Browsing "Older Posts"

Namaku Hendriansyah, biasa dipanggil Hendri. Saat ini aku kuliah di salah satu Akademi Pariwisata sambil bekerja di sebuah hotel bintang lima di Denpasar, Bali. Kisah yang aku ceritakan ini adalah kisah nyata yang terjadi terjadi saat aku masih duduk di kelas II SMA, di kota Jember, Jawa Timur.

Saat itu aku tinggal di sebuah gang di pusat kota Jember. Di depan rumahku tinggalah seorang wanita, Nia Ramawati namanya, tapi ia biasa dipanggil Ninik. Usianya saat itu sekitar 24 tahun, karena itu aku selalu memanggilnya Mbak Ninik. Ia bekerja sebagai kasir pada sebuah departemen store di kotaku. Ia cukup cantik, jika dilihat mirip bintang sinetron Sarah Vi, kulitnya putih, rambutnya hitam panjang sebahu. Namun yang paling membuatku betah melihatnya adalah buah dadanya yang indah. Kira-kira ukurannya 36B, buah dada itu nampak serasi dengan bentuk tubuhnya yang langsing.

Keindahan tubuh Mbak Ninik tampak semakin aduhai saat aku melihat pantatnya. Kali ini aku tidak bisa berbohong, ingin sekali kuremas-remas pantatnya yang aduhai itu. Bahkan jika Mbak Ninik memintaku mencium pantatnya akan kulakukan. Satu hal lagi yang membuatku betah melihatnya adalah bibirnya yang merah. Ingin sekali aku mencium bibir yang merekah itu. Tentu akan sangat nikmat saat membayangkan keindahan tubuhnya.

Setiap pagi saat menyapu teras rumahnya, Mbak Ninik selalu menggunakan kaos tanpa lengan dan hanya mengenakan celana pendek. Jika ia sedang menunduk, sering kali aku melihat bayangan celana dalamnya berbentuk segi tiga. Saat itu penisku langsung berdiri dibuatnya. Apalagi jika saat menunduk tidak terlihat bayangan celana dalamnya, aku selalu berpikir, wah pasti ia tidak memakai celana dalam. Kemudian aku membayangkan bagaimana ya tubuh Mbak Ninik jika sedang bugil, rambut vaginanya lebat apa tidak ya. Itulah yang selalu muncul dalam pikiranku setiap pagi, dan selalu penisku berdiri dibuatnya. Bahkan aku berjanji dalam hati jika keinginanku terkabul, aku akan menciumi seluruh bagian tubuh Mbak Ninik. Terutama bagian pantat, buah dada dan vaginanya, akan kujilati sampai puas.

Malam itu, aku pergi ke rumah Ferri, latihan musik untuk pementasan di sekolah. Kebetulan orang tua dan saudaraku pergi ke luar kota. Jadi aku sendirian di rumah. Kunci kubawa dan kumasukkan saku jaket. Karena latihan sampai malam aku keletihan dan tertidur, sehingga terlupa saat jaketku dipakai Baron, temanku yang main drum. Aku baru menyadari saat sudah sampai di teras rumah.

"Waduh kunci terbawa Baron," ucapku dalam hati. Padahal rumah Baron cukup jauh juga. Apalagi sudah larut malam, sehingga untuk kembali dan numpang tidur di rumah Ferri tentu tidak sopan. Terpaksa aku tidur di teras rumah, ya itung-itung sambil jaga malam.
"Lho masih di luar Hen.."
Aku tertegun mendengar sapaan itu, ternyata Mbak Ninik baru pulang.
"Eh iya.. Mbak Ninik juga baru pulang," ucapku membalas sapaannya.
"Iya, tadi setelah pulang kerja, aku mampir ke rumah teman yang ulang tahun," jawabnya.
"Kok kamu tidur di luar Hen."
"Anu.. kuncinya terbawa teman, jadi ya nggak bisa masuk," jawabku.
Sebetulnya aku berharap agar Mbak Ninik memberiku tumpangan tidur di rumahnya. Selanjutnya Mbak Ninik membuka pintu rumah, tapi kelihatannya ia mengalami kesulitaan. Sebab setelah dipaksa-paksa pintunya tetap tidak mau terbuka. Melihat hal itu aku segera menghampiri dan menawarkan bantuan.

"Kenapa Mbak, pintunya macet.."
"Iya, memang sejak kemarin pintunya agak rusak, aku lupa memanggil tukang untuk memperbaikinya." jawab Mbak Ninik.
"Kamu bisa membukanya, Hen." lanjutnya.
"Coba Mbak, saya bantu." jawabku, sambil mengambil obeng dan tang dari motorku.
Aku mulai bergaya, ya sedikit-sedikit aku juga punya bakat Mc Gayver. Namun yang membuatku sangat bersemangat adalah harapan agar Mbak Ninik memberiku tumpangan tidur di rumahnya.

"Kletek.. kletek.." akhirnya pintu terbuka. Aku pun lega.
"Wah pinter juga kamu Hen, belajar dari mana."
"Ah, nggak kok Mbak.. maklum saya saudaranya Mc Gayver," ucapku bercanda.
"Terima kasih ya Hen," ucap Mbak Ninik sambil masuk rumah.
Aku agak kecewa, ternyata ia tidak menawariku tidur di rumahnya. Aku kembali tiduran di kursi terasku. Namun beberapa saat kemudian. Mbak Ninik keluar dan menghampiriku.
"Tidur di luar tidak dingin. Kalau mau, tidur di rumahku saja Hen," kata Mbak Ninik.
"Ah, nggak usah Mbak, biar aku tidur di sini saja, sudah biasa kok, "jawabku basa-basi.
"Nanti sakit lho. Ayo masuk saja, nggak apa-apa kok.. ayo."
Akhirnya aku masuk juga, sebab itulah yang kuinginkan.

"Mbak, saya tidur di kursi saja."
Aku langsung merebahkan tubuhku di sofa yang terdapat di ruang tamu.
"Ini bantal dan selimutnya Hen."
Aku tersentak kaget melihat Mbak Ninik datang menghampiriku yang hampir terlelap. Apalagi saat tidur aku membuka pakaianku dan hanya memakai celena pendek.
"Oh, maaf Mbak, aku terbiasa tidur nggak pakai baju," ujarku.
"Oh nggak pa-pa Hen, telanjang juga nggak pa-pa."
"Benar Mbak, aku telanjang nggak pa-pa," ujarku menggoda.
"Nggak pa-pa, ini selimutnya, kalau kurang hangat ada di kamarku," kata Mbak Ninik sambil masuk kamar.

Aku tertegun juga saat menerima bantal dan selimutnya, sebab Mbak Ninik hanya memakai pakaian tidur yang tipis sehingga secara samar aku bisa melihat seluruh tubuh Mbak Ninik. Apalagi ia tidak mengenakan apa-apa lagi di dalam pakaian tidur tipis itu. Aku juga teringat ucapannya kalau selimut yang lebih hangat ada di kamarnya. Langsung aku menghampiri kamar Mbak Ninik. Ternyata pintunya tidak ditutup dan sedikit terbuka. Lampunya juga masih menyala, sehingga aku bisa melihat Mbak Ninik tidur dan pakaiannya sedikit terbuka. Aku memberanikan diri masuk kamarnya.

"Kurang hangat selimutnya Hen," kata Mbak Ninik.
"Iya Mbak, mana selimut yang hangat," jawabku memberanikan diri.
"Ini di sini," kata Mbak Ninik sambil menunjuk tempat tidurnya.
Aku berlagak bingung dan heran. Namun aku mengerti Mbak Ninik ingin aku tidur bersamanya. Mungkin juga ia ingin aku.., Pikiranku melayang kemana-mana. Hal itu membuat penisku mulai berdiri. Terlebih saat melihat tubuh Mbak Ninik yang tertutup kain tipis itu.

"Sudah jangan bengong, ayo sini naik," kata Mbak Ninik.
"Eit, katanya tadi mau telanjang, kok masih pakai celana pendek, buka dong kan asyik," kata Mbak Ninik saat aku hendak naik ranjangnya.
Kali ini aku benar-benar kaget, tidak mengira ia langsung memintaku telanjang. Tapi kuturuti kemauannya dan membuka celana pendek berikut cekana dalamku. Saat itu penisku sudah berdiri.
"Ouww, punyamu sudah berdiri Hen, kedinginan ya, ingin yang hangat," katanya.
"Mbak nggak adil dong kalau hanya aku yang bugil, Mbak juga dong," kataku.
"OK Hen, kamu mau membukakan pakaianku."
Kembali aku kaget dibuatnya, aku benar-benar tidak mengira Mbak Ninik mengatakan hal itu. Ia berdiri di hadapanku yang sudah bugil dengan penis berdiri. Aku memang baru kali ini tidur bersama wanita, sehingga saat membayangkan tubuh Mbak Ninik penisku sudah berdiri.

"Ayo bukalah bajuku," kata Mbak Ninik.
Aku segera membuka pakaian tidurnya yang tipis. Saat itulah aku benar-benar menyaksikan pemandangan indah yang belum pernah kualami. Jika melihat wanita bugil di film sih sudah sering, tapi melihat langsung baru kali ini.

Setelah Mbak Ninik benar-benar bugil, tanganku segera melakukan pekerjaannya. Aku langsung meremas-remas buah dada Mbak Ninik yang putih dan mulus. Tidak cuma itu, aku juga mengulumnya. Puting susunya kuhisap dalam-dalam. Mbak Ninik rupanya keasyikan dengan hisapanku. Semua itu masih dilakukan dengan posisi berdiri.

"Oh, Hen nikmat sekali rasanya.."
Aku terus menghisap puting susunya dengan ganas. Tanganku juga mulai meraba seluruh tubuh Mbak Ninik. Saat turun ke bawah, tanganku langsung meremas-remas pantat Mbak Ninik. Pantat yang padat dan sintal itu begitu asyik diremas-remas. Setelah puas menghisap buah dada, mulutku ingin juga mencium bibir Mbak Ninik yang merah.

"Hen, kamu ahli juga melakukannya, sudah sering ya," katanya.
"Ah ini baru pertama kali Mbak, aku melakukan seperti yang kulihat di film blue," jawabku.
Aku terus menciumi tiap bagian tubun Mbak Ninik. Aku menunduk hingga kepalaku menemukan segumpal rambut hitam. Rambut hitam itu menutupi lubang vagina Mbak Ninik. Bulu vaginanya tidak terlalu tebal, mungkin sering dicukur. Aku mencium dan menjilatinya. Tanganku juga masih meremas-remas pantat Mbak Ninik. Sehingga dengan posisi itu aku memeluk seluruh bagian bawah tubuh Mbak Ninik.

"Naik ranjang yuk," ucap Mbak Ninik.
Aku langsung menggendongnya dan merebahkan di ranjang. Mbak Ninik tidur dengan terlentang dan paha terbuka. Tubuhnya memang indah dengan buah dada yang menantang dan bulu vaginanya yang hitam indah sekali. Aku kembali mencium dam menjilati vagina Mbak Ninik. Vagina itu berwarna kemerahan dan mengeluarkan bau harum. Mungkin Mbak Ninik rajin merawat vaginanya. Saat kubuka vaginanya, aku menemukan klitorisnya yang mirip biji kacang. Kuhisap klitorisnya dan Mbak Ninik menggeliat keasyikan hingga pahanya sedikit menutup. Aku terjepit diantara paha mulus itu terasa hangat dan nikmat.

"Masih belum puas menjilatinya Hen."
"Iya Mbak, punyamu sungguh asyik dinikmati."
"Ganti yang lebih nikmat dong."
Tanpa basa-basi kubuka paha mulus Mbak Ninik yang agak menutup. Kuraba sebentar bulu yang menutupi vaginanya. Kemudian sambil memegang penisku yang berdiri hebat, kumasukkan batang kemaluanku itu ke dalam vagina Mbak Ninik.

"Oh, Mbak ini nikmatnya.. ah.. ah.."
"Terus Hen, masukkan sampai habis.. ah.. ah.."
Aku terus memasukkan penisku hingga habis. Ternyata penisku yang 17 cm itu masuk semua ke dalam vagina Mbak Ninik. Kemudian aku mulai dengan gerakan naik turun dan maju mundur.
"Mbak Ninik.. Nikmaat.. oh.. nikmaatt seekalii.. ah.."
Semakin lama gerakan maju mundurku semakin hebat. Itu membuat Mbak Ninik semakin menggeliat keasyikan.
"Oh.. ah.. nikmaatt.. Hen.. terus.. ah.. ah.. ah.."

Setelah beberapa saat melakukan maju mundur, Mbak Ninik memintaku menarik penis. Rupanya ia ingin berganti posisi. Kali ini aku tidur terlentang. Dengan begitu penisku terlihat berdiri seperti patung. Sekarang Mbak Ninik memegang kendali permainan. Diremasnya penisku sambil dikulumnya. Aku kelonjotan merasakan nikmatnya kuluman Mbak Ninik. Hangat sekali rasanya, mulutnya seperti vagina yang ada lidahnya. Setelah puas mengulum penisku, ia mulai mengarahkan penisku hingga tepat di bawah vaginanya. Selanjutnya ia bergerak turun naik, sehingga penisku habis masuk ke dalam vaginanya.

"Oh.. Mbak Ninik.. nikmaatt sekali.. hangat dan oh.."
Sambil merasakan kenikmatan itu, sesekali aku meremas-remas buah dada Mbak Ninik. Jika ia menunduk aku juga mencium buah dada itu, sesekali aku juga mencium bibir Mbak Ninik.
"Oh Hen punyamu Oke juga.. ah.. oh.. ah.."
"Punyamu juga nikmaat Mbaak.. ah.. oh.. ah.."
Mbak Ninik rupanya semakin keasyikan, gerakan turun naiknya semakin kencang. Aku merasakan vagina Mbak Ninik mulai basah. Cairan itu terasa hangat apalagi gerakan Mbak Ninik disertai dengan pinggulnya yang bergoyang. Aku merasa penisku seperti dijepit dengan jepitan dari daging yang hangat dan nikmat.

"Mbak Ninik.. Mbaakk.. Niikmaatt.."
"Eh.. ahh.. oohh.. Hen.. asyiikk.. ahh.. ennakk.. nikmaatt.."
Setelah dengan gerakan turun naik, Mbak Ninik melepas penisku. Ia ingin berganti posisi lagi. Kali ini ia nungging dengan pantat menghadapku. Nampak olehku pantatnya bagai dua bantal yang empuk dengan lubang nikmat di tengahnya. Sebelum kemasukan penisku, aku menciumi dahulu pantat itu. Kujilati, bahkan hingga ke lubang duburnya. Aku tak peduli dengan semua hal, yang penting bagiku pantat Mbak Ninik kini menjadi barang yang sangat nikmat dan harus kunikmati.

"Hen, ayo masukkan punyamu aku nggak tahaan nih," kata Mbak Ninik.
Kelihatannya ia sudah tidak sabar menerima hunjaman penisku.
"Eh iya Mbak, habis pantat Mbak nikmat sekali, aku jadi nggak tahan," jawabku.
Kemudian aku segera mengambil posisi, kupegang pantatnya dan kuarahkan penisku tepat di lubang vaginanya. Selanjutnya penisku menghunjam dengan ganas vagina Mbak Ninik. Nikmat sekali rasanya saat penisku masuk dari belakang. Aku terus menusuk maju mundur dan makin lama makin keras.

"Oh.. Aah.. Hen.. Ooohh.. Aah.. Aaahh.. nikmaatt Hen.. terus.. lebih keras Hen.."
"Mbak Ninik.. enak sekalii.. niikmaatt sekaalii.."
Kembali aku meraskan cairan hangat dari vagina Mbak Ninik membasahi penisku. Cairan itu membuat vagina Mbak Ninik bertambah licin. Sehingga aku semakin keras menggerakkan penisku maju mundur.Mbak Ninik berkelonjotan, ia memejamkan mata menahan rasa nikmat yang teramat sangat. Rupanya ia sudah orgasme. Aku juga merasakan hal yang sama.

"Mbak.. aku mau keluar nih, aku nggak tahan lagi.."
Kutarik penisku keluar dari lubang duburnya dan dari penisku keluar sperma berwarna putih. Sperma itu muncrat diatas pantat Mbak Ninik yang masih menungging. Aku meratakan spermaku dengan ujung penisku yang sesekali masih mengeluarkan sperma. Sangat nikmat rasanya saat ujung penisku menyentuh pantat Mbak Ninik.
"Oh, Mbak Ninik.. Mbaak.. nikmat sekali deh.. Hebat.. permainan Mbak bener-bener hebat.."
"Kamu juga Hen, penismu hebat.. hangat dan nikmat.."

Kami berpelukan di ranjang itu, tak terasa sudah satu jam lebih kami menikmati permainan itu. Selanjutnya karena lelah kami tertidur pulas. Esok harinya kami terbangun dan masih berpelukan. Saat itu jam sudah pukul 09:30 pagi.

"Kamu nggak sekolah Hen," tanya Mbak Ninik.
"Sudah terlambat, Mbak Ninik tidak bekerja."
"Aku masuk sore, jadi bisa bangun agak siang.."
Kemudian Mbak Ninik pergi ke kamar mandi. Aku mengikutinya, kami mandi berdua dan saat mandi kembali kami melakukan permainan nikmat itu. Walaupun dengan posisi berdiri, tubuh Mbak Ninik tetap nikmat. Akhirnya pukul 14:30 aku pergi ke rumah Baron dan mengambil kunci rumahku. Tapi sepanjang perjalanan aku tidak bisa melupakan malam itu. Itulah saat pertama aku melakukan permainan nikmat dengan seorang wanita.

Kini saat aku kuliah dan bekerja di Denpasar, aku masih sering mengingat saat itu. Jika kebetulan pulang ke Jember, aku selalu mampir ke rumah Mbak Ninik dan kembali menikmati permainan nikmat. Untung sekarang ia sudah pindah, jadi kalau aku tidur di rumah Mbak Ninik, orang tuaku tidak tahu. Kubilang aku tidur di rumah teman SMA. Sekali lagi ini adalah kisah nyata dan benar-benar terjadi.

Gara-gara kunci rumah tertinggal

By Lucy → 28 August 2019
Perkenalkan namaku Rendi, umurku saat ini 20 tahun. Kuliah dikota S yang terkenal dengan sopan santunnya. Aku anak kedua setelah kakakku Ana. Ibuku bekerja sebagai pegawai negeri sipil dan ayahku juga bekerja di kantor. Tinggi badanku biasa saja layaknya anak seusiaku yakni 169 kg. Di situs ini aku akan menceritakan kisah unikku. Pengalaman pertama dengan apa yang namanya sex. Kisah ini masih aku ingat selamanya karena pengalaman pertama memang tak terlupakan.

Aku punya teman sebayaku namanya Putri, dia juga duduk di bangku SD. Aku dan dia sering main bersama. Dia anak yang sangat manis dan manja. Dia mempunyai dua kakak. Kakak pertama namanya Rio di sudah bekerja di Jakarta. Dan kakaknya yang satu lagi namanya Linda. Saat itu dia kuliah semester 4 jurusan akuntansi salah satu perguruan tinggi di kota kelahiranku. Dia lebih cantik dari pada adiknya Putri. Tingginya kira kira 160 cm dan ukuran payudaranya cukup seusianya tidak besar banget tapi kenceng.

