuk basah, tapi berusaha nurut aja.
Setelah dia membersihkan diri, Mbak Tati lalu menyeretku kembali berbaring di tempat tidur.
Aku tidur dipeluknya, Belum berapa lama mbak Tati sudah tidur pulas sehingga ketika kulepas pelukannya dia melemas saja dan tetap tidur lelap. Aku tidak suka tidur berpelukan , karena rasanya gerah dan badan jadi berkeringat. Aku lalu tidur telentang disampingnya. Penisku sebetulnya sudah agak berisi lagi, tapi kubiarkan saja dan aku kosentrasi untuk tidur.
Aku yakin jika mbak Tati ku tiban, pasti dia tidak nolak alias pasrah. Tetapi kelihatannya dia sudah sangat lelah karena orgasmenya yang luar biasa tadi. Kesempatan lain masih ada, sehingga aku lebih baik bersabar saja.
Keesokan harinya kami terbangun ketika diluar sudah terang benderang. Waktu setempat sudah menunjukkan jam 8 pagi. Aku terbangun dengan penis dalam keadaan mengeras. Kupeluk mbak Tati. Dia juga terbangun dan membalas pelukanku. Aku menciumi pipinya, lehernya lalu segera turun ke buah dadanya yang sejak lama kukagumi karena besarnya. Mbak Tati pasrah ketika kutelentangkan . Perlahan lahan kunaiki tubuhnya dan kubiarkan penisku menggesek-gesek. Mulut vaginanya. Aku bisa saja mengarahkan penisku memasuki vaginanya dengan tuntunan tanganku. Tapi aku tidak melakukannya. Lama juga kugesek-gesek penisku yang keras ke mulut vagina mbak Tati. Dia lalu membuka kakinya lebar-lebar dan tangannya menangkap penisku lalu pelan-pelan membimbingnya memasuki lubang vaginanya. Terasa agak basah di sana dan setelah posisinya kurasa tepat, pelan-pelak kudorong penisku masuk. Agak sulit sehingga aku melakukan gerakanmaju mundur pelan-pelan dan gerakannya pendek agar penisku tidak lepas dari mulut memeknya. Mungkin kepala penisku sudah makin basah terlumuri cairan dari vaginanya sehingga pelan-pelan penisku makin dalam masuk ke dalam vagina mbak Tati. Mbak Tati mendesah-desah sambil memeluk dan menarik pantatku agar masuk lebih dalam lagi. Semua penisku sudah tengelam di dalam lipatan vagina mbak tati. Aku lalu menariknya pelan-pelan lalu dengan gerakn tiba-tiba menghunjam kembali. Begitu aku lakukan gerakan berulang-ulang . Mbak Tati menjerit saat aku melakukan hunjaman. Jerit kenikmatan yang berbeda dengan jerit kesakitan.
Aku melakukan sambil mencari posisi yang paling merangsang vagina mbak Tati. Rasanya jika aku mersa posisi yang nikmat dia pun juga demikian. Jadi ada satu posisi hunjaman yang benar-benar memberi kenikmatan kedua belah pihak. Aku terus main dengan posisi MOT sampai akhirnya kami mencapai orgasme hampir bersamaan. Aku terpacu ejakulasi ketika dia mencapai orgasme. Rasanya jepitan di penisku makin ketat sehingga aku tidak bisa menahan orgasme ku.
Kutembakkan spermaku di dalam liang vaginanya dan merasakan kontraksi di dalamnya. Aku merasakan kenikmatan yang sangat sempurna. Air maniku tidak banyak keluar, sehingga, tidak sampai tumpah ke sprei.
Sampai penisku mengecil dan lepas dengan sendirinya dari lubang vagina baru aku menarik diri. Mbak Tati memuji permaianku. Dia mengatakan tidak menyangka aku mahir dalam olah sex.


pujasejagat
pujasejagat
Semprot Holic
Thread Starter

Daftar
29 Jun 2015

Post
392

Like diterima
3.655

25 Jul 2018

#1

Halo selamat malam agan2 sekalian, kembali lagi nubie ingin membagi sebuah cerita karangan penulis idola ane, om jakongsu

Oke langsung saja agan2 sekalian.

Copas/ Repost

Merasakan Hidup Nudist

By Jakongsu


Suatu hari kolegaku, seorang wartawati mengajak makan siang. Aku memang biasa makan siang bareng dia, jadi ajakan kali ini tidak aneh bagiku. Namun dia kali ini ngajak makan di restoran yang rada tenang. Biasanya kami selalu berburu makanan enak setiap jam makan siang. Kami sering bertemu jika melakukan tugas liputan. Dia penggemar makanan enak, seperti juga aku.
“Dik, yuk kita jalan-jalan ke Eropa, sekaligus liputan, aku kepengin keliling Eropa,” kata mbak Tati.
Gagasan mbak Tati agak menggugahku. Pertama, yang mengajak adalah Mbak Tati, wartawati senior, perawan tua. Karena asyik dengan pekerjaannya sampai umur 35 belum juga kawin. Padahal orangnya ramah, badannya proporsional, kulitnya putih. Kami beberapakali berkesempatan liputan bersama dia ke beberapa kota dan ada juga ke luar negeri. Namun bukan kami jalan berdua tapi, tetapi bersama rombongan wartawan.
Aku dan mbak Tati cukup akrab, hubungan kami hanya sebatas bersahabat, tidak lebih dari itu. Aku sama sekali tidak pernah berpikir untuk mendekati mbak Tati lebih dari sahabat. Padahal kesempatan itu ada. Kami pernah tidur sekamar ketika melakukan liputan ke Tokyo. Sebetulnya kondisinya tidak sepenuhnya seperti itu, tapi ketika aku sedang dilanda sakit perut, aku memilih tinggal di kamar tidak meliput. Rupanya Mbak Tati rada malas , sehingga dia pun memilih tinggal di hotel. Dia memilih tinggal di kamarku. Namun tidak ada kejadian apa-apa, karena aku memang tidak berpikiran ke arah ngesek, dia pun mungkin begitu. Apalagi perutku mules dan mondar-mandir nongkrong di kamar mandi.
Ke Eropa, sebenarnya bukan hal baru bagi ku mungkin juga bagi Mbak Tati, Aku pernah ke Prancis, Austria, Swiss dan Jerman. Semua perjalananku hanya semata-mata tugas jurnalistik. Jadi tidak banyak waktu untuk jalan-jalan. Kesempatan di sela-sela kunjungan itu, paling-paling hanya melihat beberapa tempat terkenal dan tentunya mencari sesuatu untuk di beli. Itu berarti keliling ke pusat-pusat perbelanjaan. Ajakan Mbak Tati ini cukup menarik. Ada beberapa hal yang ingin kulihat mungkin juga mengalaminya. Ketika kutanya Mbak Tati apa yang ingin dilihat di Eropa, dia tidak secara spesifik menyebutkan. Dia hanya menginginkan jalan-jalan tour. Dia katanya juga pernah ke Eropa beberapa kali seperti ke Belanda, Inggris dan Swiss, tapi semua itu tidak bisa dinikmati sepenuhnya karena dalam rangka peliputan. Aku memahaminya, karena aku pun demikian. Dia ingin bebas tidak terikat waktu dan menikmati alam Eropa. Aku dipilihnya karena dia merasa cocok jika jalan denganku. Mbak Tati jika jalan keluar kota atau keluar negeri, jika ada waktu luang memang selalu menggandengku untuk menemaninya. Bahkan ketika dia ingin berdisko di Kuta Bali ketika kami sedang meliput di sana, dia mengajakku juga.
Itulah sedikit gambaran kearabanku dengan mbak Tati. Aku memang menjadi sahabatnya yang paling dekat, dia menganggap aku yang kala itu berumur 28 tahun sebagai adiknya.
Kami sama-sama bekerja di mass media Cuma beda surat kabar.



