Memek Empotan Ayam

By Lucy 03 June 2019
Fasa melihat ibunya berbelanja di warung sembako Partodi dari jauh. Fasa sedang berjalan kaki pulang sekolah, asalnya ingin memanggil ibunya tapi tidak jadi melihat ibunya menenteng beberapa kresek berisi barang belanjaan.

Seperti biasanya, Fasa mampir ke warung Partodi buat jajan ngehabisin sisa uang sakunya bersekolah yang setiap pagi dikasih ibunya. Ibunya berjalan dengan kaos T-shirt ketat dan sebuah rok panjang berjalan menyusuri perumahan rumah sederhana tak jauh dari warung Partodi. Mata Fasa mengikuti langkah ibunya dari jauh, tidak berharap ibunya akan membelikannya jajanan di warung Partodi tadi dengan banyaknya kresek belanjaan di tangan.

Di saat bersamaan, bukan hanya mata Fasa yang mengintai gerak-gerik ibunya. Di bawah sebuah pohon mangga terdapat dua pasang mata lain, dua orang pemuda berambut panjang yang sedang bermain kartu turut menikmati tubuh ibunya Fasa yang montok itu. Sebenarnya Fasa baru pindah menempati perumahan ini, makanya dia belum banyak mengenal orang disini selain Partodi tempat mereka berbelanja kebutuhan sehari-hari.

Ibunya Fasa berjalan masuk gang perumahannya sementara Fasa masuk warung Partodi jajan Es krim. Di luar warung, Fasa mendengar dua pemuda yang bermain kartu berbincang.

"Emplok cendol bahenol"
"Bener bray. Aku belum pernah liat tuh perempuan. Baru pindah sini rupanya?"
"Wah euy, mun beunang moal dileupaskeun da ku aing"

Fasa hanya mendengar sambil menjilati Es krim yang stiknya ia pegangi.

"Aing apal, salakina sopir treuk. emang anyaran pindah kadieu" timpal Partodi yang berperut buncit.

Fasa terus menikmati Es krimnya sambil sesekali kepalanya menengok toples permen. Tapi Fasa hanya ingin mendengar obrolan anak-anak tanggung itu.

"Eh Partodi, maneh apal imahna dimana?" tanya pemuda berambut panjang yang tangannya dihiasi luka yang masih merah.
"Eta di ujung blok A nu dekeut jalan raya, bekas imahna si Rima si tukang asuransi nu geus digarap ku urang sarerea tea 'ning."
"Geulis euy..." mereka bertiga mengangkat jempol.
"Rek di garap siga si Rima deui ieu teh / Mau dikerjain lagi kaya si Rima nih"
"Partodi kamu ikut yah?"
"Barang alus.. Moal nolak"

Fasa semakin tidak mengerti obrolan mereka lalu pergi pulang menggendong tas sekolahnya.

Di rumah ibunya kelihatan berkeringat menyiapkan makan siang. Fasa menyimpan tasnya di kamar tidurnya. Rumah sederhana dengan ua kamar ini tidak luas, ada dapur sekaligus tempat makan, kamar depan untuk Fasa, kamar belakang untuk orangtuanya yang dekat WC, depan pintu kamar ibunya meja makan. Fasa duduk mengambil nasi disana, seperti biasa makanan ibunya membuatnya bernafsu makan.

Ibunya ikut menemani Fasa makan. Sambil makan, Fasa memikirkan PRnya di sekolah yang mesti dikerjakan. Kini dia kelas 6 sebentar lagi akan pergantian semester. Setelah ibunya menyuap nasi beberapa suap, pintu depan tiba-tiba terbuka.

"Hei, lagi pada makan nih?"
"Bapak!" sahut Fasa berlari memeluk bapaknya.
"Makan bang?"
"Nggak deh, abang buru-buru mau narik lagi, abang makan nanti aja."

Ibunya tangan segera cuci tangan. Seperti biasa, jika bapaknya pulang, ibu Fasa langsung menghentikan apapun aktifitasnya. Begitu setia menantikan kepulangan bapaknya yang hanya beberapa minggu sekali.

