Skip to main content

Kakak Angkatku Sayang

Aku mahasiswa jurusan TI salah satu perguruan tinggi di Bandung. Saat ini aku semester II. Sejak awal kuliah, aku tinggal dirumah kakak angkatku. “Kak Dewi” begitulah aku memanggilnya. Usianya terpaut 5 tahun denganku. Ia sebenarnya bukan kakak kandungku, namun bagiku ia adalah kakak dalam arti yang sebenarnya. Ia begitu telaten memperhatikan aku. Apalagi kami jauh dari orang tua. Rumah yang kami tempati, baru satu bulan dibeli kak Dewi, hasil dari warisan pribadi keluarganya. Tidak terlalu besar memang, tapi lebih dari cukup untuk kami tinggali berdua. Jauh lebih baik dari pada kost-kostan.

Kak Dewi saat ini bekerja disalah satu bank swasta. Meskipun usianya baru 24 tahun, tapi kalau sudah mengenakan seragam kantornya, ia kelihatan dewasa sekali. Badannya yang gempal membuat dia terlihat berwibawa dan tangguh. Tapi tetap menonjolkan kecantikan alami yang dimilikinya.
Dua bulan pertama aku tinggal dirumah kak Dewi, semuanya berjalan normal. Aku dan kak Dewi saling menyayangi sebagaimana adik dan kakak. Penghasilannya yang lumayan besar memungkinkan ia membantu sebagian keperluan kuliah ku. Namun dari semua kekagumanku pada kak Dewi, satu hal yang aku herankan. Sejauh ini aku tidak melihat kak Dewi memiliki hubungan spesial dengan laki-laki. Kupikir kurang apa kakakku ini ? cantik, semok, cerdas, berpenghasilan, kurang apa lagi ? Seringkali aku menggodanya, tapi dengan cerdas ia selalu bisa mengelak. Ujung-ujungnya ia pasti akan bilang, “Gampang deh soal itu, yang penting karier dulu”, aku percaya saja dengan kata-katanya. Yang pasti, aku menghormati sekaligus mengaguminya.

Hingga malam ini, waktu menunjukan pukul 9.00, suasana rumah lengang dan sepi. Aku keluar dari kamarku dilantai atas, lalu turun untuk mengambil minuman dingin di kulkas. TV sudah dimatikan, padahal biasanya kak Dewi asyik nongkrongin Bioskop Trans kesayangannya. Karena khawatir pintu rumah belum dikunci, lalu aku memeriksa pintu depan, ternyata sudah dikunci. Sambil bertanya-tanya didalam hati, aku bermaksud kembali ke kamarku. Namun tiba-tiba terlintas dibenakku, “kok masih jam ini kak Dewi sudah tidur ?”, lalu setengah iseng perlahan aku mencoba mengintip kak Dewi didalam kamar melalui lubang kunci. Agak kesulitan karena anak kunci menancap dilubang itu, namun dengan lubang kecil aku masih dapat melihat kedalam.

Seketika dadaku berdegup kencang, dan lututku mendadak gemetar. Antara percaya dan tidak pada apa yang kulihat. Kak Dewi menggeliat-geliat diatas spring bed. Tanpa busana sehelaipun !
Ia menggeliat-geliat kesana kemari. Terkadang terlentang sambil mendekap bantal guling, sementara kedua kakinya membelit bantal guling itu. Kemudian posisinya berubah lagi, ia menindih bantal guling. Napasku memburu karena rasa takut ketahuan. Sekuat tenaga aku tahan perasaan yang bergemuruh didadaku. Kualihkan pandanganku dari lubang kunci sesaat, pikiranku sungguh kacau. Namun kemudian rasa penasaran mendorongku untuk kembali mengintip. Kulihat kak Dewi masih menindih batal guling. Pinggulnya bergerak-gerak maju mundur.

Aku pun berhasrat untuk masuk kekamarnya. Meskipun sangat ragu, aku nekat membuka pintu kamarnya dan beranjak mendekatinya. Darahku berdesir cepat saat kak Dewi melihatku. Lalu cepat ia meraih tanganku diarahkan untuk menggenggam dadanya.
“Pasti kamu juga pengen kan !”, tiba-tiba kak Dewi berkata tegas,
“Kak !??”, kataku agak jengah.
“Ga usah pake pura-pura, lagi….”, kak Dewi mendorong tubuhku. Karena Kak Dewi mengisyaratkan, maka aku segera naik kekasurnya dan tidur terlentang.
“Kamu pengen kan ?”, tangan kak Dewi merayapi pahaku. Aku terhenyak menahan nafas. Kemudian kak Dewi tanpa ragu mulai meremas kemaluanku perlahan, ahh….., kedua lututku terangkat perlahan, lalu kuturunkan lagi.
“Kak…”, kataku lirih
“Sst…udah, tenang aja…”, kak Dewi benar-benar meremas-remas kemaluanku. Geletar nikmat perlahan merayap, seiring makin mengerasnya batang kemaluanku. Rasa jengah dan nikmat membaur menjadi satu. Aku hanya bisa menikmati gelenyar kenikmatan dari setiap remasan tangan kak Dewi. “Ah…shhh..kak….!”,
Tanganku perlahan merayap kearah pinggang kak Dewi, meremasnya perlahan seiring geliat kenikmatan. Aku semakin berani karena kak Dewi tak menolak remasan tanganku dipinggangnya.
Tiba-tiba, “Udah ya… segitu aja !”, kak Dewi menghentikan remasan tangannya.
“Ah kak.. !”, aku merintih kecewa, hampir aku melonjak bangun.
“Kenapa ?”, ia menatapku, sebuah senyum seolah menggoda aku yang tengah konak.
“Tanggung…please…!”, aku merintih dan memelas.
“Hmmh.. Dasar….”, katanya.
Tanpa ragu aku melepaskan training yg kukenakan, kemaluanku yg sungguh telah mengeras, mendongak…
Nampak ada rasa jengah pada tatapan kak Dewi, aku bangkit dari tidurku, “Please…!”, lalu kuraih tangan kak Dewi agar memegang kemaluanku. kak Dewi pun menuruti kemauanku.
Kembali kuhempaskan tubuhku kekasur. Tangan gempal kak Dewi lalu menggenggam kemaluanku, ia nampak tidak ragu. Badanku mengerjap sesaat ketika tangan kak Dewi meremas kencang kemaluanku dengan tiba-tiba. Tanpa kupejamkan mata, aku menikmati setiap kenikmatan yang datang. Semakin lama keinginanku semakin kuat. Aku merintih, mendesah dan sesekali menggeliat.
Remasan tangan kak Dewi memang nikmat, namun semakin lama aku menginginkan lebih “Nakal juga kamu ya !”, katanya..
“Mau digimanain ?”, katanya lagi.
“Langsung kocokin aja, kak”,
Dia pun langsung mengocokku “Begini…!”,
“Ya…ah… shhh… ahh.. kak…!”, akupun tenggelam dan terbuai dalam kenikmatan. Kocokan tangan Kak Dewi sungguh membuat aku terlena.. Aku kemudian hanya bisa pasrah, merintih dan mendesah.
“Ssshhhh… kak…ahhhh…. Mmmm shhhhh enak kak !”,
Dia terus mengocok tambah cepat. Aku terus merintih dan merintih. Lama kelamaan makin tak tertahankan.
“Kenapa ? udah mau keluar?”, kak Dewi bertanya ketika tanganku ingin menahan gerakan tangannya yang terus mengocok kemaluanku. “Ngga kuat akuh.. aahh…!”, kataku.
Lalu aku bangkit dari tempat tidurku sehingga posisi kami duduk berdampingan. Kak Dewi berusaha membuatku cepat keluar. Dia menciumi leherku dan tetap mengocokku dengan cepat. “Enak hmmh.. keluarin sayangghh.. shh…” katanya. ”Shhhh…. Mmmmhh enak kak. Enak ! shhhhh ahhhh shhh !”, tanpa sadar aku menciumi leher kak Dewi. Dia pun makin mempercepat kocokannya. Aku pun tak bisa menahan.

“Gak tahannn kak ! aahh shh aku udah gak tahan lagiiih.. aaaahhh! aaaaaahhhhhhh kak ssh yahhh aaaaahhhhhhhhhhss… ”.

Gelombang kenikmatan itu berlalu sempurna. Kak Dewi-pun mengelap cairan maniku yang berlepotan ditangannya. Dan akupun mengelap yang belepotan di kemaluanku..

Kak Dewi mengambil handuk dan memakainya untuk menutupi tubuhnya. Lalu kami pun bersenda gurau dikamarnya. Ngobrol ngalur ngidul hingga obrolan balik ke topic seks. Kita terdiam beberapa saat..
“Tahu enggak sebenarnya kenapa kakak suka pake bantal guling?!” Tanya Kak Dewi.
“Apa enaknya…?!?”, pertanyaanku seolah terlontar begitu saja.
“Ya enak aja. Gesek-gesek. Sambil ngebayangin sedang meluk cowok ! hehe”.

