Browsing "Older Posts"

Nasib...nasib...!!
Namaku Priyo, diusia ku yang sudah 22 ini, kakekku menikah lagi dengan perawan desa yang di kenalnya dari kepala desa (sebut saja desa x).
Di kampung ini kakek ku memang terkenal sebagai seorang saudagar, jumlah kebun yang hektaran membuatnya tak tergoyahkan. Tapi entah mengapa dia tiba-tiba minta kawin lagi, padahal semenjak nenek meninggal tak pernah ada obrolan atau wacana tentang rencana si kakek mau kawin lagi.
Maklum saja diusianya yang sudah 64 itu membuatnya dalam keterbatasan.
Jangankan untuk memberi nafkah ranjang, berjalan saja kakekku terkadang harus menggunakan tongkat.
Tapi itu semua harus kusyukuri karena akulah cucu yang kelak akan mewarisi kenikmatan bersama nenekku itu.

Nenek Geulis

By Lucy → 30 June 2019
Malam ini sungguh akan menjadi malam yang tidak terlupakan, bagaimana tidak, gadis pujaan yang selama ini kucintai ternyata memutuskan untuk memutuskanku setelah 2 bulan berpacaran. Yah.. memang salahku juga, karena aku sering berusaha membuatnya melakukan hal yang aneh-aneh, misalnya menyuruhnya memakai pakaian seksi waktu jalan jalan, melakukan hubungan seks yang kasar, dan kadang memaksa melepaskan celana dalam sewaktu diluar, dan dia sangat tidak terbiasa dengan semua itu. Dia bukan tipe wanita seperti itu, dan memutuskan untuk berpisah untuk selamanya. Malam jam 10, aku dengan pikiran kesal, sedih dan galau menyetir mobilku dengan kecepatan sedang balik ke rumahku. Tapi rasanya sedang tidak ingin pulang kerumah dulu, jadi aku memutuskan untuk menyetir tanpa arah, kemana saja, dengan suara tape mobil yang berdentum keras, kecepatan mobil tanpa terasa bertambah kencang. 15 menit dalam lamunan bayangan wajah mantan pacar, tak terasa aku masuk ke jalan tol. Suara dentuman bas merubah moodku menjadi bersemangat kembali, toh masih banyak wanita lain yang bisa kudapat, untuk apa bersedih. Dan tanpa terasa, kecepatan mobil sudah di 120km/jam. Jalan lurus dan lampu tol yang tidak hidup semua, membuat sebagian jalan tol agak gelap. Sambil bernyanyi mengikuti irama musik, pedal gas semakin dalam kuinjak. Sekarang kecepatan mobil sudah masuk ke 140 km/jam, dan saat itulah, sebuah kilatan cahaya meyambar jalan didepan mobilku, cahaya berwarna biru muda, dengan kecepatan itu, aku mengerem tiba tiba, dan anehnya, mobilku tetap melaju, cahaya biru itu menyelimuti seluruh mobil dan tubuhku berubah bercahaya terang, terasa dingin yang menusuk tulang, kepalaku menjadi pusing dan semuanya berubah gelap... mungkin inilah akhir hidupku, walau pun aku tidak menyadari kalau ini adalah malam yang benar benar tidak akan kulupakan seumur hidup.

Blue Lightning

By Lucy →
"Be lagi dimana?" Sapa seseorang di BBM ku pagi itu.

"Dirumah A." Jawabku.

"Horny aku bee." Balasnya

"Ya udah aa jalan-jalan ke taman jompo aja, sapa tau ada yang cocok. Ahahhahahaaa." Jawabku sambil bercanda.

Aaaggghhh, Kentang

By Lucy →
Salah satu cara favoritku buat 'pameran' dan masih kujalani dengan pola yang hampir sama sampai sekarang adalah ke Panti Pijat (PP). Tetapi sebelumnya, jangan membayangkan seperti yang sering orang bilang, yaitu tempat terselubung buat begituan. Terus terang aku tidak perlu yang begituannya, walaupun ditawari. Aku juga tidak pernah cari yang di daerah Kota, terlalu vulgar/langsung (tahu sendirilah bagaimana di daerah Kota itu). Selalu yang kutuju itu daerah pinggiran seperti Pasar Minggu, Depok, Kebayoran Lama, Cempaka Putih, dan lain-lain. Umumnya yang pasang nama Urut Pengobatan Tradisional, tetap ada sih yang begitunya, tapi masih tidak terlalu to-the-point seperti di daerah Kota, sudah tidak seru lagi kalau begitu.

Pameran Panti Pijat

By Lucy →
Saat itu umurku baru menginjak 17tahun. Tepatnya kelas 3SMA.
Aku sudah tidak perawan tentunya. Keperawananku di ambil pacarku. Tapi seminggu kemudian, aku putuskan hubunganku sama dia. Aku fikir, cwo macam dia gak patut dipertahankan. Dan aku gakan pernah cerita bagaimana aku kehilangan keperawanan. Itu bener-bener bikin aku makin muak dengan kejadian saat itu.

Gara-Gara Bako

By Lucy →
Sebulan sudah sejak kejadian mesum di Villa bersama pak Slamet (baca : Riri eksib di Villa). Hari-hariku berjalan normal kembali seperti biasanya. Hubunganku dengan Andi pacarku juga masih langgeng, sepertinya kejadian di Villa itu tidak terlalu mempengaruhinya. Sekarang aku lagi disibukkan oleh banyaknya tugas-tugas yang diberikan oleh dosen-dosenku, cukup membuat aku stress dan frustasi. Kadang timbul keinginanku untuk kembali ber exibisionis ria. Sebagai anak kuliahan, aku menghabiskan waktuku di rumah saja. Tidak seperti anak-anak gedongan Jakarta lain yang suka kelayapan dan hura-hura. Kedua orangtuaku sibuk bekerja, mereka baru pulang sore ataupun malam hari sehingga kalau siang hari hanya berdua saja dengan pembantuku mbok Surti.

Eksib Dengan Ponakan Pembantu

By Lucy →
Ini kisah tentang pengalamanku dengan Ayu, seorang binor di Denpasar, Bali. Dari bagaimana awal berjumpa, sampai naik ke ranjang, sampai akhirnya berpisah. Ya, kisah selingkuh ini telah berakhir, maka dari itu saya ceritakan saja. Dan perkenalkan nama saya adalah Made.

Untuk bab 1 ini, saya bercerita tentang pertemuan awal dengan Ayu. Sebelum dia menjadi binor.

Ayu Si Binor

By Lucy →
Aku baru aja nikah, baru beberapa bulan. Di kantor temen2ku ngegodain aku terus, terutama bang Frans, temen satu bagian yang akrab sekali denganku. Sebelum nikah aku paling sering curhat ama bang Frans. Dia orangnya dewasa sekali, advis yang dikasi dia biasanya manjur kalo aku laksanakan. Sebenarnya aku ada hati juga ama bang Frans, tapi ya sudah keduluan suamiku ini. Bang Frans orangnya ganteng dengan badan atletis, tipeku banget deh. Suamiku itu termasuk kategori napsu besar tapi gak bisa lama, ampir tiap malem dia minta dipuasin napsunya. Tapi dia terkategori juga peltu, baru nempel dah metu (metu dalam bahasa jawa artinya keluar). Jadi aku belum berasa apa2 dia dah keluar, repotnya kalo dah keluar dia langsung ngorok, tinggal aku lah sendirian gigit jari.

Gak Dapet Dirumah

By Lucy →
Aku masih mengerjakan desertasi s2 ketika ayahku menikahkanku dengan Widia, anak tetangga yang masih belajar di suatu perguruan tinggi. Padahal pekerjaanku saat ini masih belum mapan, karena untuk menghidupi diri sendiripun aku masih sangat bergantung pada orangtuaku. Aku hanya mengajar beberapa kelas di sebuah sekolah menengah kejuruan sebagai guru pengganti, dengan gaji yang pas-pasan.

Suami Yang Dilecehkan Istrinya

By Lucy →
Rahma (nama samaran) gadis yang malang penuh dengan siksaan dan paksaan orang tua, yang akhirnya terjun kedunia hitam jadi bulan-bulanan nafsu sex para lelaki hidung belang. Rahmah tidak tahu kemana lagi mengadukan nasipnya, hanya di benaknya bagaimana bisa makan dan tidur. Ramah coba-coba ingin merubah nasip menjual diri di café-café dengan. Hal ini Ramah menceritakan kisahnya pada penulis.

Pekerjaanku Jadi Pemuas Nafsu

By Lucy →
"Cihui" kata itulah yang aku teriakan saat aku menyelesaikan tugas kuliahku.

Seharian penuh aku berada di dalam kamar, seharian penuh juga aku berada di depan laptop. Kini setelah tugas itu selesai, aku yang sudah merasa sangat bosan berada di dalam kamar beranjak keluar kamar hanya sekedar mencari angin segar. Waktu aku melewati kamar dari ayah dan ibu aku mendengar suara-suara aneh. Aku yang penasaraan langsung mencari dimana sumber suara itu berada, walaupun sedikit takut sebenarnya. Ternyata sumber suara itu dari kamar ayah dan ibu, lalu aku mengambil sebuah kursi untuk melihat apa yang telah terjadi di dalam kamar ayah dan ibuku, kenapa ibuku mendesah seperti itu. Sejuta pertanyaan kini menyelimutiku membuat aku semakin penasaran.

Nafsu Yang Tak Tertahan

By Lucy →
Aku punya adik ipar, Ayu namanya. Orangnya cantik, masi di SMU. Bodinya proporsional, gak toge tapi tocil juga enggak. Pinggulnya rada gede juga sehingga kalo liat dia jalan pake jins ketat dari blakang, goyangan pantatnya merangsang juga. Yang lebi merangsang lagi, Ayu punya kumis halus diatas bibir mungilnya. Pasti jembutnya rimbun deh, dan yang lebi penting lagi napsunya besar.

Nikmatnya Adek Ipar

By Lucy →
Bibi Lintik adalah nama sebuah warung di Cipanas. Dulunya sih deket Padang Sati.
Waktu Padang Sati berubah jadi Simpang Raya.. lalu berubah lagi jadi Padang Sati.
Gue kaga tahu deh ke mana tuh warung.
Nengokin ah..
–Ini fiksi campur pengalaman.. kalau menganggap murni pengalaman si Joni terserah saja..
Kisah sebenarnya rahasia.. dan tebak saja.. incest apa engga. Gampang kok..–

Bibi Lintik

By Lucy →
Brakk!!

"uhuk.. Uhuk.. Uhuk..." Aku langsung tersendak sambil mengelap mataku karena perihnya kuah baso.

"Woi, sialan lo! Dateng-dateng rusuh amat!!" Teriak Edo.

yup, nama ku Edo, Edo Prasetya. Sebagai gambaran ak seorang mahasiswa semester akhir di sebuah Universitas swasta di Jakarta. Badan ku yang tinggi, tegap, dan yang terpenting memiliki wajah yang tidak terlalu ganteng dan tidak terlalu jelek juga, itu salah satu alasan mengapa ak sangat terkenal di kampusku ini.

Hinaan Membawa Berkah

By Lucy → 25 June 2019
Perkenalkan nama saya rio nama alias.umur sekarang 30 tahun, saat ini saya sudah menikah dan umur pernikahan saya sudah 3 tahun , cerita ini terjadi 8 tahun yang lalu.

Keponakan Pemuasku

By Lucy →
Bini gue orangnya cantik, tinggi, seksi, putih. Bukannya sombong nih, sekedar menggambarkan doi aja, seandainya ada audisi model bisa jadi doi termasuk dalam nominasi lah.
Sejak dulu memang banyak cowo2 yang ngegodain bini gue, baik itu yang beneran pingin memiliki maupun yang cuma pingin jadiin temen ngentot aja.
Nah gue aja pertama kali ngentotin bini gue waktu masih pacaran langsung gue jatuh hati ngga ketulungan. Sebab di antara pacar2 gue yang pernah gue cicipin, sumpah mati doi yang bener2 paling ganas. Kalo elu nonton film2 bokep tuh, ya begitu kira2 servis bini gue ama gue. Doi gampang sangean dan selama doi sama gue, lebih sering doi yang minta ngentot daripada gue. Beda banget sama pacar2 gue yang dulu, yang lebih sering gue yang minta duluan. Bahkan pertama kali gue ngentot sama doi, elu bayangin, hari itu sampe lebih dari 7 kali. Dan herannya kontie ane nih yang biasanya perlu istirahat beberapa jam sebelum kenceng lagi, kalo sama doi ga pake itungan jam. Paling lama seprapat jam udah siap tempur lagi. Karena doi kalo blow job juga pinter banget. Jadi itu juga yang bantu kontie ane bisa cepet kenceng lagi tanpa waktu lama.