Waktu itu hari sangat panas, aku dan Putri sedang main dirumahnya. Maklum rumahku dan rumahnya bersebelahan. Saat itu ortu dari Putri sedang pergi ke Bandung untuk beli kain. Putri ditinggal bersama kakaknya Linda.

"Main dokter dokter yuk, aku bosen nich mainan ini terus"ajak Putri

Segera aku siapkan mainannya. Aku jadi dokter dan dia jadi pasiennya. Waktu aku periksa dia buka baju. Kami pun melakukan seperti itu biasa karena belum ada naluri seperti orang dewasa, kami menganggap itu mainan dan hal itu biasa karena masih kecil. Waktu aku pegang stetoskop dan menyentuhkannya didadanya. Aku tidak tahu perasaanya. Tapi aku menganggapnya mainan. Waktu itu pintu tiba tiba terbuka. Linda pulang dari kampusnya. Dengan masih telanjang dada Putri menghampiri kakaknya di depan pintu masuk.

"Hai kak baru pulang dari kampus" "Ngapain kamu buka baju segala" Kak Linda memandangi adiknya. "Kita lagi main dokter dokteran, aku pasiennya sedangkan Rendi jadi dokternya, tapi sepi kak masa pasiennya cuma satu. Kakak lelah nggak. Ikutan main ya kak?" "Oh mainan toh... Ya sudah aku nyusul, aku mau ganti pakaian dulu gerah banget nih"

Kami bertiga pun segera masuk ke kamar lagi, aku dan Putri asyik main dan Kak Linda merebahkan tubuhnya ditempat tidur disamping kami. Aku melihat Kak Linda sangat cantik ketika berbaring. Setelah beberapa menit kemudian dia memperhatikan kami bermain dan dia terbengong memikirkan sesuatu.

"Ayo Kak cepetan, malah bengong" ajak Putri pada kakaknya.

Lalu dia berdiri membuka lemari. Dia kepanasan karena udaranya. Biasanya dia menyuruh kami tunggu di luar ketika dia ganti baju

"Ayo tutup mata kalian, aku mau ganti nih soalnya panas banget" Kak Linda menyuruh kami.

Dia melepaskan pakaian satu persatu dari mulai celana panjangnya, dia memakai cd warna putih berenda dengan model g-string. Saat itu dia masih dihadapan kami. Tertampang paha putih bersih tanpa cacat. Setelah itu dia melepas kemejanya dicopotnya kancing stu perstu. Setelah terbuka seluruh kancingnya, aku dapat melihat bra yang dipakainya. Lalu dia membelakangi kami, dia juga melepas branya setelah kemejanya ditanggalkan. Aku pun terbengong melihatnya karena belum pernah aku melihat wanita dewasa telanjang apa lagi ketika aku melihat pantatnya yang uuuhhh. Dia memilih baju agak lama, otomatis aku melihat punggungnya yang mulus dan akhirnya dia memakai baby doll dengan potongan leher rendah sekali tanpa bra dan bahannya super tipis kelihatan putingnya yang berwarna coklat muda. Kulitnya sangat putih dan mulus lebih putih dari Putri. Putri melihatku.

"Rendi koq bengong belum lihat kakakku buka baju ya? Lagian kakak buka baju nggak nyuruh kita pergi." Kak Linda ngomel,"Idih kalian masih kecil belum tahu apa apa lagian juga aku nggak ngelihatin kalian langsung. Mau lihat ya Ren?"dia bercanda. Akupun menundukan mukaku karena malu."Tapikan kak, susunya kakak sudah gede segitu apa nggak malu ama Rendi." Putri menjawab ketus."Kamu aja telanjang kayak itu apa kamu juga nggak malu sudah ayo main lagi." Linda menjawab adiknya. Kami pun bermain kembali.

Giliran Kak Linda aku periksa. Dia menyuruh aku memeriksanya, dia agak melongarkan bajunya. Ketika stetoskop aku masukkan di dalam bajunya lewat lubang lehernya, tepat kena putingnya. Dia memekik. Aku pun kaget tapi aku pun tidak melihatnya karena malu. Dia menyuruhku untuk untuk lama lama didaerah itu. Dia merem melek kayak nahan sesuatu, dipegangnya tanganku lalu ditekan tekan daerah putingnya. Aku merasa sesuatu mengeras.

"Kak ngapain... Emang enak banget diperiksa... Kayak orang sakit beneran banget." Putri Tanya ama kakaknya. Kak Linda pun berhenti."Yuk kita mandi soalnya sudah sore lagikan kamu Putri ada les lho nanti kamu ketinggalan." Ajak Kak Linda pada kami berdua. Dia menyuruh bawa handuk ama baju ganti.

Setelah mengisi air, aku pun membuka bajuku tanpa ada beban yang ada dan telanjang bulat begitu juga ama Putri. Kamipun bermain air di bathup. Kamar mandi disini amat mewah ada shower bathup dan lain lain lah, maklum dia anak terkaya dikampungku. Setelah itu pintu digedor ama kakaknya dia suruh buka pintu kamar mandinya. Aku pun membukanya. Kak Linda melihatku penuh kagum sambil menatap bagian bawahku yang sudah tanpa pelindung sedikitpun, aku baru tahu itu namanya lagi horny. Lalu dia masuk segera di membuka piyama mandinya. Jreng... Hatiku langsung berdetak kencang, dia menggunakan bra tranparan ama cd yang tadi dia pake dihadapan kami.

"Bolehkan mandi bersama kalian lagian kalian kan masih anak kecil." "Ihh... Kakak... Punya kakak itu menonjol" ledek adiknya.

Dia hanya tersenyum menggoda kami terutama aku."biarin"sambil dia pegang sendiri putting dia menjawab lalu dia membasahi badannya ama air di shower. Makin jelas apa yang nama payudara cewek lagi berkembang. Beitu kena air dari shower bra Kak Linda agak melorot kebawah. Lucu banget bentuknya pikirku. Payudaranya hendak seakan melompat keluar.

"Ayo cepat turun dulu, aku kasih busa di bathupnya... ".

Putri bergegas keluar tapi aku tidak, aku takut kalau ketahuan anuku mengeras, aku malu banget. Baru kali ini aku mengeras gede banget. Lalu Kak Linda mendekat dan melihatku serta menyuruhku untuk turun. Aku turun dengan tertunduk muka Kak Linda melihat bagian bawahku yang sudah mengeras sama pada waktu aku bermain tapi bedanya sekarang langsung dihadapan mata. Dia hanya tersenyum padaku. Aku kira dia marah. Dia kayak sengaja menyenggol senjataku dengan paha mulusnya.

"Ooohh... Apa itu... " (pura pura dia tidak tahu) Putripun tertawa melihatnya. "Itu yang dinamakan senjatanya laki laki yang lagi mengeras tapi culun ya kalau belum disunat" Kak Linda memberitahukan pada adiknya.

Setelah busanya melimpah di air kami pun nyebur bareng.

"Adik adik, Kakak boleh nggak membuka bra kakak" pinta Kak Linda pada kami. "Buka aja to Kak lagian kalau mandi pakai pakaian kayak orang desa." adiknya menjawab.

Tapi aku nggak bisa jawab. Dengan pelan pelan kancing dibelakang punggung dibukanya lalu lepas sudah pengaman dan pelindung susunya. Dengan telapak tangannya dia menutupi payudaranya.

"Sudah buka aja sekalian cd nya nanti kotor kena bau cd kakak," ujar Putri kepada kakaknya.

Segera dia berdiri diatas bathup melorotkan cdnya dengan hati hati(kayaknya dia sangat menunggu ekspresiku ketika melihat wanita telanjang bulat dihadapannya). Ketika dia berdiri membetulkan shower diatas kami, aku melihat seluruh tubuhnya yang sudah telanjang bulat.

"Kak anu... anu... Susu kakak besarnya, ama bawahan kakak ada rambutnya dikit," aku memujinya.

dia hanya tersenyum dan memberitahu kalau aslinya bawahan nya lebat hanya saja rajin dicukur. Dia agak berlama lama berdiri kayaknya makin deket aja bagian sensitivenya dengan wajahku, ada sesuatu harum yang berbeda dari daerah sekitar itu. Kak Linda terus berdiri sambil melirikku.

Sambil membilasi payudaranya dengan air hangat serta digoyang dikit dikit bokong bahenolnya. Dia menghadap kami sambil mnyiram bagian sensitifnya. Aku pun tak berani langsung menatapnya. Sambil memainkan payudaranya sendiri dia punya saran plus ide gila.

"Mainan yuk. Aku jadi ibunya, kamu jadi anaknya."

Lalu Kak Linda menyuruh mainan ibu ibuan, dia menyuruh kami jadi bayi. Lalu dia menyodorkan susunya pada kami.

"Anakku kasihan, sini ibu beri kamu minum" dia berkata pada kami.

Putri pun langsung mengenyot puting susu kakaknya, tapi aku pun tak bergerak sama sekali, lalu dia langsung menyambar kepalaku ditarik ke arah payudaranya.

"Ayo sedot yang kuat... Ahhh... Cepet... Gigit pelan pelan... Acchhh," kata itu keluar.

Tapi koq nggak keluar airnya. Punya Mama keluar air susunya. Tiba tiba Putri berhenti.

"Uhh... Ini kan namanya mainan jadi nggak beneran. Kamu udahan aja sudah jamnya kamu les" Putri pun bergegas turun dan berganti pakaian sejak saat itu aku tak memdengar langkah dia lagi.

Aku pun masih disuruh mainan dengan putingnya tangan kiriku dikomando supaya meremas susu kirinya. Tiba tiba ada sesuatu yang bikin aku bergetar, ada sesuatu yang berambat dan memegangi anuku. Dengan kanan kanan memegangi tangan kiriku untuk meremas payudaranya ternyata tangan kanannya memainkan penisku.

Segera dia memerintahkan untuk turun dari situ. Kami pun turun dari situ. Lalu. Dia duduk di pingiran sambil membuka selakangannya. Aku baru melihat rahasia cewe.

"Rendi ini yang dinamakan vagina, punya cewek. Tadi waktu kakak berdiri aku tahu kalau kamu memperhatikan bagian kakak yang ini. Ayo aku ajarin gimana mainan ama vagina" akupun hanya mengangguk.

Dia menyuruh menjilatinya setelah dia mengeringkannya dengan handuk. Aku pun menjulurkan lidahku kesana tapi bagian luarnya. Dia hanya tersenyum melihatku. Dengan jari tangan nya dia membuka bagian kewanitaan itu. Aku benar benar takjub melihat pemandangan kayak itu. Warnanya merah muda seperti sebuah bibir mungil. Setelah dia buka kemaluannya, lalu dia suruh aku supaya menjilatinya. Ada cairan sedikit yang keluar dari bagian itu rasanya asin tapi enak. Disuruh aku menyodok dengan kedua jariku, terasa sangat becek. Dia menyuruhku berhenti sejenak. Ketika dia menggosok gosok sendiri dengan tangannya dengan cepat lalu dia menyambar kepalaku dengan tangannya ditempelkan mukaku dihadapannya.

Seeerrr... Serr... bunyi air yang keluar dari vaginanya banyak sekali. Sambil berteriak plus mendesis lagi merem melek. Setelah itu dia jongkok, aku kaget ketika dia langsung menjilati kepala penisku. Di buka bagian kulup hingga kelihatan kepalanya.

"Kakak enggak jijik ya kan buat kencing" aku bertanya pada dia tapi dia terus mengulumnya maju mundur.

Sakit dan geli itu yang kurasakan tapi lama lama enak aku langsung rasanya seperti kencing tapi tidak jadi. Dia menggunakan sabun cair katanya biar agak licin jadi nggak sakit. Saking enaknya aku bagai melayang badanku bergetar semua. Setelah dibilas dia mengkulum penisku, semua masuk didalam mulutnya.

"Kak aku mau kencing dulu" aku menyela.

Setelah itu dia berbaring dilantai dia menyuruh bermain dengan kacang didalam vaginanya. Pertama aku tidak tahu, dia memberi tahu setelah dia sendiri membukanya. Aku sentuh bagian itu dengan kasar dia langsung menjerit dia mengajari bagaimana seharusnya melakukannya. Diputar putar jariku disana tiba tiba kacanga itu menjadi sangat keras.

Sekitar 5 menit aku bermain dengan jariku kadang dengan lidahku. Keluar lagi air dari vaginanya. Aku disuruh terus menyedotnya. Dia kayaknya sangat lemas lunglai. Setelah beberapa saat dia memegang penisku dan menuntunnya di vagina.

"Coba masukan anumu ke dalam sana pasti aku jamin enak banget rasanya" dia menyuruhku.

Dengan hati-hati aku masukkan setelah masuk aku diam saja. Dia menyuruh aku untuk menekan keras. Dan blesss masuk semuanya dia memberi saran kayak orang memompa. Masuk-keluar.

"Acchc terus... yang cepet... ah... ah... ah... " dia mendesis, dia menggoyangkan pantatnya yang besar kesana kemari.

Tapi sekitar 3 menit rasanya penisku kayak diremas oleh kedua daging itu lalu aku ingin sekali pipis. Saat itu penisku kayak ada yang air mengalir. Dan serrr... seeerrrs air kencingku membanjiri bagian dalamnya. Setelah kelelahan kami pun keluar dia langsung pergi ke kamar masih keadaan bugil. Kemudian dia berbaring karena lelah, aku mendekatinya dan dia memelukku seperti adiknya, payudaranya nempel di mukaku. Setelah aku melihat wajahnya dia menangis. Lalu dia menyuruh aku pulang. Aku mengenakan pakaian dan pulang. Dia menyuruh merahasiakan kalau aku berbicara ama orang lain aku nggak boleh bermain ama adiknya.

Kami pun terus melakukannya sekitar 1 tahun tanpa ada siapa yang tahu. Sekitar aku kelas 1 SMP dia kimpoi ama temannya karena dia hamil. Ketika 2 minggu lalu (saat ini) aku bertemu dia bertanya masih suka main seperti dulu. Akupun hanya tertawa ketika aku tahu itu yang namanya sex dan aku ngucapin terima kasih buat kakak, itu adalah pengalamanku yang pertama.

Kak Linda Tetanggaku

By Lucy →
Namaku angin. Aku adalah seorang mahasiswa di sebuah PTS swasta terkenal dijogja. Cerita berawal 2 tahun yang lalu, ketika anak pamanku yang tinggal di kota sebelah disekolahkan oleh orangtuanya kejogja. Lala namanya. Usianya saat itu baru 18 tahun. Walaupun begitu, ia terlihat lebih dewasa dari usianya yang sebenarnya. Tingginya sekitar 165 cm, rambut panjang sebahu dengan bentuk tubuh yang proporsional. Dadanya cukup besar, kutaksir ukurannya sekitar 34 B. Hidungnya mancung dan
kulitnya putih mulus. Maklum, ibunya keturunan ningrat
Selama bersekolah di jogja lala tinggal di rumah kontrakanku . Makin hari, kami semakin akrab. Terkadang, bila ada waktu luang, ku jemput dia sepulang sekolah dengan mobilku.

Suatu hari, hujan turun deras sekali. Rumahku sedang kosong saat itu. aku sendiri di kamarku, bersantai sambil menyaksikan film porno ditemani sebotol Vodka. Aku adalah seorang pecandu alkohol. Tiba-tiba kudengar bel pintu berbunyi.
"Siapa yang datang hujan-hujan begini?", pikirku dalam hati.
Segera saja kubuka pintu dan tampak di depan pintu pagar rumahku ada seorang gadis berseragam SMU yang kehujanan. Ternyata gadis itu adalah lala
"Kehujanan ya la?" dia mengangguk.
"Kenapa ngga minta di jemput?"
"Tanggung Kak, udah di perjalanan pas hujan tadi"
"Ya sudah kamu mandi air panas sana, biar nggak demam nanti."
Dia pun menurut. Saat itu aku baru menyadari di depanku ada pemandangan yang sangat indah. Tubuh lala yang sangat indah terlihat jelas di balik seragam sekolahnya yang basah kuyup. Saat itu, lala mengenakan Bra hitam yang sangat seksi. Melihat pemandangan seperti itu, penisku langsung menegang. Tiba-tiba muncul keinginan kuat untuk mencicipi tubuh sepupuku sendiri. Aku langsung melepaskan semua pakaianku, supaya lebih gampang melaksanakan niat jahatku. Kutunggu dia di depan kamar mandi.

Selang beberapa lama, pintu kamar mandi terbuka dan muncul lala dengan hanya mengenakan handuk untuk menutupi tubuhnya. Dia tampak kaget setengah mati melihatku dalam keadaan bugil.
"Kak..", belum sempat ia melanjutkan kata-katanya, kuterkam tubuhnya.
Kudekap erat dan kutarik handuk yang melilit di tubuhnya dengan cepat, sehingga ia langsung telanjang bulat sama sepertiku. Ku seret dia ke dalam kamarku. Dia mencoba memberontak tapi sia-sia. Tenagaku jelas lebih kuat darinya.
"Kak, apa-apaan ini? Lepaskan!" Aku tidak peduli dengan teriakannya.
Sesampainya di kamar, kuhempaskan tubuhnya ke ranjang. Kutindih tubuhnya, kuciumi lehernya yang putih mulus.
"Kak, sudah Kak, cukup! Ingat aku saudaramu.."
"Diam kamu!"
"Kak mabuk yah.. sadar Kak.."

Teriakan dan rontaannya malah membuatku semakin terangsang. Kulumat bibirnya yang merah dan tipis menggiurkan itu.
"Mmmhh.. mmppff.." Ia seperti ingin mengucapkan sesuatu tapi tertahan oleh bibirku.
Sementara tangan kiriku meremas dadanya yang putih dan montok. Begitu kenyal dan halus. Kumainkan putingnya yang berwarna pink itu. Ia masih belum menyerah untuk berontak. Tetapi, semakin ia berontak, semakin aku bernafsu untuk memperkosanya. Ciumanku turun ke dadanya. Kulumat puting susunya dengan rakus. Kadang kugigit-gigit. lala menggelinjang kegelian.
"Kak.. sshh.. cukuphh.. udah dong.. sshh" Ujarnya setengah mendesah.
Aku malah semakin gencar melancarkan seranganku. Kali ini jemariku kuarahkan ke vaginanya. Kumasukkan jari tengahku ke dalamnya. Ternyata lala sudah tidak perawan.
"Ooo, kamu sudah pernah toh.. gimana rasanya, enak kan? Sudahlah, nggak usah malu-malu. Nikmati aja.." Mendengar kata-kataku, Wajah lala merah padam menahan malu.
"Tidak! Lala nggak mau.."

Mulutnya menolak, tetapi kurasakan vaginanya semakin basah karena jariku bergerak keluar masuk. Pantatnya pun bergerak-gerak merespon gerakan jariku. Kupermainkan klitorisnya dengan jariku. Dia tersentak kaget.
"Aahh.. jangan.. mmhh". Ciumanku pindah lagi ke bibirnya.
Kumainkan lidahku. Selama beberapa detik tidak ada respon. Tetapi beberapa saat kemudian lidahnya membalas lidahku. Dia juga sudah tampak mulai pasrah, tidak lagi mencoba berontak seperti tadi. Kulepaskan ciumanku dari bibirnya. Kujilati dari wajahnya ke leher, turun ke dada, perut dan akhirnya sampai pada lubang kenikmatan. Kujilat-jilat bibir vaginanya sementara jariku masih bergerak keluar-masuk vaginanya.
"Ooohh.. udahh.. geli.." Tangannya mencoba mendorong kepalaku. Tapi kutepiskan dengan tanganku yang satu lagi.
Kuteruskan permainan lidahku di vaginanya. Kali ini kugelitik klitorisnya.
"Uuhh.. sshh.. jangaannhh.. sshh".
Vaginanya semakin basah. Kupikir, inilah saatnya.

Aku segera bangkit dan mengarahkan penisku yang sudah pada ketegangan maksimal. Lala sepertinya tahu apa tindakanku selanjutnya. Dia mencoba mendorongku, tapi kupegangi kedua tangannya. Kubuka lebar kedua pahanya dengan pahaku. Kumajukan pinggulku dan, bless! Dengan sekali tekan, amblaslah penisku ke dalam vaginanya.
"Jangan Kaakk.. oohh" teriaknya berusaha mencegahku.
Tetapi sudah terlambat. Aku tidak membuang waktu. Langsung kukocokkan penisku, semakin lama semakin cepat. Vagina lala masih sangat sempit. Mungkin karena belum terlalu sering diterobos. Kurasakan vaginanya berdenyut-denyut. Nikmat sekali.lala pun sepertinya sudah lelah untuk melawan. Ia malah terlihat seperti sedang menikmati setiap sodokan yang kulakukan.
"Ssshh.. mmhh.. uuhh.." begitu saja yang keluar dari mulutnya.

Wajahnya merah, entah merah karena malu, atau karena nafsu. Bibirnya yang seksi terbuka, membuatku ingin melumatnya. Langsung saja kucium bibirnya. Kali ini, lala langsung membalas ciumanku. Lidah kami saling membelit satu sama lain. Tanganku tidak tinggal diam. Kuremas lembut payudaranya yang indah. Kadang kupelintir putingnya yang sudah menegang.
"Oohh.. sshh.. uuhh" desahannya semakin keras.
"Gimana, enak kan?" tanyaku.
Wajahnya semakin merah mendengar pertanyaanku. Dia hanya terdiam. Kuhentikan sodokanku. Ternyata pantatnya masih terus bergoyang-goyang. Kusentakkan pinggulku secara tiba-tiba. Kupercepat gerakanku sampai pada batas maksimal kemampuanku.
"Aaahh.. Kak uuhh.. sshh.."
"Kenapa sayang? kamu menikmatinya?"
"Iyahh.. oohh.. eennaakkhh.. sshh.. aahh..".
Tak terasa 15 menit sudah kami berpacu dalam nafsu.
"Kak.. sshh..lala.. mauhh.. kkelluarrhh.. oohh.."
"Tahan dulu sayang.. hh.. sebentar lagi.."
"Nggak bisaahh.. lala kkellluuaarr.. aakkhh.."
Badannya mengejang tak karuan diiringi teriakan kenikmatan yang membahana. Sementara kecepatanku sama sekali tidak kukurangi. Tangan kiriku menggelitik klitorisnya, tangan kananku meremas dan memainkan payudara kirinya, sedangkan bibirku menghisap puting susu sebelah kanan. Semua kulakukan untuk menambah nikmatnya sensasi orgasme.

"Sabar ya sayang. Aku belum keluar." bisikku mesra di telinganya.
Kucabut penisku dari vaginanya untuk memberinya kesempatan beristirahat. Kujilati lehernya sampai ke belakang telinga. Kugelitik klitorisnya dengan jemariku. Tak lama kemudian, vaginanya kembali basah.
"Kamu mau lagi sayang?".lala mengangguk pelan.
Kali ini dia lebih agresif. Dia langsung memegang penisku da meremasnya.
"Punya Kak angin besar dan panjang yah.. sampai mentok."

Aku hanya tersenyum. Bangga juga ada yang memuji senjataku, walaupun bukan yang pertama kali penisku diakui kehebatannya. Lala meneruskan aksinya. Dia tidak lagi meremas, melainkan menjilati penisku dari ujung sampai ke buah zakar. Nikmat sekali rasanya. Tak lama kemudian, dia mengulun penisku. Kulumannya sangat nikmat. Lembut, tapi sangat terasa. Aku hanya bisa memejamkan mata dan menikmati setiaphisapan yang dilakukannya padaku. Saat kubuka mata, lala sudah duduk di atas penisku. Dia lalu mengarahkan penisku ke lubang vaginanya. Dan.. slebbbb.. tertelan sudah batang penisku oleh vaginanya. Lala bergoyang diatasku seperti orang menunggang kuda. Terkadang, ia memutar pinggulnya, persis seperti goyang Inul. Kuremas-remas payudaranya yang menggantung seksi di depanku. Kadang kuhisap dan kujilati putingnya.

"Oohh.. sshh.. geli.. mmhh.." lala merintih-rintih di atasku.
Selang 20 menit kemudian, lala orgasme untuk yang kedua kalinya. Dia langsung ambruk di dadaku. Kubalikkan tubuhnya. Kutusuk dari belakang. Kugerakkan pinggulku secepat mungkin. Lala hanya mampu merintih dan mendesah. 5 menit kemudian, aku merasa ada sesuatu yang hendak keluar dari senjataku.
"laaa.. aku.. mauhh.. kkeellluarr.."
"Janganhh.. dihh.. dalammhh.. mmhh"
Langsung kucabut penisku dan kuarahkan ke wajahnya. Kubiarkan dia mengulum penisku. Beberapa detik kemudian.. croott.. croott.. aku ejakulasi di wajahnya. Sebagian spermaku masuk ke mulutnya, dan sebagian lagi membasahi wajah, leher dan dadanya.

ahhh… sepupuku binal juga berlagak menolak tapi menikmati hehehe,,,,

Tubuh seksi lala sepupuku

By Lucy →
Julianto mencari-cari bukunya yang hilang dengan kepanikan yang tinggi. Dia mengobrak-abrik seluruh laci yang ada dalam kamarnya. Dia berkeringat dingin. Dia sendiri tidak bisa membayangkan apa jadinya nanti seandainya buku porno itu jatuh ke tangan ibunya. Dia sangat takut. Tiga tahun yang lalu dia juga pernah tertangkap guru karena membawa VCD porno ke sekolah tetapi, untung baginya karena dia bisa menyembunyikan masalah itu dari ibunya. Kali ini dia sungguh tidak bisa lolos lagi.

"Ke mana buku itu, Julianto Hongaris?" tanyanya kepada dirinya sendiri.
"Mengapa kau bisa begitu bodoh dalam menyimpan barang-barang pribadimu?"

Julianto membolak-balikkan badannya menerka-nerka kapan dia membaca buku itu terakhir kali. Tetapi sia-sia saja dia mencari dan memeras otaknya karena dia tidak ingat lagi di mana dia meletakkan buku itu terakhir kalinya.

"Semoga saja buku itu tidak jatuh ke tangan Ibu," Julianto berdoa dalam hati.

Julianto pun menyerah. Dia pun merebahkan dirinya ke atas tempat tidur. Beberapa saat kemudian, timbul niat dalam dirinya untuk masturbasi. Perlahan-lahan dia mulai menanggalkan pakaiannya. Tampaklah badannya yang besar berotot dibalut oleh singlet yang berwarna putih. Dia berjalan ke depan cermin dan dia melihat sosok seseorang yang kekar berotot yang berdiri dengan tegak di sana. Entah kenapa dia harus melihat dirinya yang telanjang dulu di depan cermin baru dia bisa bermasturbasi dengan kenikmatan yang tinggi.

Setelah dia melepaskan celana panjang dan celana dalamnya yang berwarna coklat hitam, dia memulai aksinya dengan dibantu oleh sebotol minyak makan. Dia ingin mengambil body lotion miliknya yang berada dalam kamar mandi. Namun, gairahnya yang sudah mencapai titik puncak di kepala tidak memungkinkan dirinya untuk berjalan ke kamar mandi walau hanya berjarak beberapa senti. Terlintas di benaknya untuk mempergunakan minyak makan yang ada di piring bekas dia menikmati goreng pisang tadi.

"Aah..!!" perlahan-lahan tetapi pasti kenikmatan mulai datang. Aliran listrik itu mulai menjalar ke seluruh tubuhnya.
"Oh..!! Sshh.."

Julianto pun mempercepat gerakan tangannya untuk mendapatkan kenikmatan yang betul-betul diinginkannya. Akhirnya dia bisa memperolehnya setelah dia melalui perjuangan yang sangat panjang sekali. Namun, sebelum dia memuntahkan spermanya ke depan cermin dia menghentikan dulu gerakannya dan menikmati puncak kenikmatan yang menderanya tanpa berejakulasi.

"Wah! Perasaan seperti ini sangat nikmat. Lebih nikmat lagi apabila dibandingkan dengan orgasme yang benar-benar dibarengi dengan ejakulasi. Aku sudah latihan dengan sangat tekun sehingga aku bisa menikmati orgasme seperti ini," kata Julianto kepada dirinya sendiri.
"Aarghkk.." suara Julianto berubah menjadi seperti suara lembu tatkala dia sudah benar-benar tidak tahan dan menyemburkan air maninya ke depan cermin.

Setelah kenikmatan itu berangsur-angsur hilang, tubuhnya pun melemas kembali. Dia cepat-cepat mengenakan celana dalamnya kembali sebelum dia berbaring di atas tempat tidur. Pria itu pun memejamkan matanya mengistirahatkan dirinya setelah melalui permainan seks yang sangat panjang. Tiba-tiba saja, kira-kira 15 menit setelah dia jatuh tertidur dia merasakan ada yang meremas-remas penisnya yang terbalut celana dalam. Dia tidak membuka matanya dan melihat apa yang terjadi melainkan dia menikmati tangan yang meremas-remas penisnya itu.

Tangan itu makin lama makin nakal. Dia menarik penis Julianto dan memainkannya dengan jari-jari jemarinya yang gemulai. Julianto pun mengerang-erang penuh rasa nikmat di atas tempat tidur. Dia merasakan mulut orang itu mulai menyapa ujung penisnya yang berdiri tegak seperti rudal AS yang sudah siap diterbangkan ke antariksa.

"Jangan berhenti! Aku ingin lebih.. Oh..! Aku sudah ingin keluar," jerit Julianto halus.

Orang itu berganti posisi setelah dia puas dengan permainannya yang mengulum-ngulumg penis Julianto. Dia memasukkan penis Julianto ke dalam liang vaginanya dan menggerakkan badannya ke kiri dan ke kanan dengan kecepatan tinggi. Badan Julianto berjingkrak-jingkrak karena dia tak mampu mengendalikan kenikmatan itu. Orang itu menarik tangan Julianto dan meletakkan tangan Julianto di payudaranya yang menggembung sementara dia memulai gerakan maju mundur yang membuat penis Julianto semakin menegang dan membesar. Tentu saja Julianto tidak menyia-nyiakan kesempatan itu. Dia memainkan puting susu wanita itu dan sesekali dia menjilat payudara si wanita sampai wanita itu menjerit dengan kenikmatan yang memuncak.

"Arrghkk.." teriak Julianto disertai dengan suaranya yang mendesis tajam karena air maninya tumpah ruah di dalam liang vagina si wanita. Crot! Crot! Crot! Karena air maninya keluar terlalu banyak, ada beberapa tetes yang keluar dan menodai tempat tidur.

Namun, si wanita tidak menghentikan gerakan maju mundurnya. Dia meneruskan gerakan itu sampai batang penis Julianto menjadi lelah dan lemah. Julianto ingin membuka matanya dan melihat siapa wanita yang sedang berhubungan seks dengannya sekarang ini. Tapi, kelelahannya sungguh membuat dia tidak sanggup melakukan apa pun termasuk membuka mara. Dia hanya bisa pasrah batang penisnya dijadikan sebagai sebuah samurai pelepas nafsu. Julianto sampai orgasme beberapa kali. Orgasmenya yang terakhir kali yaitu di mulut si wanita yang mengulum-ngulum batang penisnya.

Wanita itu pun melepaskannya. Tubuh Julianto pun terkulai lemas di atas tempat tidurnya. Setelah wanita itu memakaikan kembali celana dalamnya, wanita itu pun membuka pintu kamar Julianto dan keluar. Julianto mengerahkan seluruh tenaganya yang tersisa untuk membuka matanya. Dia sempat melihat wajah teman tidurnya itu sebelum teman tidurnya itu keluar dari kamar. Dia tersentak kaget begitu melihat wajah itu.

"Wajah itu.. Wajah itu.. Mengingatkan aku akan sesuatu. Seharusnya, wanita itu sudah meninggal beberapa hari yang lalu. Mengapa dia bisa datang ke kamarku dan berhubungan seks denganku? Mengapa dia bisa masuk ke rumah ini? Siapa dia? Mengapa aku merasa aku sangat mengenalnya? Rasanya aku pernah melihat wajah wanita itu di sebuah buku," kata Julianto dalam hati. Beberapa saat kemudian dia pun jatuh ke dalam alam mimpi.

*****

Julianto berjalan masuk ke dalam sekolahnya. Dengan santai dia melangkah ke dalam kelas. Dia meletakkan tasnya dan dia berjalan ke kamar mandi. Pelajaran memang belum dimulai tetapi sekolahnya sudah dipenuhi oleh murid-murid SMU sepertinya. Dia merasa sesak kencing dan dia ingin membuang semua air seni itu. Dia berjalan ke kamar mandi tetapi pintu kamar mandi itu ditutup dan dia merasa aneh mengapa pintu itu bisa ditutup. Biasanya pintu itu tidak pernah ditutup. Dia membuka pintu. Setelah berjalan beberapa langkah dia berhenti.

"Aargghkk..!! Air vaginaku akan segera menyembur, Sayang," teriak murid wanita itu karena dia sudah mencapai orgasme setelah beberapa kali 'ditusuk' oleh si murid pria yang hanya mengenakan celana abu-abu sampai ke paha.
"Aku juga ingin keluar, Sayang. Ohh.."

Si pria langsung mengeluarkan batang kemaluannya dari dalam liang vagina si wanita dan mengocok-ngocok penisnya itu dengan penuh rasa nikmat. Crot! Crot! Crot! Air maninya berhamburan keluar mengotori wajah si wanita.

"Ternyata kalian yang mengambil bukuku ya?" kata Julianto karena dia melihat buku itu diletakkan di atas wastafel yang panjang.
"Aku sangat cemas kemarin. Aku mencarinya ke sana ke sini tetapi aku tidak bisa menemukannya. Kalau kalian yang mengambil sih sebenarnya aku tidak keberatan"
"Maafkan kami, Julianto! Kami ingin sekali mencoba beberapa gaya yang ada dalam bukumu. Kami sangat puas dengan buku itu. Kami merasakan kenikmatan yang tiada tara," kata si wanita sambil mulai mengenakan pakaiannya.
"Eh! Buku apa ini?" tanya Julianto sambil mengambil buku yang lain yang juga diletakkan di atas wastafel panjang itu.
"Itu adalah buku yang menceritakan tentang kutukan dari seorang wanita penyihir," kata si pria yang mulai mengancingkan kemejanya.
"Penyihir wanita itu sangat jahat. Dia suka mengambil hawa pemuda dan pemudi seperti kita. Dia bisa berubah menjadi pria ataupun wanita. Apakah kau pernah mendengarnya? Buku ini baru saja kami beli tadi pagi"

Julianto merasa kaki dan badannya menjadi lemas. Sekarang dia mengingat wajah wanita yang kemarin. Sekarang dia mengingat di mana dia pernah melihat wajah wanita itu. Buku itu langsung terlepas dari dalam genggaman tangannya. Dia membuka celananya dan cepat-cepat menanggalkan celana dalamnya. Bau busuk mulai menyerang hidungnya. Dalam sekejap seluruh ruangan itu dipenuhi oleh bau busuk yang menyengat hidung.

"Astaga! Busuk sekali! Mengapa bisa begitu busuk? Dari mana datangnya bau busuk ini?" jerit si wanita.

Dia ingin membuka pintu dan segera berlari keluar dari ruangan itu tetapi pintu kamar itu benar-benar tidak bisa dibuka.

"Pintunya tidak bisa dibuka. Kita harus cepat keluar. Kita bisa mati kehabisan napas di sini," teriak si pria.

Batang penis Julianto mulai membusuk. Kutukan itu bekerja dengan cara yang begitu mengerikan. Dalam waktu yang sangat singkat Julianto roboh ke lantai dan tubuhnya dikerumuni oleh belatung-belatung kecil yang menjijikkan. Kedua orang yang juga berada dalam kamar mandi itu menjerit ketakutan melihat kondisinya. Si wanita mulai memegang lehernya karena oksigen yang ada dalam kamar mandi itu mulai habis. Lama-kelamaan dua orang itu pun roboh ke lantai dan tidak sadarkan diri. Keduanya berbaring dengan tenang ditemani oleh belatung-belatung kecil dan bau busuk yang sangat menyengat.

"Kalian berdua juga terkena kutukan karena kalian juga berada dalam kamar mandi ini sewaktu kutukan ini bekerja. Kutukan ini tidak mengenal orang ataupun waktu. Kegelapan akan segera menyelimuti. Semuanya akan hancur dalam kenikmatan seks yang mematikan. Ha.. Ha..!!" terdengar suara seorang wanita yang bergema.

Muncul selembar kain hitam dan kain hitam itu jatuh di atas mayat Julianto yang membusuk.

Dibalik Kain Hitam

By Lucy →
Ini adalah cerita dewasa kiriman dari seorang pembaca setia situs ceritabf.info. Terima kasih atas kiriman ceritanya bos. Kisah panas dan nyata ini sangat menggugah selera seksual kita. Selamat menikmati..

Wajah Pak Bowo menjadi serius, dia menjelaskan kalau memang dia interest sama Priska. Apalagi untuk sekretaris. Aku tidak mengerti kenapa harus Priska, dan saya mencoba menjelaskan bahwa akupun pernah bekerja dan untuk pekerjaan sekretaris pasti aku bisa. Pak Bowo tersenyum. “Priska benar2 gak mau ya mbak?” aku mengangguk mengiyakan.

“Sayang padahal lumayan kalau punya sekretaris seperti Priska, kalau mbak Mila saya nggak mau, kalau ada apa2 saya kan nggak enak sama suami mbak. Sekretaris saya di kantor satunya juga single, kalau harus ke luar kota nganter saya kan nggak enak. Kalau sama mbak kan nanti istri saya tau saya keluar kotanya gak sendirian.”

“Oh gitu” sahutku. Ahh dasar laki2 batinku. “Jadi kalau dengan Priska bapak bakalan keluar kota dengan dia?” tanyaku. Pak Bowo tersenyum. “Kok bapak tau dia bakalan mau. Pernah ngobrol ya?”
“Mbak Mila, maaf ya? Saya pernah mergokin dia pacaran di mobil. Dia sedang begini sama pacarnya” kata pak Bowo sambil memeragakan gerakan blow job.

“Mobilnya parkir di depan rumah saya, jam 1 malem gitu. Sempat saya mau bawa ke pos satpam tapi yaah karena dia waktu itu janji mau melakukan apa saja asal gak dilaporin ya sudah gak saya perkarakan. Jadi ya tolong bilang saja sama Priska, kalau saya sebetulnya nawarin ini sekalian nagih janji. Maaf ya mbak, kalau saya blak2an.