"Fasa, abisin makannya ya" kata Ibunya. Ibunya Fasa ambil tas suaminya, bapaknya maasuk kamar tidur. Ibunya Fasa memasukkan baju kotor sang suami ke mesin cuci lalu menyusul ke kamar tidur. Beberapa menit kemudian Fasa bisa dengar suara ibunya mengerang perlahan.

"Ohhh bang.... emmm....!" diikuti dengan bunyi tempat tidur yang mendecit.

Seperti biasa Fasa terus makan. Bunyi suara ibu dan bapaknya yang hanya beberapa langkah bagaikan irama yang melengkapi sajian makan siang Fasa. Suara itu selalu terdengar olehnya saat bapaknya pulang dari perjalanan.

Fasa melihat jam dinding, "baru lima menit" dia mengambil minum dan meminumnya perlahan. Suara ibunya semakin kencang mengerang.

"Yaaa bang ohhh ahhhhh dikit lagi, banggggg ohhhh, Dewi keluar bangggggg...."
Suara ranjang masih terdengar, Fasa melihat jam dinding sekali lagi "Emmm baru 10 menit" dia mencuci tangannya.

"Terus banggg, ooohhhh, ya bangg ohhhhhhh terusssss dalemiin banggg" suara ibunya
"Emmmm aahhh ahhh aahhhhh" suara bapaknya.
Fasa duduk di sofa membaca majalah.
"Ok banggg, Dewi mau keluar lagi niiiiihh"
"abang jugaaaa"
Bunyi decitan ranjang semakin terdengar. Bunyi ah dan uh bersahutan. Tiba-tiba suara ibunya meninggi... "Ahhhhhhhhh" terdengar oleh Fasa ibunya menarik nafas dengan jelas. Beberapa menit kemudian, ibunya keluar dengan hanya berkemban kain sarung. Rambutnya kusut, mukanya merah. Fasa lihat di bagian pantat ibunya, sarungnya sedikit basah. Ibunya mengambil handuk di dapur lalu ke kamar mandi. Lama juga emaknya mandi. Sementara bapaknya keluar kamar hanya berhanduk duduk depan Fasa sambil tersenyum.

"Gimana sekolahnya Fasa?"
"Emmm... Fasa harus ikut les malem bapak"
"Kapan?"
"Mulai malam ini"
"Jam berapa mulainya?"
"jam lima sampai jam delapan malam"
"Bayar berapa?"
"Seratus ribu sebulan"
"Nanti bapak kasih kamu uang"

Fasa hanya tersenyum. Senyum Fasa semakin melebar melihat ibunya hampir jatuh saat keluar kamar mandi, saat itu handuk yang melilit badan ibunya terlepas. Fasa bisa dengan jelas melihat buah dada ibunya yang sekal serta perutnya yang putih. Namun selangkangan ibunya gak bisa ditonton Fasa karena ibunya sempat menutupi dengan handuk bagian itu.

"Bang Adam mandi dulu sana, nanti kita makan bareng" kata ibunya pada bapak.

Fasa kembali menikmati melihat pantat ibunya saat melangkah masuk ke dalam kamar. Handuk yang dipegangnya hanya menutup bagian depannya saja, tapi pantatnya dibiarkan saja terbuka. Sesekali Fasa merasakan burungnya bergerak-gerak dalam celana, namun dia belum mengerti mengapa demikian. Suatu saat dia akan tanyakan bapaknya. Sementara di luar rumah, tampak pemuda bermata juling yang berambut panjang tadi tergesa meninggalkan rumah Fasa menuju warung Partodi.

Bapaknya Fasa masuk kamar mandi, Fasa masuk ke kamarnya. Dia mengganti pakaian seragamnya. DI luar cuaca semakin panas terik, Fasa menyalakan kipas angin.