Istriku Dientot Sopir

By Lucy →
Sejak berpacaran dengan Lina, mahasiswi Fakultas Hukum Universitas terkemuka di Bandung, yang berbeda dua angkatan dengannya, Andi mulai bergaul dengan teman-teman Lina. Aktifitas Lina membawanya sering berkumpul dengan anak-anak Hukum yang seperti teman-teman baru bagi Andi. Kenyataan ia satu-satunya anak Ekonomi saat berkumpul dengan teman-teman Lina membuatnya mudah dikenali. Dari sering berkumpul ini pula ia mulai kenal satu persatu anak Hukum. Sikapnya yang mudah bergaul membuat ia juga diterima dengan tangan terbuka oleh komunitas anak-anak Hukum.

Nikmatnya Teman Pacar

By Lucy →
Hari sudah beranjak malam, ketika kami putuskan untuk tetap melanjutkan Pendakian. Walau dibasecamp sudah ada peringatan bahwa diatas terjadi cuaca buruk, badai dan kabut. Kami berlima adalah anggota Sebuah kelompok Pecinta Alam di kota Sl.

Kesasar Membawa Nikmat

By Lucy →
Sudah dua tahun dia bekerja dirumahku sebagai house keeper. Segala urusan tetek bengek rumah kuserahkan padanya. Aku hanya perlu mentransfer gaji ke ATMnya tiap bulan, dan segalanya beres, mulai dari memasak, mencuci sampai membayar semua rekening tagihan bulanan.

Kisah Antara Majikan dan Pembantu

By Lucy →
Tanya Maharani dari pintu kepada perempuan yang masih duduk dibalik meja tersebut.Perempuan paruh baya yang sudah dianggapnya kakak sendiri semenjak dia bergabung dalam partai politik baru ini : Partai Kebersamaan Indonesia, yang memang di penuhi wajah-wajah baru di panggung politik negeri ini, bahkan, konon salah satu syarat menjadi bagian dari partai ini adalah belum pernah tergabung dalam partai lain. Karena hal ini jugalah,Maharani yang padahal masih menjadi mahasiswi di salah satu universitas swasta terkemuka di negeri ini memutuskan untuk bergabung dan menjadi bagian dari politik negeri ini. Dan seperti sudah suratan takdir, tidak butuh waktu lama,perempuan cantik ini sudah dipercayakan salah satu posisi penting di partai berlambang dua tangan yang saling menggenggam ini.

Partai Kebersamaan Indonesia

By Lucy →
Tiap pagi, gue lewat depan rumah itu. Makanya, gue tahu penghuninya keluarga muda dengan anak balita satu. Nyonya rumah namanya Yani. Doi lulusan IKIP Seni Tari. Udah lama juga sih gue perhatiin doi. Tapi gue baru kenal ama perempuan Klaten itu lewat lakinya yang pelukis.

Nikmatnya Jadi Polisi Gadungan

By Lucy →
Sehubungan dengan sekretarisku yang megundurkan diri karena menikah, aku meminta bagian kepegawaian untuk mencarikan sekretaris untukku. Untuk menghemat keuangan perusahaan, aku minta dicarikan dari internal perusahaan saja. Dari bagian lain yang berminat untuk menjadi sekretaris.

Evi, Sekretarisku Yang Janda

By Lucy →
Akhirnya hari ini di usiaku yang ke 27 tahun aku menikah dengan Fani, yang telah kupacari 3 tahun lamanya. Perasaan cemas akan akad nikah pun hilang, Fani kini resmi menjadi istri ku.

Malam Pertama Bukan Dengan Istriku

By Lucy → 24 June 2019
Betapa hati ini ikut tercabik mendengar perselingkuhan Erfina dan Niko. Gosip itu begitu cepat menyebar, menggemparkan dan ramai di gunjingkan mahasiswa Fakultas Ekonomi pagi itu. Banyak dari mereka yang membicarakan keributan yang terjadi di tempat kost Niko. Di pojok tempat parkir, kantin kampus dan ruang kelas masih banyak yang berbisik-bisik membicarakan kejadian dini hari tadi.

Another Story of Winda

By Lucy →
Nama gue kevin. Gue kuliah di salah satu perguruan tinggi swasta. Dengan wajah pas pasan dan kemampuan sosialisasi yang dibawah rata rata, gue ga memiliki banyak teman. Jangankan pacaran, gue bahkan hampir tidak punya teman di kampus. Karena ekonomi yang pas pasan, gue ga mampu untuk beli kendaraan dan terpaksa menggunakan busway setiap harinya. Salah satu penyemangat gue di kampus adalah seorang wanita cantik yang kebetulan satu jurusan dengan gue. Namanya adalah Angel. Badanya kecil mungil berwarna putih khas amoy dengan wajah yang sedikit nakal. Walau badanya kecil, tapi ukuran toketnya lumayan besar, ditambah dengan pantatnya yang semok, pasti banyak cowok di kampus yang berusaha mendapatkan dirinya. Hampir setiap hari pasti gue menyempatkan diri untuk memandanginya diam diam di kelas dan tentu saja sebagai pria normal, kontol gue keras membayangkan kemolekan si Angel. Semua itu berubah ketika pertemuan dengan Angel di busway.

Angel Si Mahasiswi Binal

By Lucy →
Namaku Doni, umurku 26 tahun dan belum menikah. Kisah ini adalah sepenggal cerita hidupku beberapa tahun yang lalu, kala aku masih tinggal di sebuah rumah kos kosan di daerah jakarta selatan.

Kisah Doni dan Nila

By Lucy →
Di Cerita Dewasa ini, Rima siswi SMP akhirnya merasakan betapa nikmatnya sex itu. Ia juga terlena akan betapa mantapnya di entot dari belakang -- disodomi---. Bahkan pada pengalaman pertamanya, saat ia harus kehilangan keperawanan, ia tak hanya mendapat jackpot ngentot di semua lobang yang dimiliki, tapi juga sekaligus 2 lobangnya dimasuki kontol pacar Rima dan kawannya.

Rima Siswi SMP Pecah Perawan

By Lucy → 23 June 2019
Meskipun tinggal di Jakarta dan digaji besar, aku lebih suka tinggal di perkampungan. Kosku berada di wilayah Jakarta Selatan dekat perbatasan Tangerang. Lokasinya yang nyaman dan tenang, jau dari hiruk pikuk kota, membuatku betah tinggal lama disini sejak tahun 2002. Sudah 7 tahun lebih aku belum pernah pindah. Tetangga-tetangga pun heran mengapa aku betah tinggal disitu padahal bu kostku terkenal orangnya kolot dan masih memegang tradisi lama. Orangnyapun alim dan tidak suka anak kostnya berbuat macam-macam dan kalau ketahuan sudah pasti diusir dari rumah kostnya.

Nita Cantik Istri Teman Kost

By Lucy →
Perkenalkan nama saya Sella. Saya adalah mahasiswi tingkat akhir di perguruan tinggi negeri yang cukup ternama di negeri ini. Saya menghabiskan dua puluh tahun hidup saya untuk belajar sehingga saya tidak terlalu memedulikan kebutuhan seks saya dan tak kunjung memiliki pasangan meskipun tak sedikit lelaki yang mendekati saya. Sejujurnya saya tak terlalu membanggakan tubuh saya. Saya merasa dengan tinggi badan saya yang 170cm dengan berat 60kg ini bukanlah postur impian. Namun banyak orang yang mengatakan bahwa saya menyenangkan untuk dilihat karena berwajah bersih manis berkacamata berkulit kuning langsat dengan badan yang tak terlalu kurus dan tak terlalu gemuk namun memiliki ukuran dada dan pantat yang ranum, kencang, padat berisi. Ya, memang saya rajin melakukan perawatan untuk tubuh dan dada saya yang berukuran 36C ini.

Guilty Pleasure

By Lucy →
Aku adalah mahasiswa di sebuah PTS kota Solo. Yang saat ini sudah Semester 3. Cewek-cewek di kelasku menurut penilaianku biasa-biasa saja.

Ketika di kelas, aku selalu berempat dengan teman-temanku. Yaitu: Yanto, Joko, dan Cahyo. Kami berempat selalu menjalani waktu kuliah bersama-sama. Kemanapun pergi kami selalu bersama. Joko dan Cahyo, mereka suka sekali godain cewek-cewek di kampus. Sementara aku dan Yanto hanya tertawa melihat tingkah mereka godain cewek-cewek

Roro Si Ratu Toge

By Lucy →
Aku adalah seorang pegawai disebuah bank swasta nasional dengan posisi yang lumayan tinggi untuk pria seumuranku. Umurku sendiri baru 30 th, tapi aku sudah menduduki posisi sebagai manager marketing, namaku Arbi. Dengan posisi itu aku tekanan dalam pekerjaan membuatku terkadang stres, namun untuk melampiaskan itu semua aku selalu pergi keluar kota menenangkan pikiran bersama dengan istriku.

Quick Sex

By Lucy →
Ma, minta susu...! teriak seorang bocah kepada mamanya.
"Iya bentar!" teriak mamanya dari dalam kamar.
Bocah kecil tersebut adalah anak dari mama yang disebut tadi. Kita sebut saja namanya Ras. Ras merupakan istri dari abang mama saya, mengertikan? Jadi saya seharusnya memanggilnya bibi, tapi karena suatu alasan, dia kami panggil Mbak dan dia tidak keberatan kok dipanggil begitu. Suaminya saat itu bekerja di luar negeri dan dia ditinggal di rumah mertuanya yaitu nenek saya. Suaminya telah lama pergi dan hanya pulang sekali dalam setahun.

Maafkan Aku Paman

By Lucy →
Setelah permainan cintaku dengan Evi sore itu, kami jadi sering melakukannya apabila ada kesempatan. Kadang kami bercinta di Kamar Evi dan kadang di kamarku. Evi yang masih berusia 22 tahun itu bercerita tentang hilangnya kegadisannya oleh pacarnya ketika masih SMA. Menurut ceritanya dia dijebak pacarnya untuk minum-minum ketika perayaan ulangtahunnya yang ke 17. Ketika dia mulai mabuk dia dibawa pacarnya dan di perkosa di hotel. Tragisnya dia diperkosa secara bergantian oleh 2 orang teman pacarnya saat itu.

Nikmatnya Kakak Teman

By Lucy →
Beberapa hari berlalu sejak kejadian antara aku dan kedua bocah tanggung itu. Aris sudah kembali ke kampungnya karena sudah harus kembali masuk sekolah. Kadang aku kangen juga dengan perlakuan mereka yang mesum itu padaku. Wawan sempat meminta no handphoneku saat hendak mau keluar dari rumah ketika itu, karena dia memaksa aku beri saja. Tentu saja dia gunakan nomorku untuk dapat menghubungiku bila dia kangen denganku, mungkin dia onani sambil ngebayangin dan mendengarkan suaraku, hihi :p . Sering juga dia malah seenaknya minta isikan pulsa seperti sms mama minta pulsa yang sedang trend. Bahkan kalau pulsanya sedang tipis dia sms aku menyuruh aku yang menelponnya.

Kegilaan Dengan Sahabatku Riri

By Lucy →
“Gilaaa…..panas betul cuaca di kota ini.”, ujarku pada suami yang hanya senyum senyum aja,
“Udah…ntar lama lama terbiasa kok” ujarnya.

Sudah sekitar seminggu ini aku ikut suamiku pindah ke luar kota (luar pulau lebih tepatnya) karena di pindah tugaskan dari kota yang lama di Sxxxxxxx ke salah satu kota di pulau Sumatera. Setelah menempuh perjalanan darat sekitar 4 jam dari bandara sampailah kita di kost2an dan apesnya kamar yang ada AC nya penuh, karena waktu yang mepet suami memutuskan diambil saja untuk sementara ntar kalo ada kamar lain yang kosong bisa diambill.

Maafkan Aku Suamiku

By Lucy →
Perkenalkan nama saya Bara Pamungkas,usia 24 tahun.Saya sangat suka membaca semua cerita pemerkosaan dan menonton film yang berbau pemaksaan.
Saya tidak pernah menyangka akan mengalami semua peristiwa luar biasa yang awalnya hanya imajinasi saya yang sekarang menjadi kenyataan dan membuat saya lumayan gila dan kejam..

Memperkosa Ibu Muda Sampai Hamil

By Lucy →
Kembali lagi sama ane suhu-suhu sekalian. Ane masih punya cerita lagi soal petualangan lendir ane gan. Kali ini mau cerita soal mantan kakak ipar ane dulu, ya tepatnya pacarnya kakaknya pacar ane dulu. Agak ribet nyebutnya haha.