Mbak Tati lalu membeberkan rencananya keliling Eropa, dia ingin ke Belanda, Prancis, Jerman dan beberapa negara lainnya. Kami berbagi tugas. Dia menyusun strategi agar kami bisa dapat penugasan dari kantor untuk jalan ke Eropa. Sedangkan aku menyusun rencana dan memilih tempat-tempat yang menarik untuk dikunjungi.
Tidak mudah bagi kami untuk mendapat izin dari kantor melakukan liputan ke luar negeri, tetapi Mbak Tati punya kiat agar dapat izin. Jika peristiwanya tidak betul-betul menarik, maka mustahil kantor kami mengirim kami ke sana. Apalagi biaya untuk peliputan ke luar negeri, cukup besar.
Mbak Tati dengan antusias memastikan bahwa aku hanya perlu membekali diri dengan uang saku saja. Soal biaya yang lain-lain akan diusahakan Mbak Tati.
Dia menyarankan mulai menabung dari sekarang. Rencananya perjalanan itu pada bulan Juli tahun depan.
Strategi Mbak Tati aku acungi jempol. Dia mencari suatu acara yang layak diliput dan kantor kami kemungkinan besar bakal menyetujui untuk diliput. Acara-acara itu seperti Konferensi Tingkat Tinggi, atau pameran internasional, atau acara apa pun yang erat kaitannya dengan kepentingan Indonesia.
Mbak Tati memang trampil, dalam 3 hari dia sudah berhasil mengumpulkan acara-acara besar pada bulan Juli di Eropa. Kami lalu berdiskusi untuk memilah dan menentukan acara apa yang akan kami liput. Pilihan jatuh pada pameran furniture internasional di Paris. Sebelum kami putuskan untuk meliput acara itu, kami lalu menghubungi beberapa pengusaha besar furniture di Jakarta. Beberapa dari mereka ternyata berencana ikut dalam pameran itu, karena pameran itu dianggap banyak pembeli potensial dari seluruh Eropa.
Mbak Tati aku akui memang wartawan yang gesit dan kreatif. Belum sampai sebulan sejak pembicaraan kami di resto hari itu, dia sudah mengantongi komitment tiket dan hotel dari calon peserta pameran dari Indonesia. Para pengusaha itu antusias kesertaan mereka mendapat liputan dari media nasional, oleh karena itu mereka dengan senang hati menyediakan tiket pesawat, hotel, transportasi dan konsumsi selama mereka berpameran.
Tiket dan hotel itu bukan hanya untuk dia, tetapi juga untukku. Amanlah, tiket dan hotel sudah ditangan, masalahnya tinggal kami mengumpulkan untuk uang saku. Aku dan Mbak Tati akhirnya menjadi anggota delegasi untuk pameran ke Paris. Berbekal itu, kami bisa bebas fiskal di airport.
Kami targetkan dalam setahun ini bisa terkumpul masing-masing kami 2 ribu dolar. Jumlah yang lumayan besar di Indonesia, tetapi kalau dipakai melancong mungkin tidak terlalu besar. Memadailah.
Kami apply untuk peliputan ke panitia pameran di Paris, Prancis . Semua persiapan sudah rapi, tinggal apply visa dan izin dari kantor. Waktunya masih panjang jadi kami tidak perlu mengajukan perjalanan itu ke kantor kami masing-masing.
Untuk berjalan keliling Eropa, minimal harus menguasai bahasa Inggris, Prancis dan Jerman. Aku mengusulkan Mbak Tati untuk belajar bahasa Eropa melalui kursus. Dia setuju dan memilih belajar bahasa Prancis. Aku memilih bahasa Jerman. Bahasa Inggris tentunya sudah kami kuasai lah.
Jadwal perjalanan sudah selesai aku susun. Draft perjalanan ini sudah lebih dari 10 kali berubah karena berbagai keinginan dan penyesuaian di tempat tujuan. Semula aku menyontek dari acara tour dari travel biro. Namun setelah kupelajari tempat-tempat yang dikunjungi, terasa kurang menarik. Aku dan Mbak Tati tentunya tidak perlu berkunjung ke tempat-tempat seperti kalau di Jakarta, Dufan, Taman Mini, Taman Mekarsari atau ke Monas. Kami ingin lebih menyelami kehidupan masyarakat di berapa tempat di Eropa, yang pastinya jauh berbeda dengan kehidupan di Asia.
Sejak awal menerima ajakan mbak Tati, aku sebenarnya sudah memendam keinginan untuk mengunjungi tempat nudist. Aku bukan ingin melihat orang telanjang semata-mata, tetapi ingin merasakan, gimana sih rasanya telanjang secara bebas. Gagasan ini akhirnya aku utarakan juga kepada Mbak Tati, dengan rada malu-malu. Dia mulanya kurang setuju, karena dia tidak siap ikut menjadi nudis. Tapi kuyakinkan bahwa di tempat nudis, tidak perlu juga harus ikut nudis. Di beberapa tempat diperbolehkan tetap memakai bikini. Aku beralasan bahwa sampai saat ini belum ada media di Indonesia yang membuat reportase mengenai nudis. Rupanya liputan yang bakal ekslusif itu menggelitik Mbak Tati. “ Iya ya belum pernah aku baca laporan dari daerah nudis oleh wartawan Indonesia,” kata mbak Tati.
Akhirnya dia setuju. Aku lalu membayangkan bakal melihat mbak Tati bugil. Mbak Tati sebenarnya bukan wanita yang tergolong kurang menarik. Wajahnya rata-rata saja, tetapi kalau lama-lama di perhatikan banyak juga yang menarik darinya. Wajahnya ayu khas Jawa, badannya berisi dan nyaris over weight.
Setelah mantap menjelang 3 bulan keberangkatan kami mengajukan permohonan visa ke Kedutaan Prancis. Dengan dalih melakukan liputan, akhirnya kami mendapat visa Schengen tanpa kerepotan yang berarti.
Izin dari kantor sudah ditangan, bahkan kami sudah mengatur, selesai acara liputan kami langsung cuti 12 hari. Prakteknya kami cuti 15 hari karena ada 2 hari minggu dan sehari tanggal merah. Untuk acara peliputan sendiri adalah 4 hari. Jadi termasuk perjalanan pulang pergi kami melakukan perjalanan 21 hari.
Pada hari H kami berjanji ketemu langsung di Terminal 2D Soekarno Hatta. Ternyata hanya kami berdua yang statusnya wartawan, selebihnya ada sekitar 20 orang adalah para pengusaha mebel yang ikut di pameran itu.
Aku berhasil mengumpulkan 2000 dolar, bahkan kantor masih memberi tambahan 500 dolar.
Sesampai di tempat tujuan, ternyata aku dan Mbak Tati tinggal sekamar. Aku kuatir tapi juga senang. Kuatir karena bisa menimbulkan gossip diantara pengusaha mebel rombongan kami, tapi juga senang karena ya sekamar, jadi komunikasi lebih lancar. Yang membuat aku kikuk dan nggak enak hati adalah tempat tidur di kamar kami hanya satu bed yang lebar. Aku sudah mengurus ke front office, tapi katanya hotel penuh, jadi tidak bisa tukar kamar.