“Aku kan cowok kak..”
“Dasar !”, ia memelintir kupingku.
“Kak…!”,
‘Apa..!?”,
‘Ngga tanggung nih ?!”,
“Tanggung apanya ?”,
“Kakak kan belum selesai tadi. Kalo aku pura-pura jadi bantal gulingnya mau ?”,
“Lagi nih ??!”,
“Cuma gesek-gesek aja kan.. Gimana ?”, aku kemudian menandaskan.
“Kamu ini aneh-aneh aja”,
“Pokoknya aman deh. Aku gak bakalan bilang siapapun. Suer.. !”, kataku sambil melepaskan bajuku, aku kini telanjang bulat,

Kak Dewi sekilas mencium pipiku, kemudian menciumi pundakku. Sembari melepaskan handuk kak Dewi, tubuhku bergeser mundur sedikit demi sedikit. Kami berdua telanjang bulat dan tahu-tahu aku kini berada diantara dua paha kak Dewi. Kemaluanku tergesek-gesek persis dikemaluan kak Dewi. Sungguh nikmat. Geletar-geletar birahi mulai memuncak. Aku mendesis dan merintih sambil sesekali mendaratkan ciuman ke pundak kak Dewi. Lambat laun aku menyadari, aku kini ikut bergerak dan menggesek. Tubuh kak Dewi ikut bergerak seirama gerakan tubuhku. Beberapa kali ia membetulkan posisi pinggangnya. Kemaluanku terus digesek-gesek kemaluan kak Dewi. Dan terus bergoyang-goyang berirama.
“Sshhh aaahhhhh dek.. eeghh.. sayanggghhh !”, suara kak Dewi terdengar memburu.. Aku bergerak lebih cepat. Aku lihat paha gempal kak Dewi bergerak memompa. Ditambah desahannya, hal itu membuat kemaluanku yang lembek jadi agak mengeras.
Beberapa saat dia bilang “Pelanin……pelanin dulu…aasshhh”, ia mendesis,
“Enak ya kak?’, akhirnya kulontarkan pertanyaan itu. Kak Dewi terdiam. Namun nafasnya terdengar memburu. Jemari tangannya terasa meremas-remas pundakku.
Aku berusaha membuat kemaluanku lebih keras dengan mengocok sendiri..
“Mau masukkin??” tanya kak Dewi,
“Biar aku gak kentang nantinya yah ?”.“Mau kak.. !”, kataku lagi. Akhirnya kak Dewi mengangguk. Aku tidak percaya akan menyetubuhi kak Dewi. Tidak benar-benar maksudku. Dan untuk pertama kalinya, kemaluanku mulai masuk ke kemaluan kak Dewi. Sungguh sensasinya luar biasa. “Ahhhhss…ssshhhahhhh”
Kemaluanku terjepit diantara kemaluan kak Dewi. Lalu aku mulai menggerakkannya. Naik turun perlahan. Rasanya hangat namun basah didalam sana. Semakin kugerakkan semakin terasa nikmat. Aku mendengar kak Dewi mendesah lagi. Kepalanya mendongak. Kucepatkan sedikit gerakanku, ia makin mendesah. Akhirnya, kugarap kak Dewi dengan nafsu. Aku senang dan bernafsu mendengar kak Dewi mendesah-desah.

“Ahhh aaaahhhh sayanghhh terus ssshhhh sayangghh…….. sssshhhhhh…..”

Kami seketika berada pada posisi saling berdekapan. Wajah kami begitu dekat. Aku merasakan semburan nafas hangat kak Dewi. Akhirnya bibir kami bertemu. Bibir kak Dewi awalnya diam tak bereaksi ketika bibirku berusaha melumat, tapi lama kelamaan bibir itu membalas lumatan bibirku. Kami berpagutan dan saling melumat. Semakin lama segalanya semakin liar. Aku kini bahkan sudah menjilat leher kak Dewi. Ketika jilatan lidahku menyerang pangkal leher dibawah telinganya, kak Dewi mendesah.

“Dek.. hhaaahhhh…. yeaahhhhhss.. hhaaahhh… ssshhhhhh ….sayangghhhhh….”

Aku kini benar-benar membuat kak Dewi menjadi hilang kesadaran. Ia menjadi benar-benar liar. Diarahkannya kepalaku untuk menciumi dadanya. Aku makin bangkit dan beringas. Tubuh kak Dewi yang bugil, sebagaimana aku, makin cepat beradu. ‘plak..plak..plak….’ Tak tahan berlama-lama aku pun merangkul erat tubuh kak Dewi. Aku menggumulinya dengan penuh nafsu. Aku jilatin seluruh tubuhnya, semakin kak Dewi mendesah semakin intens aku mejilat dan menciumin badannya.

“Hhaaaaahhhh…. Sayanggghhh…. Enakkh…eghhhhhh shitt……. Teruussss….ssh”

Puting susunya aku lahap bergantian. Aku bagai orang yang kesetanan.. Kak Dewi terus melenguh. Semakin keras lenguhan kak Dewi semakin semangat aku mencium dan menjilat.

“yeaahhhmmmmm …. Enak kak…!? Hmmmmmhhh…. Enakhhhh..? hhaaaahh hmmmmhhhh…… eeehmmmmmmhhhhhhh….”

Kurasakan badanku makin terjepit kedua paha kak Dewi. Aku terus menjilat dan memompa kemaluan kak Dewi. Dia terus mendesah dan nafasnya makin terasa berat.

“Ya sayangghhhh….ehhhhhsss.. Aku udahhh ngga taahhhhannn eeghhhhh… ssshhhhhhhh”

Aku pun segera mempercepat .. memompa kak Dewi dengan sangat nafsu….

“Ya kakhhh… ehhmmmmhh… sshhhh…. Aku juga… egghhhhhh….aahhhhhh ….ahhhhhhh…. keluarin kakhhhh…….”

“Aahhhhhh…. Sayanghhhhh … Anjrithh.. …..Fuck…aahh.. fuckk…. aaaaaaaahhhhhhhhhhhhhss”

Kak Dewi pun seketika terkapar diatas tubuhku. Terdiam beberapa saat, lalu kak Dewi membaringkan tubuhnya ke samping. Ingin rasanya aku memeluk kak Dewi. Tapi kak Dewi buru-buru bangkit. Dikenakannya handuknya kembali. Lalu bergegas kekamar mandi. Aku pun menunggunya dan kemudian bergantian kekamar mandi. Sungguh hari yang luar biasa aku alami. Sejak saat itu, kami berdua memiliki rahasia yang terbungkam sampai sekarang. Aku ingin kembali melakukannya, tidak dalam waktu dekat memang, namun ketika aku menginginkan lagi, rasanya aku tidak segan-segan untuk meminta kak Dewi lagi.

Popular posts from this blog

Guruku Liar Sekali

Ini pengalaman kencan seksku sebelum aku mengenal internet, tepatnya ketika aku masih duduk di bangku SMA. Sedang teman kencanku adalah seorang guru seni lukis di SMA-ku yang masih terbilang baru dan masih lajang. Saat itu umurku masih menginjak 19-20 tahun. Sedang guru lukisku itu adalah guru wanita paling muda, baru 25 tahun. Semula aku memanggilnya Bu Guru, layaknya seorang murid kepada gurunya. Tapi semenjak kami akrab dan dia mengajariku making love, lama-lama aku memanggilnya dengan sebutan Mbak. Tepatnya, Mbak Yani. Mau tahu ceritanya?

*****

Sore itu ada seorang anak kecil datang mencari ke rumah. Aku diminta datang ke rumah Mbak Yani, tetangga kampungku, untuk memperbaiki jaringan listrik rumahnya yang rusak.

"Cepat ya, Mas. Sudah ditunggu Mbak Yani," ujar anak SD tetangga Mbak Yani.

Dalam hati, aku sangat girang. Betapa tidak, guru seni lukis itu rupanya makin lengket denganku. Aku sendiri tak tahu, kenapa dia sering minta tolong untuk memperbaiki peralatan rumah t…

ISTRI BINAL

Namaku Kevin berumur 33 tahun, dan istriku bernama Risnawati 29 tahun, dia selalu membuatku merasa bangga karena memilikinya. Ya bangga karena semua pria akan berhasil dia paksa untuk menolehkan kepala jika dia lewat dihadapan mereka. Aku selalu merasa bergairah bila melihatnya mengenakan pakaian sexy, terlebih bila pakaiannya bisa dibilang sangat sexy untuk mengundang beribu pria menelan ludah karena melihatnya.

Tiga Wanita Satu Lelaki

Namaku Jackie dan tentunya bukan nama asliku. Aku adalah pria yang kurang beruntung, karena sudah dua kali ingin berniat untuk berkeluarga dan dua-duanya gagal. Aku berasal dari Indonesia, tapi sudah lama sekali tinggal di negerinya "kanguru". Dan atas saran teman-teman, maka aku mensponsori seorang cewek dari Indonesia dengan niat untuk menikah. Tapi setelah wanita itu mendapatkan izin tinggal tetap di negeri ini, wanita itu meninggalkan aku. Begitu juga dengan yang kedua, yang berasal dari Amerika Latin. Nah, karena rumah yang kumiliki ini mempunyai dua kamar dan karena aku hanya tinggal sendiri sekaligus sudah kapok untuk mencari pasangan lagi, maka kamar yang satunya aku sewakan pada seorang pelajar (cowok) dari Jepang. Namanya Gamhashira. Gamha yang playboy ini sudah dua hari pulang ke negerinya untuk berlibur setelah menamatkan SMA-nya.

Pada suatu sore di hari libur (liburan dari kerja) aku buang waktu dengan main internet, lebih kurang satu setengah jam bermain inter…