Mantan Calon Kakak Ipar

By Lucy →
Donna, 29 tahun, adalah seorang ibu rumah tangga dengan 2 orang anak 3 dan 5 tahun. Suaminya, Herman, 36 tahun, adalah karyaDhit dari salah satu perusahaan swasta besar di Bandung. Perawakan Donna sebetulnya biasa saja seperti kebanyakan. Yang membuatnya menarik adalah bentuk tubuhnya yang sangat terawat. Buah dadanya tidak terlalu besar, tapi enak untuk dipandang, sesuai dengan pinggangnya yang ramping dan pinggulnya yang bulat.

Kisah Ibu Donna

By Lucy →
Sutikno yang sudah dipanggil “Tik” sejak hari pertamanya di taman kanak-kanak- berdiri dalam kegelapan lemari. Kakinya terasa kram dan ia fobia pada gelap. Ia tak sabar ingin membuka gerendel pintu lemari itu dan keluar dari dalamnya, tapi ia tahu ia harus menunggu lima menit lagi.

Tik mengintip dari celah-celah pintu. Mengesalkan juga karena celah-celah itu menghadap ke bawah sehingga ia hanya dapat melihat lantai putih lorong sekolah. Suara bel tanda sekolah berakhir sudah berbunyi lama sebelumnya, dan Tik tahu pada saat ini hampir semua murid sudah berada di luar sekolah. Mungkin mereka sedang menunggu jemputan atau berjalan pulang. Beberapa orang yang tertinggal masih berkeliaran di lorong. Salah seorang diantaranya berhenti di depan sel penjara Tik “Semoga kau bisa keluar sebelum waktu makan malam, Tik Gendut Pantat Bau!” kata anak laki-laki itu. Lalu ia menendang pintu lemari, menimbulkan bunyi keras dari logam yang bergema memekakkan telinga. “Jangan menangis, Tik. Aku bisa melihat mata kecilmu yang basah.” Lalu sebuah tendangan lagi.
Tik memejamkan mata, dia tidak menangis, hanya sedikit berkeringat. Menarik nafas, ia menguatkan diri untuk mengabaikan anak bodoh di luar. Biasanya para penggencet akan pergi begitu saja kalau dia tetap diam. Sedangkan melawan balik berarti…
Anak laki-laki di luar tertawa lagi, kemudian pergi.

Tik sudah memutuskan untuk menerima nasib sebagai anak yang dipilih anak lain untuk diganggu. Dengan begitu hidupnya terasa jauh lebih mudah. Ketika suasana di lorong betul-betul telah sepi, ia membuka gerendel pintu.
Pintu terbuka, mengayun keras dan menabrak lemari di sebelahnya. Tik melangkah keluar dan meregangkan tangan serta kakinya yang kram. Terkurung dua jam di lemari memang menyiksa, tapi ia tidak mempedulikannya. Ini hari Sabtu dan kedua orang tuanya telah membelikannya komputer baru untuk ulang tahunnya yang keempat belas besok. Liburan sekolah juga sudah di depan mata. Ia merasa betul-betul gembira. Apalagi mengingat janjinya dengan bu Nurmala tadi, dan tertawa mengejek
ia jadi tambah bersemangat.
Menatap sekitarnya, Tik memastikan tidak ada seorangpun yang masih berada disana untuk menyiksanya lagi. Ia membetulkan bajunya yang kusut dan berjalan menyusuri lorong, menuju pintu terdekat yang akan membawanya pada ruangan bu Nurmala. Ia merapat ke sisi lorong ketika melihat bu Indira, guru kimianya, keluar dari ruang guru sambil membawa berkas-berkas di tangannya yang lentik.
“Hmm, Tik, kamu ‘kah itu?” wanita tinggi langsing itu berkata dengan senyum lebar memenuhi wajahnya yang cantik. “Kenapa masih disini? Tidak sabar ingin mendapatkan PR lebih banyak?” jilbab hitamnya yang lebar jatuh sempurna menutupi payudaranya yang besar. Tik tahu ibunya pasti akan berkomentar bahwa bu Indira perlu mengecilkan ukuran buah dadanya. Tapi menurut Tik, bu Indira justru kelihatan keren dengan dada seperti itu.
Bocah itu tertawa singkat, “Tidak, bu. PR dari ibu sudah banyak sekali. Saya sudah beruntung kalau bisa menyelesaikannya hari senin nanti.”

“Hmm,” jawab bu Indira. Ia meraih bahu Tik dengan tangan lentiknya dan menepuk punggungnya pelan. “Kalau begitu, untuk apa kamu masih disini. Jangan bilang kalau kamu mau mencuri.”
Tik menggeleng cepat, “Tidak, tentu saja tidak!”
“Lalu?” bu Indira menuntut penjelasan.
Tik menelan ludah, “Emm, s-saya harus menemui bu Nurmala.”
“Ohh,” bu Indira mengangguk mengerti. “Dia sudah menunggumu di ruang guru.” ucapnya, lalu buru-buru menambahkan. “Kamu terlalu pintar untuk anak tingkat delapan, Tik. Seharusnya kamu dinaikkan satu tingkat lagi.”
“Ehm, terima kasih, bu. Tapi saya tidak mau gangguan pada saya semakin bertambah.” Tik menyahut.
Wajah bu Indira mengerut. “Aku tidak suka dengan yang anak-anak itu lakukan padamu. Jika aku bisa…”
“Saya tahu, bu. Ibu akan memukuli mereka jika bukan karena urusan hukum yang menyebalkan itu ‘kan? Bu Nurmala juga pernah bilang begitu.” jawab Tik.
“Ah, benarkah?” wanita itu kembali tersenyum.

Tik mengangguk. “Karena tidak bisa melakukan itu, bu Nurmala akhirnya cuma bisa menghibur saya dengan cara lain yang ternyata lebih menyenangkan.”
“Apa itu?” bu Indira bertanya penasaran.
“Kenapa kita tidak kesana saja sama-sama agar ibu bisa langsung tahu jawabannya.” sahut Tik sambil menyeringai licik.
Bersama-sama mereka pergi ke ruangan bu Nurmala. Di belakang meja, Tik melihat seorang wanita berjilbab merah yang berumur sekitar empat puluhan. Meskipun sudah tidak muda lagi, tapi badannya masih terlihat sangat terawat dan seksi. Payudaranya tampak membulat indah dan cukup kencang, tidak kalah dengan punya bu Indira yang usianya jauh lebih muda. Kulitnya putih bersih dan wajahnya juga masih tampak cantik.
Bu Nurmala tampak sibuk menulis sesuatu. Tik memberanikan diri mengetuk pintunya. “Maaf, bu, menganggu.” sapanya sopan.
Wanita itu berhenti menulis dan mendongak, menatap Tik. “Hai, Tik. Aku sudah menunggumu dari tadi. Kukira lain kali aku harus turun tangan untuk mengatasi anak-anak nakal itu.”
“Ah, tidak usah, bu. Saya tidak apa-apa kok.” Tik masuk ke ruangan itu, diikuti oleh bu Indira.
“Lho, Indira? Nggak jadi pulang?” tanya bu Nurmala pada guru muda cantik itu.
“Tik mau menunjukkan saya sesuatu,” jawab bu Indira sambil duduk di kursi di depan meja, sedangkan Tik tetap berdiri.
“Tik?” bu Nurmala memandangnya, meminta penjelasan.

“Ehm, anu… Saya ingin mengajaknya bergabung, bu. Itu juga kalau ibu mengijinkan,” sahut Tik lirih, takut Ibu guru yang disayanginya itu marah.
Di luar dugaan, bu Nurmala malah tersenyum, “Pede sekali kamu? Yakin nanti kuat?”
“Ehm, lihat saja nanti.” ucap Tik sambil memainkan ujung sepatunya.
“Sama aku aja kamu sering kewalahan, ini malah minta bertiga. Bu Indira itu masih muda lho.” wanita itu tertawa.
Tik tidak menjawab, hanya ikut tertawa ringan.
“Tapi masalahnya, bu Indiranya mau nggak?” tanya bu Nurmala lagi.
“Ehm, sepertinya sih begitu.” Tik melirik guru muda yang ada di sebelahnya.
Bu Indira yang tidak tahu maksud pembicaraan mereka tampak agak sedikit bingung. “Apaan sih?” tanyanya penasaran.
“Tik, bisa keluar sebentar.” kata bu Nurmala. “Aku ingin bicara berdua dengan bu Indira.”
Tik bergegas keluar. Cukup lama dia menunggu hingga bu Nurmala memanggilnya, menyuruhnya untuk masuk kembali. “Ini hari keberuntunganmu, Tik.” kata perempuan cantik itu.
“Kenapa tidak bilang dari dulu, Tik?” tambah bu Indira, mereka tersenyum mendekati Tik.
Tik ikut tersenyum, dan sama sekali tidak menolak saat bu Indira memeluk dan mencium bibirnya. Bu Nurmala segera menutup pintu dan menguncinya dari dalam. Dia lalu berbalik dan memeluk Tik dari belakang. “Aku dah kangen sama inimu…” bisiknya sambil mengelus penis Tik yang sudah mulai ngaceng berat.

Tanpa basa-basi, mereka saling berciuman. Tik awalnya agak canggung melayani dua bibir yang begitu kelaparan itu, tapi begitu sudah mendapatkan ritmenya, ia dengan penuh nafsu melumat dan menghisapnya secara bergantian. Terutama milik bu Indira, bibir tipis perempuan cantik itu terasa hangat dan begitu lembut di dalam mulutnya. Bu Indira juga begitu pandai memainkan lidah, sesuai dengan kesehariannya yang cerewet dan ceplas-ceplos.
Bu Nurmala hanya tersenyum menyaksikan semua itu, ia kemudian menarik tangan Tik, mengajaknya duduk di sofa. Bocah itu ia letakkan di tengah, sementara dia dan bu Indira mengapitnya di kiri dan kanan.
Bu Nurmala mengenakan terusan panjang berwarna biru dengan hiasan bunga warna emas di dadanya yang bulat. Meski tertutup jilbab lebar, lekuk tubuhnya yang tidak terlampau tinggi membayang jelas dari balik busana yang ia kenakan. Buah dadanya tampak begitu besar, kontras dengan tubuh mungilnya yang imut-imut.
Sedangkan bu Indira memakai kemeja lengan panjang warna pink polos, menambah kesegaran kulitnya yang putih mulus. Rok yang dikenakannya adalah rok panjang agak longgar berwarna putih, ketika dia duduk -sekalipun rok itu panjang- bu Indira seperti sengaja sedikit menyingkapkannya sehingga betis jenjangnya yang putih mulus tanpa cacat tampak mengintip malu-malu dari bagian bawahnya. Sungguh sangat menggairahkan sekali.

Tik tanpa membuang waktu segera memeluk keduanya. Ia daratkan ciuman lembut ke bibir bu Nurmala dan bu Indira secara bergantian. Keduanya membalas dengan nikmat dan penuh nafsu hingga untuk beberapa lama mereka terus saling melumat dan berciuman.
Bu Nurmala melepaskan ciumannya saat Tik meremas buah dadanya pelan, “Layani bu Indira, Tik. Dia tadi begitu penasaran saat kuceritakan betapa kuatnya dirimu.” Bu Nurmala berkata dengan nada menggoda.
“Ihh… bu Nurmala bisa aja.” Bu Indira membalas candaan bu Nurmala dengan tak kalah genitnya.
Begitulah keduanya, terkenal ramah dan suka bercanda di sekolah. Banyak murid yang menyukainya. Begitu juga dengan rekan sesama guru, meski dengan alasan yang sedikit berbeda.
Tik segera menghadap ke kiri. Bu Indira sama sekali tidak menolak ketika ia memeluknya. Malah wanita itu membalas dengan melingkarkan lengannya ke leher Tik. Si bocah mengecup lembut keningnya yang putih, sambil semakin mempererat pelukannya. Bau parfum bu Indira yang harum dan lembut segera memenuhi rongga hidungnya.
“Tik… seperti kata bu Nurmala tadi, kalau tubuhku ini memang bisa menghiburmu, lakukanlah apa saja. Ibu ikhlas, asal kamu juga bisa memuaskan ibu.” bisik bu Indira kalem.
“Ah, i-iya, bu. Saya pasti akan memuaskan ibu, seperti yang biasa saya lakukan pada bu Nurmala.” sahut Tik sambil melirik bu Nurmala yang tersenyum di sampingnya.
“Heh, sombong banget kamu!” timpal bu Nurmala. “Tapi, emang bener sih,” tambahnya sambil tertawa.
Mereka tertawa berbarengan, lalu dengan sangat lembut Tik mendaratkan bibir ke atas bibir bu Indira yang tipis dan mungil. Perlahan ia rapatkan sambil sedikit menghisapnya. Bu Indira membalasnya dengan lembut dan balik menghisap bibir tebal Tik.