Mbak Mila beda sama dia, mbak kan orangnya alim, pasti tau lah kalau adiknya mbak yang melakukan begituan didalam mobil dengan pacarnya kita harusnya bagaimana ?. Maaf juga kalau kita semua laki2 ya begini ini”. Pak Bowo bercerita lebih panjang lagi yang pada intinya, dia memang suka melakukan memacu birahi dengan sekretarisnya, dan sebetulnya dia suka sama adik ku Priska yang cantik itu tapi kalau Priska tidak memegang janji ya jangan salahkan dia kalau Pak Bowo akhirnya membocorkan hal ini padaku.
Dia minta aku juga gakk cerita ke istrinya, karena dia juga gak akan melaporkan hal ini ke warga lainnya. Saya bilang ya sebetulnya kalau ditempat saya kerja dulu sih memang aku cukup tau kalau suka ada office staf yang affair apa lagi antara boss dengan anak buahnya yang wanita cantik.

“Yah pokoknya gitu Mbak, biar nanti saya cari yang lainnya aja. Kalau Mbak mah gak lah. Maaf ya saya nolaknya blak2an. Saya memang gitu orangnya. Semua yang jadi anak buah saya, harus orang yang bisa jaga rahasia bossnya. Makanya saya gak pake supir mbak. Dan istri saya juga gak ada yang kenal sama anak buah saya satu pun. Oh ya, si cantik itu kemana kok sudah lama gak main ke rumah Mbak?”.

“Gak tau pak, mungkin malu sama bapak saat dipergoki didalam mobil melakukan blow job dengan pacarnya.”

“Ya sudah, bilang sama dia ya kalau saya sudah bilang juga sama Mbak. Tapi yah sekarang mudah mudahan dia gak pacaran main gitu gituan lagi.” He he he…

Ya sudah aku pun berpamitan pulang. Di jalan aku memikirkan apa yang baru saja terjadi. Ah si Priska ada2 saja dalam hatiku. Dan Pak Bowo ternyata dendam juga Priskanya gak mau. Aku membayangkan bagaimana kecewanya pak Bowo tidak bisa mendapatkan jatah dari Priska. Lagian Priska sempat2nya janji yang nggak2 sama Pak Bowo.

Yah mungkin dia pikir supaya jangan sampai dilaporin Satpam waktu itu. Tapi aku juga kepikiran sama tingkah laku Pak Bowo yang ternyata bajingan juga. Pak Bowo lebih tua dari suamiku umurnya 50an dan pantas sih nakal2nya para lelaki dalam hatiku. Pasti sekretarisnya sudah jebol sama Pak Bowo, apalagi di ajak pergi keluar kota. Jadi selama ini Pak Bowo suka memperhatikan Priska rupanya.

Apa dia gak pernah memperhatikan aku ya….? Padahal dibandingkan Priska, banyak yang bilang aku sebagai kakaknya lebih cantik dan badanku jauh lebih sexy. Kembali pikiran aku jadi nakal.

Dasar memang aku perempuan murahan yang kegatelan batinku. Ehh jangan2 dia ngomong blak2an tadi sengaja nyoba aku kali ya.

Belum tau dia bahwa aku sebetulnya bagaimana sebelumnya, tapi sekarang aku sudah punya anak, suami yang baik, dan lagi pula sekarang aku telah menutupi seluruh tubuhku dengan busana wanita alim dengan jilbab lebar yang bertengger diatas kepalaku.



Pikiran itu terus menggangguku. Sampai di rumahpun aku masih yang tergoda untuk ngtest pak Bowo. Ha ha ha. Gimana ya kalau aku affair sama tetangga. Aduuuuh pokoknya aku jadi error. Waktu suamiku pulang, dan bertanya bagaimana sudah bicara dengan bu Bowo. Aku malah bilang aku mau coba ngelamar dan wawancara besok. Padahal sudah. Suamiku bilang enak juga kalau aku ada kerjaan tapi yang tidak mengganggu aktivitasku mengawasi anakku. Kalau diterima kerja suamiku berencana mencari supir untuk mengantarkan anakku dan aku kerja. Aku bilang aku kerja kan bisa bareng pak Bowo. Suamiku manggut2. Malamnya aku malah berpikir yang tidak2 tentang Pak Bowo, dan bagaimana rasanya member sekedar blow job padanya.

Ahh biarin aku datengin saja pak bowo besok pagi pikirku. Anakku sudah kelas 1 SD sekarang. Dan disekolah ini dia masuk jam 7.30 pulang jam 3. Pagi itu jam 7 pun aku sudah sampe di sekolah anakku dan segera ke kantor pak Bowo. Hari itu seperti halnya orang mau interview aku menggunakan baju panjang putih yang dulu sering aku gunakan kerja dan tak lupa memakai jilbab yang menghiasi kepalaku.

Cuma sengaja aku tak menggunakan peniti tambahan yang biasanya aku pake busana panjang itu, sehingga kancing bajuku agak renggang dan belahan dadaku sedikit kelihatan. Biar pak Bowo ngerti maksudku dalam hatiku. Lainnya aku pake jilbab abu abu dan rok panjang putih.

Jam 8 aku sudah sampe di kantor pak Bowo. Yang ada Cuma OBnya yang sedang membersihkan kantor. Pak Bowo baru datang ½ jam kemudian. Dia kaget melihatku datang. “Loh Mbak Mila lagi? Kenapa Mbak?” “Ya saya sudah cukup mengerti pekerjaannya pak, mungkin di interview atau di test dulu saya bersedia kok” sahut aku sambil tersenyum.

Pak Bowo memperhatikan aku dan kelihatan sekali dia memperhatikaan dadaku. “Oh bagus deh, kalau siap di test mbak. Say bener2 test kemampuannya ya mbak” “Iya Pak” sahutku sambil mengikuti pak bowo ke ruangannya. Sesampai di ruangannya, pak bowo memanggil OB nya untuk membersihkan ruang meeting, karena dia mau meeting di sana katanya.

Kemudian dia menelepon beberapa orang sambil membuka2 CV ku. Selesai menelepon dia keluar ruangan dan memerintahkan Pak Ari OBnya untuk mengantarkan dokumen ke rumah. Ahh pandai juga nih boss batinku. Setelah yakin pak Ari pulang. Pak bowo kembali keruangan. “Jadi sudah ngerti ya Mbak, kalau mau jadi sekretaris saya bagaimana?” saya mengangguk.

“Nggak nyesel kan punya boss seperti saya?” tanyanya lagi. “Nggak pak, asal pak bowo nggak nyesel punya anak buah seperti saya” jawabku. “Makanya saya test dulu ya? Ok coba berdiri Mbak!” Pak Bowo memperhatikan aku sambil mengitari tubuhku. “Wahh ini boleh juga mbak” Pak Bowo mencoba mengomentari dadaku. Cek cek mulai merayu nih orang. “Maaf pak, ini baju putih satu2nya waktu saya kerja dulu. Jadi saya gak sadar kalau sudah kekecilan. Kalau diterima saya beli lagi baju putihnya”.
“Bukan bajunya kok, yang isi di dalemnya Mbak”.
“Panggil saya Mila saja pak” sahutku. Waktu pak Bowo di belakangku dia tanpa ragu2 meremas pantatku.

“Hmmm masih kenceng nih Mil” “Iya pak”
Pak Bowo kembali berdiri di depanku, kali ini dia meraba2 dadaku. ” Hmmm keren juga” Pak Bowo dengan terampil membuka kancing bajuku, walau tidak melepas bajuku. Pak Bowo juga membuka tali BHku, dan menyingkapnya. “Ohh ini toh modalmu untuk jadi sekretarisku. Keren Mil, bagus banget.

Coba duduk Mbak Mila” Aku pun duduk sementara Pak Bowo berdiri mendekati aku. “Coba kalau sekretaris yang baik kira2 gimana sama bossnya kalau begini”. Aku mengerti maksudnya. Aku membuka sabuknya retsleting celananya dan membuka celana dalamnya.

Cerita Dewasa - Nampak penisnya yang besar panjang bergelantungan dengan sedikit tegang. Aku usap2 sebentar dan kemudian memasukkan ke mulutku sambil melihat wajah pak Bowo. Dia sedikit nyengir ketika aku mulai bergerak mundur maju. Pak Bowo mulai mendesah2 “Bagus Mil, ayo lagi” Penisnya mulai menegang.
Penis pak Bowo sangat besar, bila dibandingkan dengan punya suamiku Adi, hampir sama ukurannya dengan milik si Mbah Renggo guru para normal suamiku yang dulu pernah menyetubuhiku. Tapi diameternya agak lebih besar, dan warnanya merah muda menggemaskan. Ketika aku menjilat2 ujung penisnya Pak Bowo menggelinjang dan mengerang2.”Kamu ok juga.

Hehhhhhhh” ujarnya sambil menyodokkan penisnya jauh lebih dalam. Dan setelah itu aku merasakan pennies pak Bowo menjadi sangat keras tegak ke atas, membuatku agak harus merapat agar kepalaku bisa bergerak dari arah agak ke atas. Tanganku memegang pantatnya dan kemudian kepalaku bergerak cepat. “ha ha ha, pinter kamu…. Besok kalau kamu diterima kita meeting sama sekretaris yang lainnya supaya mereka bisa seperti mu” Ujar pak Bowo sambil memegang kepalaku dengan gemas.

Beberapa saat aku melepaskan penisnya dari mulutku, mencoba mengambil nafas. Pak bowo melepaskan celananya yang menggantung dan dia berjalan ke kursi sofa, dia pun duduk di situ. Aku menghampirinya dan bersimpuh di depannya kemudian melanjutkan menyepongnya. Dengan begitu payu dara ku menempel di pahanya.

Pak Bowo membelai2 kepalaku yang masih memakai kudung, punggungku dan kemudian berusaha membuka bajuku. Setelah bajuku terbuka dia melepaskan bra ku yang sudah ½ terbuka itu, jadi aku menghentikan sebentar menyepongku. Pak Bowo memainkan sebentar buah dadaku. Aku mengambil penisnya dan meminta pak Bowo agak maju.

Aku jepit penisnya dengan buah dadaku sambil menggerak2kan dadaku. “Ohh keren, akhirnya ada juga yang bisa begini nih” ujar nya dilanjutkan dengan mendesah, dan mulai meracau. Kaki pak Bowo merangkul punggungku. “Oh Enak Mila sayang.” Aku kembali mengulum penisnya dan menjilat2nya. Hmmm sampai sekuat apa nih orang batinku. Cukup lama juga aku bolak balik menjilati dan menyepong sampai aku sidikit tak sabar menunggu ledakkannya.

Sampai akhirnya meledak juga penis itu dimulutku. Semua spermanya tak kubiarkan meleleh keluar, dan kusapu bersih. Lagi2 aku merasakan aroma yang berbeda dari sperma ini. Rupanya tiap orang beda2, tapi yang jelas punya pak Bowo tidak terlalu menjijikan seperti punya Adi. Bahkan boleh dibilang aku agak menikmati, hingga pak Bowo berkali2 menggelinjang saat aku mencoba benar2 mencoba agar ledakkannya benar2 tuntas.

Pak Bowo berbaring lemas, ketika penisnya ku lepas. Aku mengambil gelas minuman dan membersihkan mulutku yang bau ludah. Aku juga membersihkan penis pak Bowo dengan tissue. Air yang sedikit tersisa di gelas aku tuangkan ke tissue dan membersihkan penis pak Bowo. Pak Bowo menciumku, sambil meremas2 payudaraku.

“Sejauh ini hasil testmu bagus sayang”. Kita pun berciuman. Penis pak Bowo belum bereaksi tegang lagi. Dia bangkit, dan menggunakan celananya dan sepatunya. “Aku mau meeting dulu ya.

Sebentar lagi teman2ku datang” Aku mengambil bajuku dan braku. “Coba jangan dipake dulu bajunya siapa yang suruh pake. Duduk dulu di situ” Aku kembali duduk di kursi yang tadi berhadapan dengan pak Bowo. “Coba duduknya agak maju, kursinya diatur agak kebawah. Tau kan caranya gimana? Biar toketmu gak gelantungan taroh saja di meja” Aku menuruti perintah pak Bowo.

Pak bowo kembali mengamati CVku. Dia menulis2 sesuatu di CVku. “Bra mu ukuran berapa?” “34 B kadang2 C pak tergantung mereknya”. “Hmmmm keren deh toket luh, aku suka banget. Kalau kamu sedang ML bisa muncrat di situ, boleh kan?” “Boleh pak” jawabku. “Kamu mau gaji berapa Mil?” Tanya pak Bowo sambil mengeluarkan kamera dari lacinya. “Terserah bapak, yang sesuai saja dengan prestasi kerja saya” Pak Bowo memotret ku. “Coba pegang toketnya kaya tadi waktu ngejepit kontolku” Aku pun berpose.
“Kamu bersedia perjalanan ke luar kota?” “Yah itu yang jadi kendala saya pak, kayanya gak mungkin kalau keluar kota. Tapi kan bapak punya banyak sekretaris” Pak bowo mengangguk2.
“apa kamu bersedia ditempatkan di mana saja? Hmm maksudnya kalau kamu bersedia ngentot di mana saja?” “Maksudnya pak?”

“Ya kalau di kantor sih pasti harus, tapi kalau aku mau, kadang2 saya pengen di hotel, di mobil gi mana?” “Oh gak masalah pak”
“Bisa jaga rahasia?” “Pastinya pak, saya juga minta bapak begitu”

“Ya sudah, kamu pake baju dulu. Saya meeting coba kamu kedepan situ ya, ada computer, kamu tulis semua cerita kamu wawancara dari pertama sampai terakhir dengan detail ya” aku menurutinya. Selesai berpakaian. Pak Bowo menunjukkan meja kerjaku.

Ketika aku duduk Pak Bowo merangkul aku dari belakang sambil meremas2 dadaku. Sesekali kami berciuman, dan aku sesekali memegang penisnya yang sudah agak keras lagi. Karena banyak gangguan aku kurang konsen dengan tulisanku. Sampai akhirnya beberapa orang teman pak Bowo datang. Dan mereka pun siap meeting jam 10 tepat. Pak Bowo memerintahkan aku menyiapkan minum untuk mereka.

Setelah mengantarkan minuman, aku kembali ke pekerjaanku. Tulisan yang anda baca ini sebagian aku tulis waktu itu. Suatu ketika pak bowo keluar ruangan menuju kamar kerjanya, dan menghampiri aku sebentar. “Ahhh ini jangan pake kata penis, apa coba ini namanya”. “Kontol ya pak?” “Iyaaah”. Dia pun kembali ke ruangannya.

Tak lama dia kembali keluar ruangan dan memintaku membawa kertas dan bullpen. Aku dimintanya mencatat hasil meetingnya. Aku duduk di sebelah pak Bowo, dan selama itu pak bowo tidak pernah berlaku yang kurang ajar kepadaku. Meeting selesai jam ½ 12, teman2 pak Bowo sempat mengajak kami makan tapi pak Bowo menolak dengan alas an dia ada janji makan siang dengan yang lain.

Pak Bowo berjalan bersama teman2nya keluar ruangan mengantar mereka pulang. Sepertinya dia mengantarkan sampe loby bawah. Waktu kembali dia ternyata membawa makanan. Dan dia mengajakku makan. Kami makan di meja kerjaku, sambil berbincang2 mengenai kegiatan usahanya.

Dia makan dengan cepat, dan setelah selesai makan dia mengambilkan minum untuk kami berdua. Dia melihat pekerjaanku, dan ngeprint hasilnya walaupun belum selesai. Dia membacanya dengan seksama 4 lembar hasil tulisanku.
“Kamu punya selingkuhan yang lagi sekarang?”
“Nggak pak” Jawabku.
“Pernah ngesex dengan lainnya juga?”
“Wah maaf itu pribadi pak.” Pak Bowo manggut2
“Bagus, aku suka kalau kamu jujur. “ Selesai makan pak Bowo memintaku ke toilet dulu dan membeli rokok di bawah. Sekembalinya dari bawah, pak Bowo pun merokok di ruangannya. Coba buka CVmu lagi. Aku mencoba mengambil CV, “eit CVmu bukan yang itu, badanmu itu CVmu” Oooh aku baru ngerti.
Aku pun membuka bajuku hingga tinggal mengenakan Bra dan celana dalam. “Coba kamu presentasikan CVmu!”

“Nama saya Mila, umur 32 tahun lulusan universitas ….” “Mil, CVmu itu body lo, barang lo bukan itu” Sela pak Bowo. “Tinggi saya 168 cm, berparas hitam manis, kaki jenjang bokong aduhai dan berdada indah.
Ukuran dada..” “ Apa itu dada? Mil”
“Ukuran payu daraku, 34 B cukup sintal dan bisa menjepit penis ehh kontol hingga muncrat”. “Baguss ayo terus Mil”.
“Hmmmm, apalagi pak?” “Prestasi mu apa, keahlian apa?” “Oh ya, saya bisa melakukan blow job, hand job dengan baik. Dijamin tidak kena gigi dan kontol yang saya sepong saya blow job sampe habis dan bersih.” Pak Bowo tertawa mendengar presentasi ku, aku pun tertawa.

“Bapak sudah ya” “Lho kalau Cuma segitu masak mau saya terima” Pak Bowo berdiri, mematikan rokok dan mendekatiku. Sambil membuka Bra ku. Sambil memelukku dari belakang Pak Bowo memainkan toketku, “Gua suka banget sama toket lo, mantab. Terus apa motivasi kamu kerja di sini?” “Motivasi saya untuk mendapatkan pengalaman dan wawasan baru dan mempunyai penghasilan sendiri.”
“Bukain baju saya dong. Aku menurutinya dan melucuti semua baju pak Bowo hingga telanjang bulat. “Motivasimu masak itu saja sambil memelukku dari belakang lagi mengarahkan posisi kami berpelukan kea rah lemari bukunya.

Pintu lemari yang dari kaca itu bisa membuatku sedikit bercermin melihat pak Bowo kembali memelukku dari belakang. Kali ini tangannya mulai menggerayangi vaginaku. “ummm saya ingin bekerja dengan baik kepada atasan saya sebagai sekretaris pak Bowo” jawabku sedikit terengah2 karena jari2 pak Bowo mulai berusaha memasuki vaginaku.

“Kamu tidak bermotivasi untuk ngentot sama aku ya” Sambil mulai memaksakan jarinya masuk ke vaginaku, sementara kontolnya sudah keras menekan pantatku.
“Kan…Pak Bowo Cuma liat Priska oral sex sama pacarnya” jawabku. Pak Bowo melepaskan pelukannya, tanpa diduga2 dia malah tertawa terbahak2. “Ohhh jadi Cuma boleh oral ya?” Aku mengangguk. “Ya sudah sini.

Cerita Panas - Pak Bowo membuka celana dalamku, dan dengan cepat jongkok di depanku dan mulai menciumi vaginaku. Aku benar2 tidak menduga hal ini terjadi, karena tadinya aku berharap setelah tau bahwa aku hanya akan mempermainkan pak Bowo dalam sesi interview ini dia akan menyudahinya sampai di sini.
Tapi pak Bowo dengan gesit mempermainkan lidahnya yang sudah sangat membuatku geli. Tadinya aku pikir aku bisa mempermainkan tetanggaku ini, tapi sekarang aku dibuatnya horny berat dengan permainan oralnya. Apalagi waktu dia mengangkat kaki kiriku kepundaknya sehingga dia bisa melahap vaginaku dan memainkan lidahnya.

