Skip to main content

Asih Teman Istriku

Asih adalah kenalan dari istriku, dia sering berbisnis dagangan asesories wanita dgn istriku. Penampilannya biasa saja dan tdk istimewa tapi ada sesuatu yg menarik pada dirinya. Setiap ke rumah kami pun jarang bicara langsung, tapi dia sering curi2 pandang kalau kebetulan ada aku di rumah. Aku kerap memperhatikan hal itu karena aku juga sering diam2 memperhatikannya. Hahahaha.... Suaminya kerja di proyek suatu daerah yg jauh dan jarang pulang.

Pada suatu saat aku di rumah sendirian sedang istri & anakku pergi piknik dengan para tetangga sekitar ke luar kota. Suasana rumah dan sekitarnya jadi sepi sekali. Siang itu setelah beres2 rumah aku mandi dan istirahat di sofa ruang tamu. Aku berbaring di sofa panjang ruang tamu hanya memakai singlet & celana kolor sambil memejamkan mata membayangkan Asih, entah bagaimana tiba2 bayangannya terlintas begitu saja. Perlahan tanganku mengelus-elus konti-ku dibalik celanaku. Lama2 konti-ku jadi semakin tegang dan membesar hingga akhirnya kulorotkan kolorku supaya leluasa mengelus & mengocok kontiku sendiri.
Entah berapa lama aku asik seperti itu sampai tiba2 kudengar suara dering handphone dari arah teras, aku pun terkaget sambil beranjak & melihat ke luar. Tampak diteras Asih dgn gugup sedang berusaha mematikan bunyi HP-nya, sambil sesekali melihat ke dalam. Entah sudah brp lama dia di teras dan entah dia melihat apa yg sedang aku lakukan atau tidak. Aku segera menaikkan celanaku dan berdiri membukakan pintu depan Tampak Asih berdiri dengan wajah gugup dan malu di teras.

"Eh... Mbaknya ada mas..?" dia bertanya sambil tersenyum malu2.
"Sedang ke luar kota, pulangnya mungkin nanti malam. Ada yg bisa dibantu?" jawabku balik bertanya.
"Ini mau kasih setoran dagangan.." kata Asih sambil sesekali melirik ke arah celanaku yg masih kelihatan menonjol, membuat aku kikuk juga.
"Mari saja masuk dulu.." kataku.
Kamipun masuk dan duduk berhadapan di sofa ruang tamu. Asih mengeluarkan beberapa catatan & uang dari tasnya, matanya sesekali melirik ke arah celanaku, wajahnya masih kelihatan gugup.
Akupun jadi serba salah & kikuk, jangan2 dia melihat apa yg aku lakukan tadi, lagian konti ini masih tegang terus belum mau turun juga. Gawat nih.., pikirku.
"Ini catatan & uangnya ya, mas.." kata Asih sambil meletakkannya di meja, tapi matanya masih sesekali melirik ke arah celanaku.
"Baik nanti saya sampaikan ya.." jawabku.
Sejenak kami terdiam dalam kebisuan pikiran masing2. Pandangan Asih kemana2 sambil sesekali melirik celanaku yg masih ada tonjolannya. Aku pun semakin kikuk karena konti-ku masih tegang juga tidak mau turun.

"Ehm... Tadi sudah lama di depan?" tanyaku memecah kesunyian.
"Belum lama juga sih... Sedang mikirin apa, mas?" jawabnya sambil balik bertanya.
"Nggak mikir apa2 kok.." jawabku.
"Tapi tadi kok kayaknya asik sekali sampai2 gak tau ada yg datang..." katanya sambil melirik celanaku. Aduh! Dia pasti melihat perbuatanku tadi, pikirku.
"Ah, nggak apa2 kok.." jawabku gugup.
"Kesepian ya.." tanya Asih tersenyum malu.
"Nggak juga kok.." jawabku.
"Dari tadi jawabnya kok nggak terus sih? Yg bener ah..." kata Asih.
"Iya, gak apa2 kok.." jawabku.
"Mau dibantu pa..?" tanya Asih.
"Dibantu apa?" tanyaku.
"Itu..." jawab Asih pelan sambil menunjuk celanaku dengan matanya.
Buset deh! Mau bagaimana lagi ini? Sudah kepalang ketahuan lagi..

Aku pun beringsut dan berdiri di depan Asih yg masih duduk. Asih nampak sedikit kaget dan tersipu.
"Sekarang bagaimana?" kataku.
Asih diam sambil menatap tonjolan dibalik celanaku, nafasnya perlahan menjadi cepat. Kemudian pelahan dia mulai mengelus tonjolan di celanaku, kontiku jadi semakin tegang saja.
Tak sabar akhirnya kulorotkan celanaku ke bawah sehingga kontiku jelas mengacung persis di depan wajah Asih. Asih sedikit terhenyak kaget mundur ke belakang melihat ada yg mengacung di depannya, tapi pandangannya tdk lepas dari kontiku.
"Katanya mau bantu?" kataku.
Asih melirik tersipu ke arahku sambil tangannya mulai mengelus kontiku sambil sesekali mengocoknya. Tangannya lembut sekali terasa di kontiku. Lalu kupegang kepalanya dan kudekatkan ke kontiku. Asih mulai menjilati kontiku perlahan sambil tangannya terus memainkan kontiku. Sesaat kemudian dia mulai memasukkan kontiku ke mulutnya, terasa sangat nikmat sekali. Dimaju-mundurkan kepalanya sambil sesekali menjilati kontiku. Tak lama kemudian aku meraih kaosnya dan menarik ke atas melepasnya, lalu kuremas2 payudaranya yg masih tertutup BH. Tak sabar segera kulepas BH-nya dan kumainkan putingnya. Asih menggeliat2 sementara dia masih mengulum kontiku, dan semakin bertambah ganas saja.

Tak lama kemudian kuberdirikan Asih dan kubaringkan di sofa panjang lalu mulai kulumat & kuremas toketnya yg berukuran sedang itu, dia hanya menggeliat2 dan mendesah saja tanpa penolakan. Pertanda baik, pikirku. Lalu sambil kujilati toketnya mulai kulepas kancing celana jeansnya dan kutarik lepas. Kuarahkan tanganku ke selangkangannya yg msh tertutup cd dan kuusap2, lalu kumasukkan tanganku ke dalam cd-nya. Jembi-nya yg tipis terasa di jariku sampai dengan mekinya. Akhirnya kutarik lepas juga cd-nya sehingga dia lengkap bugil di sofa.
"Pintunya, mas..." jerit Asih pelan memotong keasyikanku. Oya, pintu masih terbuka lebar.
Aku segera beringsut menutup pintu dan menguncinya lalu berbalik menatap tubuh telanjang Asih di sofa. Kubuka kaosku dan menghampirinya, lalu kubuka pahanya dan kujilati mekinya yg mulai basah.
"ooooouuuuhhhh..., aaahh.." desahnya merasakan jilatanku. Aku semakin bersemangat mengaduk2 mekinya dgn lidahku, dia pun semakin menggelinjang2 tidak karuan.

Setelah puas memainkan mekinya aku beringsut ke atasnya dan membuka pahanya lebar2. Perlahan kumasukkan kontiku ke dalam meki Asih, dia tampak pasrah saja dgn perbuatanku. Perlahan kumaju-mundurkan sambil kumasukkan kontiku ke mekinya, setelah amblas masuk semua aku diam sejenak menikmati hangat mekinya. Asih nampak protes, terbukti tangannya meraih pinggangku dan berusaha menggerakkannya.
Aku pun segera menggenjot Asih dengan pelan lalu berangsur cepat. Asih mendesah2 menikmati genjotanku sambil memeluk erat tubuhku, "aaahh...ooohh..uuummmff..hhhh h...aaaahhh..".
Aku terus menggenjotnya dengan irama yg berubah kadang pelan, cepat, kuputar2.
Bosan dgn posisi itu lalu kubalikkan Asih nungging membelakangiku, dan kumasukkan lagi kontiku dalam posisi doggy-style. Segera kugenjot lagi dengan kecepatan penuh. Tak beberapa lama nampak Asih kelojotan tidak karuan menandakan dia mencapai O, tangannya mencengkeram pahaku yg masih menggenjotnya. "oooooohhhhhh...aaaaahhhhh...o ouuughhhh...aaaaahhhh..." serunya menikmati O-nya. Aku terus menggenjotnya sampai akhirnya tubuh Asih kurasakan melemas.

Kulepas kontiku dan kubalik tubuhnya dan kuganjal pantatnya dgn bantal lalu kutindih dan kumasukkan lagi kontiku ke mekinya, lalu mulai kugenjot lagi. Terasa sempit dan mencengkeram rasanya. Asih masih terdiam menerima genjotanku, rupanya dia masih belum naik setelah O tadi. Tak berapa lama, dengan kontiku masih di mekinya kusatukan kedua kaki Asih dan kujepit dgn pahaku dan mulai kugenjot lagi. Meki Asih jadi sangat sempit & mencengkeram dalam posisi ini, Asih pun mulai merasakan keenakan. Tangannya meraih pantatku dan menggoyang2kannya. Aku
menuruti kemauannya dengan menggenjotnya lagi dgn posisi spt itu.