“Ehm, bu…” melenguh keenakan, lidah Tik mulai bergerak menelusuri mulut bu Indira yang sedikit terbuka. Wanita itu menerimanya dengan pasrah, ia biarkan lidah Tik menggelitik giginya yang rapi dan putih dengan begitu leluasa. Bahkan saat Tik menghisap lidah dan sedikit melumat dengan mulutnya, ia juga tidak menolak. Begitu panas dan nikmatnya ciuman itu hingga untuk beberapa saat mereka seperti melupakan kehadiran bu Nurmala yang masih setia menonton sambil berkeringat dingin.
“Hah, hah,” perlahan bu Indira melepaskan bibirnya dari pagutan bibir Tik saat dia merasa sedikit kesulitan untuk bernafas. Dilihatnya kepala Tik yang terkulai manja di atas bulatan dadanya. Tangan mereka masih saling berangkulan erat.
Tik tak tahan untuk tidak melakukan apa-apa dalam waktu lama, apalagi bisa dirasakannya tubuh bu Indira yang sintal terasa begitu menggoda di dalam dekapannya. Maka dengan cepat tangannya menyelip ke balik kemeja perempuan cantik itu dan segera menyusup di antara BH dan buah dada bu Indira yang bulat padat. Tik mengelus-elus putingnya yang terasa mengganjal kaku dengan ujung jari sambil tak lupa mulai meremas dan memijit bulatannya secara perlahan-lahan.
Tubuh mulus bu Indira sedikit bergetar mendapat rangsangan seperti itu. “Ehm, Tik!” rintihnya dengan tubuh menekuk ke depan.

Bu Nurmala yang dari tadi cuma jadi penonton, rupanya mulai tak tahan. Pelan ia tarik tangan kiri Tik yang menganggur dan dijulurkannya sepanjang mungkin sehingga bisa menjangkau pangkal kemaluannya. Dari luar baju kurung, ia meminta agar mengusap-usapnya. Sambil terus meraba buah dada bu Indira, Tik pun melakukannya. Kedua tangannya lekas berkreasi, satu menggesek pelan celah selangkangan bu Nurmala, satunya lagi tetap asyik meremas dan memenceti payudara bu Indira yang bulat besar. Kedua ibu guru cantik yang haus akan sentuhan laki-laki berusaha ia puaskan dalam waktu hampir bersamaan.
“Auh, Tik…” bu Nurmala melenguh saat Tik dengan susah payah menyingkap baju panjangnya ke pinggang, lalu dengan jari-jemarinya yang terampil, mulai memelorotkan celana dalamnya hingga terlepas. Ia menarik nafas cepat saat benda mungil berwarna hijua lumut itu tergeletak di lantai dekat kaki Tik.
Sekarang dia sudah setengah telanjang, begitu juga dengan bu Indira. Kalau dia di bagian bawah, bu Indira sebaliknya. Kancing kemejanya sudah terbuka lebar, menampakkan gundukan payudaranya yang masih terbalut beha putih tipis. Nampak beha itu hampir tidak bisa memuat payudara bu Indira yang bulat besar. Dengan cekatan jari-jari Tik membuka kaitan behanya, membebaskan payudara bu Indira hingga benda itu bisa menyembul dan bernafas lega.
“Wow, besar sekali, bu.” kagum Tik dengan mata melotot tanpa berkedip.
“Hehe, baru tahu ya,” sahut bu Indira, ia menyingkap jilbabnya ke belakang agar Tik bisa semakin leluasa memandangi tonjolan buah dadanya.

Dengan air liur yang hampir menetes, Tik segera mendekatkan mulutnya ke puting kanan bu Indira dan mulai menjilatinya pelan. “Ahh, Tik…” ibu guru muda itu menerimanya dengan mendesah penuh nikmat.
Sementara itu, dengan bibir menjejahi gundukan payudara bu Indira, jari tangan kiri Tik masih lincah menusuk-nusuk kewanitaan bu Nurmala yang sudah mulai basah berlendir. Dengan ujung jari tengah, ia usap klitoris perempuan cantik itu dan menggosoknya pelan ke atas dan ke bawah hingga membuat bu Nurmala semakin menggelinjang nikmat. “Aah, Tik… geli!” desahnya.
Sambil terus menggesek klitoris bu Nurmala yang sudah tegak berdiri, Tik sedikit membungkukkan badan sehingga mulutnya bisa mengulum puting bu Indira yang sebelah lagi. Ia menghisapnya lambat-lambat sambil menjilati ujungnya dengan lidah. Bisa dirasakannya badan ramping bu Indira yang mulai kaku, seluruh ototnya menegang, sementara rintihan dan lenguhannya semakin terdengar kencang.
“Jangan keras-keras, bu. Nanti didengar orang.” Bu Nurmala mengingatkan.
Bu Indira segera menutup mulutnya dengan tangan. “I-iya, maaf. Tik sih, kulumannya begitu nikmat.” bisiknya pelan.

Tik tersenyum mendengarnya. Ia berpandangan dengan bu Nurmala dan tersenyum puas karena bisa memberi kenikmatan kepada bu Indira di pertemuan pertama mereka. Bu Nurmala kemudian merapat, kepalanya disandarkan di buah dada bu Indira yang tampak mengkilat, basah oleh air liur Tik. Dia memandang Tik dengan lembut, bibirnya sedikit terbuka. Tersenyum, Tik pun mendekatkan kepala dan mencium bibir perempuan setengah baya yang masih tampak cantik itu. Sebuah ciuman untuk merayakan keberhasilan mereka dalam menjerat bu Indira sehingga bisa ikut dalam permainan tabu ini.
“Ngomong-ngomong, sudah sejak kapan kalian melakukan ini?” tanya bu Indira sambil mengelus puncak kepala Tik lembut.
“Emm… kapan ya?” Tik mencoba mengingat-ingat.
“Sudah lama pokoknya, lebih dari dua bulan.” sahut bu Nurmala.
“Bagaimana bisa terjadi?” tanya bu Indira penasaran.
“Sebenarnya ini nggak sengaja. Tik memergokiku yang sedang masturbasi di kamar mandi guru, dia saat itu habis dipanggil kepala sekolah setelah menang lomba matematika. Daripada dia cerita ke murid lain, terpaksa kubungkam mulutnya dengan tubuhku. Benar ‘kan, Tik?” jelas bu Nurmala.
Tik mengangguk mengiyakan.

“Bu Nurmala aneh-aneh sih, masturbasi kok di sekolah. Emang dah nggak tahan banget ya?” goda bu Indira.
“Haha, habisnya… sudah 1 minggu suamiku tugas keluar, daripada kegatelan, mending kugaruk aja punyaku.” terang bu Nurmala.
“Akibatnya, jadi dipergoki sama Tik.” kata bu Indira.
“Yang mana itu sama sekali tidak kusesali.” sahut bu Nurmala.
“Maksud ibu?” tanya bu Indira tak mengerti.
“Sekarang, kalau suamiku dinas ke luar kota, aku sudah nggak bingung lagi. Sudah ada Tik yang menemaniku.” jawab bu Nurmala sambil mencium mesra bibir Tik.
Tik tersenyum, senang dipuji seperti itu.
“Aku juga mau donk, suamiku kan juga sering pergi.” kata bu Indira.
“Coba aja. Aku jamin, kamu pasti puas.” Bu Nurmala memberi garansi. “Lagipula, dengan begini, kita juga bisa menghibur Tik yang suka di-bully sama anak-anak lain.”
Bu Indira memandangi Tik yang masih bersandar di puncak buah dadanya. ”Betapa beruntungnya kamu, Tik. Bisa merasakan tubuh kita berdua.” katanya sambil tersenyum.
Tik ikut tersenyum, dan tanpa berkata apa-apa, memperhatikan saat kedua gurunya itu mulai mencopoti baju masing-masing. Bu Nurmala yang ada di sebelah kirinya, baju panjangnya sudah terbuka lebar, mempertontonkan buah dadanya yang meski tidak sebesar milik bu Indira, tapi terlihat sangat serasi dengan tubuh bugilnya yang mungil. Putingnya yang berwarna coklat kemerahan tampak mencuat di puncaknya yang mulus. Lingkaran gelap aerola-nya yang sebesar koin seratusan rupiah makin menambah indahnya payudara bulat itu.

Sementara bu Indira, kini sudah menyingkap rok panjangnya ke atas hingga ke pinggang. Tik bisa melihat tubuh rampingnya yang begitu molek dan mulus. Tak henti-hentinya ia mengagumi tubuh guru kimia-nya itu. Pinggang bu Indira begitu kecil dan ramping karena memang belum pernah melahirkan, ia baru saja menikah beberapa bulan yang lalu. Lebih ke bawah lagi, tampak kemaluannya yang ditumbuhi bulu-bulu pendek saat bu Indira melepas celana dalamnya. Bukitnya tampak begitu ranum dan menggairahkan, diapit oleh sepasang paha yang mulus dan langsing, sungguh sangat mengundang birahi. Berani sumpah, Tik belum pernah melihat secara langsung tubuh yang begini indah dan menggairahkan.
“Wow…” ia berseru dalam hati, di hadapannya kini terpampang dua orang wanita cantik dan mulus dengan paha yang menganga lebar memperlihatkan alat kewanitaan masing-masing. Bu Indira dengan belahan kemaluannya begitu kecil, juga klitoris yang berwarna pink menyala, sedikit menyembul seakan mengundang Tik untuk segera menikmatinya. Sedangkan milik bu Nurmala, tampak tumbuh berlapis-lapis. Warnanya begitu terang, coklat sangat muda. Meski sudah sering melihat dan menikmatinya, tak urung Tik tak tahan juga dibuatnya.

Tanpa basa-basi ia segera mencium seluruh selangkangan bu Nurmala. Bau wangi yang khas segera menyambut lubang hidungnya. Perlahan ia menjulurkan lidah dan mulai menjilatinya naik turun. Pantat bu Nurmala sedikit gemetar menahan gejolak kenikmatan akibat perbuatan itu.
“Ooh… ohh… shh…” desahannya seakan sorakan penyemangat di telinga Tik, membuat si bocah terus menjepit dan menggigit klitoris bu Nurmala dengan kedua bibirnya. Sekarang paha bu Nurmala ikut bergetar karena rangsangan nafsu. Gairahnya semakin menyala. Apalagi saat lidah Tik mulai menyapu lorong kewanitaannya, pahanya terbuka semakin lebar dan pantatnya sedikit terangkat, membuat vaginanya yang menganga lebar semakin terjangkau oleh lidah Tik.

“Ooh… yah, begitu… Tik! Ooh… iyah!” desah bu Nurmala serak, terdengar semakin keras.
“Aah… ahh!” erangan bu Indira menimpali. Ternyata, sambil mengoral vagina bu Nurmala, Tik juga menusukkan tangannya untuk mengocok-ngocok kemaluan bu Indira. Jadilah kedua guru yang di luar kelihatan alim itu, merintih bersahut-sahutan oleh rangsangan nakal Tik.
“Ahh… s-sudah, Tik. Aku nggak tahan.” kata bu Nurmala dengan tubuh mulai bergetar pelan. Tik yang sudah hafal dengan reaksi itu, segera menggerakkan lidahnya semakin cepat. Ia tusukkan lidahnya dalam-dalam ke liang sanggama bu Nurmala yang masih terasa sempit meski sudah melahirkan tiga orang anak. Ia cucup klitorisnya yang sudah sangat keras dengan kedua bibirnya hingga tubuh bu Nurmala menggelinjang liar. Tangannya mencengkeram kepala Tik, memintanya agar menghisap lebih kuat lagi. Dan akhirnya…
“Aah… ahh… ibu sampai, Tik… ssh… ahh!!” teriak bu Nurmala dengan paha mengatup erat, menjepit kepala Tik yang masih berada disana. Pantatnya terangkat tinggi-tinggi, sementara otot vaginanya menjadi sedikit kaku. Dari dalam liang kemaluannya, menyembur cairan bening yang banyak sekali, menyiram lidah dan mulut Tik hingga jadi terasa lengket.

“Aaah… Tik!” bu Nurmala sudah mencapai puncak kenikmatannya. Untuk beberapa saat tubuhnya kaku tak bergerak. Pahanya masih menjepit kuat kepala Tik sehingga bocah itu terperangkap di celah selangkangannya. saat otot-otot vaginanya mulai mengendur, barulah ia melepaskannya.
“Hah, hah, hh,” Tik segera menarik nafas. Dengan bu Nurmala yang sudah mencapai puncak, ia segera mengalihkan perhatian pada bu Indira yang masih setia menunggu.
“Sekarang giliran ibu,” kata Tik dengan mulut masih belepotan lendir kenikmatan bu Nurmala.
“Lakukan, Tik. Cepat! Aku juga nggak tahan.” sambut bu Indira dengan paha terbuka lebar.
Tik segera menusukkan lidah ke lubang vagina perempuan cantik itu. Tangannya yang tadi mengusap-usap klitoris bu Indira, ia sisipkan ke bawah. Sekalipun tubuh bu Indira kurus dan ramping, tapi pantatnya ternyata cukup padat berisi. Tik segera memijit dan meremas-remasnya penuh nafsu sambil mulut dan lidahnya terus bergerak liar.

“Ohh… iya, Tik… ooh… shh!” desah bu Indira penuh birahi. Pantatnya yang bulat sudah mulai bergoyang menikmati permainan lidah Tik di liang senggamanya. Semakin lama, semakin kuat goyangan pantat itu. Dengan susah payah Tik harus mengikuti agar lidahnya tidak terlepas dari selangkangan bu Indira.
“Ohh… Tik, aku nggak tahan… aah!!” Paha bu Indira sudah mengangkang maksimal. Dia mengangkat pantatnya tinggi-tinggi, bahkan sampai berjinjit dengan ujung jari saat Tik mencucup klitorisnya kuat-kuat. Punggungnya sudah tidak menyentuh sandaran sofa, dengan dinding vagina bergerak berkedut-kedut naik turun tak terkendali.

“Ohhh… Tik!” dengan jeritan terakhir, bu Indira menyemburkan cairan kenikmatannya. Tubuh montoknya sedikit bergetar saat cairan itu meleleh keluar dari liang vaginanya.
“Hamp!” Tik segera menampung dan menyapunya dengan lidah. Cukup banyak cairan yang keluar, tapi semuanya ia telan, sampai akhirnya bu Indira berhenti mengejang dan mulai menurunkan pantatnya. Namun nafas perempuan itu masih sedikit memburu.
“Ooh… nikmat sekali, Tik… aku puas. Suamiku bahkan tidak pernah berbuat seperti itu!” puji bu Indira.
Tik beringsut dan lalu berbaring telentang diantara kedua ibu gurunya, bu Nurmala di sebelah kanan, sedangkan bu Indira di sebelah kiri. Mereka memeluk dan tanpa henti menghujani wajah bulat Tik dengan ciuman. Beberapa saat mereka saling bercumbu, atau lebih tepatnya, bu Indira dan bu Nurmala yang mencumbui Tik. Tik sendiri hanya telentang pasrah sambil menikmati rasanya jadi raja, dilayani oleh dua wanita yang begitu cantik dan seksi, yang meski beda umur mereka begitu jauh, tapi tidak mengurangi hasrat dan birahinya.

“Ini dilepas donk,” tangan bu Nurmala yang nakal mulai menggerayangi perut Tik. Dengan sekali sentakan lembut, celana yang membelit tubuh bagian bawahnya terbuka, melorot ke bawah. Penis Tik yang sudah sedari tadi mengacung tegak, langsung menyembul berdiri.
Perhatian bu Nurmala dan bu Indira segera tersedot kesana. Tangan keduanya saling berlomba untuk menggerayangi dan mengusap-usap penis itu. Namun bu Nurmala yang menang. Ia lekas beringsut dan berjongkok di dekat kaki Tik. Bibirnya yang tebal sensual mulai menciumi batang penis bocah itu. Saat Tik asyik berciuman dengan bu Indira, bu Nurmala segera memasukkan kepala penis itu ke dalam mulutnya yang hangat dan mulai mengulumnya mesra. Lidahnya yang basah dengan pintar menggelitik batang kejantanan Tik yang terasa semakin menegang di dalam mulutnya.
Bu Indira yang melirik ke bawah memperhatikan apa yang dilakukan oleh bu Nurmala, dari raut mukanya, terlihat kalau dia mulai tertarik juga. Dan benar saja, beberapa saat kemudian, bu Indira melepaskan ciumannya dan ikut jongkok di dekat kaki Tik, bersebelahan dengan bu Nurmala. Kini bergantian mereka mencium dan mengulum penis panjang Tik.
“Ahh…” Tik melenguh keenakan diperlakukan seperti itu. Dengan mata tertutup ia mengelus lembut kepala kedua ibu gurunya yang cantik itu; yang kiri untuk bu Nurmala dan yang kanan jatah bu Indira. Kedua-duanya masih tertutup jilbab lebar sedada.
“Ohh…” tubuh Tik seakan terangkat ke kayangan, rasanya sungguh sangat nikmat. Cara bu Indira mengoral sungguh halus, tidak seperti bu Nurmala yang agak sedikit binal. Bu Indira menggerakkan bibirnya dengan sangat lembut, kadang penis Tik disedotnya pelan, diselingi jilatan lidah di sekitar leher penis. Tik sangat suka dengan apa yang dilakukan oleh perempuan cantik itu. “Ooh… terus, bu… yah, nikmat sekali… ooh!” membuatnya jadi mulai mengerang penuh kenikmatan.
Bu Nurmala yang melihat tubuh Tik mulai gemetar, cepat menghentikan aksi bu Indira. “Stop dulu, bu. Nanti dia bisa keluar duluan.” peringatnya.

“Hah,” Bu Indira segera menarik mulutnya. Dengan terengah-engah ia memperhatikan Tik yang wajahnya merah padam karena menahan ejakulasi. Seluruh bulu di tubuh bocah itu berdiri meremang.
Tik yang merasa gairahnya diputus di tengah jalan, perlahan membuka matanya dan melirik ke bawah. Ditariknya tubuh mulus kedua ibu gurunya yang cantik itu dan dipeluknya dengan mesra. Masing-masing ia hadiahi kecupan hangat di bibir. Dengan manja bu Nurmala dan bu Indira menyandarkan kepala ke dada Tik, membiarkan payudara mereka yang besar menghimpit ketat ke lengan si bocah.
“Sekarang kita lihat, kuat nggak kamu melayani kita berdua.” kata bu Nurmala sambil tangannya menggerayangi selangkangan Tik. Penis Tik yang masih tegak mengacung dibelainya pelan. Jari-jarinya yang lentik dan mungil mempermainkan penis Tik dengan begitu lembut. Telaten dipijit-pijitnya kepala penis Tik, lalu dengan halus dibelitnya batang kejantanan Tik dengan jari telunjuknya.

Adik kecil Tik langsung bereaksi, perlahan benda coklat panjang itu mendongak dan mengangguk-angguk. Bu Indira yang melihatnya tersenyum gembira. Lekas dia berbaring dan membimbing Tik agar menaiki tubuh sintalnya. Bu Nurmala mengangguk memberi ijin. Maka, sambil membungkuk, Tik pun mengarahkan kepala penisnya yang masih tampak mengkilat ke lubang kenikmatan bu Indira yang terlihat sangat mengundang.
“Aku masukkan, bu.” kata Tik. Perlahan ia menusukkan batang kelelakiannya menembus gua vagina sang ibu guru.

“Ahh…” Tubuh bu Indira sedikit bergetar menyambut penis Tik yang memasuki tubuhnya. Perlahan seluruh batang penis bocah itu terbenam ke dalam liang vaginanya. Selanjutnya dengan perlahan Tik mulai memompa pantatnya maju mundur secara berirama. Bu Indira mengimbangi dengan menggoyang pantatnya memutar tak beraturan. Gerakannya semakin lama semakin cepat dan kuat. Tangannya memegangi pinggul Tik sehingga Tik semakin leluasa menyodokkan batang penisnya.
“Aaah…” Tik merasakan vagina bu Indira mengetat kencang, mencekik batang penisnya, lalu disusul oleh semburan cairan hangat yang banyak sekali. Rupanya perempuan cantik itu sudah mencapai orgasmenya. Bukannya berhenti, Tik malah semakin dalam menghujamkan batang penisnya, hingga semakin banyak cairan bu Indira yang meleleh keluar.
“Hah, hah, hah,” dengan tubuh lemas namun puas, bu Indira terdiam bagai patung. Hanya nafasnya yang terdengar tersengal-sengal. Senyum manis tersungging di bibirnya yang tipis. “Ah, k-kamu hebat, Tik.” pujinya tulus.

Perlahan Tik mencabut penisnya. Bu Nurmala yang sudah menunggu giliran, lekas mempersiapkan diri. “Sekarang giliranku,” katanya sambil merangkak dengan posisi pantat mengarah ke selangkangan Tik.
Tik membelai sebentar pantat bulat bu Nurmala sebelum ia arahkan senapannya yang masih terisi penuh ke lubang kenikmatan perempuan setengah baya itu dari arah belakang. Inilah posisi favorit bu Nurmala; doggie style. Dengan lembut Tik menusukkan kepala penisnya sambil menekan perlahan sampai seluruh batang kelelakiannya amblas ditelan gua surga bu Nurmala.
Meski tidak sesempit milik bu Indira , namun Tik terlihat sangat menikmatinya. Bagaimanapun, inilah vagina pertama yang ia rasakan selama ia tumbuh dewasa. Dengan sangat perlahan Tik mulai memompa pantatnya maju mundur dengan teratur.
Bu Nurmala sepertinya juga sangat menikmati. Terbukti dari kepalanya yang terangguk-angguk sambil mulutnya mendesis mengeluarkan berbagai macam rintihan, “Ahh… terus, Tik. Tusuk yang dalam! Ahh… yah, begitu! Terus! Oughh…”

Tik semakin kuat menggoyangkan pantat. Tangannya dengan terampil terulur ke depan untuk meremas-remas payudara bu Nurmala yang menggantung indah di depan dadanya. Ia memilin dan memelintir-lintir putingnya yang mungil begitu gemas, membuat benda bulat kemerahan itu jadi makin menegak dan mengacung ke depan. Sementara pantatnya semakin ia rapatkan, membuat batang penisnya jadi menusuk semakin dalam.
Tubuh bu Nurmala jadi kaku tak bergerak, rupanya serangan Tik yang beruntun membuatnya menyerah begitu cepat. “Aah… Tik, aku keluar! arghh…” jeritnya dengan tubuh terkapar KO di lantai. Dari dalam liang kemaluannya, merembes cairan kenikmatan yang sangat banyak, membasahi paha dan baju kurungnya. Dinding vaginanya terasa berdenyut-denyut, memeras batang penis Tik yang masih tertancap erat di dalam sana.
“Ooh… ooh…” Tik yang juga sudah tak tahan, ikut menyusul tak lama kemudian. Badannya gemetar hebat, sementara tangannya meremas bulatan payudara bu Nurmala kuat-kuat saat spermanya menyembur keluar, bercampur dengan cairan hangat dari vagina sang ibu guru.
“Shh… hah, hah,” Seluruh tubuh Tik masih merinding ketika bu Nurmala setengah memaksa memundurkan selangkangannya sehingga penis Tik tercabut dari jepitan liang vaginanya. Bertiga mereka berbaring kelelahan. Tik menciumi keduanya ibu gurunya secara bergantian, hangat dan mesra.
“Gimana, penis Tik enak ‘kan?” tanya bu Nurmala pada bu Indira.
“Iya, bu… beneran enak.” Bu Indira lalu berpaling pada Tik, “Kamu belajar dimana sih, pinter banget nyenengin cewek. Siapapun yang jadi istrimu nanti, pasti akan bahagia. Bukan saja kamu pintar, tapi juga perkasa di atas ranjang.”

“Ah, ibu bisa aja.” sahut Tik dengan muka bersemu merah.
Mereka masih saling berbincang dan sesekali saling berciuman. Tik sungguh beruntung bisa mendapatkan dua orang guru yang menjadi idola di sekolah. Meski sehari-hari ia murid yang tidak populer, bahkan sering jadi sasaran bully, tapi nyatanya ia lebih beruntung daripada mereka semua.