"kapan abang pergi lagi?" suara ibunya Fasa terdengar saat mereka makan.
"Abang istirahat sejam dua jam terus pergi lagi, muatan yang abang bawa mesti tiba di Cirebon besok, tidak usah buru-buru."
"Abang pengen sekali lagi gak nih?" tanya ibunya Fasa.
"Gimana nanti aja deh... Dewi udah mikirin usulan abang belum yang waktu itu?"
"Yang mana bang?"
"Itu... Temen abang yang ingin make Dewi..."
"Resek banget sih abang... Masak nyuruh Dewi tidur sama si Tedi yang cunihin"
"Siapa bilang si Tedi?"
"Lalu?"
"Tedi sama Reza"
"Reza yang mana sih bang...?"
"Itu... turunan Arab, yang kata Dewi ganteng mancung"
"Oh... yang itu... ummmm...!" Dewi membasahi bibirnya dengan lidahnya.

Hati Dewi semakin condong menyetujui usulan suaminya. Membayangkan kesempatan merasakan batang kelamin pria lain mulai menghangatkan selangkangannya. Bukan karena suaminya tidak perkasa, malahan Dewi selalu orgasme di atas ranjang melayaninya. Namun membayangkan akan dipuaskan oleh Tedi dan Reza, terasa memeknya seperti terkena sengatan listrik.

"Dewi mau nggak?"
Dewi bangun dan menarik tangan suaminya.
"Biar Dewi pikirin dulu bang. Tapi sekarang Dewi ingin sama abang."

Fasa sedang mengerjakan PRnya. Di kamar sebelah, sekali lagi dia mendengar suara ibunya mengerang dan mendesis. Semakin lama semakin keras suara erangannya. Fasa pelan-pelan mengeluarkan burungnya dan mengusapnya. Tanpa sadar, dia ikut mendesis.

Aris berlari kecil ke arah warung Partodi. Di bawah pohon mangga tampak Partodi dan Dimas bermain kartu. "Kenapa buru-buru Ris?" Dimas menegur sambil mengelus tangan yang terluka karena terjatuh saat bermotor. "Ada berita bagus nih" kata Aris yang bermata juling. Partodi serius menunggu barita yang dibawa Aris, matanya melotot. "Tadi aku pergi ngendap-ngendap rumah cewe bahenol tadi" "terus?" tanya Partodi tak sabaran. "Suaminya pulang, dientot abis-abisan, dia ngejerit ga keruan pas memeknya disodokin. Bukan maen, berisik banget... Emang nih cewe ganas banget di kamar bray" "Ga bisa dong, dia kita kerjain" Dimas kecewa mendengarnya.
"Siapa bilang bray, tadi ku dengar suaminya pergi lagi, anaknya pergi les dari jam 5 - 8 malem, nah jam segitu kita entot tuh cewe."

Partodi merasakan burungnya bergerak dalam celananya. Memang burungnya sudah sebulan lebih tidak merasakan memeknya cewe, sehabis terakhir ngentotin memeknya Rima, sebelum Rima pindah meninggalkan hutang padanya, sebelumnya dia dan dua temannya beberapa kali menggarap perempuan berkulit putih itu sampai memeknya membengkak lalu setelah itu hutangnya dianggap lunas. Dia sangat puas dengan servis Rima, senilai hutangnya 500.000 daripada harus jajan sama WP.

Sore harinya cuaca sangat panas, kipas angin yang dinyalakan tidak mengurangi rasa panas yang dialami Dewi. Dewi hanya berbalut handuk masuk kamar mandi, Fasa menyiapkan buku untuk les petangnya. Saat keluar kamar, Fasa sempat melihat ibunya masuk kamar mandi, masih jam 4.30, masih ada waktu menunggu ibunya beres mandi.
Dalam kamar mandi Dewi membersihkan badannya. Memeknya yang banyak ditumpahi air mani suaminya hasil persetubuhan siang tadi di korek dan dibasuhnya, rambut dan badannya dibersihkan sepuasnya dengan shampoo dan sabun. Saat membilas memeknya, terlintas pikiran tentang usulan suaminya meminta dirinya ditiduri temannya Tedi dan Reza. Memang dirinya tidak pernah merasakan batang kelamin pria lain dan dia tahu pasti suaminya sebagai supir truk sudah sering ngentotin memek perempuan perempuan lain selama menyupir melintasi berbagai kota.

