Skip to main content

Mantan Guru SDku

Pagi itu aku ke pasar, belanja sedikit untuk keperluan rumah. Setelah memasukkan belanjaan ke bagasi speda motor, dari sudut mata terlihat satu sosok yang hingga sekarang tetap melekat di ingatanku. Ya..Bu Y, seorang guru waktu aku SD. Tetap cantik, langsing dan seksi hingga saat ini. Saat ini umurnya kurang dari 50tahun. Aku pun menyapanya,"pagi Bu..". Sedikit kaget,"Eh..kmu Wan. lagi belanja?" "Iya Bu..kok bisa sampai pasar sini?" "Iya..kantor Ibu kan deket sini. Sudah nggak ngajar lagi". "Oo..gitu. "Boleh tau nomer hpnya Ibu?" "Ya boleh.." Nomer Bu Y aku simpan lalu aku telpon nomernya. "Ini nomermu ya?" "Ya Bu.." "Ok..Ibu simpen ya". Kemudian aku berpamitan dan Bu Y kembali ke kantornya.

Dua minggu kemudian aku iseng kirim sms ke Bu Y, sekedar menanyakan kabarnya. Sambutannya baik dan ia juga bertanya keadaanku. Beberapa kali aku smsan dengannya. Satu saat dengan nekat," Maaf sebelumnya Bu..kalo boleh..aku panggil Mb ya sekarang. Biar lebih akrab. Tapi kalo Ibu keberatan ya nggak papa". "Nggak papa Wan..terserah kamu. Jarak usia kita juga nggak terlalu jauh". Wah..sip. Semula kupikir ia bakal marah atau gimana, ternyata tidak mempermasalahkannya. Hingga hari ini aku masih smsan walau tidak sering. Hal yang membuatku bertambah senang adalah Mb Y mulai membiasakan memakai kata aq setelah aku memanggilnya mb. Karena sebelumnya memakai kata Ibu.

Hari itu hpku berbunyi,"Kamu di mana Wan.." "Eh..halo Mb. Aku lgi di jalan..ada apa Mb?" "Emm..kamu punya temen pengacara?" "Banyak Mb..kenapa?" "Mb pingin ketemu sama temenmu". "Oh iya Mb..tak aturnya dulu ya. Nanti tak sms Mb". "Tak tunggu ya..makasih Wan.." Aku tidak mau mendesaknya untuk cerita tentang keperluannya bertemu temenku yang pengacara. Semoga bukan Mb Y yang sedang ada masalah. Dua hari kemudian aku sms,"Mb..temenku besok bisa ketemuan. Mau di mana?" "Di rumah temenmu aja. Jemput Mb ya.." "Tak sms dulu temenku, rumahnya mana". Kemudian balasan sms dari temenku masuk, menyebutkan alamatnya. "Alamatnya ini Mb..", aku sms Mb Y. "Lho..kebetulan. Rumah Mb juga deket situ". "Oh ya..enak kalo gtu Mb. Besok habis maghrib Mb". "Ya..jangan lupa jemput ya". "Ok Mb..sampai besok".

Jam 6.15 aku sudah sampai di rumah Mb Y. Ia memakai kaos lengan panjang model turtle neck, warna ungu, sedikit ketat, dengan celana jeans biru. Wah..baru kali ini aku melihatnya dengan dandanan ala anak muda. Biasanya Mb Y berseragam. Ia naik diboncengan dengan posisi miring. Speda motor aku jalankan pelan, karena aku tidak mau momen bersejarah ini cepat berlalu. Kami ngobrol sepanjang jalan menuju rumah temenku. Beberapa kali kami tertawa bersama. Terus terang aku merasa keadaan ini seperti saat berduaan dengan pacar. Lama kelamaan aku baru merasa ada sesuatu yang menyentuh belakang lengan kiri dan punggungku. "Apa tas tangannya Mb ya..ah nggak. Tasnya kan di pangku. Berarti...", aku mulai tidak konsentrasi dengan jalanan. Sedetik kemudian baru aku ingat bahwa kaos Mb Y sedikit ketat dan dengan posisi memboncengnya yang miring berarti payudaranya yang aku rasa itu. Tongkat kebanggaanku mulai menggeliat bangun. Sebisanya aku tahan karena sebentar lagi akan sampai di rumah temenku. Walau mungkin temenku tidak memperhatikannya tapi daripada dia memikirkan yang tidak - tidak.