Menikmati 2 Guru Cantik

By Lucy → 21 June 2019
Dua tahun berselang semenjak aku lulus dari perguruan tinggi. Tak terasa usiaku bertambah tua.
Namaku Tomi 23 tahun. Aku kini bekerja di salah satu perusahaan swasta ternama di jakarta. Aku menjabat sebagai staff divisi marketing. Pekerjaanku mungkin adalah salah satu pekerjaan yang tidak diminati oleh rekan-rekan sebayaku. Mereka biasanya lebih senang duduk di depan komputer berjam-jam, mengkalkulasi data, dsb. Bagiku itu sangatlah membosankan. Maka dari itu aku mengambil jurusan public relation ketika aku masuk perguruan tinggi.
Aku sangat menikmati pekerjaanku sebagai seorang marketing. Terasa bebas, tidak terpaku di satu tempat. Terkadang aku sempat berjalan-jalan bersama teman-temanku. Hangout keberbagai tempat nongkrong sampai berburu wanita di lokalisasi. Yah.... Itulah sebagian hal yang mengenakkan dari pekerjaanku selain gaji dan bonus yang lumayan. Tapi di setiap hal di dunia ini tak ubahnya seperti sekeping uang logam. Selalu ada dua sisi yang berlawanan.
Terkadang aku harus meeting hingga larut malam, mengejar target penjualan yang dirasa sudah sangat tidak mungkin tercapai. Well... itulah dunia, pikirku. Setiap manusia tidak ada yang pernah puas, dan setiap pekerjaan tidak ada yang pernah mengenakkan.
Seperti yang kubilang tadi, jam kerjaku sungguh tak menentu. Terkadang aku harus melobby klien yang hanya bisa kutemui pada larut malam. Sehingga rupa tempat tinggalku sungguh mirip sekali dengan kota yang baru diterjang badai dan tsunami.

Aku tinggal di sebuah apartemen di bilagan jakarta selatan. Apartemenku cukup besar untuk diriku yang tinggal sendirian. Ada dua kamar, satu kamar mandi, satu ruang tengah, dan dapur di pojok ruangan. Sudah satu tahun sejak aku menghuni apartemenku. Sebelumnya aku tinggal bersama kakak dan mamaku. Tapi karena beban pekerjaan sebagai marketing sangat menguras waktu dan tenagaku, maka aku memutuskan untuk membeli sebuah apartemen. Agar tidak bolak-balik pulang kerumah, pikirku.
Namun lama-kelamaan aku merasa lelah mengerjakan seluruh pekerjaan rumah yang seakan tidak habis-habisnya. Menyapu, mengepel, membersihkan kamar mandi, merapihkan tempat tidur, mencuci baju, dll. Dan tetap saja rumahku kembali berantakan esok harinya.
Aku sadar bahwa diriku ini memang bukan orang yang bisa hidup teratur dan rapi. Maka dari itu kuputuskan hari ini untuk mengambil cuti dan mencari seorang pembantu untuk membantuku di apartemen. Aku mendatangi sebuah biro penyalur tenaga kerja tak jauh dari apartemenku.

"selamat pagi pak, ada yang bisa kami bantu?" sapa seorang resepsionis.
"saya lagi cari pembantu mba... kira-kira disini menyalurkan pembantu rumah tangga ngak?" kataku.
"ohh kalau itu silahkan bapak tanyakan ke dalam." Katanya.
Tak lama aku masuk ke dalam ruangan dan bertemu dengan seorang wanita paruh baya. Aku mengutarakan niat untuk mempekerjakan seorang pembantu untuk mengurus apartemenku. Dia menyanggupi permintaanku dan memberikanku list nama-nama serta foto mereka.
Aku membuka daftar nama itu. Cukup banyak juga, ada 15 orang yang mencari pekerjaan sebagai pembantu. Lembar demi lembar aku membolak-balik daftar itu. Kriteriaku sederhana, muda, cantik, tubuh proporsional, dan bersedia rajin bekerja. Pikiranku mulai kotor membayangkan jika aku tinggal berdua di dalam apartemenku hahaha....
Sampai akhirnya aku mengambil lima nama dari list itu yang kurasa cukup memenuhi kriteria yang kuinginkan. Aku diminta untuk datang dua hari lagi untuk bertemu dengan mereka dan melakukan interview.
Dua hari berselang, akupun datang lagi ke tempat itu.
"selamat siang, ada yang bisa kami bantu?" sapa resepsionis.
"nama saya Tomi.. saya ada janji untuk melakukan interview dengan calon pembantu rumah tangga yang sudah dijanjikan." Kataku.
"sebentar ya pak..........hmmm.. pak Tomi....... Nah ini dia, bapak silahkan masuk ke ruangan di pojok." Katanya.
"ohh iya terima kasih..."
Aku berjalan kedalam ruangan itu. Dan menunggu mereka datang satu persatu.

Pertanyaanku sederhana, tak jauh seputar profil dan latar belakang mereka.
Tentu saja aku tak boleh menerima sembarang orang tinggal bersamaku tanpa kuketahui betul latar belakang dirinya.
Jarum jam di dinding telah bergeser cukup jauh dari tempatnya semula. Cukup lama aku mengobrol dengan mereka. Tak kusadari ternyata diluar hujan cukup lebat. Akhirnya aku memutuskan memilih satu orang diantara mereka. Lilis namanya, perempuan berusia 24 tahun itu berasal dari bandung. Ia merantau kejakarta untuk mencari pekerjaan setelah suaminya pergi menjadi TKI di malaysia (baca:maling sia). Empat tahun sudah suaminya pergi tanpa kabar berita yang jelas, entah bagaimana nasibnya. Orang tua Lilis sudah menanyakan kepada besannya. Apakah menantunya pernah memberi kabar walau hanya sekali. Namun kekecewaan yang dirasakan orang tua Lilis ternyata dirasakan pula oleh besannya. Lilis tak mampu lagi menahan diri untuk tetap setia menanti suaminya yang tak kunjung pulang. Tak memiliki penghasilan, Lilis merasa risih harus tinggal serumah dengan orang tuanya. Tak ingin menyusahkan lagi, katanya. Untunglah Lilis belum memiliki anak, mungkin karena suaminya pergi tak lama setelah mereka menikah. Sehingga Lilis sama sekali tak menanggung beban jika ia ingin menjelajah negeri, mencari pengharapan demi kehidupan yang harus dijalaninya.
Aku kembali ke apartemenk untuk beristirahat. Kubiarkan saja apartemenku yang memang sudah berantakan.
Aku merebahkan diri di ranjangku. Majalah-majalah yang berserakan diatas ranjang kudorong dengan kakiku. Buku-buku itu jatuh dilantai dengan bunyi berdebam.
Aku memejamkan mata, mengingat apa saja yang telah aku lalui hari ini. Teringat olehku salah satu calon pembantu yang tadi siang kuwawancarai. Genit sekali pikirku, sempat dia membisikkan padaku bahwa dia siap jika harus melayani seluruh kebutuhanku. Pikiran kotorku mulai timbul, hampir saja pilihanku jatuh padanya. Tubuhnya yang tidak terlalu tinggi, namun langsing dan proporsional. Payudaranya yang besar membusung, pantatnya yang padat, serta wajahnya yang lumayan manis membuat batang penisku mengeras saat itu, hahaha. Namun niatku kuurungkan karena khawatir melihat gelagatnya yang sungguh agresif. Khawatir jika sesungguhnya ia adalah perempuan yang licik yang menghalalkan segala cara. Memanfaatkan kelemahan lelaki yang haus sex, lalu kemudian merampoknya. Mungkin aku terlalu sering menonton film, ah sudahlah. Yang penting aku sudah memilih. Dan lagi penampilan Lilis juga tak kalah mempesona dengan perempuan itu.
Tubuh Lilis pun sangat sexy, mungkin karena baru beberapa bulan menikah lalu ditinggal oleh suaminya, dan lagi belum memiliki anak. Pasti kualitas barangnya masih 98%, mulus kinyis-kinyis gan,hohohohh.
Astaga teganya aku membayangan hal seperti itu kepadanya. Entah seperti apa sifat aslinya, tetapi dari penuturannya, cara berbicaranya, gaya berpakaiannya, kulihat ia perempuan baik-baik. Aku tak tega jika harus melakukan hal buruk padanya.

"aduh.... Si junior pake bangun segala" gumamku.
Aku beranjak menuju kamar mandi. Membersihkan diri sambil bermasturbasi cukup sering kulakukan. Terlebih saat aku tak sempat main ke pelacuran untuk melampiaskan hasratku.
Terbayang saat itu lekuk tubuh Lilis, sexy sekali pikirku.
"Duh... kenapa ngebayangin dia sih...." Pikirku.
Aku mempercepat kocokanku, dan tak lama orgasmeku pun tiba. Spermaku muncrat membasahi dinding kamar mandi yang berwarna biru. Meninggalkan jejak cairan lengket berwarna putih yang kontras.
Lega sekali. Sekarang saatnya untuk tidur. Setidaknya besok aku bisa bangun agak siang karena aku masih memiliki cuti. Lagipula besok Lilis akan datang, jadi aku harus memastikan diri ada di apartemenku jika ia tiba.

(sfx : Kriiiiiiingggggg...................)
Bunyi jam weker membuyarkan mimpiku.
Sial, aku lupa jam wekerku maih menyala, tadinya aku ingin bangun agak siang, pikirku. Kuraih jam weker itu dan kugeser switch untuk mematikannya.
Mataku tak dapat kupejamkan lagi. Cahaya matahari yang bersinar terang membuat gorden apartemenku yang berwarna coklat tua kini berpendar. Seakan sinar mentari kala itu berusaha menerobos masuk kedalam kamarku. Aku bangkit dan duduk di pinggir ranjang. Kukejap-kejapkan kelopak mataku mengusir rasa kantuk.
Rasa kantukku tak kunjung mau pergi. Aku berjalan gontai menuju lemari es dan mengambil sebotol air, lalu kuminum. Rasa dingin menjalar di kerongkonganku. Membuat mataku kini tak dapat lagi terpejam.
Masih kugenggam botol itu ketika aku berjalan menuju jendela. Kuraih seutas tali untuk membuka gorden, dan kutarik. Cahaya mentari menerobos liar kedalam ruangan. Aku memicingkan mataku menghindari paparan cahaya yang terasa hangat dikulitku. Kupandagi seisi kamar yang berantaka. Gelas-gelas kaca yang berada di atas meja kayu berpendar bagai kristal diterpa cahaya.
Kuteguk lagi air dingin yang kugenggam. Aku berjalan menuju wastafel dan kubasuh wajahku dengan air yang mengalir. Segar sekali.
Kantukku mulai hilang, terlebih setelah aku menggosok gigi.

"masih pagi, ngapain ya" gumamku dalam hati.
Saat itu kulihat pintu kamar kedua yang nantinya akan dipakai oleh Lilis selama tinggal bersamaku. Kuputar handle pintu itu dan kubuka kamarnya. Aroma kamar yang lembab menyeruak keluar. Mungkin karena kamar ini jarang kubuka dan hanya kugunakan untuk menaruh barang-barang yang jarang kugunakan. Didalamnya kulihat dua buah tas troli yang biasa kugunakan untuk berpergian, sebuah lemari kecil dan kasur spring bed yang memang sudah ada disana ketika aku membeli apartemen ini.
Cukup kotor kondisi kamar itu. Debu dilantai sudah cukup tebal sehingga meninggalkan jejak kaki ketika aku melangkah. Aku mengambil vacum cleaner yang kuletakkan di samping kamar mandi, dan mulai membersihkan kamar itu.
Dengung mesin vacum cleaner terdengar gaduh. Bagai ribuan lebah yang sedang sibuk menghinggapi taman bunga.
Lantai kini sudah bersih. Aku membuka lemari kayu kecil disudut ruangan dan mengambil selembar sprei yang masih bersih. Untunglah tidak bau apek, pikirku. Kupasangkan sprei itu pada ranjang spring bed. Kamar itu kini sudah cukup bersih untuk digunakan. Yang kurang hanyalah bantal yang belum ada dikamar itu.
Aku berjalan menuju kamarku dan mengambil sebuah bantal yang masih bersih. Kupasangkan sarung bantal baru, karena aku khawatir sarung bantal yang lama sudah agak bau.
Selesai dengan kamar itu, kurasakan rasa pegal mulai menghinggapi tubuhku. Kuraih handuk yang tergantung di samping pintu kamar mandi. Handuk berwarna putih yang kini terlihat lebih menyerupai warna krem itu kuletakkan di bahuku, dan aku bergegas masuk ke kamar mandi.