Mbak Tati tidak mempersoalkan , dia malah tenang-tenang saja. Untuk mengurangi rasa risih dan kikuk, aku candai dia bahwa mulai malam ini jadi suami istri yang tidur satu selimut. Mbak Tati hanya senyum mesem.
Malam pertama dan malam kedua tidak ada kejadian penting untuk diceritakan. Kami tidur dengan damai dan aku pun tidak berusaha memperkeruh suasana.
Mungkin karena sudah terbiasa, Mbak Tati jadi lebih santai. Pakaian dalamnya sering dibeber-beber di atas tempat tidur tanpa rikuh. Kadang-kadang malah hilir mudik hanya berbalut handuk hotel. Kalau melihat itu aku jadi kesengsem juga, pahanya kelihatan tebel dan lipatan buah dadanya sangat menggairahkan. Bokongnya tidak kalah menarik, karena menonjol banget..
Kesanku Mbak Tati meneruskan kebiasaannya dirumah dalam hal mau dan sesudah mandi. Aku memang dianggapnya anak kecil yang tidak perlu harus malu terhadapku.
Aku harusnya memang siap sampai pada tingkat melihat mbak Tati telanjang.
Di malam ketiga, atau malam terakhir kami di Paris, aku iseng ngomong ke mbak Tati. “ Mbak aku boleh nggak latihan nudis,”
“Latihan, gimana dik, kamu ini ada-ada saja, koq pake latihan segala.” katanya.
Aku mengatakan bahwa malam ini aku mencoba nudis di kamar dan tidur pun nudis. Aku tawarkan ke Mbak Tati, kalau dia mau ikut latihan ya monggo. “Ah aku nanti aja ah kalau sudah ditempatnya, masak di sini, kan kamarnya dingin, kalau telanjang kan tambah dingin ,” katanya.
Sepulang kami dari liputan kami lalu kembali ke hotel. Acara jalan-jalan keliling Paris, udah bosan. Semuanya mahal-mahal. Aku langsung kekamar mandi. Selain kebelet bab, aku ingin mandi.
Dari kamar mandi, aku keluar begitu saja telanjang sambil mengusap-usap handuk. mBak Tati kaget melihat aku bugil. “ Kamu kayak orang gila yang jalan-jalan telanjang di Jakarta,” ledek mbak Tati.
Untungnya penisku tidak berdiri, sebab di kamar mandi tadi sudah aku paksa keluar spermanya agar adiku yang satu ini anteng.
Jujur saja rasanya di dalam hati aku khawatir, malu dan sebagainya untuk memulai telanjang . Tapi semua itu aku redam. “ Kalau orang lain bisa, kenapa aku enggak,” begitu tekadku.
Aku sengaja mondar-mandir di kamar, membuat kopi, memanaskan air untuk bikin mi instan lalu duduk sambil nonton TV.
Aku leluasa ketika mbak Tati di kamar mandi. Keluar dari kamar mandi dia nekat juga hanya mengenakan celana dalam. Buset teteknya ternyata gede banget, gundal-gandul.
Untung aku lagi duduk sambil mengangkat kaki, sehingga penisku yang berdiri pelan-pelan jadi gak kelihatan. “Gitu dong mbak, jadi kita nanti terbiasa,” kataku.
“Ah kamu yang enak liat aku telanjang, “ kata mbak Tati sambil mondar-mandir membereskan baju dan memasukkannya ke koper.
“Aku nggak nyangka kalau tetek mbak ternyata besar dan bagus ,” kataku memuji.
Dipuji begitu Mbak Tati hanya menoleh ke arahku sambil memonyongkan mulutnya.
Mbak Tati kemudian berdiri dan memeriksa celana dalamnya. Dia seperti membetulkan letak sesuatu di dalamnya. “Mbak lagi dapet ya,” tanyaku seenaknya.
“Iya nih tinggal dikit, mungkin hari terakhir,” katanya.
Mbak Tati lalu berjalan senaknya, dengan hanya pakai CD. Aku pun berusaha cuek saja, tidak memperhatikan susunya. Dia pun seperti tidak memperhatikan penisku yang akhirnya kuyu kedinginan.
Aku masuk ke bawah selimut karena memang AC kamar dingin sekali. Aku sudah mematikan sejak tadi, tetapi sisa dingin AC sebelumnya masih menyengat.
Sambil tiduran aku berselimut dan menonton TV.
Benar-benar hebat, kami tidur satu selimut berdua dalam keadaan telanjang (mbak Tati nyaris telanjang sih), tetapi tidak terjadi apa-apa. Aku tidak percaya seandainya ada yang cerita begini ke aku.
Pagi-pagi aku langsung masuk kamar mandi dan bab lalu mandi. Takut bau, aku bab sambil merokok. Mandi buru-buru sambil keramas. Di kamar mandi udaranya dingin juga sih. Aku lalu mengeringkan badan dengan handuk. Tiba-tiba masuk Mbak Ratih tergopoh-gopoh dia lalu duduk di toilet dan terdengarlah desisan pancaran air seni. Ku ledek, “siulannya bisa dilaguin nggak”
“Jangan ngeledek, gua lagi kebelet banget nih,” katanya.
Setelah pipisnya reda, dibukanya celananya. Dia memperhatikan pembalutnya hanya ada noda coklat sedikit.
Tanpa basa-basi, Mbak Tati masuk ke bath tub dan menyiram seluruh tubuhnya termasuk rambutnya dengan air hangat. Aku yang sedang gosok gigi melihat dari pantulan cermin bahwa jembut Mbak Tati ternyata tebal sekali.
Mbak Tati minta aku menyabuni punggungnya. Aku menurutinya dan menanyakan bagian mana lagi. Dia bilang “ Enak aja, udah ah, punggung aja. “



Badannya lembut dengan lapisan lemak. Penisku jadi bangun. Mbak Tati meledek, “wah itu burung bangunnya kesiangan,” katanya. Ucapan singkatnya itu malah membuatku penasaran. Apa kira-kira maksud dibalik kata-kata itu. Apakah yang dia maksudkan bahwa aku tidak berani mengambil inisiatif mencumbunya, atau memang arti yang harafiah. Dari pada salah, laebih baik aku dianggap tidak berani mengambil inisiatif. Pilihan ini kuanggap terbaik, sebab kalau aku berinisiatif, kalau dia tidak bisa terima, dan aku dianggap menangguk di air keruh, akibatnya bisa runyam. Buktinya tadi waktu akusabuni dia tidak menizinkanku untuk menjamah tubuhnya lebih jauh. Akhirnya aku menjawab dengan lagak bodok. “Dari tadi udah bangun, dan tidur lagi, gara-gara liat mbak sih dia jadi marah,” kataku.
Aku cuek saja seperti tidak menginginkan apa-apa. Selesai gosok gigi aku langsung ngloyor keluar dan membuat sarapan sambil tetap telanjang.
Mbak Tati keluar dari kamar mandi juga telanjang bulat rupanya. Dia memilih-milih baju lalu dipakainya satu persatu. Seolah-olah dia di kamar sendirian sehingga tidak terlihat ada rasa malunya. Karena dia berlaku begitu, aku pun juga mencoba bersikap yang sama.
Kami lalu bersiap-siap chek out.


Lanjut di bawah gan.....