Memang Dewi menyadari batang penis yang menyodoki memeknya memberinya multi orgasme bukanlah penis yang suci hanya untuknya, tapi juga banyak memuaskan memek-memek perempuan lain. Air mani suaminya tidak hanya ditumpahkan dalam rahim dirinya seorang, tapi juga pada banyak rahim perempuan lain. Sekarang suaminya inginkan rahim Dewi ditumpahi air dari mani batang kemaluan lelaki lain. Mungkin lebih banyak lebih enak. Dia sangat ingin mencobanya. Sementara jemarinya tanpa sadar mengusap ujung kelentitnya, dua jarinya menyelusup liang memeknya. Dia ingin disodok batang penis, sekarang juga.

"Ibu!!" terdengar suara Fasa dari luar, Dewi terkejut dari lamunannya menarik dua jari yang bersarang pada memeknya.
"Err.. Iya Fasa.."
"Bu, Fasa mau pergi les nih"
"Iya, ibu keluar sekarang" Dewi menggapai handuk dan melilitkannya pada badannya. Badan basahnya tidak sempat dikeringkan. Fasa melihat tubuh putih ibunya yang basah. Handuk yang pendek tak mampu menutup batang paha ibunya yang montok. Payudara ibunya yang besar tak mampu menutupi bagian atas pahanya saat melangkah menghampiri Fasa.

Fasa memakai tas nya, ibunya menghampiri dan memeluknya. Buah dada montoknya dirapatkan menempel wajah Fasa, ibunya mencium kening Fasa, "Uangnya udah diambil?" tanya ibunya.
Fasa hanya mengangguk.
"Ya udah, hati-hati di jalan. Pulangnya langsung pulang"
"Iya bu, Fasa langsung pulang"
"Jangan juga mampir ke warung Partodi"
"Iya bu" Fasa pergi sambil berlari sore hari itu, Dewi melihatnya berlalu ke arah warung Partodi. Setelah yakin anaknya sudah jauh, Dewi ingin lanjutkan masturbasikan memeknya sampai orgasme, kalau tidak dia tidak akan bisa tidur.

Saat Dewi hendak menutup pintu, gagang pintu ditahan seseorang dan tubuhnya terdorong ke belakang. Handuk yang dipakainya terjatuh menampakan memeknya yang berambut tipis. Saat dirinya bangkit, tubuhnya sudah dipegangi tiga orang lelaki yang berpakaian serba hitam memakai penutup wajah. Dewi panik dan ketakutan. Tubuhnya diangkat ketiga lelaki itu dibawa ke kamar dan dilemparkan ke atas ranjang.
"Mau apa kalian?" Dewi berusaha menutupi tubuh telanjangnya dengan selimut karena handuknya terjatuh di ruang depan. Ketiga pemuda tidak menjawab selain memegang tubuh Dewi dan mengangkangkan kakinya lebar. Dewi coba meronta tapi tidak berhasil. Dia merasakan buah dadanya diremasi dengan buas hingga kesakitan. Kemudian memeknya merasakan jari tangan masuk sambil memainkan kelentitnya.

"Ohh. emmm" Dewi melenguh, dia berhenti meronta sehingga tangan yang memeganginya melonggar dan kini membelai seluruh tubuhnya. Orang yang mengorek memeknya mulai mengarahkan mukanya pada selangkangan Dewi yang mengeluarkan lendir pelicin. Dewi dapat rasakan lidah orang tersebut mengusap-usap lubang vaginanya dan menghisap kelentitnya.
"Ahhh ummm yaaaa yaa" Dewi mendesah sambil menekan memeknya ke arah wajah penyerangnya. Dua pemuda lagi menghisapi buah dadanya.