(sfx : Beep.. beep..beep..beep....)
Kudengar suara telepon berdering. Padahal aku baru saja melumurkan sabun ditubuhku. Sialan, pikirku. Terpaksa aku mengangkat telepon itu dalam keadaan telanjang.
"hallo...." Kataku.
"halo pak... ini Lilis..." sapa suara diujung telepon itu.
"oh iya... gimana Lis.. jam berapa mau datang?" tanyaku.
"saya sudah di depan pintu apartemen bapak." Katanya.
Mataku terbelalak, gawat. Mana mungkin kubukakan pintu apartemen dalam keadaan seperti ini.
"waduh... tunggu sbentar Lis..., saya lagi mandi..." kataku.
Aku bergegas masuk kekamar mandi dan kubasuh tubuhku yang masih berselimut busa sabun. Kulilitkan handuk sekenanya ditubuhku lalu bergegas membukakan pintu untuk Lilis.
Crekk... Crekkk..., kubuka pintu dan kulihat Lilis sudah berada di depan.
"masuk Lis... maaf lagi nanggung belom selesai." Kataku.
Kulihat Lilis tersenyum. wajah Lilis bersemu merah melihat tubuhku yang hanya terbalut handuk. Ia bergegas masuk sambil membawa tas jinjing hitam yang cukup besar, mungkin baju isinya.
"ini kamar kamu..... saya lanjutin mandi dulu ya...kamu istirahat aja dulu." kataku.
"iya pak.... Bapak lanjutin aja dulu mandinya..." kata Lilis.
Aku kembali masuk kekamar mandi untuk menyelesaikan mandiku. Lilis kini melangkah ke kamarnya. Dia melihat sekeliling kamarku yang berantakan. Ia hanya tersenyum melihatnya, dasar rumah laki-laki, mungkin begitu pikirnya.
Ia membereskan pakaian di tasnya dan disusun rapi didalam lemari kecil dikamarnya. Ia menganti bajunya dan berbaring diranjang itu menungguku yang tak juga kunjung selesai mandi.
Bosan menungguku akhirnya ia bankit dan membereskan ruang tengah yang sangat berantakan.
Ia mengangkut gelas dan piring-piring kotor yang berserakan ke dapur dan mulai mencucinya.
Aku mengeringkan tubuhku di kamar mandi. Sial, aku lupa membawa pakaian. Aku memang sudah terbiasa keluar kamar mandi dengan hanya mengenakan handuk saja, karena sebelunya aku tinggal seorang diri. Tapi kini ada wanita yang tinggal bersamaku, bagaimana ini.
Aku melilitkan handuk ketubuhku. Kubuka pintu kamar mandi dan kulongok keluar. Kulihat Lilis sedang sibuk mencuci piring di dapur. Ia menoleh kearahku, aku teripu dan tersenyum lebar.
Astaga, ia hanya mengenakan tanktop dan celana pendek, sehingga aku dapat melihat dengan jelas lekuk tubuhnya yang menawan.
"kenapa pak? Lupa bawa baju ya..." ucap Lilis ramah.
Aku mengangguk dan berjalan cepat menuju kamarku. Berpikir baju apa yang akan kukenakan, sementara sebagian besar pakaianku belum dicuci. Yang tersisa hanya satu celana panjang. Celana ini kan harus kupakai besok, pikirku. Akhirnya aku memutuskan memakai kaus dan celana pendek.
Biarlah, lagipula Lilis tak begitu canggung mengenakan celana pendek, pikirku.
Aku keluar kamar sambil masih mengusap rambutku yang basah dengan handuk.

"baru juga sampe.. kok udah sibuk aja... istirahat aja dulu..." kataku.
"gapapa pak... ini kan memang tugas Lilis...." Katanya.
Jangan panggil pak ahh...panggil mas aja.. mbak kan lebih tua dari saya.." kataku.
"lho emank mas umur berapa?" tanya Lilis yang masih sibuk menyabuni piring di tangannya.
"saya umur 23..." kataku.
"Ah.... Masa sih?" kata Lilis.
"emank saya kelihatan tua banget ya?" kataku.
"ngak gitu..... Cuma mas kelihatan dewasa banget..." kata Lilis.

Kami menghabiskan waktu pagi itu dengan mengobrol sambil membereskan kamar berdua. Mencoba mengenal satu sama lain, karena mungkin kami akan cukup lama tinggal bersama. Aku bertanya pada Lilis, apakah dia tidak merasa risih tinggal dengan seorang lelaki yang baru dikenalnya.
"emank ga takut diperkosa mba? Bahaya lho tinggal sama lelaki" tanyaku.
"ehh... jangan donk.... Masa mas doyan sama pembantu.." katanya.
"bcanda... heheheh..." kataku tertawa.
Lilis hanya tersenyum saja. Aku tak kuasa mengalihkan pandanganku dari tubuh Lilis ketika ia menoleh ke arah lain. Kulitnya yang putih sekan hampir transparan, rambutnya yang panjang sepunggung tergerai rapi. Payudaranya yang besar, pantatnya yang padat, aduh.. fantasi kotorku tak dapat kubendung.
Lilis kini mengepel lantai dengan tangan sementara aku membereskan buku-buku yang berserakan.
"kamu pakai bajunya sexy amat Lis?" tanyaku.
"masa si mas... maaf saya kurang terbiasa sama udara jakarta, dibandung udah kebiasaan dingin soalnya." Katanya sambil tetap mengusap lantai dengan kain pel di tangannya.
"emang ga malu belahannya keliatan gitu..." kataku menunjjuk ke arahnya.
Lilis tersipu malu dan menggerai rambutnya ke depan untuk menutupi dadanya.
"ihhh si mas jelalatan aja..." katanya seraya tersenyum lebar.
Aku hanya tertawa saja. Tak berselang lama apartemenku sudah rapi. Buku-buku tersusun rapi di raknya, piring-piring pun kini tertumpuk rapi di dapur, lantai sudah bersih, aroma ruangan pun kini sudah tercium wangi sekali. Aku duduk bersandar di sofa. Lilis mengambilkan aku segelas air dari kulkas dan menyodorkannya padaku.
Aku meneguk air itu sambil sesekali melirik ke arah Lilis yang duduk di sebelahku.

"hayoo..... mas ngeliatin apa?" kata Lilis.
Hampir saja aku tersedak, ia memergokiku rupanya.
"habis kamu pakaiannya mengundang nafsu sih...." Kataku.
"iya deh... besok-besok Lilis ga pakai tanktop lagi deh..." katanya,
"heheheh... gapapa kok kalo masi mau pake tanktop. Itung-itung pemandangan segar di rumah." Kataku.
"uuu... dasar cowo..." Lilis mencubit tanganku.

Hari demi hari kami mulai akrab. Kini sudah tak ada lagi kata "saya" di antara kami. Kami mulai memanggil satu sama lain dengan aku-kamu. Seminggu berselang setelah Lilis datang dalam kehidupanku.
Masakan Lilis ternyata enak sekali. Ia ternyata pandai memasak. Aku yang sebelumnya terbiasa membeli makanan di luar kini lebih suka jika Lilis memasakkannya untukku. Akhirnya aku memberikan uang dua juta rupiah kepada Lilis untuk belanja kebutuhan sehari-hari.
"banyak amat mas... ini mah cukup untuk dua bulan...."kata Lilis.
"ya gapapa lah... kamu masakin yang enak-enak buat aku... kalo ada lebihnya buat kamu aja..., buat beli baju.., atau beli tanktop yang banyak.." kataku.
"ihhh.. kamu bisa aja mas...." Kata Lilis.
"kepingin liat belahan setiap hari ya....." lanjutnya.
"ya kalo dikasih mah siapa yang nolak... hahahhaa...." Kataku.
Kami hanya tertawa bersama.
Kini aku terbiasa kembali ke apartemen siang hari untuk makan bersama Lilis. Hari ini Lilis memasak steak. Sejak kuajari dia menggunakan internet, ia rajin sekali menggunakan laptop yang kutinggal dirumah. Rupanya ia belajar resep masakan baru.
Kunilai Lilis sangat sempurna sebagai seorang wanita, cantik, ramah, rajin, dan cepat belajar.
Tak salah aku memilihnya untuk tinggal bersamaku.

Hari demi hari berlalu, aku sedang berdiri mengantre di ATM. Gajiku sudah keluar. Aku mengecek nominalnya dan tersenyum. Banyak sekali bonusku bulan ini. Aku mengambil uang empat juta rupiah, dua juta untuk biaya belanja Lilis, dan dua juta lagi untuk membayar gajinya. Sebenarnya gaji yang diminta Lilis hanya satu setengah juta, tapi karena kunilai ia cukup rajin maka pantas bagiku untuk memberikan gaji yang lebih untuknya.
"banyak amat mas... Lilis ga mau ah..... ga enak nerimanya..." kata Lilis ketika aku menyerahkan uang itu untuknya.
"gapapa.... Gajiku lagi gede nih.... Yah itung-itung supaya kamu bisa kirim uang ke orang tua..." kataku.
"beneran ni mas?" kata Lilis.
"iya...."
Lilis tersenyum saat itu. Manis sekali senyumnya. Aku merasa senang sekali memberinya uang lebih. Daripada uangku kuhabiskan untu kuberikan kepada wanita murahan diluar sana, lebih baik kuberikan kepada wanita yang lebih pantas. Wanita yang menugurusku.

Hubungan kami berjalan baik, normal, tanpa ada macam-macam diantara kami. Akupun tidak berani melecehkannya, karena tak ingin ia tersinggung. Paling-paling hanya sebatas menggodanya karena tubuhnya yang sexy, dan kulihat Lilis menanggapinya hanya sebatas candaan semata.
Sampai suatu hari aku jatuh sakit.
Pagi itu aku tak kunjung keluar kamar. Lilis mengetuk pintu kamarku, membangunkan aku untuk bersiap bekerja seperti biasa. Aku tak kunjung menjawab, Lilis memberanikan diri masuk ke kamarku. Ia melihat diriku masih terselubung selimut tebal.
"mas... hari ini gak kerja?" tanya Lilis.
Aku tak menjawab, hanya mengejap-ngejapkan mataku yang memerah.
Lilis mengulurkan tangannya ke dahiku. Punggung tangannya yang lembut kini menempel di kepalaku.
"astaga.... Mas sakit...." Kata Lilis.
Aku mengangguk. Lilis bergegas keluar kamar dan mengambilkan satu mangkuk air hangat dan handuk kecil. Ia mengompres kepalaku.
Kesadaranku mulai kembali. Ya ampun, aku tidur hanya mengenakan kaus dan celana dalam saja. Untunglah tubuhku masih tertutup selimut tebal. Lilis duduk disamping kepalaku. Aroma tubuhnya wangi sekali, mungkin ia baru selesai mandi. Lilis menarik lenganku ke atas pahanya dan mulai memijitku. Ia hanya mengenakan celana pendek seperti biasa, sehingga lenganku bersentuhan dengan kulit pahanya yang lembut.
"kamu sih hujan-hujanan kemaren mas.... Jadi sakit nih..." kata Lilis.
"hehe... maaf ya jadi ngerepotin kamu.... Habis nunggu hujan kelamaan....." kataku.
"lain kali jangan gitu, kalo sakit gimana...." Kata Lilis.
Kurasakan kedua paha Lilis yang lembut dibawah lenganku.
"habis kangen sama Lilis..... jadinya aku pengen cepet pulang..." kataku.
"hahaha.... Masa kangen sama pembantu..." kata Lilis.
"yah.... Aku kan ga nganggap kamu pembantu, kamu kan temanku, sahabatku...." Kataku.
Lilis hanya tersenyum saja. Kini ia mengusap kepalaku.
Aku merapatkan kepalaku ke pantatnya.
"kenapa mas? Dingin ya?" tanya Lilis.
Aku mengangguk. Lilis meraih remote AC dan mematikannya.
"lagian Acnya dinyalain sih.... Udah tau sakit."
Aku hanya tersenyum. Beberapa menit berlalu, keringat mulai membasahi leherku. Lilis mengambil tisu dan mengelapnya.
"nah.... Udah enakan kan mas?" katanya. Aku mengangguk.
"makasi ya Lis... sori jadi ngerepotin...." Kataku.
Lilis membuka lemari bajuku dan mengambilkan kaus berwarna coklat.
"ganti baju dulu mas... ga usa mandi, masi sakit..."
"nya ntar aku ganti...." Kataku.
"hayo... jangan ntar-ntar... apa mau di pakein bajunya?" kata Lilis.
"jangan ahh... malu..." kataku.
"ngapain malu.... Mas juga biasa ngeliatin belahan dada Lilis kan?" katanya seraya melepaskan kaus yang kukenakan.
"hehehe.... Kamu tau aja..." kataku.
"dasar... ayo duduk biar lilis pakein bajunya...." Kata Lilis seraya menarik selimutku.
Segera kutarik kembali selimutku, takut jika Lilis kaget karena aku hanya mengenakan celana dalam.
"kenapa mas?"
"Ssssssttt.... Udah nanti aku pake sendiri deh...." Kataku.
"hmm...... pasti ga pake celana ya... makanya malu...." Kata Lilis.
Aku tersipu mendengarnya, wajahku memerah.
Lilis kembali menarik selimutku sampai terlepas, kini terpampang tubuhku yang hanya mengenakan celana dalam. Penisku terlihat mengeras, bagaimana tidak. Ada seorang wanita sexy disampingku.
"hahaha..... liat tu... uda ngaceng aja... nafsu ya liat Lilis...." Katanya.
"awas ya.... Godain aja.... Awas nanti kalo aku sembuh...."
"emank kalo sembuh mau ngapain?" tanya Lilis.
"ya ngapain kek....."
Lilis tertawa kecil. Ia meletakkan kaus yang dipegangnya dan mendekat kearahku.
"mau diobatin ga sakitnya?" katanya.
"kan ini udah enakan....., tuh keringetnya udah mulai keluar..."
"emank yang ini ga sakit?" kata Lilis sambil menunjuk batang penisku yang menegang.
"ehhhh... nakal ya.... Goda-godain aku..."kataku.
Lilis tersenyum dan mengusap lembut batang penisku dari luar.