Like

Reactions: KangAden, adelynaudrey0915, bungR, dan 31 lainnya
pujasejagat
pujasejagat
Semprot Holic
Thread Starter

Daftar
29 Jun 2015

Post
392

Like diterima
3.655

25 Jul 2018

#2

Lanjutannya gan.....


Kami menggunakan kereta cepat TGV dari stasiun Paris Gare Lyon yang berangkat jam 11.54 siang dan sampai di Lyon sekitar jam 2 siang. Kereta cepat kebanggaan Prancis memang luar biasa, dalamnya kayak pesawat terbang. Kami membeli tiket eurail dari Jakarta, jadi agak murah. Tapi itu pun harganya hampir sama dengan harga tiket pesawat Jakarta – Surabaya.
Hari ini kami memulai penjelajahan keliling eropa. Repotnya sebagai wartawan kalau jalan-jalan mesti banyak nyatat dan ambil foto. Kami memang bermaksud membuat tulisan dari perjalanan ini. Ambil foto juga harus ekstra hati-hati. Lihat kiri kanan dulu, kira-kira aneh nggak kalau aku motret di sini. Di era kecurigaan terhadap teroris ini membuat aku selalu waspada dan sadar lingkungan. Lyon sebenarnya bukan kota turis. Tapi begitupun kota ini menurut penilaianku sangat indah. Sejarahnya yang panjang sejak sebelum masehi, merupakan daya tarik kota ini. Banyak bangunan-bangunan indah bersejarah.
Sejak tiba di stasiun aku dan mbak Tati langsung menuju hotel murahan yang sudah kami pesan dari internet. Kami memang bertekad untuk menjadi tourist backpacker . Tempatnya memang tidak terlalu di tengah kota, tapi lumayanlah masih mudah dicari. Untungnya Mbak Tati udah bisa bahasa Prancis, jadi nanya-nanya gak terlalu rumit.
Aku terkesan, kota ini banyak sekali dijumpai kaum muda, mungkin karena kota pelajar kedua terbesar di Prancis.
Kami menempati kamar yang isinya 8 orang dengan 4 bed bertingkat. Turis laki perempuan di campur satu kamar. Aku dan mbak Tati menempati satu bed bertingkat, aku di atas dan dia di bawah. Ransel kami titipkan di locker, dan kami jalan-jalan dengan menggunakan metro. Di tengah kota, banyak sekali sepeda di sewakan. Uniknya jika menggunakan sepeda kurang dari 30 menit tidak perlu bayar. Banyak orang bolak balik tuker sepeda, tapi aku dan mbak Tati, lebih suka jujur aja kami berkeliling dengan sepeda di seputar Quai St. Antoine.
Program kami mampir di Lyon hanya 1 malam, karena masih banyak yang ingin kami nikmati . Banyak juga sih cerita mengenai Lyon, tapi pada kesempatan lain sajalah saya bercerita.
Kami meninggalkan Lyon dengan kereta TGV menuju Montpellier . Sampai di kota yang aku menyebutnya kota peler. Hampir 2 jam juga perjalanan dari Lyon ke kota Peler ini kami tempuh. Sesampai di stasiun Montpellier St-roch, kami mencari informasi sewa mobil. Akhirnya kami mendapatkan sewa mobil Fiat Panda. Lumayan juga mobilnya tidak terlalu besar. Berbekal peta dan tentunya GPS, perjalanan jadi lebih mudah dan menyenangkan. Rencananya mobil ini akan kami sewa 3 hari dan kami bawa sampai ke Cap d’agde. Sebetulnya menyenangkan juga sewa mobil sambil berkeliling Eropa, tetapi memerlukan waktu lama dan butuh stamina. Kami memilih untuk memakai mobil sewaan berkeliling ke kota-kota kecil. Perjalanan jarak jauh mengandalkan kereta cepat.
Muter-muter di kota peler sampai sore, lalu aku mengarahkan ke Cap d.agde. Sekitar jam 8 malam kami sampai di kota telanjang terbesar di dunia.
Karena suasana sudah mulai gelap, maka kota telanjang itu ketika kami tiba , tidak ada yang telanjang lalu lalang. Kami telah memesan kamar di Hotel Ave, satu-satunya hotel di area nudis.
Proses chek ini tidak terlalu lama, kami lalu diberi kunci untuk kamar yang kami pesan. Hotel Eve sebenarnya bukan lah hotel yang mewah, karena kamarnya tergolong kecil. Tarifnya lumayan cukup tinggi, tapi kami pilih karena ingin merasakan dan melihat ketelanjangan.
Di luar daerah nudis banyak sih hotel yang lebih murah, tetapi kalau kami mau ke daerah nudis harus berjalan cukup jauh.
Tidak ada istilah capek, begitu barang diletakkan di kamar, aku lalu mengajak mbak Tati untu menikmati kehidupan malam . Kota ini benar-benar bebas. Ada bar khusus untuk Gay, Lesbian bahkan swinger. Meski mereka yang mondar mandir pada malam ini berpakaian, tetapi hanya menutupi aurat ala kadarnya saja. Banyak kulihat cewek dan pasangannya hanya pakai celana G string dan ditutup kain seperti jaring ikan dan dadanya juga ditutup baju tipis, sehingga pentilnya bisa tembus pandang.
Aku jadi teringat cerita Sodom dan Gomorah. Mungkin situasi kota itu dulu seperti ini. Tidak ada kamus malu di terapkan di kota ini. Selesai menyantap makan malam, Aku dan mbak Tati iseng jalan-jalan ke arah pantai yang rada gelap. Di sana banyak rupanya aktifitas. Pasangan bule-bule gila dengan bebasnya melakukan cumbuan bahkan banyak yang lagi ngenti di tempat terbuka. Bukan mereka yang malu, malah kami yang malu, sehingga kami tidak bisa lama-lama berada di sana.
Aku mengajak mbak Tati kembali ke pusat keramaian dan mencari bar untuk menikmati seteguk dua teguk bir.
Jam 12 malam, mata udah mulai berat, kami kembali ke kamar hotel. Kepalaku agak berat, mungkin pengaruh bir tadi, tapi masih waras sih. Aku kembali bertelanjang lalu masuk ke bawah selimut. Mbak Tati di kamar mandi lama bener.
Aku lupa menceritakan bahwa kamar yang kami pesan ini tidak ada AC nya, ini untuk mengejar harga yang murah. Aku pikir ngapain juga pake AC, orang telanjang kan tidak perlu AC. Jadi baru sebentar berselimut jadi gerah. Selimut aku buka. Dan aku tiduran sambil nonton TV. Mulanya sambil tidur miring, tapi kurang nyaman karena TV nya ada di bagian kaki. Aku terpaksa menyandarkan bantal di bagian kepala jadi posisinya kepala agak tinggi. Persoalannya adalah penisku berdiri. Entah karena pengaruh pemandangan selama kami keluar tadi atau karena alkohol, atau karena udah beberapa hari nggak dikeluarin sehingga spermanya udah penuh. Sebetulnya aku malu, tetapi lalu berpikir, ngapain malu, hidup bertelanjang kan apa adanya, kalau berdiri yang manusiawilah, biarin aja.


Lanjut di bawah gan......


Like

Reactions: KangAden, adelynaudrey0915, bungR, dan 28 lainnya
pujasejagat
pujasejagat
Semprot Holic
Thread Starter

Daftar
29 Jun 2015

Post
392

Like diterima
3.655

25 Jul 2018

#3

Lanjutannya gan.....