Kemudian Mb Y aku perkenalkan kepada temenku (K) sebagai saudara. K bertanya ada keperluan apa kepada Mb Y. Lalu dijawab bahwa suaminya telah melayangkan surat gugatan cerai padanya. Aku terkejut. Selama ini kulihat hubungannya dengan suami sepertinya tidak ada masalah. Aku maklum jika Mb Y tidak cerita padaku. Mb Y dan K aku biarkan berdiskusi tentang proses gugatan cerai tersebut. Sesekali aku menimpali pembicaraan. Sejam kemudian diskusi selesai. Kami berpamitan pada K. Mb Y membuka pembicaraan dalam perjalanan pulang,"Aku ada masalah sama suamiku Wan. Aku sendiri juga kaget. Kok tiba - tiba ngajukan cerai". "Yang sabar ya Mb..semoga cepet selesai dengan baik". "Iya..amin. Makasih ya..kamu baik sama aku". "Bukan apa - apa Mb. Selama aku bisa mbantu ya tak bantu". Mb Y memindahkan tangan kanannya yang semula berpegangan di pundakku ke pinggangku. Serrr..hati ini makin berdesir. Rasanya memang seperti pasangan sedang bercengkerama.

Selang seminggu kemudian aku sms,"Gimana Mb prosesnya..?" "Ya lanjut..mggu depan ktemu sama hakimnya". Minggu depan Mb Y yang sms aku,"Pengacara suamiku yang datang, dia ngg. Ya sudah klo maunya cepet. Aku juga ngg mau berlarut - larut". Aku balas,"Sabar ya Mb. Aku tetep kasih support & doa buat Mb". "Makasih ya Wan..kamu baik & perhatian sama aku". "Ya kan aku dari dulu perhatian & sayang sama Mb.." "Iya.." Beberapa hari kemudian aku sms,"Siang Mb..gimana kabarnya. Pengadilannya gimana?" Lama tidak ada balasan. Sore baru dibalas,"Aku lgi sakit. Kamis depan dipanggil lagi. Kamu jangan tanya - tanya lagi ya..sory". "Iya Mb..maaf klo keganggu". Kasihan Mb Y, jatuh sakit karena memikirkan kasus ini. Aku tidak bertanya lagi tentang kelanjutan proses cerainya.