Aku tidak tahan mengerang2 kenikmatan. “Pak ….. pak sudah paaak engggghhhhh” aku terus memintanya berhenti karena rasa nikmat ini tak terbendung, dan aku malu sekali dibuatnya. Baru kali ini ada yang rela melakukan oral kepadaku, dari semua laki2 yang pernah berhubungan sex dengan aku semuanya egois.
Pak Bowo terus melakukan itu hingga akhirnya ambroll pertahananku. Ketika pak Bowo berdiri tangannya masih bermain di vaginaku untuk membantu proses orgasmeku hingga tuntas. Aku memeluknya erat2. Perlahan2 Pak Bowo bergerak mundur, sambil tetap memelukku.

Dia mengajakku duduk di sofa yang tadi, aku memeluknya sambil duduk di pangkuan pak Bowo. Diciuminya aku, tercium bau kewanitaanku, tapi aku tidak peduli, baru kali ini aku tau bauku sendiri. Ciuman itu menjadi buas, kami bermain lidah dan kurasakan penis pak Bowo kembali mengeras. Dia mengangkat pantatku dan mencoba memasukkan penis itu di vaginaku.

“Pak aku gak mau…” Sahutku. Tapi pak Bowo menekan pinggangku ke bawah dengan kuat sambil kemudian menahannya. Blessss masuklah kontol itu. Aku tidak bisa meronta, karena tenaga Pak Bowo cukup kuat. Pantatku aku coba untuk naik, tapi kontol pak Bowo memburunya naik juga, membuatku mendesah2 “Pak ….ah ssshhh jangan, emmmmm sudah sudah, aku kan istri tetanggamu.

Mmm…maaf aku gak bisa” Aku mencoba meronta, tapi pak Bowo merebahkanku dengan cepat dan dengan posisi penisnya masih menancap di vaginaku. Dia pun mulai menggenjotku sedikit sedikit. Penisnya makin lama makin keras, seperti waktu aku sepong tadi tampaknya.

Dia masih diam tak berkata2 dan memelukku erat2, sementara tanganku memukul punggunya dan kaki menendang2 kesamping sofa berharap bisa jatuh terguling dan aku bisa lepas. Tapi cengkeraman pak Bowo cukup kuat dan akibat gerakan ku itu malah membuat penisnya makin keras lagi. Sehingga genjotan pak Bowo makin membuatku menggelinjang. Akhirnya aku merasa vaginaku benar2 penuh. Gila orang ini kontolnya keras seperti kayu, belum pernah aku merasakan seperti ini.

Nikmatnya Interview Birahi

By Lucy →
Aku seorang jejaka 22th, setamat SMU disebuah kota kecil yang terkenal akan reognya aku langsung merantau ke Jakarta hingga sekarang, aku bekerja di sebuah hotel di kawasan Blok M jakarta, menjadi seorang petugas laundry. Sudah 1 tahun lamanya aku dibagian itu, tapi sungguh sampai saat ini aku begitu menikmati pekerjaanku, kenapa? padahal gajiku tak bisa disebut cukup. Pas sebulan habis, emang sih kalau yang namanya duit itu tidak akan pernah ada kata 'cukup' deh..

Pertama kali aku bekerja, aku mendapatkan posisi sebagai petugas kebersihan kamar hotel, saat itulah cerita ini dimulai, terus terang aku bukan si jelek atau si tampan, tapi sedap dipandang mata kata ibuku (boleh dong memuji diri sendiri), keluargaku bukan "orang berpunya" dan aku juga tak pandai berkata-kata, mungkin itu pula sebabnya aku jadi sering kikuk, minder kalau bertemu dengan seorang wanita, apalagi wanita itu cantik dan aku tertarik padanya, duh! pasti aku tak ubahnya sebuah patung yang bisa berkeringat!

Bisa ditebak, bahwa aku belum pernah merasakan yang namanya pacaran! ah kacian deh gue, tapi tunggu dulu! bukan berarti aku tidak tertarik dengan sex, justru libidoku termasuk tinggi, dibuktikan saat aku membersihkan sebuah kamar yang dihuni oleh pasangan pria dan wanita, pastilah orang lain akan geli melihatku, karena rudalku mengeras, membatu, membesar tanpa terkendali membayangkan pergumulan penuh birahi diantara mereka, hingga aku tidak bisa bekerja dengan posisi berdiri tegak, badanku agak membungkuk bukan karena sopan, tapi aduh! malu kalau ketahuan horny.

Suatu hari aku membersihkan kamar hotel yang dihuni 4 orang ABG yang sedang berlibur di Jakarta, mereka berasal dari pulau Sulawesi, wuih! kulit mereka putih bersih bersinar, tinggi 160an membuat mereka terlihat semampai dengan berat 47an, lincah, cantik, aih sungguh menggemaskan dengan usia meranum. 'Sweetseventen'.

Siang itu mereka sudah melesat ke mall, meninggalkan kamar dengan berbagai atribut ABGnya yang berserakan diseantero kamar.

"Ah anak manja! apa susahnya sih merapikan barangnya sendiri," pikirku sambil geleng kepala, setelah kurapikan kamarnya, tiba saatnya aku membersihkan kamar mandi.
"Hah, berantakan juga rupanya!"

Terlihat baju-baju bergoyang-goyang di belakang pintu kamar mandi saat aku masuk ke dalam dan kututup pintu kamar mandinya, goyangan itu membuat celana dalam dan BH yang berada di balik baju-baju itu tersembul menggoda, berwarna cerah dan bermotif lucu-lucu. Sikat gigi, sabun mandi, handuk tergeletak begitu saja, mereka benar-benar ingin bersenang-senang hingga tak ada waktu buat sedikit merapikan kamar, "Toh akan ada yang membereskan," begitu mungkin pikirnya.

Semua sudah kembali ke tempatnya, kecuali baju kotor, CD dan BH aku biarkan di gantungan, 'malu ah!' menyentuhnya, seakan ada getaran aneh, seakan-akan mereka sendiri yang dihadapanku, tetapi kemudian rasioku bekerja menyadarkanku bahwa itu hanyalah seonggok pakaian.

"Hei! kenapa malu, meskipun kau cium pun tak akan berteriak!" begitu bunyi kepalaku saat memandang segitiga-segitiga lucu dan kacamata mungil penutup dada itu.

Sesaat aku memandangnya lagi, dan mulai tergoda untuk menjamahnya, tanpa sadar tanganku bergerak meraihnya untuk sekedar mengelusnya, tanganku bergetar hebat saat memegangnya lalu tiba-tiba muncul perasaan horny yang meluap-luap hingga aku mulai mengendus, mencium celana dalam warna putih yang berhiaskan bunga-bunga kecil itu dengan birahi yang menggelora. Ooh! betul-betul birahiku memuncak saat kuhirup dalam-dalam aroma kewanitaan para gadis belia itu, kupenuhi rongga dadaku seakan tak ingin kusisakan ruang kosong paru-paru ini tanpa wangi tubuh dan keringat sedap yang menempel di CD dan BH itu. Kakiku terasa lemas sementara batangku semakin mengeras.

Kuremas-remas dengan gemas dan sekali lagi kuhirup dalam-dalam kesegaran aroma keringat yang melekat erat di celana dalam dan BH itu, aku jadi ingat saat para gadis itu bererobik tadi pagi, "mmhh.. Mmhh aah ssh.. " aku bernafas dengan hidung tertutup kain berenda itu, secuil aroma pipis menambah rasa birahiku menjadi-jadi, seakan aku benar-benar melumat vagina para gadis itu.

Aku semakin larut dengan fantasiku, celana dalam dan BH kotor yang digantungan sebanyak 4 pasang plus baju-baju kotor dengan wangi badan penuh sensasi gadis remaja membalut seluruh tubuhku yang tanpa sadar sudah polos telanjang! Benar!, seolah aku bersetubuh dengan mereka, berempat sekaligus, aku tersandar di dinding kamar mandi sambil mengusap-usapkan ke penisku dengan lembut celana dalam tipis itu bergantian dengan tangan kiriku sambil terus beronani, tangan kananku membenamkan BH dengan bau asam keringat yang segar itu ke hidungku, sementara kaos-kaos centil yang saat dipakai akan memamerkan ketiaknya yang putih bersih dan tak cukup untuk menutupi keindahan perut dan pusar pemakainya itu kututupkan diseluruh tubuhku yang terus bergetar hebat.

Kulihat bagian CD yang menyempit diselangkangan, terdapat noda-noda samar dan lendir bening tipis diatasnya, kuhirup dengan nikmat! kujilat, kuhisap seolah menjilat vaginanya dengan gemas, agak asin rasanya. Kulahap dengan ganas, kutarik, kugigit, oohh nikmatnya..

Kubentangkan CD yang mungil itu dan kutempelkan bagian selangkangan penutup vagina itu di penisku, woow! besarnya kotolku terlihat tak sebanding dengan lebar penutup vagina dibagian bawah celana dalam itu, rudalku terlihat terlalu besar untuk ukuran selangkangan para gadis itu, nafsuku menjadi meledak membayangkan begitu sesaknya jika rudalku memasuki vaginanya! tiba-tiba badanku bergetar hebat, sensasi yang luar biasa!!, penisku tak kuasa menahan muntahan lahar kenikmatan yang berdenyut-denyut mendesak keluar itu dan "Ah..! ah! nikmat sekali!". Terasa berliter-liter melesat keluar dibarengi sengatan gairah birahi dan terus kukocok-kocokkan serta kugesek-gesekkan rudalku pada celana dalam dan BH itu hingga getaran yang menyerang seluruh tubuhku membuat diriku terkejang-kejang tak terkendali.

Peluhku berluncuran diseluruh tubuhku, lemas, lega, bercampur aduk membuat rasa sensasi yang luar biasa di benakku, kubiarkan nafasku yang memburu perlahan berangsur normal, setelah beberapa menit terkulai lemas, aku mulai bangun, beranjak merapikan baju-baju kotor para gadis itu yang ikut terlempar berserakan saat aku mencapai orgasme hebat, kubersihkan ledakan dan ceceran lahar yang menempel pada CD dan BH dengan tissue agar tersamar, bagaimanapun aku tak ingin mereka tahu bahwa 'daleman' mereka telah kujadikan bulan-bulanan alat pemuas nafsu birahi dan yang pasti supaya mereka tidak curiga sehingga aku tetap bisa leluasa "menikmati" celana dalam dan BH kotor mereka selama menginap di hotel tempatku bekerja.

Sejak saat itulah aku menjadi tergila-gila untuk menciumi celana dalam kotor para gadis, katakanlah ada seorang gadis dengan bodi aduhai, cantik, menarik dan saat duduk roknya terbuka sampai terlihat celana dalamnya atau pada pantatnya terlihat garis celana dalamnya maka aku tidak terlalu tertarik padanya, yang ada di pikiranku justru,

"Andai aku bisa menciumi, menjilati, merasakan kelembutan celana dalamnya ah.. Betapa nikmatnya".

Celana dalam yang menjadi korbanku pun semakin banyak berjatuhan, aku semakin terobsesi untuk merasakan segala tipe cewek lewat celana dalam dan BHnya, aku merasa sudah ' merasakan' seorang wanita hanya dengan mencumbu dalemannya, bukankah celana dalam dan BH adalah barang yang paling pribadi? seolah dengan mendapatkannya aku pun telah menikmati tubuhnya.

Mulai dari wanita pribumi sampai dengan wanita bule kuperkosa dalemannya, ada yang aku ambil dari kopernya, cantelan kamar mandi, dan sebagainya. Aku tidak tertarik jika wanita itu sedang mens (soalnya enggak ada aromanya, pake softex sih), sehabis atau sebelum mens juga males! kurang menggairahkan aromanya, wanita yang habis ditiduri (merasa didahului), gemuk!, terlalu jorok, yang jelas aku suka yang sehabis dipakai wanita muda dan model CD atau BHnya tidak aneh-aneh.

Juga yang paling aku sukai adalah cara penyimpanannya karena kadang CD atau BH setelah dipakai dan belum dicuci tersebut disimpan rapi jali, tersembunyi sekali, menjadikan aku berdebar-debar saat mencarinya, ada sensasi tersendiri setelah agak susah mencarinya. Pernah suatu ketika aku mencarinya sampai isi tas aku ubek-ubek, ada duit 10 jeti disimpan disitu, ah tapi aku tak tertarik tuh! Gile ya.. Aku lebih senang si segitiga itu! Akhirnya tetap juga tidak aku temukan, hingga aku baru tahu, ternyata dia memakai segitiga yang dibikin dari kertas tissu yang banyak dijual di swalayan, waah! Dan dibuang di tempat sampah, ini juga aku tidak suka, aku lebih suka kain biasa yang mungkin di benakku terlintas bahwa celana dalam tissue tidak mempunyai nilai historis, pakai sekali langsung buang!

Kebiasaanku semakin parah saat aku bertugas di laundry, yang tadinya aku perlu mengetahui siapa pemilik celana dalam dan BH itu, agar pada saat berfantasi benar-benar nyata, maka sekarang celana dalam dan BH wanita siapapun asal ukurannya tidak besar, tidak sedang haid, dan baru saja dipakai, menjadi santapanku saat membongkar laundry bag. Aku mempunyai ruangan tersendiri yang bisa kukunci, sehingga aku dengan santainya membawa celana dalam dan BH itu keruanganku, biasanya kulakukan saat malam hari, wah kadang ada belasan celana dalam dan BH dalam semalam! berwarna-warni, menggairahkan! sampai-sampai aku perlu membuat catatan dahulu, supaya tidak tertukar-tukar saat mengembalikan ke dalam keranjangnya masing-masing.

Aku semakin bertambah berani dengan menyemprot CD dan BH itu dengan lahar kenikmatanku (toh pemiliknya tidak bakalan tahu), aku merasa puas saat melihat CD dan BH yang tak berdaya itu berbasah-basah dengan spermaku.

Apakah semua itu aneh? Apakah kebiasaan itu bisa hilang setelah aku berpacaran atau menikah? Ah.. Sudahlah yang penting sekarang libidoku tersalurkan supaya tidak jerawatan dan tidak menjadi pemerkosa yang sebenarnya. Aku merasa dengan daleman wanita untuk beronani perasaanku menjadi lebih santai (mungkin karena tidak akan ada penolakan, protes atau semacamnya, merasa bebanku lebih ringan karena tidak ada pihak yang dirugikan toh aku bermain dengan fantasi, lebih pribadi karena aku lebih tahu fantasi apa yang kusukai, aku merasa cukup hanya dengan mendapatkan 'daleman' wanita, serasa aku berhasil melumat kewanitaanya tanpa harus berkenalan, pendekatan dan sebagainya, mungkin karena aku suka minder dihadapan mereka ya? Dan yang pasti lebih murah! karena tinggal nyomot aja.

Aku, Celana Dalam dan Bra

By Lucy →
Nama gue Doni dan nama gue maupun tokoh yang ada di cerita gue ini 100% adalah nama samaran. Akan tetapi kejadian ini adalah pengalaman gue dan tokoh yang ada di dalamnya. Gue mau ceritakan pengalaman gue waktu kuliah disebuah kota di jawat timur yg terkenal karena apelnya. Kejadiannya kurang lebih 10 tahun yang lalu, gue inget kisah ini gara2 gak sengaja ikut grup fb alumni dan ybs nge-add pertemanan dan kami bercerita kejadian yang lalu. Cerita ini dimulai waktu gue menginjak semester 9. Saat masa2 akhir kuliah gue di kota apel ini. Gue ini tergolong mahasiswa kadaluarsa, yang baru lulus 5++ tahun di kampus yang isinya 'calon' engineer semua.

Saat semester itu, gue terpaksa mengulang beberapa mata kuliah yang dengan nilainya mengenaskan (C- & D). Mungkin untuk ukuran mahasiswa teknik biasa mengulang dijaman gue. Gue kenal dengan adek tingkat gue, sebut saja namanya Evi dari doi semester 1. Karena gue dulu aktif di
organisasi kampus (dan ini juga yg bikin kuliah gue terbengkalai karena keasikan berorganisasi). Perkenalan gue dengan Evi hanya sebatas hubungan teman kuliah - kakak tingkat. Tidak kurang dan tidak lebih. Hingga semuanya berubah saat gue mengulang mata kuliah. Gue inget banget mata kuliah itu, soalnya selain SKS nya banyak, tugasnya banyak, laporan nya jg ngga ada enak2nya.

Awalnya, gue mengikuti perkuliahan seperti biasa yg dilakukan oleh semua mahasiswa lainnya. Hingga pada saat dosen gue ngasih tugas bikin laporan. Kebetulan karena gue mengulang mata kuliah, dan gue sudah pernah bikin laporannya, jd gue gak wajib mengerjakan. Hingga akhirnya adek tingkat gue si Evi ini tanya2 ke gue tentang tugas laporannya.

Siang itu, setelah mata kuliah selesai, Evi ngedatangin gue.'Kak Doni, tugasnya dulu dapat nilai apa? Evi pinjem dong' tanya Evi ke gue pas gue barusan mikir abis kuliah ini nongkrong di warung depan kampus ato nongkrong di kosan aja. Klo gak salah dapet B+. Emang kenapa Ev? gue jawab sekenanya aja. 'Hmnn.. Evi boleh pinjem gak laporannya, buat contekan bikin laporannya. "Boleh aja, tapi aku ga bawa sekarang, tp ada
di kos. Klo mau ambil dikosanku, taukan?" jawab gue sekenanya, soalnya doi jg tau kosan gw karena kosan yg gue tempati ini kosan yg gue tinggalin selama 3 tahun terakhir. Jd buat adek2 tingkat gue, udah hapal banget lokasinya, soalnya jd tempat buat pinjam-meminjam laporan tugas buat bahan contekan selanjutnya.

'Ya tau, nanti sore dah aku kesana, no hp kakak gak ganti kan?' cerocos Evi lagi, "ngga, masih yang dulu" jawab gue singkat. "oke deh kak, nanti klo mau kesana aku sms". 'oke' jawab gue. Dan pembicaraan pun selesai. Gue keluar dari kampus, nongkrong di warung depan kampus bareng temen2 gue yg kebetulan kaga hobi kuliah hahahaha.

Kemudian sekitar jam 3 sore, waktu itu gue barusan bersih2 kamar. Soalnya bau apek yang samar2 mulai tercium waktu gue pulang dari kampus siang tadi. Kamar cowo yg fungsi kamar hanya buat tidur dan ngerjain tugas. Selebihnya aktivitas gw nongkrong di kampus. Kelar beres2, gue nyalain pc, pasang winamp muter musik favorit gue, metal. Sekalian gue sembunyiin stok miras gue. Bukan miras mahal kek yang di cafe2, cuman vodka botol gepeng. Maklum anak kuliahan, yg masih menjajah kiriman ortu.

Sore itu, setelah gue beres2 kamar. Gue dapet sms "Kak Doni, gak kemana2 kan? Aku otw ke kosan -Evi". Hmnnn... gue bales aja singkat "oke, tak tunggu". Gak lama setelah gw beres2 kamar, temen sekos gue yg juga temen sekampus maen ke kamar, ngobrolin bahan skripshit dll. Sampe akhirnya mahluk ajaib ini muncul. Tapi Evi ini gak dateng sendirian, mungkin segan ato gimana, doi bawa temennya yg juga adalah adek tingkat
gue. Astaga gue fikir, jd pembimbing tugas buat 2 kepala neh gw mikirnya.