Tangan Dewi mulai meraba-raba mencari batang penis lelaki di kiri kanannya. Dia merasakan penis mereka sudah mengeras dalam celana masing-masing. Dewi tidak pedulikan siapa mereka, Dewi hanya ingin batang penis menggasak liang memeknya.
Dimas dan Aris yang merasakan tangan Dewi mengusapi penis mereka, segera berdiri melepaskan penis mereka yang mengeras dari celananya. Sementara Partodi masih terus menciumi belahan memek Dewi yang dibanjirin cairan kawin. Setelah penis Dimas dan Aris menyembul, Dewi langsung memegang kedua penis itu mengocoknya beberapa saat lalu memilih untuk mencium batang penis milik Dimas yang lebih besar.

Dimas menuruti keinginan Dewi dan membantu mengarahkan penisnya pada mulut Dewi. Lidah Dewi menari-nari mengolah kepala penis Dimas, menjulur menjilat precum lalu menghisapnya hingga Dimas mendesis tak terkendali, saat itu juga Dewi mengerang dengan keras.

"Ohhh, Dewi nyampeeee emmmmm ahhh!!!" Dia membanjiri muka Partodi dengan lendir orgasmenya. Dengan perlahan Partodi bangkit mengelap mukanya dengan selimut dan melepas celana hitam yang dipakainya tanpa sepatah kata. Kepala penis partodi yang hitam berkilat diarahkan ke gerbang memek Dewi dan sekali dorong, penisnya masuk hingga ke pangkalnya.

"Ohhh yaaaa" Erang Dewi sambil mengangkat pantatnya, kedua kakinya melingkari belakang paha besar Partodi yang berperut buncit.

-----

Fasa merasa kecewa, karena ternyata petang ini tidak ada pelajaran. Gurunya hanya mengisi absen dan mendaftar murid yang ikut kelas malam. Fasa membayar uang yang diberikan bapaknya, sambil mengobrol dengan temannya dia berjalan pulang. Karena masih siang, dia berencana ke warung Partodi, sekali lagi dia kecewa warungnya tutup.
"Kemana sih Partodi ini, tadi nutup sekarang masih nutup. Biasanya gak begini" umpat Fasa, gagal sudah niatnya jajan sembari pulang.

-----

Selang beberapa saat mengulum penis Dimas, Dewi mengalihkan kuluman pada penis Aris yang dipegangnya sedangkan Partodi masih terus mendorong keluar masuk penisnya dalam memek Dewi semakin cepat. Aris tidak bertahan lama menerima serangan mulut Dewi, walau ketiga pemuda telah berjanji tidak akan berbicara sedikitpun tapi Aris melanggar kesepakatan mereka.
"Isep terus... yaaa huh ohhhhh yaaa OOHHhhhh emmm ah!" Aris menembakan air maninya dalam mulut Dewi. Badan Aris menegang. Dewi menelan tiap tetes air mani yang ditumpahkan di mulutnya, diperahnya kepala penis Aris mengeluarkan sisa air maninya sambil menjilatinya. Aris kelojotan lalu baring kelelahan di sebelah badan Dewi.

Setelah melepas penis Aris, Dewi mengocok penis Dimas. Kepalanya terdongak saat Partodi mempercepat genjotannya. Buah dadanya mengayun sesuai irama hentakan penis Partodi.
"Yaaaah... yang kencang.... doronggggg uhhh uhhh uhhh emmm" jerit Dewi hendak mencapai orgasme.

-----

Fasa mendekati rumahnya, saat ia hampir mengetuk pintu, ia mendengar erangan dan rintihan ibunya. Dia sangat mengenali erangan itu. Erangan itu hanya terjadi saat bapaknya ada di rumah saja, dia melihat sekitar, di tengoknya di jalan raya Truk yang dikemudikan ayahnya tidak ada, ayahnya belum pulang. Perlahan-lahan, Fasa mendorong pintu yang memang agak terbuka.

-----

Partodi mempercepat ayunan penisnya mengocok memek Dewi.
"Ahhh aku mau keluar nih!"
Dimas yang sedang keenakan penisnya dihisapi oleh Dewi menoleh ke arah Partodi.