Sebulan kemudian di hari Sabtu aku ke rumah Mb Y. "Siang Mb..", sapaku. "Eh..kamu Wan..sini masuk". "Belum pulang sekolah Mb anak - anak?" "Belum..nanti jam 5an". "Oo gtu". "Tumben kamu main.." "Nggak..pas lewat daerah sini terus mampir aja. Kebetulan Mb ada". "Iya..aku kadang klo Sab juga ada acara sekolahan". "Hehehe..untung ketemu". Kami ngobrol apa saja. Mb Y kadang menceritakan situasi keluarganya. Aku memposisikan diri sebagai pendengar, tidak mau mengorek pertanyaan lebih detil. Suaminya ternyata kena diabetes sejak 10tahun kemarin. Aku menggodanya,"Masih on Mb?" "On apa..?" "Ya on itunya..hi3". "Ah..kamu itu. Yaa sebulan max 2 kali aja. Aku juga nggak mungkin maksa tho..Lagian aku juga udah pisah rumah 5taun ini.", sempat kulihat kulit wajahnya yang putih bersemu merah kala kulontarkan kalimat itu. “Kasihan juga sih..emmm..Mb berarti sering sendirian di kamar nih..hehehe.” “Udah biasa sih..yaa gitulah. Mau nggak mau harus nahan”. “Nahan apa Mb..” “Yaa nahan hasratlah..” “Wah..sip..Mbakku masih sehat ternyata. Hasrat apa sih Mb..” “Iya..makasih. Yaa hasrat…eh..kok kamu nanya – nanya terus sih..” Mb Y makin memerah kulit wajahnya. Sedang aku hanya ketawa lebar dan nyengir. Hari itu tidak terjadi apa – apa. Aku juga tidak mau buru – buru, bisa berantakan total nanti.
Hari Sabtu minggu depannya aku ke rumah Mb Y lagi. Sejak dari rumah sudah kurancang strategi jika sikonnya memungkinkan. Ternyata Mb Y ada di rumah. “Apa niatku bisa terlaksana sekarang..ahh..liat nanti”, pikirku. “Nggak ada acara Mb?” “Siang ini nggak. Barusan aku dateng dari dispendik. Mau minum apa Wan..?” “Oo..gitu. Untung deh nggak ada acara. Terserah mau dibikinin apa Mb”. Siang itu Mb Y memakai baju kebesaran ibu – ibu jika di rumah, daster. Bertali kecil di pundak, berwarna pink berbunga – bunga, sedikit nrawang. Sekilas terbayang bh berwarna hitam dan cd warna putih. Aku menelan ludah. “Waow..mungkin hanya kebetulan Mb Y pake bh warna favoritku. Nrawang lagi dasternya. Duhh..bikin tongkatku mulai anget”, aku bicara dengan diriku sendiri. Mb Y kemudian ke ruangan dalam, mungkin ke dapur. Sebab kudengar suara gelas berdenting. ”Mb..di dapur ya..?” “Iya..aku di ruang makan sekarang”. “Hmm..sekedar menyilakan aku masuk atau…”, aku berperang dengan pikiranku. 5detik kemudian aku nekat masuk.
Mb Y sedang menuangkan sirup ke masing – masing gelas. Dia tidak memperhatikan aku yang sedang berkonsentrasi memandanginya. “Mb Y dari dulu memang nggak berubah. Kulitnya putih, seksi, ramping. Tangannya berbulu tipis – tipis”, pikirku. Saat menuangkan sirup sekilas terlihat bh-nya dari samping. Hati ini makin berdenyut tak beraturan. Pelahan kudekati Mb Y. “Pake es ya Mb..panas soalnya”. “Eh..ya iya tho..”, ia melirik sekilas padaku. Dengan memantapkan hati aku memutari tubuhnya dan memeluk dari belakang. “Eh..kamu ngapain..bikin kaget aja. Udah sana ke depan”, sambil meletakkan es berbentuk kotak dalam 2 gelas. “Maap ya Mb..habis kangen. Lama nggak ketemu bertahun – tahun”. “Huu..kamu itu. Udah sana..nanti ada yang liat”. “Dijamin nggak ada Mb..udah tak kunci pintunya”, aku makin merapatkan diri.
Kupeluk ia dengan 2 tanganku diperutnya. Karena waktu semakin berjalan, jika tiba – tiba anaknya datang dari sekolah. “Minum dulu ini..”, satu gelas disodorkan padaku. Kupegang dengan tangan kanan. Mb Y juga minum dari gelas satunya. Aku minum seteguk lagi, kuletakkan gelas dan kuputar tubuhnya. Mb Y menatapku dengan pandangan takut, ingin tahu dan bertanya; anak ini nekat juga. Kudekatkan wajahku dengan tangan kiri memeluknya dan tangan kanan memegang dagunya. Mb Y mulai gelisah, terlihat dari tatapannya dan geliat tubuhnya seakan ingin melepaskan pelukanku. Bibir Mb Y kubuka sedikit bawahnya. Kukecup lembut bibirnya. Matanya membelalak lebar, tak menyangka. Bibirku yang dingin karena meneguk es sirup tadi mengecup bibirnya 2 kali. Lalu kukecup lagi dan kualirkan pelan – pelan es sirup yang sudah kusimpan di mulutku dari tadi. Matanya makin melebar. Es sirup yang kualirkan ke mulutnya ditelan juga. Pelukanku makin kupererat. Mungkin dia sudah merasakan sesuatu yang mulai mengeras di celanaku.