Aku berusaha santai, “tapi tegang” ketika mbak Tati keluar dari kamar mandi. Dia pun ternyata ingin tidur sambil telanjang. Jadi dari kamar mandi udah gundal-gandul tuh tetek besarnya. “ Mbak susunya apa gak bisa dititipin di locker room, kan berat di bawa kemana-mana,” ejekku melihat tetek besarnya.
“Ngawur aja, emangnya bisa dicopot, lha kamu apa gak ngganggu tuh ekor dipasang di depan, sana gih titipin ke locker kalau bisa “kata mbak Tati agak sengit tapi dengan nada bercanda.
Mbak Tatik lalu duduk di sampingku bersila. Dia ngemil buah. Orang ini doyan banget ngemil. Persediaan makanannya bermacam-macam.
“Ngapain tuh buntutnya kok berdiri,” kata mbak Tati.
“Nggak tau dari tadi sulit banget dijinakkan, “ kata ku sekenanya.
“ Sini gua sentil biar tidur,” katanya sambil ancang-ancang mau menyentil. Aku tentu saja berusaha melindungi penisku agar tidak benar-benar di sentil.
“Jangan disentil dong mbak, apa nggak kasian, diakan minta disayang,” kataku rada menghiba.
“ Ya udah sini saya elus-elus biar cepet tidur,” kata mbak Tati sambil mendekatkan posisi duduknya ke arah penisku.
Aku diam saja sambil menunggu apa sih yang mau dilakukan mbak Tati. Terhadap aparatku. Dia benar-benar menjangkau penisku lalu memang benar-benar dielus-elus. Mendapat sentuhan itu, langsung badanku merasa kemerenyeng (gak ada bahasa Indonesianya sih).
Aku lalu mendesis, emang sentuhannya rasanya enak banget. Mana mungkin si Boy bisa tidur dielus-elus begitu, dia malah makin mengeras. Karena enaknya aku tidurnya jadi melorot. Mbak Tati kemudian bukan hanya mengelus malah mencengkeram. Dia gemes katanya sehingga batangku diremas-remas. Aku jadi makin keenakan. “ Aduh mbak enak banget,” kataku.
Aku sudah tidak peduli, apa yang kurasakan ku ekspresikan dengan desahan-desahan.
Aku lalu seperti mengingau mengatakan,” mbak jangan diremes doang dong dia minta lebih disayang, dia minta dicium tuh,” kataku.
“Lha kok malah nglunjak,” kata mbak Tati.
Tapi dia kemudian mendekatkan mulutnya dan mulai menciumi barangku. Gila rasanya makin syur. Aku sudah merasa tidak ada jarak lagi dengan mbak Tati.Dia kuminta melumat penisku. Mungkin dia juga terangsang sehingga permintaanku segera dipenuhinya. Barangku dilumatnya dan mulutnya maju mundur di penisku. Pertahananku rasanya hampir jebol. Mbak Tati kuminta melepas kulumannya dan aku segera membekap kepala penisku dan melesatlah cairan kental putih keluar dari ujungnya. Aku menjaga jangan sampai air maniku tumpah ke bed, sehingga begitu usai ejakulasi aku buru-buru ke kamar mandi membersihkannya.
Keluar dari kamar mandi penisku sudah mereda ketegangannya. Kepalaku jadi ringan dan semua sumbatan birahi sudah plong rasanya.
Mbak Tati masih duduk bersila, dan kembali ngemil. Kudekati dia dan kurangkul dia sambil kuciumi pipinya. “ Mbak terima kasih ya aku sudah plong deh rasanya,” kataku.
Dia diam saja dan rasanya badannya melemas dan merebahkan berat badannya ke tubuhku. Kurangkul dia dan kubaringkan. Aku menciumi keningnya, pipinya lalu pelan-pelan mulutku mengarah ke mulutnya. Ketika mulut kami bertemu di membalas lumatanku.
Tanganku otomatis bergerak ke arah gumpalan yang gundal-gandul. Telapak tanganku tidak cukup mengcover tetek mbak Tati. Jariku menari dan memilin-milin pentilnya yang tidak terlalu besar.
Aku menciumi lehernya dan perlahan lahan mulai menghisap kedua puting susunya. Mbak Tati mendesah sambil berkata, “ aduh dik enak dik.”
Tanganku mulai menjangkau gawuknya yang lebat. Kuraba agak ngambang untuk merasakan betapa lebatnya si jembi di bawah sana. Kemudian jari tengahku masuk agak kedalam mencari belahan. Belahan itu terasa sudah agak basah. Dengan perlahan jari tengahku mencari letak clitoris. Terasa ada benjolan agak mengeras di atas lipatan. Aku membasahi jariku dengan lendir yang keluar dari vagina mbak Tati lalu kubasahi clitorisnya dan kemudian kugesek pelan-pelan-pelan.
Mbak Tati menggelinjang setiap kali clitorisnya tersentuh. Ciumanku mulai mengarah ke perut dan pelan pelan mengarah ke vagina. Menjelang hampir sampai ke bawah, kepalaku ditahannya. “ Dik mau diapain dik, mbak malu ah, ‘katanya sambil menahan kepalaku agar tidak turun lebih ke bawah lagi.
Tapi aku merasa penahanan tangannya tidak terlalu ngekang, sehingga aku tetap bisa meneruskan misiku. Lidahku kujulurkan dan ujungnya langsung masuk kebelahan kemaluannya. Begitu lidahku tiba di sana mbak Tati langsung menjerit lirih. Jeritan nikmat.
Lidahku berusaha menemui clitoris dan akhirnya ketemu juga. Hanya saja jembut yang lebat agak mengganggu, sehingga seranganku kurang mulus. Tapi aku memberi tempo sejenak, sampai Mbak Tati melemah kesadaran malunya.
Setelah aku yakin dia benar-benar terangsang, maka kedua tanganku berusaha membuka jalan dengan menyibakkan dua sisi vaginanya dan membersihkan rintangan bulu agar lidahku bisa terbebas menemui clitoris.Aku lalu membekapkan mulutku ke bagian atas vaginanya dan lidahku mulai menari-nari di ujung clitoris yang makin membengkak.
Mbak Tati sudah kelojotan gak karuan merasakan nikmat dari ulasan lidahku di clitorisnya. Aku terus menerus menyerang tanpa memberi jeda dan serangan terfokus ke satu titik. Tidak lama kemudian badan mbak Tati menegang dan kakinya menjepit kepalaku. Seluruh bagian vaginanya berkontraksi. Aku melakukan gencatan serangan membiarkan mbak Tati menuntaskan orgasmenya. Namun mulutku masih menangkup di memeknya dan merasakan sensasi kontraksi yang berirama.
Sampai kontraksinya reda baru aku melepas bekapan mulutku dari memeknya. Aku duduk bersimpuh dan pelan-pelan aku tusukkan jari tengahku menelusup ke dalam lubang vagina. Jariku mencari G spot yang kira-kira berada di antara posisi jan 11 dan jam 1. Aku menermukan G spotnya diposisi jam 12 lebih sedikit.
Aku lalu mengunyel benjolan lembut itu pelan-pelan dengan irama teratur. Belum sampai 5 menit dia sudah mulai menegang kembali dan tiba-tiba muncrat sedikit cairan dari bagian memeknya sampai mengenai mukaku. Mbak Tati sampai menjerit histeris ketika mendapat orgasme kali ini. Seluruh liang vaginanya berkedut mencengkeram jariku yang masih berada di dalam. Mukaku terkena pancaran sampai 3 kali, lalu ciaran itu meleleh diantara belahan vaginanya.
Setelah erangannya mereda dan kontraksinya makin lemah. Aku menarik diri dan duduk disamping mbak Tati yang seperti setengah pingsan. Mukaku masih agak belepotan oleh air yang menciprat dari vaginanya, sebagian masuk ke mulutku dan rasanya agak asin.
Mbak Tati sadar bahwa dia menyemprotkan cairan sehingga mengenai mukaku. “ Sorry ya dik kamu kecipratan kencing ku ya, aku mau tahan tapi nggak bisa, abis enak banget, kamu apain sih tadi sampai bisa begitu,” kata Mbak tati sambil mengusap mukaku yang masih berselemak.
Cipratannya bukan kencing karena agak kental, Mbak Tati heran setelah merasakan cairan yang disemburkan tadi agak kental. “ Lho dik yang muncrat tadi kok kayak sperma mu ya,” katanya.
Aku menjelaskan bahwa itu memang seperti sperma dan biasa melejit saat wanita mencapai orgasme vagina.
Mungkin karena dia merasa bersalah atau karena apa, dia lalu bangkit dan menarikku ke kamar mandi. Dia membasuh mukaku dengan handuk basah dan menyabuninya. Aku agak gelagapan juga diraup handuk basah, tapi berusaha nurut aja.
Setelah dia membersihkan diri, Mbak Tati lalu menyeretku kembali berbaring di tempat tidur.
Aku tidur dipeluknya, Belum berapa lama mbak Tati sudah tidur pulas sehingga ketika kulepas pelukannya dia melemas saja dan tetap tidur lelap. Aku tidak suka tidur berpelukan , karena rasanya gerah dan badan jadi berkeringat. Aku lalu tidur telentang disampingnya. Penisku sebetulnya sudah agak berisi lagi, tapi kubiarkan saja dan aku kosentrasi untuk tidur.
Aku yakin jika mbak Tati ku tiban, pasti dia tidak nolak alias pasrah. Tetapi kelihatannya dia sudah sangat lelah karena orgasmenya yang luar biasa tadi. Kesempatan lain masih ada, sehingga aku lebih baik bersabar saja.
Keesokan harinya kami terbangun ketika diluar sudah terang benderang. Waktu setempat sudah menunjukkan jam 8 pagi. Aku terbangun dengan penis dalam keadaan mengeras. Kupeluk mbak Tati. Dia juga terbangun dan membalas pelukanku. Aku menciumi pipinya, lehernya lalu segera turun ke buah dadanya yang sejak lama kukagumi karena besarnya. Mbak Tati pasrah ketika kutelentangkan . Perlahan lahan kunaiki tubuhnya dan kubiarkan penisku menggesek-gesek. Mulut vaginanya. Aku bisa saja mengarahkan penisku memasuki vaginanya dengan tuntunan tanganku. Tapi aku tidak melakukannya. Lama juga kugesek-gesek penisku yang keras ke mulut vagina mbak Tati. Dia lalu membuka kakinya lebar-lebar dan tangannya menangkap penisku lalu pelan-pelan membimbingnya memasuki lubang vaginanya. Terasa agak basah di sana dan setelah posisinya kurasa tepat, pelan-pelak kudorong penisku masuk. Agak sulit sehingga aku melakukan gerakanmaju mundur pelan-pelan dan gerakannya pendek agar penisku tidak lepas dari mulut memeknya. Mungkin kepala penisku sudah makin basah terlumuri cairan dari vaginanya sehingga pelan-pelan penisku makin dalam masuk ke dalam vagina mbak Tati. Mbak Tati mendesah-desah sambil memeluk dan menarik pantatku agar masuk lebih dalam lagi. Semua penisku sudah tengelam di dalam lipatan vagina mbak tati. Aku lalu menariknya pelan-pelan lalu dengan gerakn tiba-tiba menghunjam kembali. Begitu aku lakukan gerakan berulang-ulang . Mbak Tati menjerit saat aku melakukan hunjaman. Jerit kenikmatan yang berbeda dengan jerit kesakitan.
Aku melakukan sambil mencari posisi yang paling merangsang vagina mbak Tati. Rasanya jika aku mersa posisi yang nikmat dia pun juga demikian. Jadi ada satu posisi hunjaman yang benar-benar memberi kenikmatan kedua belah pihak. Aku terus main dengan posisi MOT sampai akhirnya kami mencapai orgasme hampir bersamaan. Aku terpacu ejakulasi ketika dia mencapai orgasme. Rasanya jepitan di penisku makin ketat sehingga aku tidak bisa menahan orgasme ku.
Kutembakkan spermaku di dalam liang vaginanya dan merasakan kontraksi di dalamnya. Aku merasakan kenikmatan yang sangat sempurna. Air maniku tidak banyak keluar, sehingga, tidak sampai tumpah ke sprei.
Sampai penisku mengecil dan lepas dengan sendirinya dari lubang vagina baru aku menarik diri. Mbak Tati memuji permaianku. Dia mengatakan tidak menyangka aku mahir dalam olah sex.