Gue buka obrolan aja "Ayo masuk sini, ada Hendrik juga" kata gue. Terus masuklah 2 mahluk gueh ini. Oiya temennya Evi ini namanya Kasih. Mulailah
kami berempat ngobrolin kuliah, tugas, kegiatan organisasi kampus, sampe akhirnya temen gue si Hendrik pamit soalnya dijemput pacarnya mau kemana gitu gue lupa.

Setelah puas ngobrol2 basa-basi gak jelas, Evi buka obrolan lagi "Kak, pinjem tugasnya". "Tuh di meja, udah gue siapin dari tadi" jawab gw singkat. Trus Kasih nanya ke gue "Kok bisa kak Doni ngulang tugas, ini nilainya bagus". "Biasa, banyakan bolosnya daripada ngikut kuliahnya, makanya nilai endingnya C-" kata gue. Bukannya apa, eh mereka berdua malah ketawa. "Wah, gak sopan kalian, udah minjem malah ngetawain, sini gak jadi tak pinjemin" kata gue sok2'an pelit. "Becanda kak" kata Kasih, "Iya nih, kak Doni gitu aja marah" lanjut si Evi. "Lha gue lebih becanda kok" jawab gue sambil ngakak lebih kenceng. Sambil buka2 tuh laporan sialan, mereka dengerin lagu yang tanpa sepengetahuan gue, si Hendrik tadi
ngelist lagu rap indo yg isinya ngentot2 apalah itu. Spontan, mereka berdua ngakak lagi, trus nanya ke gue. "Itu lagu sarap gitu liriknya" kata si Evi. "Yang nyanyi sarap, yang dengerin juga sarap, produsernya lebih parah" jawab gue. "Buat lucu2an aja kali tuh lagu" jawab gue lagi.

Gak lama setelah itu, tiba2 hujan deres. Refleks gue lompat, lari ke tempat jemuran pakaian, ngangkutin jemuran gue tanpa gue sadar waktu
gue lompat dari posisi duduk di lantai, tangan gue nyenggol toket si Evi. Sampe gue masuk ke kamar lagi sambil ngebawa tuh jemuran yg keserempet air hujan gue liat si Evi meringis.

"Kenapa Vi" tanya gue, "Tangan kak Doni offside tadi pas lompat trus kena toket Evi" kata Kasih sambil ngakak. "Waduh gak sengaja neh, sorry vi, sumpah ga sengaja" kata gue. "Iya kak gak apa2, Evi tau kok tadi kakak gak sengaja, lompat gitu trus lari ke jemuran" jawab Evi sambil meringis setengah ketawa. Berhubung suasa hujan, gue permisi nutup pintu kamar, kawatir juga hujannya campur angin, bisa basah ntar kamar gue.
Oiya, posisi kamar gue ini di lantai 2 trus posisinya dipojokan dan pemandangan depan kamar gue adalah lapangan. Jadi bisa dibayangin kalo hujan campur angin bisa basah semua kamar gue kalo gak gue tutup.

Terus gue suguhin dua mahluk gueh ini minuman sachetan campur air panas ama kacang. Sambil ngobrol2 nungguin hujan reda si Kasih nyeletuk "Dingin2 gini enaknya kopi kak, tp lebih enak lagi klo ada gorengan" sambil nyengir. Gue jawab "Klo gorengan gue gak ada, klo vodka gue ada. Campurin dikit di kopi enak kok. Irish Cappuccino versi anak kos" jawab gue enteng. "emang ada vodkanya kak" kata Evi. "Ada, kamu mau?"
tanya gue. Mereka berdua ngangguk. Heran gue ama mahluk ajaib ini, udah minjem tugas, minta diajarin dikit2 ngitung2 cara ngerjain tugasnya, ngurangin jatah gue lagi. Gue tuangin masing2 3 tutup botol sigepeng ini ke cangkir kopi sachetan mereka. Nampaknya mereka menikmati rasa uniknya, apa mereka juga doyan miras fikir gue.

"Wah kak Doni enak nih kopinya" kata Kasih.
"Iya enak, sayangnya kopinya udah abis, pengen segelas lagi soalnya" kata Evi.
"wih, kalian ini mustinya kesini bawain kakak apa gitu kek, ini ngurang2in jatah kakak aja" jawab gue sambil ketawa.
"hehehhe... lama kan kak, kita berdua gak ngobrol2 lama gini" kata Kasih.

Memang dulu waktu mereka masih semester 1, gue lumayan akrab dengan mereka. Karena apa.... Karena gue
ngulang mata kuliah di semester 1 waktu gue semester 3 T__T

"dah ini aja, tapi minumnya pelan2" sambil gue tuangin ke gelas mereka.
"ih gak enak kak" kata Evi
"iya, enakan jack-d klo gak dicampur kek gini" Kasih nerusin.
"monyong, kalian bandingin kok miras anak kos sama miras cafe, ya ga nyambung" jawab gue kesel
"ih kak Doni sewot, kan cuman bilang doang" jawab Kasih sambil ngakak.
"Kak Doni masih pacaran sama Imel" tanya Evi.
"Ngga, udah putus 2 bulan lebih. Ga tau dia ama siapa sekarang" jawab gue santai.
Dan minuman pun mengalir perlahan di obrolan kami sambil menanti hujan yang tak kunjung reda.

Sampe akhirnya Kasih numpang rebahan di kasur gue, bilang kepalanya agak nyut2. Gue bilang jangan sampe mabok kalian berdua, gimana nanti kalian pulangnya. "Tenang aja kak, klo mabok ntar pake taxi aja" jawab Evi. Gue dan Evi lanjut ngobrol sambil ngabisin miras. Setelah beberapa saat berlalu, tanpa peringatan tanda bahaya, tiba2 Evi deketin gue dan bisikin ke gue.

"Kak doni, mau gak jadi pacarku" tanyanya sedikit menggoda.
Bakal ngerasa dikerjain lagi, gue jawab sekenanya
"Bayar dulu baru boleh jadi pacar kakak" jawab gue acuh.
Tiba2 Evi nyipok gue, gue yang kaget setengah mati awalnya nahan badan nih anak. Akal sehat gue yg masih terjaga kalo cuman ngabisin 2-3 botol sigepeng ini mencoba nahan pundak Evi. Tapi Evi udah kalap, nyipok gue sampe gue ikutan terjatuh ke kasur di sebelah gue. Dengan posisi Evi di atas, dan dua tangan gue dipundaknya, gue mulai mikir nih anak kenapa. Iseng2 ambil kesempatan gue remes2 toket biadabnya. Toketnya
lumayan gede, dan setelah beberapa kali ML ama doi, gue akhirnya tau ukuran doi 34C.

Gue remes2in tuh toket sambil gue ambil kesempatan, sambil juga biar doi sadar. Tp bukannya sadar, tangan gue yang lagi ngeremes tuh toket malah ikutan diremes2. "Yang keras kak remesnya" bisiknya lembut di telinga gue. Gue makin intens ngeremes toketnya, sampe akhirnya gue selipin tangan gue ke balik bajunya. Lepasin baju dan bra doi. Dan terpampanglah toket sakti kebanggaan wanita indonesia sejak dulu kala.
Padat kencang dan putingnya yang tegak menantang. Gue hisap toket sebelah kanan, dan tangan kiri gue milin2 toketnya yang sebelah kiri.
"iya kak, terus kak, yang kuat isepnya...aaaaaahhhh...sssshhhhhh" bisik Evi sambil menjambak rambut gue.
"iya sayang, toketmu indah banget, gue suka banget toketmu" jawab gue sekenanya.
Suasana makin panas, Evi beranjak dari atas gue, tiduran di kasur di sebelah gue, sementara Kasih tidur di pojokan. Gue ga ngerti ini Kasih mabok apa gimana gak gerak sama sekali. Padahal disampingnya perang dunia III tengah berlangsung.

Kali ini gue yang ambil inisiatif lepasin celana panjang Evi. Gue lepasin CD nya, terpampanglah bukit kecil ditumbuhi bulu yang jarang. Perfect banget batin gue, sementara Evi dalam keadaan memejamkan mata. Mulai gue jilatin lubang kenikmatannya, gue mainin itilnya dengan lidah, jari, hidung dengan apa yg gue bisa gue nikmatin tuh memek cantik.

"Hisap terus kaakk, kocokin memek Evi juga, gatel disitu" perintah Evi. Dengar komando seperti itu, makin kesetanan gue mainin tuh memek indah. Sampe beberapa saat Evi teriak "kaaaaakkk, evi keluaaarrr uuuughhhhhh... ssshhhhh....ooooohhh" dan gue ngeliat fenomena aneh. Live squirt. Kaget gue sampe akhirnya gue sadarin gue nelan hampir semua tuh air kenikmatannya. Napsu gue juga udah di atas kepala, gue lepasin baju dan celana gue.
"kakak entot yah sekarang vi" bisik gue
"iya kak, yang kuat kak" jawabnya sambil meluk gue.
Gue arahin mister hepi gue ke memeknya. Perlahan dan pasti kontol gue hilang dan lenyap di dalam lobang kenikmatannya. Kemudian gue genjot perlahan namun penuh hentakan disetiap tusukkan.

"kakk, enakk... kakak pinter ngentotin evi. kontol kakak enak.. evi suka" kata Evi
"klo Evi suka kasar kakak bisa lebih dari ini" jawab gue
"iya kak, lebih kasar lagi, kuatin lagi kak... entotin Evi sampe kakak puas"
Makin beringas gue entotin Evi sore itu ditengah derasnya hujan.
"ooooohhh ooooohhh...ssshhhh aaaaahhhh ssshhhhh ennaakk kak... terus kak Evi mau keluar lagi"
"iya sayang....keluar aja...nikmatin kontol kakak"
"uuhhhh kaakkk cepet.. cepettt...aaaahhh iya gituuuuuu"
gue sodok makin ganas, makin cepet, makin bertenaga
"Evi keluar lagiiiiii....aaaahhhh...ssshhhhh...."
gue merasa aliran panas mengalir di kontol gue. Perlahan gue cabut, gue biarin Evi menikmati orgasmenya.
Sambil gue ketawa liat ekspresinya dari kakinya yg gemetaran.

Tanpa kami berdua sadari, Kasih balik badan dan melihat kami berdua dalam keadaan bugil.
"Vi, minjem kontol kak Doni juga yah sayang. Aku juga sange' nih daritadi" rengek Kasih ke Evi
"Iya gak apa2, tapi Kak Doni punyaku. Kamu lanjutin dulu. Aku gak kuat" jawab Evi
Kaget gue dua kali. Kaget karena diliat Kasih kami berdua bugil, dan kaget karena Kasih minta dientot gue juga, dan diijinin sama Evi.
"kamu gak apa2 Vi aku ngentot sama Kasih" tanya gue.
"gak apa2 kak, kami berdua hampir setengah tahun gak ngentot. pasti dia kepengen juga" jawab Evi.

Kemudan Kasih melepaskan seluruh pakaian yang melekat dibadannya. Sepintas gue liat CD nya yg basah. Benar2 basah dan gue yakin banget, Kasih bener2 udah sange' luar biasa. Tapi gue niat main2in dulu. Gue menjelajah dari toketnya yang lumayan besar, dan menikmati memeknya yg montok dan tembem.

"Kak Doni, masukin sekarang kak..Kasih gak tahan" rengek Kasih.
"iya sayang, kakak masukin ya" jawab gue
Perlahan gue masukin kontol gue, dan gue liat Evi senyum ke gue sambil tangannya ngeremes toketnya sendiri.
"uuhh kak Doni, kontol kakak enak...uuuuhhhhh...aaaaahhh"
"kamu suka kontol kakak sayang"
"sukaaa....uhhh...kena tempatnya kak..geliii..enaaakk...ssshhhhh aaahhhh"
gue genjot makin cepat, karena gue tau posisi G-spotnya tiap gue tarik kontol gue, Kasih mecengkeram tangan gue sangat kuat.
"kakak...entotin Kasih yang kasar kak...enaaakkk...ooohhhsss"
"iya sayang...memek kamu enakkkk...kakak juga suka memek kamu"
"kak...terus...enaakkk...oooohhh"
Gue genjot Kasih semakin kuat, tiba2 Evi bangun dari tidur dan mencium bibir gue.
"kakak aku juga mau dientotin sekarang" bisiknya
"iya sayang...." jawab gue
Gue beranjak dari memek Kasih, dan memposisikan Evi berbaring disampingnya. Gue perlahan genjot memeknya
lagi dengan kasar dengan posisi gue setengah berjongkok dan kedua kakinya bertumpu di bahu gue.
"kaaaakkk.....aaahhhh....aaaahhh..."
"iyaa...ooohh....enak kakkk...teruss...."
Gue genjot memeknya dengan kuat, sampe akhirnya air ajaib keluar lagi. Kali ini muncrat seperti air kencing, setinggi dada gue.
"aku keluuaaaaaaarrrr lagiiii kkaaaaaakkkkk aaaaahhhh" teriak Evi
Kemudian tangannya menarik leher gue. Kami berciuman, saling memainkan lidah dan menikmati setiap pertukarannya. Sampai akhirnya Evi bilang "Kak, Kasih nungguin giliran tuh"
Gue tersenyum dan bilang "siap boss"

Gue cium bibir kasih, dan diapun menerimanya dengan penuh penantian panjang.
Kami berdua saling berpagutan, berguling dan akhirnya gue di posisi dibelakang Kasih, sementara Kasih menghadap ke Evi. Gue jilat2 belakang leher dan telinganya sambil gue masukin kontol gue dari belakang.
"uuhhh... kak Doni pinter..sshhhh enak kak..." rintih Kasih
"pacar siapa dulu dong" jawab Evi
Gue cuman bisa senyum, dan gak berhenti gue mikir ini gue gak salah apa neh, sampe bisa ngentot 2 mahluk ajaib sore ini.
"kak..uuuhh... aku mau nyampee..."
"iya sayang... kakak juga mau keluar...aaaahhh"
"aaaaahhh aaaahhh...ssshhh di dalem aja kak, aku lagi aman" kata Kasih
"boleh gak sayang aku keluarin di memek Kasih" tanya gue ke Evi
"boleh kak... keluarin yang banyakk" jawabnya pelan
Gue makin percepat sodokan gue, Evi kemudian mencium bibir gue. Gue liat juga tangannya menggesek2 ke itil Kasih sehingga Kasih makin belingsatan.
"Evi...jangann...ooohh....aku...gak kuaaatt Vi" rintih Kasih
"Evii.... ooohhh... kakak.. yang kenceng...aaauuuhhhh aku keluarrr lagiiiii" pekik Kasih
Gue lepasin bibir Evi, gue jilat dan hisap2 tengkuk Kasih, sementara Evi menjilat dan menghisap toket
Kasih. Dan membuatnya semakin belingsatan.
"aku keluaaarrr uuughhhhh....aaahhhhh" pekik gue
"aaaahhhh... kak doniii.... panas... ooohhh" rintih Kasih
Gue mengejang sambil menghentak2an pinggang gue, memompa peju gue untuk keluar semua ke rahim Kasih hingga selesai. Kemudian dengan sisa2 peju di kontol gue, Evi menghisapnya sekuat tenaga. Sensasi yang luar biasa. Enak geli bercampur ngilu.

Dengan sisa2 tenaga, gue bangun dan ambil tisu. Gue bersihin sisa2 lendir di memek Evi dan bersihin bekas
peju gue dari memek Kasih. Kemudian gue ambil posisi ditengah2 mereka berdua. Sambil bersandar di tembok
sementara mereka tiduran sambil memeluk gue.

"kak, kakak pacarku tapi boleh kok ngentot sama Kasih" kata Evi
"kenapa bisa gitu" tanya gue
"soalnya Kasih juga suka sama kakak dari dulu. aku gak bakalan cemburu kok, aku juga sayang sama Kasih"
"Kasih sendiri gimana" tanya gue ke Kasih
"aku sih gak apa2 kak, klo aku pengen ato kakak pengen sama aku. kakak kasih tau aku aja, tapi bilang ke Evi dulu. aku gak mau kita bertengkar" jawabnya
"iya dehh... kita rahasiain hubungan bertiga ini. klo aku sama kamu Vi, mau gak mau musti terbuka. tapi klo hubungan aku sama Kasih. orang lain gak boleh tau" kata gue lagi. Merekapun mengiyakan dan memeluk gue.

Dan malam itu, kami bertiga menikmati percintaan ini sampai jam 2 malam. Mereka saling bergantian menjadi teman tidur gue, antara Evi atau Kasih yang menginap di kamar gue. Atau mereka berdua yang nginap di kamar gue. Pernah juga gue nginap dikosan mereka yang kebetulannya mereka teman sekamar. Bisa dibilang, setiap kali kami bercinta lebih banyak diakhiri dengan creampie. Hingga pernah suatu waktu, mereka berdua terlambat beberapa hari dan gue panik luar biasa. Bisa bayangin gak awkwardnya, kalo sampe jadi gue bakalan punya 2 bini 2 anak langsung. Tapi untungnya cuman terlambat sekian hari aja. Setelah kejadian itu, kami jadi lebih berhati-hati. Menghitung masa subur antara mereka berdua jadi agenda rutin gue, kalo gue pengen creampie. Selebihnya ya muncrat di perut ato CIM. Hubungan ini bertahan lebih dari 1 tahun selepas gue wisuda, karena gue belom ada niatan balik ke kampung halaman gue, dan juga kenikmatan yang diberikan oleh dua mahluk ajaib ini.

Setelah bercerita2 mengenang +/- momen 10 tahun yg lalu lewat fb dengan Evi dan Kasih, dan rencana agenda reuni wisudawan yang akan dilaksakan tahun depan. Terbesit di benak gue, entah apakah kami bertiga bisa mengulang kisah lama kami, atau hanya bahan obrolan rahasia antara kami bertiga.

Tugas Kuliah dan Mahluk Ajaib

By Lucy →
Pada mulanya aku sering berpikir apakah aku ini normal atau tidak. Tapi setelah membaca dari sebuah situs terkemuka di internet, katanya pikiran yang sering menggodaku ini normal-normal saja. Bahkan kata situs itu, lebih dari 50% para suami suka membayangkan seperti yang sering kubayangkan. Suka membayangkan, seandainya istri mereka disetubuhi lelaki lain. Terutama mereka yang sudah mulai dilanda kejenuhan dalam rumah tangganya.

Apakah aku sudah mulai jenuh pada Hanny yang sudah 10 tahun menjadi istriku dan menjadi ibu dari kedua anak-anakku? Bukankah dahulu aku begitu tergila-gilanya pada Hanny, sehingga tak sabar lagi ingin cepat-cepat menikahinya waktu ia baru lulus kuliah? Karena takut keburu disamber pria lain?

Ya, tadinya Hanny adik kelasku di SMA. Waktu aku kelas 3, dia baru kelas 1. Dan aku hanya mengejar D3, lalu kerja dan cepat-cepat menikahi Hanny yang baru lulus kuliahnya.

Hanny lahir dari keluarga yang cukup mapan. Sehingga ia tidak terlalu merongrong padaku, bahkan mertuaku mendorong agar aku melanjutkan kuliah sampai S1. Kerja sambil kuliah, akhirnya membuatku lumayan berhasil di kantorku. Setelah meraih S1, posisiku makin baik di kantorku.

Hanny bisa kusebut luar biasa bentuknya. Teman-temanku juga menganggapku sukses, karena berhasil mempersunting Hanny yang demikian cantik dan seksinya. Kulitnya termasuk putih bersih untuk ukuran orang Indonesia. Tubuhnya tinggi langsing, tapi payudaranya lumayan besar, dengan bra ukuran 34 B, yang selalu dirawat agar tetap kencang. Wajahnya rada mirip Tia Ivanka. Bahkan di mataku, Hanny lebih cantik. Kulitnya pun lebih putih daripada kulit Tia Ivanka. Dan hidungnya tergolong mancung.

Aku mau to the point mengapa aku membuat tulisan ini. Sekaligus untuk sharing dengan teman-teman yang memiliki kesamaan dengan pengalamanku. Yang menjadi titik masalahku adalah gairah seksualku. Meskipun aku mempunyai seorang istri yang cantik dan seksi, gairah seksualku menurun sejak setahun yang lalu. Kalau aku bersenggama dengan istriku, rasanya aku sangat memaksakan diri, mencari-cari gairah untuk memenuhi kewajibanku sebagai seorang suami. Padahal umurku baru 35 tahun, sementara istriku baru 30 tahun.

Aku sering merasa bersalah kalau tidak memenuhi kewajiban batin pada istriku. Padahal aku tahu istriku sangat dominan nafsu seksnya. Terkadang ia sengaja merangsangku sedemikian rupa, dengan tujuan agar aku menyetubuhinya. Lalu aku pun mengkhayalkan macam-macam supaya gairah seksualku bangkit. Anehnya khayalanku lain dari yang lain. Aku suka membayangkan Hanny sedang disetubuhi orang lain. Lalu aku merasa cemburu dan dari kecemburuan itu bangkitlah nafsuku. Kemudian aku berhasil membangkitkan kejantananku dan menggauli istriku sebagaimana mestinya.

Aneh memang. Aku seperti mendapatkan obat yang mujarab kalau mengkhayalkan istriku sedang disetubuhi orang lain, sementara aku seakan-akan berada di dekat mereka. Kemudian hal ini berlanjut dengan kebiasaan baru. Aku suka nonton dvd bokep. Tapi setelah sering digoda oleh khayalan aneh itu, aku jadi pilih-pilih waktu mau membeli plat dvdnya. Hanya yang 3some atau swinger yang kupilih. Yang 3some, hanya MMF (male-male-female) yang kupilih. Lalu aku nikmati dvd-dvd porno itu dengan membayangkan seolah-olah aku jadi salah seorang pria yang sedang menggauli wanita itu. Isteriku juga suka kuajak nonton bareng. Meski ia tidak begitu suka nonton film porno, tapi setelah sering kupaksa akhirnya mau juga menontonnya di dalam kamarku.

Waktu nonton film 3some atau bang my wife atau swinger, pada mulanya istriku berkomentar seperti tidak suka, "Ih...masa satu perempuan dikeroyok dua laki-laki begitu?!"

Aku berusaha menjawab sambil memberi sugesti sedikit demi sedikit, "Tapi dengan threesome begitu, semua pihak jadi puas sekali."
"Maksud Mas?" Hanny memandangku dengan sorot heran.
"Hehehe... cewek itu pasti akan merasa lebih puas digauli dua orang cowok daripada sama satu cowok. Lihat... dia dielus dari dua arah, jadi lengkap kan? Dan hehehe... pasti lebih variatif, karena ada dua macam batang kemaluan...."
"Tapi cowok-cowoknya?"
"Akan lebih puas juga. Waktu temannya sedang menyetubuhi perempuan itu, gairahnya jadi bangkit lagi. Jadi yang biasanya cuma kuat satu kali dalam semalam, kalau threesome begitu bisa tiga atau empat kali seorang. Kalau dua orang... ya bisa sampai delapan kali atau lebih perempuan itu menerima ejakulasi partner-partnernya."
"Ihhh..." istriku bergindik.

Lalu pandangan kami tertuju ke film lain. Tentang seorang suami yang sudah tua, sementara istrinya masih muda. Judulnya juga "Please bang my wife". Bisa ditebak seperti apa jalan cerita film itu.
Lagi-lagi istriku protes, "Kok bisa ya suami itu menyuruh orang lain menyetubuhi istrinya?"

"Itulah salah satu kreativitas dalam kehidupan seksual, untuk mengatasi kejenuhan. Di zaman sekarang hal seperti itu sudah lazim."
"Lazim?! Di barat kali Mas."
"Di negara kita juga sudah banyak sekali yang melakukannya. Nanti deh kuperlihatkan sebuah situs yang menawarkan swinger, threesome, gang bang dan sebagainya."

Kemudian kujelaskan apa yang disebut swinger, threesome, gang bang dan sebagainya. Hanny seorang pendengar yang baik. Tapi malam itu ia memperlihatkan ketidaksetujuannya pada penjelasanku, "Manusia kok aneh-aneh sih? Masa istrinya dibiarin digauli orang lain? Disaksikan sama suaminya sendiri lagi. Apa suaminya nggak cemburu?"
"Tentu saja cemburu. Tapi dari cemburunya itu sang suami mendapatkan sensasi. Sehingga nafsunya jadi timbul secara luar biasa. Lebih hebat daripada memakai obat perangsang."
"Ih," istriku bergindik, "Kalau aku dibegituin sama orang lain, Mas begitu juga? Jadi tambah nafsu padaku?"

Pertanyaan itu agak mengejutkan. Terlalu cepat rasanya. Tapi aku berusaha menjawabnya sambil berusaha menenangkan diri, "Aku malah sering membayangkan kamu digauli pria lain. Khayalan itu memang nyebelin pada mulanya. Tapi anehnya, setelah membayangkan hal itu, nafsuku jadi timbul, sayang."

Hanny menatapku dengan sorot penuh selidik, "Nggak salah tuh? Jangan memancing pertengkaran ah. Kita kan sudah sepakat tidak mau bertengkar lagi, demi ketentraman anak-anak kita."
Aku tersenyum. Kupeluk pinggangnya, lalu kuelus rambutnya sambil berbisik, "Aku serius, sayang. Hidup di zaman sekarang memang harus kreatif. Jangan berjiwa kampungan."
"Maksud Mas? Mau ikut-ikutan seperti di film itu? Terus hubungan kita jadi rusak dan anak-anak jadi korban, begitu?"
Susah sekali meyakinkan istriku agar mengikuti jalan pikiranku. Padahal biasanya ia penurut, senantiasa mengikuti jalan pikiranku. Tapi seperti yang kubaca dari sebuah situs, hal seperti ini memang perlu waktu. Jangan memaksakan kehendak. Semuanya harus berjalan tenang dan smoothly.

Tapi diam-diam kubujuk terus istriku agar mau mengikuti apa yang senantiasa menggoda pikiranku. Jawabannya malah semakin tegas, "Nggak ah. Jangan ngaco Mas. Mungkin Mas sudah bosan padaku dan ingin dapat izin untuk selingkuh dengan cewek lain kan? Buang saja jauh-jauh pikiran edan itu Mas. Ingat akibatnya nanti."

Aku terhenyak. Tapi aku masih punya senjata. Dengan membelai rambutnya secara lembut dan berkata setengah berbisik, "Kamu salah paham, sayang. Fokusnya bukan seperti itu. Aku ingin mendapatkan manfaat yang fantastis dari keinginan itu. Sungguh, aku akan tetap mencintaimu dengan sepenuh hati. Aku berjanji bahwa aku justru akan semakin mencintaimu, sayangku, buah hatiku, permataku...."

Istriku hanya menatapku dengan sorot nanar. Lalu memelukku, tanpa kata-kata terlontar lagi dari mulutnya. Aku pun tak mau mendesak terus. Biarlah semuanya berjalan secara santai. Jangan ada unsur pemaksaan.

Tapi diam-diam aku pun semakin aktif mengcopy kisah-kisah dan pengakuan dari para pelaku swinger maupun threesome. Semuanya kusimpan di komputerku yang bisa selalu online ke internet di dalam kamarku. Dan pada suatu pagi, sebelum aku berangkat ke kantor, kubisiki istriku, "Nanti bacalah semua salinan dari situs terkenal itu. Aku sudah saving di file dengan kode MMF. Minimal pelajari dulu, supaya kamu mulai mengerti, Yang."

Istriku tidak menjawab. Tapi sorenya, setelah aku pulang dari kantor dan sedang menikmati kopi panas di depan TV, Hanny menghampiriku di sofa. Duduk di sampingku sambil menyandarkan kepalanya di bahuku. Dan berkata, "Tadi sudah kubaca semuanya Mas."
"File MMF itu?" tanyaku dengan jantung deg-degan, karena ingin tahu reaksinya.
"Iya," sahut istriku perlahan, "Ternyata sudah banyak yang melakukan itu, ya Mas. Hampir di semua kota besar di negara kita sudah ada clubnya."
"Iya. Dan kisah-kisah nyatanya sudah dibaca juga?"
"Sudah. Ih...bikin aku degdegan bacanya."
"Sekarang mari kita bicara jujur. Kamu terangsang nggak waktu membaca kisah-kisah nyata itu?" tanyaku sambil memperhatikan wajah istriku.
"Iya sih...terangsang banget....membayangkan dua orang cowok me...ah...pokoknya terangsang Mas. Tapi Mas nggak marah kan?"
"Kenapa harus marah? Kan semuanya itu aku yang mulai, aku yang menginginkannya, karena sudah lama aku mengkhayalkannya."
"Terus?"
"Sekarang ya terserah kamu, sayang. Aku nggak mau main paksa. Aku ingin agar seandainya hal itu terjadi, tidak ada yang merasa dipaksa."
"Dan tidak boleh ada yang menyesal?!" Hanny menatapku dengan senyum malu-malu.
"Aku jamin, sayang. Kamu buktikan sendiri nanti, aku malah akan semakin sayang padamu."
Istriku terdiam. Kuelus pipinya dengan lembut, "Sudah mulai mengerti apa yang kuinginkan?"
"Nggak tau Mas. Aku takut akibatnya. Lagian emang ada orang yang mau kita ajak?"
"Ada. Dijamin ada. Orangnya dijamin bersih. Tampan dan intelektual. Bukan orang urakan."
"Lho...kok sepertinya sudah dipersiapkan sematang itu, Mas?"
"Mmm...tadinya dia itu teman chatting. Dia orang baik. Sering datang ke kantorku. Dia seumuran kamu 30 tahun, tapi masih bujangan. Dia trauma, karena pacarnya meninggal ketika dia sedang siap-siap mau menikahi cewek itu."
"Kenapa meninggal? Kecelakaan?"
"Bukan. Kena kanker hati. Dibawa ke Singapura, tapi tetap tidak tertolong."
"Terus...emangnya Mas sudah janjian sama dia?"
"Baru diajak ngobrol sepintas saja. Dia cepat mengerti, karena pernah kuliah di Amerika. Dia bilang, di Amerika hal seperti itu sudah biasa. Padahal sebenarnya di negara kita juga sudah banyak yang melakukannya."
Istriku terdiam. Ketika aku bertanya mengenai keputusannya, ia cuma berkata perlahan, "Nggak tau Mas. Aku masih takut...masih harus dipikirkan dulu baik buruknya."
"Baiklah," kataku sambil membelai rambutnya, "Pikirkan dulu sematang-matangnya. Yang jelas, aku menganggap hal itu positif. Sangat positif, demi keutuhan hubungan kita. Bukan sebaliknya."
"Kedengarannya rada aneh memang. Demi keutuhan hubungan kita, tapi jalannya seperti itu," kata istriku dengan nada dingin.
"Karena aku bisa memiliki khayalan yang fantastis. Lebih kuat daripada obat perangsang. Ini akan menimbulkan gairah yang luar biasa, baik bagiku maupun bagimu."

Hari itu tidak ada keputusan. Keesokannya kudesak lagi istriku. Lalu ia berkata, "Kalau soft dulu bagaimana Mas? Jangan langsung...soalnya aku masih risih sekali."
"Boleh," sahutku gembira. Minimal sudah ada "kemajuan" dalam pendirian istriku. "Misalnya ciuman saja dulu. Kalau kamu merasa kurang enjoy, ya jangan dilanjutkan."
"Tapi Mas...jujur aja, aku belum bisa ngebayangin apa yang bakal terjadi nanti. Jangan-jangan aku pingsan sebelum ketemuan orang itu."
"Hmmm...jangan takut, sayang. Kan ada aku di sampingmu," kataku sambil mengelus punggungnya.
"Justru aku nggak bisa bayangin dipeluk...dicium dan sebagainya oleh laki-laki lain, di depan suamiku sendiri."
"Yah...di situlah kita harus sama-sama tegar, demi sesuatu yang lebih bermanfaat buat batin kita."

-- The Day --

Baru sampai di situ isi file "Istri Tercinta" itu. Jelas file itu belum selesai, kalau Mas Rio mau menyelesaikannya. Karena aku paling tahu apa yang telah terjadi. Isi file itu baru awalnya, awalnya sekali. Setelah membaca kisah nyata yang belum selesai itu, aku pun jadi tercenung dibuatnya.

Terbayang lagi semuanya dengan jelas di pelupuk batinku. Sangat jelas, karena itu awal dari suatu perjalanan yang tadinya kuanggap aneh, tapi lalu aku berusaha membiasakan diri. Dan lama kelamaan jadi suatu tuntutan batin, untuk melakukannya lagi dan lagi dan lagi.

Oh, kenapa aku harus mengalami kisah hidup seperti ini? Tapi, apakah aku bisa disalahkan? Bukan aku membela diri. Semua yang terjadi itu adalah untuk mengikuti keinginan suamiku. Tadinya aku malah tak pernah membayangkan akan terjadi seperti itu.

Aku masih ingat benar, sore itu aku masuk ke dalam hotel dengan jantung berdegup kencang. Mas Rio yang mengatur semuanya itu. "Kita harus datang duluan, supaya kamu tidak terlalu canggung, sayang."

Kalau tidak salah jam 18.30 aku dan suamiku sudah berada di dalam kamar hotel bintang lima, di bilangan Thamrin. Di kamar yang terletak di lantai 16. Padahal Mas Rio sendiri yang bilang bahwa janjinya dengan orang itu jam 19.30. Berarti harus menunggu sejam.

Aku menurut saja ketika suamiku menyuruhku mengganti pakaian seksi dengan lingerie yang baru saja aku beli dari mall sebelah hotel. "Biar lebih seksi," katanya dengan senyum menggoda.
Kucubit lengan suamiku dengan jantung berdebar-debar. Lalu masuk ke kamar mandi untuk mengganti celana rok dan blouse dengan lingerie merah tranparan dan celana dalam g-string merah. Anehnya, di kamar mandi aku merasa harus menanggalkan behaku. Lalu menggantungkannya di kapstok kamar mandi. Apakah ini pertanda bahwa aku sudah siap melakukan apa yang Mas Rio inginkan? Entahlah. Ketemu sama orangnya juga belum.

Waktu aku masih di kamar mandi, terdengar suara Mas Rio berbicara dengan seorang pria. Dengan siapa ya? Dengan bell boy? Tapi kedengarannya mereka cukup akrab. Membuatku penasaran. Lalu aku mengintip dari pintu kamar mandi yang kubukakan sedikit. Ada seorang cowok tinggi dan tampan sedang berbicara dengan Mas Rio. Ah...itukah orang yang sudah dijanjikan oleh suamiku? Orangnya setampan itu? Ah...kenapa dia sudah datang secepat ini? Bukankah janjiannya sejam lagi?

Lututku terasa gemetaran. Dengan perasaan bergalau.
"Sayang... ini Reza sudah datang!" seru suamiku. Yang kusahut dengan "Iya," sambil berkaca sebentar di depan cermin kamar mandi. Dengan jantung semakin degdegan.

Duh, apa yang akan terjadi nanti? Kenapa aku mendadak jadi grogi begini?
Aku keluar dari kamar mandi. Menghampiri suamiku dan tamunya yang...ah...benar-benar tampan orang itu!

"Kenalan dulu sayang," kata suamiku sambil memegang bahuku.
Cowok yang kata suamiku sudah berusia 30 tahun, tapi kelihatan jauh lebih muda, menjulurkan tangannya dengan senyum simpatik, sambil menyebutkan namanya, "Reza... biasa dipanggil Eza"

"Hanny..." kataku mengenalkan diri, dengan suara tersendat.
Dan...tanganku yang sedang dijabat oleh Eza tidak dilepaskan. Bahkan ia menarikku untuk duduk di sofa panjang, sementara suamiku duduk di kursi lain sambil menggoyang-goyang kakinya.
"Cantik kan istriku?" kata Mas Rio.
Eza yang masih memegang tanganku dengan hangatnya, menatapku dengan senyum dan berdesis, "Iya Mas. Cantik sekali..."

Aku tersipu-sipu dibuatnya. Harusnya kutanggapi bahwa dia pun tampan sekali. Belakangan aku tahu bahwa Eza itu blasteran Menado dengan Belanda. Pantaslah tampang dan postur tubuhnya sebagus itu. Belakangan juga aku tahu bahwa kamar di hotel mahal itu dibayar oleh Eza.

"Mas, di kulkas hotel ini suka ada minuman, silahkan ambil sendiri," kata Eza sambil menunjuk ke kulkas di kamar hotel berbintang lima itu.
Suamiku mengangguk, lalu melangkah ke arah kulkas itu. Sementara tangan Eza sudah bukan memegang tanganku lagi, melainkan menyelinap ke belakang dan memeluk pinggangku. Ini membuatku semakin degdegan.

Apakah aku tergerak dengan semuanya ini? Ya, aku harus mengakuinya secara jujur. Tapi aku jadi begini gugupnya. Sementara harum khas parfum buat lelaki, tersiar ke penciumanku.

"Hebat," seru suamiku sambil mengeluarkan beberapa botol minuman dari kulkas. Ada chivas regal, martini, tequila dan tiga sloki.
"Ayang suka ini kan?" kata suamiku sambil mendekatkan botol Martini ke dekatku. Di depan orang lain Mas Rio suka memanggilku dengan sebutan "Ayang", sebagai tanda menghargaiku.
"Tapi tequila lebih bagus," kata Eza, "Bikin semangat."

Aku pernah mendengar bahwa tequila bisa membuat wanita jadi horny. Tapi aku belum pernah mencobanya. Aku memang bukan peminum, tapi sesekali bolehlah. Apalagi saat itu aku merasa butuh keseimbangan, mungkin bisa dibantu oleh minuman.

"Iya Mas. Aku ingin nyoba tequila," kataku sambil berusaha menenangkan diri.
"Aku chivas regal aja, biar kerasa greng," kata suamiku.
"Aku juga chivas, Mas," kata Eza sambil mencium pipiku tanpa ragu. Aku terkejut. Tapi diam saja. Bahkan...aduh, aneh, tubuhku terasa lemas mendapatkan kecupan ini. Tapi harus kuakui sejujurnya, lemasnya ini karena belenggu birahi yang mulai mencuat di dalam batinku.

Dan setelah minum tequila, dinginnya AC tidak terasa lagi. Kecanggunganku juga mulai cair. Tapi tetap saja ada degdegan di dada, karena makin lama Eza makin merapatkan duduknya ke tubuhku, sementara Mas Rio malah menyalakan TV, dengan botol minuman di depannya dan sloki yang sudah hampir kosong di tangannya. Aku mencuri pandang berkali-kali ke arah suamiku yang sedang memandang ke arah TV, dengan perasaan bersalah. Karena tangan Eza mulai menyelinap ke balik belahan lingerie di bagian dada. Pasti Eza tahu bahwa aku tak memakai beha di balik lingerie merah ini. Dan ketika tangannya memegang payudaraku dengan lembut, oooh, aku benar-benar sudah runtuh !

Desir darahku sudah mulai merajalela dalam arus birahi yang tak terkendalikan. Tapi sebagai seorang wanita, aku masih menyembunyikan hasrat ini. Aku hanya membiarkan buah dadaku mulai diremas dengan lembut oleh belia tampan itu, sementara bibirnya berkali-kali mengecup pipiku. Aku juga tahu suhu badanku mulai meningkat.

"Mas Rio," kata Eza pada suatu saat, "Mungkin lebih baik kalau lampunya dimatiin dulu, supaya kami tidak canggung. Nanti bisa dinyalakan lagi...kalau Mas setuju."
"Iya, iya..." suamiku menjulurkan tangannya ke sakelar lampu yang tidak begitu jauh darinya. Lalu klik....lampu di kamar mewah ini pun mati. Hanya layar TV LCD yang masih membersitkan cahaya remang-remang.
Usul Eza bagus sekali.Karena setelah digelapkan, aku pun tidak merasa rikuh lagi. Bahkan ketika bibirnya mencium bibirku, kusambut dengan lumatan penuh gairah.

Sungguh, baru sekali inilah aku sangat bergairah untuk saling lumat bibir dan saling julurkan lidah. Maka tanpa ragu-ragu lagi aku mulai memeluk Eza erat-erat, terkadang bercampur dengan remasan bergelora.
Tapi...oh...jiwaku semakin diamuk nafsu, karena tangan Eza mulai merayapi lutut dan pahaku. Rasanya aku makin sulit bernafas. Sulit menahan gelora nafsu di dalam jiwaku. Aneh memang, elusan di pahaku terasa begini membangkitkan. Terlebih setelah menyelinap ke balik celana dalam g-string merahku... mulai meraba-raba kemaluanku yang sudah mulai merekah dan membasah. Mulai mengelus bibir kemaluanku, kelentitku dan ah...ini membuatku semakin tergetar dalam arus birahi yang semakin merajalela. Terlebih ketika jemari nakal itu mulai menyelinap ke dalam celah vaginaku, lalu bergerak-gerak binal di dalam liang memekku, ah, rasanya tak tahan lagi aku dibuatnya. Aku sudah kepengen merasakan kejantanan. Tapi aku harus menahan diri. Kubiarkan saja tangan Eza mempermainkan liang memekku. Bahkan kubiarkan juga celana g-stringku ditarik sampai terlepas dari kakiku. Berarti di balik lingerie ini aku tidak mengenakan apa-apa lagi.

"Minta lagi tequilanya, Za," bisikku. Eza mengangguk, lalu menuangkan tequila ke slokiku. Kuteguk setengahnya. Lalu aku merasa semakin bergairah. Sesekali aku melirik ke arah Mas Rio yang masih tampak di keremangan, masih asyik menonton TV. Lalu kubiarkan tangan Eza mengelus dan mencolek-colek kemaluanku lagi. Bahkan seperti pencuri yang memanfaatkan kelengahan calon korban, diam-diam tanganku mulai menarik celana Eza. Lalu menyelinap ke balik celana dalamnya. Berdegup jantungku dibuatnya, karena aku sedang memegang batang kemaluan yang begini besar dan panjangnya... sudah keras dan hangat pula! Secara jujur harus kuakui, batang kemaluan Eza jauh lebih besar, panjang dan betuknya bengkok seperti buah pisang. Beda sekali dengan punya Mas Rio.
Ini membuatku semakin bernafsu. Tanpa ragu lagi tanganku mulai meremas dan mengelus buah zakarnya dengan lembut. Diam-diam Eza pun mulai menanggalkan celana panjang dan celana dalamnya.

Dan aku tak tahu lagi apa yang harus kulakukan, ketika Eza melepaskan ikatan tali lingerieku, lalu dengan hangat mencelucupi puting payudaraku. Aku menggeliat dan merebahkan diri, terlentang di sofa panjang yang ukurannya hampir sama dengan bed nomor 3 itu.

Tapi jilatan dan sedotan Eza tak terbatas pada puting payudaraku saja. Ia menjilati leherku. Lalu melumat bibirku, yang kusambut dengan lumatan hangat juga. Lalu turun lagi, dengan gigitan-gigitan lembut di payudaraku. Dengan jilatan-jilatan hangat di pusar perutku... dan turun terus... mulai menjilati kemaluanku. Oh, aku tak kuat menahan nafsu birahiku. Jilatan Eza memang enak sekali. Membuat sekujur tubuhku sering mengejang dan menggeliat.

Aku tak kuat lagi. Ingin segera merasakan persetubuhan yang sebenarnya. Maka kucubit-cubit bahu Eza dan menjambak rambutnya, sebagai isyarat agar dia menghentikan jilatannya, lalu mulai dengan persetubuhan yang sebenarnya. Tapi bagaimana dengan suamiku yang tampak masih asyik menikmati minumannya?

Eza mengerti apa yang kuinginkan. Ia merayap ke atas tubuhku, sambil meletakkan puncak "pohon jamur"nya di antara sepasang bibir kemaluanku. Dan sebelum melakukan penetrasi, Eza berkata, "Silahkan nyalakan lampunya Mas..."
Aku terkejut. Tak menyangka Eza akan minta diterangin lagi. Padahal aku sedang di puncak hasrat birahiku. Dan kamar ini jadi terang kembali. Tepat pada saat Eza tinggal mendorong saja batang kemaluannya yang sudah siap di mulut memekku.

"Mas...mohon izin..." kata Eza sambil menoleh ke arah suamiku.

Aku juga menatap suamiku, seolah-olah minta izin juga.

Mas Rio menghampiri kami. Mengelus pipiku sambil tersenyum, "Ya, lakukanlah. Ini rahasia kita bertiga. Orang luar takkan ada yang tahu."

Tanpa basa basi lagi Eza mendesakkan batang kemaluannya yang panjang gede itu. Perlahan-lahan terasa liang kenikmatanku diterobos batang kemaluan yang jauh lebih besar daripada batang kemaluan suamiku. Membuatku terengah dan memegang pergelangan tangan Mas Rio erat-erat. Oh...ini adalah pertama kalinya memekku dimasuki batang kemaluan orang selain suamiku sendiri!

Tapi Mas Rio malah tersenyum dan berkata, "Nikmati saja. Ini kan keinginan aku, sayang. Jangan kaku...lebih hot lebih bagus."

Lalu suamiku duduk lagi di kursi depan TV, sambil menyaksikan kejadian yang sedang kualami. Apakah aku mulai dipengaruhi tequila yang kuminum tadi, ataukah memang gairah birahiku sedang memuncak, atau karena ukuran batang kemaluan Eza yang aduhai...entahlah. Yang jelas aku mulai menikmatinya. Mulai merasakan enaknya ayunan batang kemaluan Eza, yang begitu mantap dan terasa sekali begitu kuatnya menggesek-gesek dinding liang memekku. Oh, ini membuatku mulai mendesah-desah histeris...aaaah....oooh...aaah....oooh....aaaah....
Lebih enak lagi ketika Eza mulai mengemut puting payudaraku, menyedot-nyedot dan menjilatinya, sementara batang kemaluannya demikian mantap mengentot memekku.

Tak peduli lagi dengan kehadiran suamiku, maka terlontar begitu saja celotehan histeris dari mulutku yang sedang diamuk kenikmatan,
"Oo....Za...ooo....ini enak sekali Za....aaaah....terus genjot jangan brenti-brenti...ooooh...."

Ketika aku melirik ke arah Mas Rio, malah kulihat suamiku mengacungkan jempolnya. Mungkin ia sangat terangsang dengan apa yang sedang kulakukan dengan Eza yang tampan dan perkasa ini. Maka tanpa ragu lagi aku pun mulai mengayun pinggulku.

Rasanya Eza sangat memperhatikan titik-titik kenikmatan seorang wanita. Waktu mengayun batang kemaluannya, bibir dan tangannya pun tiada hentinya menyelusuri titik-titik peka di tubuhku. Terkadang ia menggigit daun telingaku dengan lembut, kadang-kadang juga menjilati lubang telingaku, lalu menggigit-gigit kecil di leher dan buah dadaku, lalu melumat bibirku kembali, sementara batang kamaluannya benar-benar perkasa bergerak maju mundur dengan mantapnya di dalam liang memekku.

Aku jadi merasa punya tempat pelampiasan. Sambil mendekap pinggang Eza erat-erat, kulumat bibir cowok tampan itu.

Aneh memang. Berciuman dengan Eza terasa indah sekali. Malah lebih indah daripada berciuman di masa remajaku dengan Mas Rio dulu.
Semuanya membuatku lupa daratan. Saling lumat bibir dan lidah, sehingga tak peduli lagi dengan air ludah yang bertukar-tukar tampat, sambil saling dekap erat dan hangat, sementara memekku dienjot terus dengan mantapnya oleh batang kemaluan Eza yang "giant size" itu.

Aku malah dibuat lupa bahwa di kamar mewah itu ada suamiku yang sedang menyaksikan semuanya ini. Soalnya gesekan batang kemaluan Eza yang begitu terasa mendenyut-denyutkan kenikmatanku telah membuatku seolah tiada orang ketiga di kamar ini.
Lagian aku teringat pada ucapan suamiku sendiri sebelum Eza datang tadi, "Lakukan semuanya seseksi mungkin. Semakin kelihatan bergairah, akan semakin positif pengaruhnya bagi jiwaku."

Jadi, salahkah kalau aku menikmati semuanya ini demi kepuasanku dan demi keinginan suamiku sendiri?

Tapi terlalu enaknya geseran batang kemaluan Eza, ditambah dengan saling lumat bibir dan saling remas dengan hangat dan gairah birahi yang terlalu dahsyat ini, membuatku cepat mencapai titik orgasme...membuatku mengejang sambil merasakan puncak kenikmatan dari hubungan seksual yang aduhai ini. Maka aku pun mengejang, menahan napas dan memeluk pinggang Eza seerat-eratnya. Lalu terasa liang memekku berkedut-kedut. Ini orgasmeku yang aduhai. Tapi aku tidak mau membisikkannya kepada Eza bahwa aku sudah mencapai orgasme, karena malu.

Hanya saja aku jadi terdiam dalam lunglai dan kepuasan. Sementara batang kemaluan Eza jadi lancar bergerak maju mundur di dalam liang memekku yang sudah mulai basah oleh lendir kenikmatanku.
Dalam kondisi yang masih lesu, tapi gairah masih berkobar, aku baru teringat pada suamiku yang sedang memperhatikan gerak-gerikku sambil tersenyum-senyum. Aku jadi merasa kasihan juga padanya. Lalu kulambaikan tanganku agar ia mendekat.

Mas Rio mendekatiku. Tanganku menjulur dan menarik-narik resleting celananya. Ia mengerti apa tujuanku. Disembulkannya batang kemaluannya dari belahan celananya.

Sudah keras sekali! Lalu kutarik ke arah mulutku.

Mas Rio jadi pindah untuk mencapai tujuanku. Dia jadi berlutut dengan kaki berada di kiri kanan kepalaku. Sementara Eza mengentotku sambil menahan badan dengan kedua tangannya.

Aku berhasil menarik batang kemaluan Mas Rio ke dalam mulutku. Akupun mulai menjilati dan menyedot-nyedot batang kemaluan Mas Rio. Ini adalah pertama kalinya aku meladeni dua orang pria sekaligus.

Bukan main...aku jadi sibuk tapi nikmatnya luar biasa. Gesekan-gesekan batang kemaluan Eza yang makin gencar mengentot memekku, membuatku terengah-engah dalam nikmat. Lalu kulampiaskan ke arah zakar suamiku, dengan menyelomotinya seedan mungkin.

Sungguh aku tak menduga akan mengalami peristiwa yang luar biasa bergairahnya ini. Tapi sayang sekali, baru beberapa menit kuselomoti batang kemaluan Mas Rio, lalu terasa menyembur-nyemburkan air mani di dalam mulutku! Mungkin ia sangat terangsang melihat persetubuhanku dengan Eza, sehingga cepat sekali ia mengalami ejakulasi. Tanpa banyak protes, kutelan seluruh cairan kental dari batang kemaluan suamiku ini. Tak kusisakan setetes pun.

Supaya tidak mendatangkan kesan kurang enak, aku minta tequila lagi. Suamiku menuruti permintaanku. Kuminta agar Eza mencabut dulu batang kemaluannya dari memekku. Lalu kuteguk tequila di slokiku sekaligus. Gairahku semakin menjadi-jadi setelah minum tequila yang konon dibuat dari sari buah nanas itu.

Aku mengajak Eza pindah ke atas tempat tidur. Eza setuju. Sementara suamiku merebahkan diri di sofa panjang itu. Pasti karena lemas setelah ejakulasi tadi.

"Tukar posisi ya," kataku sambil mendorong dada Eza agar menelentang di kasur. Eza tersenyum dan mengikuti kehendakku. Kemudian aku merayap ke atas tubuhnya. Memegang batang kemaluannya sambil mengarahkan ke mulut vaginaku.

Dengan gairah yang makin menggila, aku menurunkan pinggulku, sehingga batang kemaluan Eza membenam ke dalam liang kenikmatanku.
Aku menjatuhkan diri ke dada Eza, sehingga payudaraku terasa mendesak dadanya yang bidang dan atletis.

Seperti serigala lapar, aku dengan edan mengayun pinggulku, naik turun dan meliuk-liuk, sehingga liang memekku seperti membesot-besot batang kemaluan Eza...membuat Eza ternganga-nganga mungkin karena merasa enaknya besotan liang vaginaku. Tapi kututup mulut Eza dengan ciuman hangatku, yang lalu menjadi luamatan penuh gairah. Aku sudah minum tequila lagi tadi, membuatku yakin takkan ada bau kurang sedap tersiar dari mulutku. Dalam posisi seperti ini, terasa buah pinggulku diremas-remas oleh Eza, membuatku tambah bersemangat untuk mengayun pantatku dengan gerakan yang erotis, terkadang gerakan pinggulku seperti angka 8.

Aku tak peduli lagi siapa diriku dan siapa lelaki yang sedang bersetubuh denganku. Mungkin Mas Rio benar, seperti yang diungkap dalam file pribadinya itu, bahwa aku ini pada dasarnya memiliki nafsu besar. Hanya aku sering menyembunyikannya, karena aku ini seorang wanita.

Gilanya, Eza belum ejakulasi juga. Padahal aku sudah 3 kali merasakan orgasme.
"Kamu minum obat kuat?" bisikku terengah, tanpa menghentikan ayunan pinggulku.
"Nggak. Swear...nggak pernah menyentuh obat kuat segala macam..." sahut Eza sambil menciumi puting payudaraku.
"Kamu kuat sekali sayang....kalau begini bisa ketagihan aku nanti..." bisikku pelan, takut kedengaran sama Mas Rio.
"Emang biasanya suka berapa jam?"
"Nanti deh kuceritakan. aku memang lain dari yang lain... oooh....memekmu enak sekali Han....aku pasti ketagihan nih..." Eza terpejam-pejam ketika liang memekku membesot dengan kencang. Ini sebenarnya untuk kenikmatanku juga.
Karena makin kencang aku membesotnya, makin enak juga rasanya buatku.
Aku tidak tahu apa yang ia maksud dengan "lain dari yang lain". Aku cuma merasa ia terlalu tangguh, sehingga aku harus berjuang keras untuk membuatnya ejakulasi. Maka besotan-besotan liang vaginaku juga semakin kupergila. Tapi akibatnya...aku malah orgasme lagi untuk yang kesekian kalinya. Gila, belum pernah aku mengalami persetubuhan seedan ini. Padahal keringat Eza sudah membasahi tubuhnya, berbaur dengan keringatku.
Eza malah seperti menyukai keringat yang membasahi leherku. Ia pun menjilati keringat di leherku, membuatku merinding dalam nikmat. Sungguh...tak pernah kubayangkan bahwa ide suamiku telah memberikan kenikmatan yang aduhai begini.

Kelopak mataku juga tak luput dari kecupan dan jilatannya. Sehingga aku makin bersemangat untuk mengayun pinggulku, tanpa mempedulikan suamiku yang sudah terkapar di sofa.

Batang kemaluan Eza yang begitu panjangnya, membuat ujung liang memekku disundul-sundul terus. Sungguh fantastis rasanya, karena puranaku (seperti cincin yang berada di ujung liang vagina) disundul-sundul terus, membuatku merem melek dalam nikmat yang sulit kulukiskan dengan kata-kata.
Eza sendiri sering membisikiku, "Haan...oooh...enak sekali....luar biasa enaknya kamu Han...."

Aku sendiri seolah melayang-layang di langit yang ke tujuh saking nikmatnya. Sehingga terkadang aku meremas setengah mencakar-cakar bahu Eza dalam keadaan lupa daratan.

Begitu lama Eza menyetubuhiku, sehingga aku merasa berkali-kali orgasme, tapi aku tidak mengatakannya, karena malu mengakui bahwa semuanya ini terlalu nikmat bagiku.

Sampai pada satu saat, Eza membisiki telingaku, pelan sekali, seperti takut terdengar oleh suamiku: "Aku mau lepas...gakpapa kalau kulepasin di dalam?"
Aku malah menjawabnya dengan spontan, "Iya, lepasin di dalam aja biar enak."

Lalu kugoyang pinggulku seedan mungkin. Dan pada satu saat Eza menekankan batang kemaluannya sedalam mungkin, sampai aku terbeliak dalam arus birahi yang fantastis. Dan batang kemaluan perkasa itu terasa mengejut-ngejut di dalam liang vaginaku, sambil menyemprot-nyemprotkan cairan hangat dan kental...srrrt...srrrt...srrttttt...srttttt.....oooh enak sekali semburan air mani Eza ini.
Rasanya baru sekali ini aku meresapi arti nikmatnya bersetubuh, bukan dengan suamiku pula, sehingga aku mendekap pinggang Eza dengan penuh perasaan. Dan membiarkan keringatnya membanjiri tubuhku. Air maninya pun terasa meluap, meleleh dari memekku ke seprai. Begitu banyak dia memuntahkan air maninya.

Oh, indahnya malam yang penuh birahi ini..... seakan takkan berujung... seakan nafasku sudah menyatu dengan perjalanan baru ini. Fantasi suamiku yang awalnya terasa gila, tetapi ternyata mampu membuatku merasakan kesempurnaan hubungan seks yang tidak semua orang beruntung bisa mengalaminya. Aku tidak akan keberatan mengulanginya lagi dilain waktu. Kali pertama ini memang aku hanya menuruti fantasi suamiku. Tapi lain kali, aku akan senang hati dan sukarela melakukannya.

Yang Membuatku Sempurna

By Lucy →