Es sirup sudah habis kualirkan. Mata Mb Y sudah normal kembali. Kupeluk dengan dua tangan. Lalu kukecup pundak kirinya. Leher Mb Y sedikit bergerak. “Geli Wan..kamu mau apa sih. Kok tiba – tiba gini..”. Aku tak menjawabnya, hanya tersenyum. Ganti pundak kanan yang kukecup. “Geli ahh..ada apa sih..” “Karena aku sayang Mb dari dulu. Tetep cantik & seksi”. “Ah..gombal..pinter ngrayu ya ternyata”. “Kan emang kenyataan Mb..” Ia terdiam dengan senyum manis mengembang. “Makasih..aku juga sayang sama kamu..” “Makasih Mb..boleh aku lanjutkan perasaanku?” Mb Y diam. Dari tatapan matanya kusimpulkan tidak ada penolakan. Kubuka bibir bawahnya dan kugigit pelan. “Sshh..”, desisnya. Aku bersorak, ternyata Mb Y juga menginginkannya dan dia memang sudah lama tidak bercumbu. Kubelai rambut panjangnya. Kukecup kuping kirinya dan kutiup pelan. “Wann..geli ahh..” Tangan Mb Y mulai menunjukkan reaksi. Pinggangku dipeluknya erat. Tangan kanannya menahan kepalaku yang masih mengecup kuping kirinya. Ia menyusupkan kepalanya di samping kiriku. “Gelii Wann..”, nada suaranya mulai berubah manja. Tangan kanannya mengusap – usap belakang kepalaku.
Kupandang matanya dan kucium lembut bibirnya. Mb Y sudah tidak ragu lagi. Bibirnya juga menciumku. Makin lama ciuman kami makin panas. Suara kecipak bibir memenuhi ruang makan. Lidahku menerobos masuk. Mulanya ia tidak merespon. Mungkin suaminya tidak begitu cara menciumnya. Kutekan lidahku di langit – langit mulutnya. Pelukannya makin erat. Punggungku diusap – usap. “Ohh..”, suara wanita yang mulai horny sudah terdengar. Mb Y juga membalas. Ditekannya lidahnya di langit – langit mulutku. Kami saling mengulum lidah. Tangan kiriku mengusap – usap punggung lalu turun ke pantatnya. Tangan kanannya memegang kepalaku dan yang kiri mengusap – usap dadaku. Sesekali kusedot dalam – dalam lidahnya. Mb Y sedikit melotot. “Eemmphh..”. Hehehe..bisa kehabisan napas nanti kalau kelamaan. Sekarang dua tanganku meremas lembut dan sesekali kuremas kuat. Mb Y kubiarkan mencium habis bibirku. Lalu kudorong ke depan pantatnya. Kutekan – tekan di tongkatku yang masih tersembunyi. Dua tangan Mb Y masuk ke kaosku. Memutar – mutar pentilku, kadang dicubitnya. “Sakit Mb..” “Biarin..hukuman kamu nakal gini” “Yaa kalo Mb nggak mau ya gak papa..gimana..” Mb Y tidak menjawab. Tangan kanannya sekarang mengusap perutku.
Dua tanganku mengangkat bagian bawah dasternya. Hati ini makin berdetak kencang. Apa yang selama ini hanya khayalan sekarang bisa terwujud. Kulit pantatnya begitu mulus. Makin kuremas. 10 jariku menelusup cdnya. Sesekali kuelus pelan lubang belakangnya. “Sshh..ahh..gelliii masss..” Wah..makin meningkat ini. Sudah memanggil mas padaku. Kepala Mb Y disusupkan di dadaku. Dua tangannya meremas pantatku. Jari tengah kiriku kujalankan menuju belahan kemaluannya dari belakang. Kena..sudah basah dari tadi ternyata. “Ooughh..masss..kamu nakalll..” Pantatku ditekan – tekan ke kemaluannya yang masih tertutup daster. Kuturunkan pelan – pelan cdnya. Mb Y membantunya saat cdnya di pertengahan paha. Mb Y memandangku dengan sayu. Bibirku dikecup – kecup ringan. Tangan kirinya menyusup bagian belakang pinggangku. Mungkin ia masih malu dan menjaga gengsi jika berbuat lebih. Tangan kiriku meremas pantatnya dan yang kanan mulai mengelus pelan bibir bawahnya.
“Maasss..oohhh..” Pubisnya kelihatannya hanya sedikit. Great, pikirku. Cairannya makin deras kurasa. Kutekan – tekan jari telunjuk dan tengah ke bibir dalamnya. Geliat tubuh Mb Y makin menjadi. Tangan kirinya berusaha masuk ke belakang pantatku. Jelas susah karena aku pakai jeans. “Buka aja Mb celanaku..”, aku berbisik di kuping kanannya. Mb Y menatapku sejenak. Retsluiting celanaku dibuka. Perlahan diturunkan sebatas bawah pantatku. Jari tengah kananku menggosok – gosok kemaluannya. “Ooughhh..”, desis Mb Y. Leherku dikecupnya. Kumasukkan dua ruas jari tengahku ke belahannya. Aku makin dipeluk erat. Tangan kirinya meremas pantatku. Tangan kanannya menyentuh malu – malu tongkatku. Perlahan kukeluar masukkan semua jari tengah kiriku. “Eemmphh..mmass..” Tongkatku sudah diremasnya walau masih terbungkus cd. Sedetik kemudian diturunkan cdku. Tongkatku digenggam erat. