Mangsa Baru

By Lucy 03 June 2019
Pagi ini aku masuk di MK bu rida tepat di jadwal UTS, bu rida mengenakan gamis biru dan jilbab panjang biru. Ujian pagi ini MK yang serba hitung-hitungan dan aku benci itu. Aku memutuskan untuk duduk di bangku paling belakang sebaris dengan seniorku yaitu kak ningsih. Saat ujian dimulai. Bu rida mulai berkeliling membagikan kertas ujian kepada kami sekelas, kelas ini hanya berisi sekitar 8 sampai 10 mahasiswa saja, sehingga jarak antar mahasiswa sangat renggang, dan tentunya aku tidak dapat menyontek. Dan sialnya lagi, bu rida hanya berkeliling di barisanku saja yaitu barisan paling belakang ini, saat semua mahasiswa sedang sibuk mengisi kertas ujiannya, aku malah sibuk memperhatikan rok bagian belakang bu rida, kuperhatikan dengan jelas bahwa ia tidak mengenakan CD nya.

“wah bener mulai binal ibu ini” pikirku. “Heh, ngapain kamu bengong!” ucap bu rida mengagetkanku yang masih ngayalin pantatnya. “eehh maaf maaf bu” ucapku gugup. Ia berdiri diam disisi kiriku tak berpindah, “Sial! Ngapa dia disini segala!” umpatku dalam hati. Namun aku terlintas ide gila, yaitu aku ingin grepe bawahannya saat ia sedikit menyender di dinding yang tepat berada dibelakangku. Kuelus betisnya perlahan naik ke pahanya, tangan bu rida mendorong-mendorong bahuku seolah menolak perbuatanku. Namun kuterus nekat, hingga akhirnya tanganku menyentuh bongkahan pantatnya, “Hmm..” suara tertahan dari mulut bu rida seraya ia memperbaiki berdirinya.

Aku menarik tanganku dan pura-pura menyelesaikan ujianku. Lalu kembali kuulangi perbuatan itu, namun sedikit lebih dalam, kudorong-dorong rok nya dari belakang supaya nyelit di belahan pantatnya, lalu kuremas-remas pantatnya. “Hhmm..uhuk..” kembali terdengar suara tertahan disertai batuk kecil, mahasiswa lain mendengar batuk beliau malah ketakutan karena dikira mencontek, padahal dosen ini hampir kubuat horny. Beliau lalu memutuskan untuk berkeliling saat ia kembali ketempatku kumelihat ada bercak sedikit di rok bagian depannya, “gak salah lagi dia nikmatin permainan singkatku tadi hehe” pikirku kegirangan.

“Baik anak-anak, sila kumpulkan kertas ujian kalian” ucapnya. Kami lekas mengumpulkan kertas ujian dan keluar kelas. Saat tidak terlalu jauh dari kelas, kak ningsih memanggilku “Ari! Tunggu aku, bareng ke kantin yaa”. *kak ningsih adalah senior yang cukup akrab denganku, dan ia juga berjilbab namun masih kelihatan body nya yang mungil tercetak jelas dari pakaiannya yang serba ketat, dia suka mesum juga pikirannya maka dari itu aku dengan mudahnya aja cerita hal-hal porno dengannya tanpa takut ia marah, aku belum pernah kepikiran untuk mengeksekusinya karena tubuhnya sama sekali tidak menjadi minatku*

Setibanya di kantin, “ari tadi waktu ujian, kuliat tanganmu main-main di tembok dekat paha bu rida ngapain tu?” kepo kak ningsih. “Itu aku lagi grepe dia kak, hehe” ucapku. “Njir…dosen alimpun berani ya dirimu grepe, apa dia gak marah?” ucap kak ningsih penuh rasa penasaran. “Ya kagak lah, dia aja doyan sama kontolku” ucapku santai. Kulihat kak ningsih hendak berteriak kaget namun langsung kubekap mulutnya, “Jangan teriak kak” ucapku, “hmm..lepasin deh, aku kaget tau dengar ucapanmu” ucapnya, langsung kulepas dekapanku. “Gimana ceritanya dia bisa doyan kontolmu, secara dia kan dosen tertutup banget gitu?” Tanya kak ningsih.