Fasa mendekati kamar ibunya. Dengan pintu terbuka lebar dan lampu terang menyala, dia dapat melihat segalanya. Di atas ranjang ibunya dikangkangi seorang lelaki berperut buncit berpakaian hitam, celananya merosot sampai lutut mengayunkan pantat pada ibunya. Seorang lagi berpakaian sama berada dekat kepala ibunya, dari celah kakinya Fasa melihat pria itu mendorong burungnya keluar masuk mulut ibunya sedangkan ibunya menghisap batang penis orang itu dengan bernafsu seperti dirinya saat makan Es krim yang dibeli di warung Partodi.

Seorang lagi kelihatan terlentang di sebelah ibunya seperti sedang tidur kecapekan. Orang ini juga merosotkan celananya, kelihatan oleh Fasa penis orang ini kecil, mengerut dengan bulu jembut di bawah perutnya. Fasa menutup mulut menahan tawa melihat ukuran burung orang ini, jauh lebih kecil dari pada burung miliknya.

Orang yang berada di atas paha ibunya tampak sedang bersungguh-sungguh mengerjakan sesuatu, setelah diperhatikan ternyata orang itu sedang menusukkan burungnya yang hitam berkilat pada bagian bawah ibunya keluar masuk. Ibunya tampak mengarahkan kemaluannya menyambut tiap ayunan selangkangan orang itu, seperti ingin ditusuk semakin dalam. Fasa juga melihat rambut kemaluan ibunya yang tipis seolah menyatu dengan rambut kemaluan orang itu yang lebih rimbun.

"Kamu keluarin diluar, aku gak mau memeknya terlalu banjir," kata Dimas.
"Aku tau, aku tau" jawab Partodi sambil tetap mengayunkan penisnya dengan cepat.
"Yaa... tak apa... keluarin aja di mulut Dewi... ohhh kocok terussss!" sambil tangannya mengocok penis Dimas
"Ummmm yaaa aku mau keluar niiii" cepat-cepat Partodi memegang pangkal penisnya dean segera mendorongkan pada mulut Dewi. Dewi langsung menggapai batang penis Partodi sambil menghisapnya kuat-kuat dengan mulut. Partodi segera menembakan air maninya memenuhi mulut Dewi. Panas berhamburan air mani Partodi dan Dewi berusaha menelan secepat mungkin agar tidak mengganggu pernafasannya.

Bingung juga saat Fasa melihat ibunya meminum air kencing lelaki itu lahap sekali.

Sementara Dimas mengambil alih posisi Partodi tadi dengan memasukkan kelaminnya dalam memek Dewi dan mulai menggenjot.
"Ohhhhh emmmm" Dewi mengerang. Partodi rubuh terlentang di sebelahnya.
Fasa melihat batang penis hitamnya mengecil tapi masih besar, jauh lebih besar dibanding temannya yang telentang di sebelah sana.

Kali ini Dewi duduk merangkul badan lelaki yang menyetubuhinya sekarang. Dimas yang sedari tadi menahan air maninya menyembur mengayun penisnya perlahan untuk bertahan. Dewi yang menyadari gerakan Dimas bergerak lembut, sejenak mengumpulkan tenaga. Kemudian barulah Dimas menggenjotnya dengan agak keras.
"Tusuk bang... ohhh... Dewi mau keluar juga nih uhhhh" Dewi memegang tangan Dimas yang berdiri di depannya, dia merasakan bekas luka di tangan itu tapi dia juga turut menggoyangkan pinggulnya menjemput orgasme. Memeknya diempot-empot ayamkan pada bata"ng penis Dimas yang keluar masuk dengan cepat.

Aris bangun kembali menonton Dewi dengan Dimas bersetubuh, tangannya mengocok penis yang kembali menegang. Dia ingin merasakan memeknya Dewi dengan batang penisnya malam ini.
"Yaaa emmm yaaa dikit lagi, goyangg terusss... terusss aaaa Dewi keluaaaaaar niiiii"
"Oh ! Ahh!"

Dimas mencabut penisnya lalu menembakan air mani di atas perut Dewi , berloncatan dari lubang kencing. Dewi menggapai batang penis yang berejakulasi, membantu mengocokinya mengeluarkan air mani yang banyak dan kental.

"Itu bukan air kencing" pikir Fasa. Dia merasakan burung miliknya mengeras dibalik celana. Tangannya meremasi burungnya dan merasakan semacam nikmat.

Dewi kembali membaringkan kepalanya di bantal sambil menarik nafas panjang. Dimas rubuh telentang di atas lantai. Air mani Dimas menggumpal dan meleleh di atas perut Dewi, pelan-pelan Dewi mengambil selimut di sebelahnya membersihkan air mani itu.

"Mbak, saya ingin sekali" tanya Aris.
Dewi menatap mata Aris yang juling dan memakai penutup wajah. Pandangan Dewi beralih ke jam dinding, masih jam 7.30, Fasa pulang jam 8. Masih sempat pikirnya.
"Sekali aja ya" sambil membuka selangkangannya kembali.
Aris mengarahkan posisinya dan mendorong penisnya dengan bertenaga, sekali saja pangkal penisnya didorong, masuk seluruhnya dalam memek Dewi yang empot-empotan.
"Oh!" ringis Dewi. Dia hanya menahan genjotan Aris.
Aris mulai mengayunkan pompaan penisnya. Pelan awalnya, tapi tak lama kemudian berubah menjadi genjotan yang cepat.
"Jangan nafsu gitu dong, pelan-pelan aja" tegur Dewi.
"Saya gak tahan mbak... empotan mbak kuat banget"
Dewi tahu anak muda yang menyetubuhinya tak kan lama bertahan.
"Crott di dalem mbak aja, mbak gak papa"
"Oohhhh ah" Aris akhirnya melepaskan air maninya ke dalam rahim Dewi. Dia telungkup di atas badan Dewi.

Dimas dan Partodi berdiri dan membetulkan celana yang dipakainya masing-masing. Dewi masih mengangkang di atas ranjang, pelan-pelan dia dorong tubuh Aris ke sebelahnya.
"Temennya udah mau pulang tuh" bisik Dewi.
"Makasih banget ya mbak"

Dewi melihat ke dalam mata Aris lalu berpaling pada jam dinding. Aris turut bergegas memakai pakaiannya kembali. Dimas menghampiri sambil meremas buah dada Dewi. Partodi menusukan dua jarinya pada memek Dewi yang mengalirkan air mani Aris di atas sprei. Aris hanya menggenggam tangan Dewi.
"Terima kasih mbak."

Fasa sudah bersembunyi di kamarnya, dia dengar langkah kaki keluar dari rumahnya. Fasa memperosotkan celananya, mengeluarkan burungnya yang besar dan panjang sambil mengocoknya. Sensasi nikmat dirasakan syaraf badannya. Berdiri dekat pintu kamarnya, Fasa terus mengocok, dalam pikirannya terulang kejadian yang baru dia lihat di kamar ibunya, kocokannya makin cepat.

Dewi berdiri perlahan-lahan, rasa pegal di badannya terutama di pangkal pahanya hilang saat berdiri. Air mani orang ketiga yang menyetubuhinya meleleh menyusuri bagian dalam pahanya dari memeknya. Dewi menggeliatkan badan beberapa kali. Kini hampir jam 8, Fasa bentar lagi pulang pikirnya. Dengan bertelanjang bulat dia keluar kamar mengambil handuk yang ada di ruang tamu rumahnya setelah dilepas ketiga pemuda tadi. Di luar kamar dia melihat pintu rumah sudah rapat ditutup ketiga orang tadi. Dia melihat handuknya tergeletak dekat kursi.

Saat Dewi melewati kamar anaknya, dia mendengar suara erangan dari sana. Pelan-pelan dia dorong pintu kamar Fasa, dengan mulut menganga dia melihat Fasa berdiri dengan agak membungkuk mengocok burungnya yang besar dan panjang. Mata Fasa terpejam. Dewi tak menyangka burung anaknya sudah hampir sebesar milik bapaknya Fasa. Tanpa sadar dia menghampiri Fasa.

----- ----- ----- -----

Masih jelas dalam pikiran Fasa, bayangan bagaimana si lelaki bertopeng itu memasukkan burungnya yang hitam ke dalam memek ibunya sampai-sampai ibunya mendesis dan mengerang seperti erangan yang biasanya selalu didengar setiap bapaknya ada di rumah. Tangan Fasa mengurut burungnya lagi. Lendir pelicin yang keluar dari ujung burungnya semakin banyak membuat kocokannya semakin lancar. Tiba-tiba Fasa merasakan bahunya dipegangi orang. Fasa membuka matanya. Dia melihat ibunya yang masih bertelanjang bulat berada di hadapannya.

"Ibu!" seru Fasa sambil memeluk ibunya. Dua buah dada ibunya menempel rapat pipinya.
"Gak apa-apa Fasa... gak papa" sambil membelai kepala anak tunggalnya itu. Dia membawa anaknya duduk di tepian ranjang. Fasa cuma menurut.
"Udah lama Fasa pulangnya?" Fasa menganggukkan kepalanya.
"Gurunya gak jadi ngajar di kelas malam ini. Miss Sarah gak bisa datang. Pak Lili cuman nagih iuran aja" Fasa mendongak melihat wajah ibunya yang cantik, berwajah lonjong dengan bibir tipis. Ibunya masih terus membelai rambutnya. Tangan Fasa masih terus memeluk pinggang ibunya. Burungnya yang keras tadi kini agak mengendur tapi masih saja besar mengembang. Kelihatan di ujung kepala burungnya masih meleleh air precum menjuntai.

"Fasa tadi ngelihat apa yang terjadi sama ibu di kamar ibu?" Fasa menganggukkan kepala.
"Siapa sih mereka itu?"
"Ibu juga gak tau" walau pun dalam pikirannya Dewi sudah bisa menebak siapa sebenarnya mereka bertiga itu.
"Memangnya kenapa mereka datang ke rumah kita bu?"
"Gak tau….eeemmm mungkin mereka ingin bersenang-senang dengan ibu"
"Bersenang-senang???" Fasa heran.
"Iyaaa..., bersenang-senang… orang dewasa tuh bersenang-senang dengan cara mereka sendiri"
"Ibu gak papa?"
"Nggak kok... eh, emmm ibu juga tadi ikut bersenang-senang"
"Tapi kenapa mereka pakai topeng?"
"Karena... karena mereka cuma mau bersnang-senang sama ibu tapi gak mau dikenalin sama ibu"
"Ribet banget"
"Emang ribet, tapi emang gitu mereka inginnya"

Perlahan-lahan Dewi memegang batang burung anaknya.
"Bisa nggak Fasa rahasiakan kejadian malam ini?" tangannya mulai mengocoki kontol anaknya.
Fasa mendesis sambil matanya melotot-lotot melihat wajah ibunya.
"Fasa janji Fasa gak bakal bilangin orang lain" Janji Fasa sambil menunduk melihat tangan ibunya membelai kepala burungnya.
"Siapapun?" tanya Dewi.
"Siapapun" jawab Fasa.
"Ke bapak juga nggak?"
"Ke bapak juga nggak"

Dewi terus mengocoki kontol anaknya. Tangan Fasa mulai bermain dengan buah dada ibunya.
"ooohhhhh..." erang Fasa.
"Enak...?" tanya ibunya.
"Emmm iyaaa... bu".
Dewi berdiri.
"Fasa tiduran biar ibu bantu kocokin"
Fasa mengikuti perintah ibunya seperti disihir. Hatinya gembira dan berdebar-debar. Dewi mulai kembali mengocoki kontol anaknya. Fasa cuma mengangkat kepala di atas bantal untuk melihat perilaku ibunya. Perlahan dia melihat ibunya menunduk dan memasukkan burungnya ke dalam mulut. Hangat. Enak banget.

"Ahhhhh Ummmmm..." Desis Fasa.