"Shhhh... Ahhh.., geli" kataku.
Lilis merapatkan tubuhnya padaku. Kurasakan hangat hembusan nafasnya di bahuku. Kini kami berpandangan, dekat sekali. Kini aku sudah tak kuasa lagi menahan nafsu birahiku. Kulumat bibirnya yang kemerahan. Kini Lilis memasukkan tanganny kedalam celana dalamku dan mulai meremas batang penisku yang menegang.
Aku menarik tubuhnya agar merebah disampingku. Kami saling berpagutan, lidah kami beradu bagai ular yang sedang menari. Kuraba perutnya dengan jemariku. Perlahan, kuselipkan tanganku masuk kedalam tanktop berwarna hijau tosca itu. Lilis merapatkan tubuhnya, kini payudaranya yang besar menekan dadaku, lembut sekali. Kubuka kait bra yang ia kenakan.
"kamu nafsu amat ama Lilis..?" katanya. Aku hanya tersenyum.
"abis kamu sexy banget sih..." kataku.
Kait branya kini telah terlepas, kini dengan mudah kuselipkan tanganku di payudaranya. Payudara Lilis besar sekali, sehingga tanganku tak cukup untuk menggenggam seluruhnya. Kurasakan putingnya yang mulai mengeras menekan telapak tanganku.
"Aaaahh.... Geli mas..." katanya.
Lilis bangkit dari tepat tidur dan melucuti semua pakaiannya. Kini terpampang tubuhnya yang putih mulus tanpa sehelai benangpun yang menutupi. Ia merebahkan diri kembali di kasur, dan menarik celana dalamku agar terlepas. Kami kembali berpagutan, ciuman demi ciuman saling kami berikan satu sama lain.
Tubuh Lilis yang padat kini menempel erat di tubuhku. Keindahan tubuhnya yang selama ini hanya bisa kubayangkan, kini akan menjadi milikku.
Kuraba selangkangan Lilis yang ternyata sudah mulai basah. Cairan kenikmatan itu sudah membasahi lubang vaginanya yang tidak lagi perawan. Kuraba pelan paha Lilis, perlahan kuusap lembut kedua pahanya.
"Ahhhh... Shhhaah... geli mas.." Lilis melepas ciumannya dariku dan mendesah. Ciumanku kini mendarat di lehernya yang jenjang. Kujilat-jilat leher Lilis dan sesekali kuhisap kuat, meninggalkan rona merah di kulitnya yang putih. Lilis membasahi telapak tangannya dengan liurnya. Kini ia mengocok penisku perlahan.
"Ahh... kamu pinter banget Lis...enak.. terus Lis.." kataku.
Aku pun tak mau kalah, kini aku menggetarkan jari tenganku di klitorisnya yang sudah licin karena lelehan cairan kewanitaanya.
"Ahhhhhhh.......mas..... setubuhi aku donk..... Lilis udah ga tahan..." ceracaunya.
Tampak sekali ekspresi wajah yang sudah bernafsu di wajahnya. Mungkin karena Lilis sudah begitu lama tak memiliki kesempatan melampiaskan gairah sexsual selama bertahun-tahun.
Ciumanku kini menuruni lehernya, perlahan tapi pasti kusapu leher Lilis menuju payudaranya.
Kujilat payudara Lilis yang besar. Lembut sekali kurasaan kulit payudaranya ketika Lilis menekan wajahku. Wajahku terbenam diantara kedua belah payudaranya.
"Ahhhh.... Ssshh... isepin pentil Lilis mas...." Ceracaunya.
Kuhisap puting payudaranya yang mengacung, seakan menantang lidahku untuk beradu dengan putingnya yang berwarna kemerahan senada dengan bibirnya. Kini kumasukkan jari tengah dan jari manisku kedalam vagina Lilis. Kucocok perlahan, ia mulai meronta. Gerakan tubuhnya sungguh liar. Tangannya dengan lincah masih menocok batang penisku.
"Aaaahh......Aaaahh...... enak mas... ahhh..." Lilis mendesah seirama dengan kocokan tanganku di lubang vaginanya. Tubuh Lilis menegang, ia menggeliat bagai ikan yang baru ditangkap oleh seorang nelayan.
"Aahahhhhh......Ahhhhh..... mas.... Aku mau keluar... Ahh...." Ceracaunya.
Tak lama cairan hangat kurasakan meleleh keluar di sela jemariku. Lilis telah menggapai orgasmenya yang pertama. Gerakan tubuh Lilis mulai mereda. Ia bangkit dan mulai mengulum penisku dengan bibirnya yang lembut.
Ohh... baru kali ini aku merasakan kualitas layanan dari seorang perempuan desa. Penampilan dan tutur kata Lilis yang santun sama sekali tidak mencerminkan, betapa liar dirinya ketika berada di ranjang.
"kontol mas gede banget..... aku masukin aja ya mas.."
"Ahh..Shh... ayo Lis... aku juga udah kepengen...." Kataku.
Lilis menelungkupkan tubuhnya di atas tubuhku yang terlentang. Payudaranya yang besar kini menekan perutku. Ia mengarahkan penisku ke lubang vaginanya, ia menekan perlahan penisku memasuki lubang vaginanya yang sangat sempit. Mungkin karena sudah bertahun-tahun lubang itu tak terjamah oleh pria manapun. Perlahan penisku memasuki lubang vaginanya yang telah basah oleh cairan kenikmatan. Senti demi senti penisku kini telah tenggelam dalam lubang vaginanya yang berdenyut-denyut.
"Aaaaahhh..... Shhh.....kontol mas gede banget.....enak" ceracau Lilis ketika menggenjotkan vaginanya yang terisi oleh batang penisku.
Ia bangkit dari posisinya yang merebah, kini ia menduduki penisku yang menancap dalam divaginanya. Ia menyibak rambutnya yang hitam kebelakang. Terpampang di depan mataku dua buah payudara Lilis yang mengacung. Kugenggam keduanya dengan kedua tanganku. Lilis kembali menghujamkan penisku kedalam vaginanya berulang-ulang.
"Ahhhh.....Sshhh.... gila.... Memek kamu nikmat banget Lis..." ceracauku.
Baru kali ini aku merasakan lagi vagina yang senikmat ini sejak pertama kali aku mengambil keperawanan pacarku semasa SMA dulu. Selebihnya aku lebih sering menggunaan jasa wanita panggilan yang tarifnya cukup mahal. Kini aku tinggal dengan seorang wanita cantik yang bersedia untuk kusetubuhi, hidupku seakan sempurna hari ini.
Rasa pusing yang kurasakan kini telah berganti dengan nafsu yang menggelora. Hasratku bergejolak, ingin sekali kusetubuhi tubuh indah ini berkali-kali.
"Ahhh... mass..... aku mau sampai....." kata Lilis.
Lilis mempercepat gerakannya. Ia kini menggenggam kedua tanganku yang meremas payudaranya. Tubuhnya menegang, vaginanya berkedut kencang.
"Ahhhhh...SSshh.. Aaaaaahhhhhhhh......." Lilis melenguh panjang.
Kurasakan cairan kenikmatan itu menyembur melewati sela-sela antara penisku dan bibir vaginanya. Lilis jatuh terkulai dalam pelukanku setelah orgasmenya yang kedua.
Aku merebahkan tubuh Lilis diranjang, lalu kunaiki.
Kubuka lebar selangkangan Lilis dan kulihat vaginanya yang merah berkilau karena cairan kenikmatan yang meleleh dari lubang kenikmatan itu.
"ayo mas..... cepat.... Setubuhi aku lagi... aku udah ga tahan kepingin di entot lagi mas..." kata Lilis.
Ucapan Lilis yang vulgar membuat hasratku semakin menggebu.
Kutancapkan penisku memasuki vaginanya dengan sekali dorongan kuat.
"Ahhhh... mas.... Terus mas...." Ceracaunya.
Kuhujamkan penisku berkali-kali. Tak kusisakan ruang dalam vaginanya, kutancapkan penisku dengan kuat hingga seluruhnya terbenam.
"Aaahh....Ahh..." desahan Lilis bergema di ruangan itu.
Payudara Lilis bergoncang kuat ketika aku menghujamkan penisku kedalam vaginanya. Decitan suara spring bed bersahutan dengan desahan Lilis ketika aku mempercepat cerakanku.
"Ahhhhhh....mas.....terus mas....." ceracaunya.
Melihat pemandangan itu nafsu birahiku semakin memuncak. Penisku mulai berdenyut.
"Ahhhh....Ahhhh... Lisss.... Aku mau keluar...." Kataku.
"Ahhhh.... Didalem aja mas.... Ahhh.. aku juga... mau sampai...." Kata Lilis.
Kupercepat hujaman penisku. Himpitan bibir vaginanya menguat, penisku seakan di sedot oleh bibir vaginanya. Denyutan vaginanya membuat aku tak kuasa lagi menahan spermaku yang akan menyembur.

(sfx : Crooooootttt.......Crrrroootttttt.......Croootttt....)
"Ahhhhhhh........." aku memekik tertahan.
"Ahhhh.......aaaaahhh..Aaaaaaaaahhh......" Lilis melenguh panjang ketika aku menyembutkan spermaku kedalam rahimnya. Sungguh sensasi sex yang belum pernah kurasakan. Nikmat sekali vagina Lilis, pikirku.

Aku terkulai lemas setelah mencapai orgasmeku.
Spermaku meleleh dari dalam vaginanya. Lilis masih terpejam, menikmati sisa-sisa orgasmenya yang ketiga.
"mass..... kamu kuat banget sih... Lilis sampe tiga kali dapet..."
"habis kamu sexy banget sih.... Aku jadi nafsu main berlama-lama...."
"emank biasanya main sama siapa mas?" tanya Lilis.
"sama cewe panggilan..." kataku.
"emank enak ya? Hati-hati kalo main sama cewe begitu.... Takutnya ga bersih..." kata Lilis.
"ahhh sekarang mah ngapain main sama mereka.... Kan dirumah ada Lilis..." kataku.
Lilis tersenyum dan mencubit perutku.
"kalau mas mau, tinggal bilang aja... Lilis pasti kasi kok...." Katanya.
Kami tersenyum bersama dan kembali berpagutan.

Setengah jam berlalu, kini aku dan Lilis sudah membersihkan diri dari sisa-sisa permainan kami. Aku menelpon bosku, mengabari bahwa aku sakit. Ia memaklumi, karena memang sebelum pulang kemarin aku bersamanya. Sehingga ia tau bahwa aku benar-benar kehujanan.
Hari-hari berlalu. Hubunganku dengan Lilis semakin dekat. Hampir tiap hari kami berhubungan sex. Ternyata Lilis juga menginginkannya, dia mengakui bahwa nafsu sexsualnya cukup tinggi sehingga ia sering bermasturbasi sendiri dikamar mandi ketika aku tak ada. Tapi sekarang semua sudah berubah, ketika Lilis sedang ingin, ia hanya perlu memintanya padaku. Aku senang, ia pun senang.

Kini aku tak perlu lagi menyewa wanita panggilan, sehingga uangku dapat kuhemat. Sekali seminggu aku mengajak Lilis jalan-jalan. Pasti bosan juga dia berada di apartemen seharian. Terkadang kami menonton bioskop sambil bermesraan di ruangan yang gelap itu. Aku sering menawarkan untuk membelikannya baju baru, tetapi ia menolak. Ia lebih senang telanjang jika kami sedang berdua di apartemen. Ia pun kini tidur bersamaku.

Entah sampai kapan kami menjalani hubungan rahasia ini. Well... selama semuanya menikmati... WHY NOT??

Naughty Maid

By Lucy →