“iya tertutup, tapi birahinya tinggi, beberapa bulan lalu aku perkosa dan rekam pemerkosaan itu di hpku sebagai jaminan bahwa dia tak akan bocorkan ke orang lain, kubuat ia tergila-gila pada kontolku, hehe” ucapku bangga. “Buset dah ari ari,nekat amat kamu, seberapa gede sih kontolmu itu sampai berani perkosa dosen alim?” tantang kak ningsih. “Jangan liat kamu kak, nanti kamu doyan juga, haha” ledekku. “Kak, ngomong-ngomong kakak ni kan senior disini, ada gak kak kira-kira ayam kampus di kampus kita ini ya? Soalnya junior-junior kita banyak yang bikin kontolku ngaceng kak” tanyaku, “weleh-weleh, udah dapat memek dosen, masih belum puas juga? Oke deh, disini banyak ayam kampus sebenarnya, cuman harganya tentu bervariasi, dirimu coba deh salah satu junior kita yang namanya tiara, dia kan mainnya dengan junior-junior lain juga tuh mana tau dia ada link”.

Keesokan harinya aku janjian sama kak ningsih supaya aku dipertemukan dengan tiara, kami janjian di salah satu laboratorium kampus yang cukup jauh dari keramaian, “ari, nih si tiara” sapa kak ningsih. *Tiara adalah junior angkatan 1 tahun dibawahku, tubuhnya yang kecil dipadukan dengan toketnya yang berukuran 34B lumayan menggugah selera*

Hari ini tiara mengenakan baju kaos orange yang cukup ketat dan celana jeans biru, “Bang, mau main dimana nih?” ucap tiara to the point. “Disini aja deh dek, biar greget” ucapku seraya mendekatinya dan hendak meremas toketnya, namun ia tahan tanganku “sabar bang, deal harganya 800 ribu ya!” ucapnya, “Oke lah dek” ucapku langsung dengan cepat mencumbu bibir mungilnya, kedua tanganku langsung meremas bongkahan pantatnya, iapun dengan sigap membuka resleting celanaku dan mengeluarkan kontolku dari sarangnya, ia mulai mengocok pelan, kulepaskan cumbuanku, “kak ningsih, mau nonton kagak? Kalau tidak, tolong awasin di luar gih” ucapku, “Dih siapa juga yang mau nonton, aku jaga luar aja” ucap kak ningsih seraya meninggalkan kami berdua di labor ini.

Saat kontolku mulai menegang keras, “Wuih gede banget bang, tiara doyan nih” ucap tiara yang langsung jongkok di depan kontolku dan langsung mengulum kontolku dengan ganasnya. Cukup kewalahan aku dibuatnya, saat ia masih asik-asiknya mengulum kontolku, kutarik tubuhnya dan kuangkat tubuhnya ke meja praktikum, kulepaskan celananya beserta CD nya, lalu kunaikkan baju kaos yang ia kenakan beserta branya, kuposisikan kontolku untuk segera masuk ke liang kenikmatan tiara, tiara yang sudah tidak sabaran mengapit pinggulku dengan kakinya, seolah memintaku untuk segera menggenjotnya, saat setengah kontolku masuk ke memeknya, “Ahhh..gede banget kontolnya…” desah tiara. “Nikmat gak? Uhh” tanyaku. “Nikhhmat banget bang..ohh” desah tiara seraya aku terus melesakkan kontolku masuk ke dalam memeknya, saat kurasakan kontolku sudah mentok, lalu mulai kugenjot memeknya.

“Driitt..driiitt..drriiitt” suara deritan meja praktikum mengiringi permainan panas kami. Tak berapa lama, “Bang…ahh..cepetin bang..tiara sampai nih..” desah tiara terasa cairan hangat menyembur deras dari dalam memeknya. Kuabaikan ia yang keletihan setelah menikmati orgasme pertamanya, “Brak” suara pintu labor terbuka, aku menoleh melihat kak ningsih dengan wajah panik berkata “ari! Sial! Bu rida kesini, sepertinya dia mau pakai labor ini, karena seingatku dia punya penelitian pribadi”, “Shit! Aku lagi nanggung nih kak, gimana ya?” ucapku gugup. Tiara yang juga panik segera menurunkan baju dan branya lalu ia hendak melepaskan kontolku dari memeknya, kutahan pinggulnya

“Kenapa bang?lepasin bang! Kalau ketahuan, bisa di DO kita” ucap tiara panik. Kuangkat tubuhnya lalu kugendong ia ke sebuah ruangan kecil yang ada di labor tersebut, kak ningsih bantu membawakan pakaian kami yang tertinggal ke ruangan utama itu. “Sstt tiara, kita harus selesaikan ini, biar abang ndak rugi” ucapku seraya menurunkan kaki tiara agar ia berdiri dan menyender di dinding tepat di balik pintu ruangan kecil ini, kugenjot terus memeknya, terlihat wajahnya yang panik mulai berubah menjadi wajah horny lagi, posisi kami adalah tiara berdiri menyender di dinding dan aku berdiri sedikit menekuk lutut untuk menggenjot memek tiara.

Kak ningsih lekas keluar labor hendak menghambat bu rida, namun usahanya gagal, bu rida tetap masuk. Terdengar sedikit percakapan mereka, “Kamu kenapa menahan saya untuk tidak masuk ke labor ini?” ucap bu rida. “eee..enggak apa-apa kok bu, cuman tumben-tumbenan aja ibu ke labor ini, secara kan labor ini jauh dari keramaian.” Ucap kak ningsih. “Ya terserah saya dong” jawab bu rida ketus. “baiklah bu, saya tinggal ya” ucap kak ningsih.

Tak berapa lama, hpku bergetar, rupanya sms dari kak ningsih, “aku menyingkir dulu ya, ngentot aja sampai puas, kurasa ibu itu gak bakal curiga kalau kalian gak mendesah, nanti kabarin aku kalau dah siap ya”. Kuubah posisi tiara yang dari berdiri menjadi menungging di lantai karena kulihat ia mulai keletihan, kembali terasa memeknya berdenyut-denyut tanda ia akan orgasme, “bang…aku mau sampai lagi” bisiknya. “Tahan sedikit tiara…abang juga hampir sampai” bisikku, kubalikkan tubuhnya sehingga ia terlentang dan kurapatkan tubuhku ke tubuhnya.

Saat aku merasa bahwa aku akan memuntahkan spermaku, kurogoh obat anti hamil yang ada di kocek celanaku, “Tiara, minum nih, abang mau buang di dalam biar gak belepotan” bisikku, “ta..ta…tapi…glek” tiara hendak menolak, namun langsung kumasukkan paksa obat anti hamil itu, kupercepat genjotanku dan “Crott..crot…crott..” ada sekitar 3 semburan pejuku mengisi liang memek tiara, diikuti semprotan cairan cinta tiara yang cukup deras bercampur dengan pejuku, dengan kontol yang masih di dalam memek, kurubuhkan tubuhku diatas tubuh tiara, “Makasih babe, udah mau ngentot segreget ini” bisikku ditelinganya.

Saat kontolku mulai mengecil, aku lekas berdiri dan membersihkan diri, begitu juga tiara. Aku segera mengabarkan kak ningsih bahwa kami sudah selesai, di ruangan ini terdapat jendela yang tak dilengkapi tralis sehingga memungkinkan aku dan tiara kabur, namun cukup beresiko karena mudah terlihat dari kejauhan. “Tiara, kamu kabur dulu deh, abang disini dulu bentar, nih uangmu” ucapku. Tiara pun meninggalkanku, aku mulai mencoba mengendap-endap keluar dari ruangan kecil ini, kulihat bu rida yang hari ini mengenakan gamis putih dan jilbab biru panjang sedang fokus dengan laptopnya,namun ada sedikit hal janggal disana, kulihat bu rida seperti menggeliat-menggeliat kecil, saat kuintip sedikit ke bawah terlihat ada 2 pasang kaki, sementara bu rida disitu sendiri.

“siapa itu ya?” tanyaku dalam hati. Aku yang tadinya hendak keluar, malah menetap mengambil posisi aman untuk melihat apa yang sebenarnya bu rida lakukan, “Uhh…udah ah pak…saya mau kerja nih” terdengar desahan kecil bu rida. “Ah neng jangan menolak gitu, ayo puasin bapak lagi” terdengar suara berat dari seorang pria yang sepertinya sedang asyik jilmek-in bu rida. Bu rida memundurkan bangku kerja beliau, lalu berdirilah seorang pria yang sama sekali tidak kukenali, pria itu lalu menaikkan rok bu rida ke pinggang, lalu mengobok-obok memek bu rida dengan tangan kasar beliau.

“Ahh..udah pak..plis..jangan lagi ya…saya lagi kerja nih..” desah bu rida seraya mencoba mendorong tangan pria itu untuk segera menghentikan perlakuannya. Pria itu semakin bringas ia memaksa melumat bibir seksi bu rida, “Uhhmm…hmmm” desah bu rida. Lalu pria itu mengangkat tubuh bu rida dan ia letakkan di meja tempat bu rida kerja itu, “Pak..plis jangan lagi pak…” mohon bu rida. Pria itu lekas melepaskan pakaiannya dan ternyata kontol dia sedikit lebih kecil dari kontolku, “Ah pendek, haha” pikirku meremehkan.

Pria itu menaikkan rok bu rida ke dadanya, lalu mulai memasukkan kontolnya ke memek bu rida, “Uhh…hentikan pak..cukup sekali itu saja…saya tidak mau pak” mohon bu rida. “Sok-sok nolak lu lonte! Di bus kemarin aja lu nikmatin kami gilir! Sekarang karena gua sendiri lu gak mau dientot, munafik!” bentak pria itu seraya meremas keras kedua toket bu rida. “Ahh…uhhh…sshh….pelan-pelan pak” desah bu rida. “Pelan-pelan apanya neng” ucap pria itu yang dengan kasar menggenjot memek bu rida.

“Itunya pak..kontolnya” ucap bu rida sedikit malu. “Entotnya begok! Dosen kok begok sih! Dah doyan kontol lu ya ampe begok! Haha” ucap pria itu. “Uhh pak..saya sampai pak..” desah bu rida. “tadi nolak, sekarang orgasme lu! Memang akhwat lonte! Haha” ucap pria itu bangga. Terlihat bu rida sedikit lemas namun pinggulnya tetap bergoyang mengikuti irama permainan pria itu. Sekitar 5 menit, “Duh neng, bapak gak kuat, memek neng rapet banget, bapak sembur nih!” ucap pria itu yang mempercepat gerakan kontolnya, “Pak jangan buang di dalam..sshh” tolak bu rida. Pria itu mencengkram tubuh bu rida dengan sangat keras sehingga bu rida tak dapat mendorong pria itu, lalu pria itu menghentak keras kontolnya ke memek bu rida, “Nih hamil anak gua lu! Akkkhhh!” ucap pria itu yang tubuhnya bergetar. “Tidak!!!” teriak bu rida yang lekas dibekap oleh pria itu. Sekitar 2 menit pria itu mendiamkan kontolnya di dalam memek bu rida.

“Hiks…hiks…kenapa bapak setega ini ke saya..hiks” terdengar tangisan bu rida karena ia menyadari bahwa ia akan hamil dari permainan haramnya ini. “Gak usah nangis lu! Nanti kalau lahiran, anaknya kasih gua aja, istri gua gak bisa hamil, makanya gua pinjam rahim lu, haha” ucap pria itu yang lekas membereskan pakaiannya dan meninggalkan bu rida sendiri di ruangan itu. Terdengar suara tangisan bu rida memenuhi ruangan labor.

Aku yang sedikit kasian dengan kondisinya, menghampirinya, dia yang masih terbaring terlentang di meja itu dengan memeknya yang berlumuran peju pria tadi, “Bu jangan nangis, nih” ucapku memberikan obat anti hamil yang kupunya. “Lah ari! Kamu ngapain disini!” ucapnya kaget yang lekas ia rapikan pakaiannya. “Udah jangan panik, saya sudah liat semuanya, ibu lekas minum obat ini, semoga manjur” ucapku. Ia lekas mengambil obat itu dan meminum dua butir. Ia kembali tertunduk, “Sudah bu, semoga obat itu bisa menggugurkan sperma pria tadi” ucapku seraya mengelus kepalanya, tangannya langsung menyingkirkan tanganku, “Saya butuh waktu sendiri ari”. Akupun lekas pergi dari situ, “Ari, makasih ya” ucapnya dari kejauhan dengan senyum paksa.