Lanjut dibawah gan.....


Like

Reactions: KangAden, bungR, Sebalo, dan 28 lainnya
Marlboro92
Marlboro92
Semprot Kecil

Daftar
20 Apr 2016

Post
85

Like diterima
9

25 Jul 2018

#4

Pertamax ngimek huu

pujasejagat
pujasejagat
Semprot Holic
Thread Starter

Daftar
29 Jun 2015

Post
392

Like diterima
3.655

25 Jul 2018

#5

Lanjutannya gan.....

Kami mandi bersama dan saling menyabuni. Aku baru benar-benar bisa jelas menyaksikan betapa gemuknya tetek Mbak Tati ketika aku menyabuninya. Jembutnya juga sangat lebat dan kasar dan lebat.
Mbak Tati tidak hamis-habisnya memujiku dalam permainan sex yang katanya belum pernah dia dapatkan, meski dia pernah berhubungan dengan 2 cowok bekas pacarnya. “Mereka cuma egois, maunya enak sendiri,” kata mbak Tati.
Ternyata Mbak Tati pecah perawannya sejak kelas 3 SMA. Lalu dia berpacaran lagi ketika akhir masa kuliahnya. Tapi kedua cowoknya itu lari dan mengawini wanita lain. Itu yang membuat Mbak Tati merasa membenci laki-laki yang katanya egois.
Aku terus terang mengatakan, tidak berani berbuat kurang ajar kepada mbak Tati agar perjalanan yang panjang ke Eropa ini tidak terganggu. Kalau saja mbak Tati tidak menginginkan aku, tetapi aku tetap menyerangnya, bisa-bisa rencana yang kami susun lama bisa berantakan. Aku menyadari, wanita yang sudah berumur, punya sikap yang lebih egois, dan tidak mudah ditaklukkan dengan sentuhan birahi dan rayuan. Resistensinya tinggi sekali. Makanya menghadapi mbak Tati, aku lebih banyak mengalah dan selalu mendahulukan kepentingannya.
Mbak Tati akhirnya juga menyingkap rahasia, bahwa dia tidak keberatan aku gagahi, karena dia nilai selama ini aku tidak pernah berbuat kurang ajar. Dia merasa lebih nyaman bersamaku.
Aku sangat menjaga selama bersamanya untuk tidak mengambil inisiatif. Selalu aku memberi dia kesempatan untuk mengambil keputusan lebih dahulu. Ketika pagi tadi main aku sengaja tidak langsung membenamkan penisku, tetapi kuberi kesempatan agar mbak Tati lah yang mengambil inisiatif menuntunnya.
Dari jendela kulihat pemandangan di luar, sebagian orang mondar mandir telanjang, tetapi sebagian ada juga yang mengenakan bikini dan celana renang. Aku berembuk dengan Mbak Tati, apakah akan keluar telanjang atau pakai bikini dan celana renang.
“Udah nanggung sampai disini, coba aja kita melenggang telanjang kaya orang gila, rasanya gimana sih,” kata Mbak Tati menantang.
Kami akhirnya bugil-gil keluar dari kamar hotel dengan hanya menenteng tas yang berisi dokumen penting dan uang. Pada awalnya aku merasa minder juga karena penisku kelihatannya kecil dibandingkan bule-bule yang kelihatannya panjang-panjang. Ah tapi aku cuek aja. Toh nudis tujuannya menampilkan aslinya, bukan mau kontes adu bagus atau adu besar.
Aku dan Mbak Tati santai berjalan diantara hilir mudik orang di wilayah nudis Cap d’Agde. Sambil telanjang kami sarapan pagi, lalu melihat-lihat toko suvenir dan masuk ke supermaket. Puas berkeliling di seputar keramaian kami menuju pantai. Tidak ada maksud mau nyebur ke laut, karena ombaknya besar dan angin kencang sekali. Kami hanya ingin tahu suasana pantai nudis. Banyak juga keluarga bule yang membawa keluarganya bertelanjang di pantai.
Satu hal yang sangat kusayangkan adalah sulitnya melakukan pemotretan. Di semua wilayah nudis diberlakukan peraturan ketat, tidak boleh mengambil gambar sembarangan meski melalui kamera HP. Kelihatan tidak ada orang yang curi-curi ambil gambar. Tapi aku tidak mau menyerah begitu saja. Perjalanan yang mahal sampai ke sini masak disia-siakan dengan menyerah begitu saja. Sambil pura pura menggengam HP aku berkali kali menekan tombol foto. Kamera HP ku lumayan canggih, bisa anti blur dan kemampuannya 5 megapixel. Banyak juga gambar yang aku ambil curi-curi, sampai aku punya gambar suasana supermaket bugil, cafe bugil dan keluarga bugil bersama di pantai. Banyak yang kurang bagus memang, tetapi banyak juga yang memadai sebagai dokumentasi.
Bosan berkeliling kota bugil, kami kembali ke hotel untuk istirahat tidur siang. Badan rasanya bergetah dengan uap air laut. Aku memutuskan mandi membersihkan badan. Mabk Tati rupanya juga merasakan hal yang sama. Kami mandi berdua dan saling menyabuni.
Enak banget rasanya memeluk tubuh mbak Tati yang sedang penuh sabun. Tubuhnya kenyal dan licin. Batangku jadi mengeras akibat berpelukan dengan belepotan sabun. Batangku kusodok-sodokkan dari belakang mbak Tati. Batangku melesat diaantara jepitan belahan pantat yang montok banget. Begitu aja rasanya sudah nikmat banget.
Disiramnya penisku dan dibersihkannya kemaluannya, mbak Tati lalu nunging membelakangiku. Aku menangkap sinyal itu agar aku memasukinya dari belakang. Pelan-pelan kuarahkan penisku memasuki vagina mbak Tati sampai akhirnya ambles seluruhnya . Aku menabrak-nabrak pantat bahenol mbak Tatik sampai bergetar semua lemak di bokongnya. Sebenarnya posisi ini kurang aku sukai karena rasanya jepitan vagina kurang kencang. Tapi mbak Tati mengerang-erang merasakan hunjaman penisku. Aku jadi bersemangat berkali-kali menabrak-nabrakkan badanku dari belakang. Posisi dogy ini mungkin lebih banyakmenggesek g spot mbak Tati sehingga dia merasakan syur, sementara aku merasa longgar. Benar memang setelah tidak lama kemudian mbak Tati mengerang mendapatkan orgasmenya. Aku tidak mampu mencapai orgasme dan kubiarkan saja begitu dalam keadaan tegang melanjutkan mandi dan membersihkan diri dari sabun. Sampai kami selesai mandi, penisku masih terus menegang.
Aku santai saja jalan lalu tebah di tempat tidur sambil telentang.
Mbak Tati melihat kondisiku dia berusaha meredakannya dengan mulai mengulum penisku. Aku pasrah saja mau diapai. Kubiarkan apa pun yang dilakukannya, sampai akhirnya dia jongkok di atas penisku dan menghunjamkan penisku ke dalam lubangnya. Aku tidak bergerak, tetapi Mbak Tatik aktif sekali menggerakkan pantatnya naik turun. Efeknya tetap saja longgar. Lama sekali posisi ini sampai mbak Tati lelah di kemudian benar-benar mendudukiku. Dalam posisi ini dia bergerak maju mundur. Penisku terasa diremas-remas. Mbak tati kelihatannya mendapat posisi yang syur juga bagi vaginanya sehingga dia makin liar bergerak. Dia melampiaskan kenikmatannya dengan bergerak liar dan berteriak-teriak sendiri sampai akhirnya menjerit keenakan. Aku jadi semakin terangsa dan aku menaik-naikkan pantatku untuk mengejar orgasmeku yang hampir sampai. Akhirnya aku berhasil mencapai orgasme juga dengan susah payah.
Kami lalu jatuh tertidur dengan badan penuh berkeringat.
Aku terbangun lebih dulu dan di luar kelihatan sudah mulai gelap. Kami tertidur cukup lama sampai jam 9 malam baru terbangun. Perut terasa mulai menuntut diisi. Kulihat Mbak Tati tidur telentang dengan tubuh yang telanjang. Susunya yang besar tumpah ke kiri dan kanan, sementara jembutnya lebat banget. Aku membangunkan mbak Tati dengan mengemut susunya. Dia tergugah dan tanya sudah jam berapa sekarang. Mbak Tati bangun dan duduk bersila sambil mengucek-ucek matanya. “Tidurku nyenyak banget, cape kali ya,” katanya.