Cukup lama aku menggenjotnya sampai Asih mendapat O lagi dan akhirnya aku merasa sesuatu akan keluar dari kontiku.
"Aku mau keluar.." bisikku.
Asih terdiam sesaat dan menjawab, "Di luar aja ya, aku lagi subur nih.."
Aku mengangguk dan kembali menggenjotnya dgn kecepatan penuh. Hingga akhirnya aku tdk tahan lagi dan kucabut kontiku dan beringsut ke atas Asih. Kutumpahkan cairan maniku kearah dada & toket Asih. Cret..cret..cret.. banyak maniku yg kukeluarkan di toketnya, enak sekali rasanya.
Tak cukup sampai disitu, kuarahkan kontiku ke mulut Asih supaya dikulumnya. Dia menyambut dan mengulum kontiku lagi yg membuatku merem melek keenakan, betul2 pengalaman yg fantastis.
Kemudian aku terduduk lemas di sofa. Kami hanya saling memandang satu sama lain. Lalu Asih bangkit dan berkata, "Aku ke kamar mandi dulu ya.."
Aku mengangguk dan beringsut mengenakan celanaku lalu berbaring di sofa tempatku tiduran tadi. Kembali aku berbaring sambil terpejam sampai ketiduran, puas dan nikmat rasanya.

Entah berapa lama aku tertidur hingga akhirnya aku terbangun dgn sendirinya. Tidak ada siapa2 disekitarku, Asih juga tidak ada. Kucari ke kamar mandi dan semua ruangan juga tidak ada. Pintu depan masih terkunci.

Popular posts from this blog

Guruku Liar Sekali

Ini pengalaman kencan seksku sebelum aku mengenal internet, tepatnya ketika aku masih duduk di bangku SMA. Sedang teman kencanku adalah seorang guru seni lukis di SMA-ku yang masih terbilang baru dan masih lajang. Saat itu umurku masih menginjak 19-20 tahun. Sedang guru lukisku itu adalah guru wanita paling muda, baru 25 tahun. Semula aku memanggilnya Bu Guru, layaknya seorang murid kepada gurunya. Tapi semenjak kami akrab dan dia mengajariku making love, lama-lama aku memanggilnya dengan sebutan Mbak. Tepatnya, Mbak Yani. Mau tahu ceritanya?

*****

Sore itu ada seorang anak kecil datang mencari ke rumah. Aku diminta datang ke rumah Mbak Yani, tetangga kampungku, untuk memperbaiki jaringan listrik rumahnya yang rusak.

"Cepat ya, Mas. Sudah ditunggu Mbak Yani," ujar anak SD tetangga Mbak Yani.

Dalam hati, aku sangat girang. Betapa tidak, guru seni lukis itu rupanya makin lengket denganku. Aku sendiri tak tahu, kenapa dia sering minta tolong untuk memperbaiki peralatan rumah t…

ISTRI BINAL

Namaku Kevin berumur 33 tahun, dan istriku bernama Risnawati 29 tahun, dia selalu membuatku merasa bangga karena memilikinya. Ya bangga karena semua pria akan berhasil dia paksa untuk menolehkan kepala jika dia lewat dihadapan mereka. Aku selalu merasa bergairah bila melihatnya mengenakan pakaian sexy, terlebih bila pakaiannya bisa dibilang sangat sexy untuk mengundang beribu pria menelan ludah karena melihatnya.

Tiga Wanita Satu Lelaki

Namaku Jackie dan tentunya bukan nama asliku. Aku adalah pria yang kurang beruntung, karena sudah dua kali ingin berniat untuk berkeluarga dan dua-duanya gagal. Aku berasal dari Indonesia, tapi sudah lama sekali tinggal di negerinya "kanguru". Dan atas saran teman-teman, maka aku mensponsori seorang cewek dari Indonesia dengan niat untuk menikah. Tapi setelah wanita itu mendapatkan izin tinggal tetap di negeri ini, wanita itu meninggalkan aku. Begitu juga dengan yang kedua, yang berasal dari Amerika Latin. Nah, karena rumah yang kumiliki ini mempunyai dua kamar dan karena aku hanya tinggal sendiri sekaligus sudah kapok untuk mencari pasangan lagi, maka kamar yang satunya aku sewakan pada seorang pelajar (cowok) dari Jepang. Namanya Gamhashira. Gamha yang playboy ini sudah dua hari pulang ke negerinya untuk berlibur setelah menamatkan SMA-nya.

Pada suatu sore di hari libur (liburan dari kerja) aku buang waktu dengan main internet, lebih kurang satu setengah jam bermain inter…