Kami bersih-bersih sebentar dan berpakaian. Kami bermaksud keluar cari makan malam. Di kota nudis, tidak ada yang bugil pada malam hari di jalan. Kami tahu itu ketika malam pertama jalan-jalan.
Mataku jelalatan memperhatikan jingkah polah manusia di kota “Sodom Gomorah” ini. Ada yang sambil jalan ciuman dan pegang susu dan perempuannya meremas selangkangan pasangannya. Ada perempuan nyender sedang berciuman dengan perempuan pula. Ada juga bule gay sedang bermesraan di dekatnya dan mereka berciuman adu mulut juga.
Inilah pemandangan yang nggak bakal di dapat di negara ku. Mbak Tati sering aku tegur agar tidak keliatan noraknya. Abis dia menjerit lirih sambil tutup mulut dan menghindari pemandangan para homo itu. “ Biasa aja lagi, sok biasa gitu lho,” kataku menenangkan ketakjuban mbak Tati.
Aku melihat restoran yang cukup ramai, kalau nggak salah ingat merknya “Calypso”, letaknya dekat pantai. Kami memutuskan mencoba makan disitu. Tempatnya kelihatannya enak, ramai. Kami memilih duduk di teras agar pemandangan ke luar leluasa. Aku bingung membaca menunya, mbak Tati juga bingung. Aku minta ikan bakar dan salad dengan dressing thousand island. Mbak Tati lalu menjelaskan dengan bahasa Prancis yang patah-patah. Untungnya si waiter ngerti. Mungkin karena nggak mau tambah repot mbak Tati ikutan pesenan yang sama dengan aku. Harganya tidak terlalu mahal, untuk ukuran daerah wisata dan di Prancis. Kalau dibandingkan dengan di Jakarta ya mahal banget, kami berdua makan begitu aja hampir 500 ribu perak.
Dari pendengaran ku di restoran itu kebanyakan orang-orang berbahasa Jerman dan Prancis. Cap d’agde kayaknya mayoritas dikunjungi orang dari kedua negara itu.
Mestinya sehabis makan, enaknya ngopi sambil nonton orang mondar mandir. Tapi dalam rangka pengiritan, ngopinya ditunda nanti di kamar saja.
Gaya hidup swinger, di kota ini terbuka sekali. Aku melihat segerombolan bule-bule bukan hanya merangkul pasangannya, tapi tangannya merangkul siapa, mulutnya nyucup siapa. Beberapa club memang mengkhususkan untuk para swinger.
Mbak Tati kutawari masuk ke club swinger. Dia ngeri katanya. Aku bilang, sebagai wartawan harus berani blusak-blusuk. Orang di club swinger juga bukan buas-buas. Mereka nggak mungkin maksa mencumbu pasangan lain. Itulah gambaran yang kuberikan kepada mbak Tati. Lama juga dia berpikir sampai akhirnya mau untuk sekedar coba-coba.
Kami berkeliling untuk mencari club swinger yang paling besar. Kami masuk dikenakan cover charge. Harganya rada mahal juga, tapi aku lupa. Pokoknya pada waktu itu terkesan mahal. Di dalam suasana club seperti pada umumnya disko. Musik berdentum-dentum membujuk oengunjung untuk joget dilantai . Suasana ruangannya tidak terlalu gelap, tetapi juga tidak terang. Aku dan mbak Tati memilih tempat yang agak jauh dari arena jojing dan agak menyudut. Aku memesan bir, mbak Tati tequila. Musik berdentum-dentum. Suasana makin panas mendekati tengah malam. Lantai dansa yang tadinya sepi kini mulai ada yang turun di sana. Makin pagi makin seru. Pakaian mereka sudah tidak jelas lagi. Beberapa ceweknya malah telanjang bulat menari-nari dikelilingi beberapa cowok yang hanya bercelana dalam. Aku dan Mbak Tati jadi minder, karena kami merupakan sebagian tamu di situ yang masih berpakaian lengkap. Mereka yang masih lengkap bajunya sepertiya seperti kami juga yang baru pertama kali datang ke klub ini. Pesta di swinger club ini bernar-benar liar. Tapi meski begitu aku akui orangnya sopan-sopan, tidak berangasan. Sebelum para pengunjung menggila dengan membuka semua pakaiannya aku dan mbak Tati masih berani turun ke lantai dansa. Itu juga karena tetangga meja kami mengajak kami turun bersama. Kami joget berganti-ganti pasangan, tetapi kembali ke pasangan semula ketika duduk lagi di meja kami.
Ketika pesta makin menggila, dan nyaris semua yang turun ke lantai dansa bugil, di beberapa sudut aku melihat pasangan-pasangan melakukan ritual bersetubuh. Ada yang sepasang tetapi ada juga cewek dikeroyok 2 cowok.
Rasanya kalau disini jadi orang waras, nggak bakalan tau dan merasakan nikmatnya pesta swinger. Aku sudah mulai setengah tinggi, Mbak Tati juga kayaknya begitu. Musik yang berdentum sangat merangsang semua orang disitu untuk goyang.
Aku melihat banyak ruangan di belakang, bahkan ada kolam kecil berisi air panas. Ini ku kethui ketika jalan mencari wc. Menurut waiter yang kutanya, semua pengunjung boleh berendam di kolam air panas itu tanpa dipungut bayaran. Kalau mau melampiaskan nafsu liar berorgy dengan pasanan lain juga disediakan kamar tapi dikenakan charge, sesuai dengan besar kamarnya. Aku malah digandeng si waiter melihat-lihat situasi di belakang. Aku seperti orang modern masuk keabad primitif melihat kamar-kamar itu berisi orang lagi melampiaskan nafsunya beramai-ramai. Ada yang sampai 4 pasang saling memuaskan nafsunya. Ah sulit sekali menggambarkannya, karena terlalu primitif.
Ku ceritakan pengalaman ku tour ke belakang. Mbak Tati penasaran dia pengen liat juga. Aku menggandengnya dan kuingatkan jangan keliatan norak kalau liat pemandangan di belakang nanti. Mbak Tati hanya geleng-geleng saja mengagumi bebasnya orang orang disitu melampiaskan nafsu sexnya. Aku mengajak Mbak Tati untuk berendam sebentar di air panas sambil mengendurkan otot dan relax. Di tempat berendam itu, musik yang berdentum tidak bisa menembus ke belakang. Jadi suasananya relax sekali. Yang terdengan malah rintihan dan jeritan orang sedang melakukan hubungan sex. Semua yang berendam di situ telanjang. Kami akhirnya menyesuaikan dengan menyimpan pakaian kami di locker yang tersedia. Ada 5 pasangan yang umumnya sudah berusia diatas 40 tahun. Aku menyapa mereka yang lalu disambut ramah. Aku dan Mbak Tati malah disalami. Kami berduabelas jadi akrab. Ada orang Prancis, Inggris, Jerman dan Kroasia. Kami ngbrol dengan bahasa gado-gado, kadang Inggris, lalu Jerman lalu Prancis.
Ada yang lucu ketika kami berkenalan. Cowoknya memperkenalkan diri lalu menunjuk cewek yang sedang dipeluk cowok lain sebagai istrinya, “ That’s my wife,” kata si Inggris.
Di dalam tempat berendam tidak diperbolehkan melakukan hubungan sex, ada aturan yang tulisannya di tempel di dinding dalam 3 bahasa. Berpelukan ciuman, raba-raba masih diperbolehkan. Meski disitu kelihatan bebas, tetapi tidak ada yang mencolek Tati. Di negara ini hukuman pelecehan sexual amat keras. Jadi meski di swinger club, mereka kelihatannya tetap mematuhinya.
Setelah setengah jam berendam, kami mentas. Mbak Tati ngajak pulang ke hotel, karena kepalanya pening. Suasana di luar sudah sepi karena sudah jam 3 dini hari. Kami kembali ke hotel dalam keadaan segar, tetapi mata ngantuk dan kepala berat. Aku melepas semua baju langsung rubuh di bed. Mbak Tatik masih sibuk di kamar mandi. Aku langsung tidur.
Dari Cap d’Agde kami lalu mengelana ke Swiss, Jerman dan kembali ke Belanda. Di Belanda kami sempat mengunjungi club swinger. Meskipun tidak melakukan swinger, tetapi pengetahuan kami bertambah dengan melihat sendiri kehidupan para swinger.
Dalam perjalanan pulang ke tanah air Mbak Tatik sudah membuat rencana lagi. Dia katanya ingin mencoba Trans Siberia bersamaku tahun depan.

Merasakan Hidup Nudist

By Lucy →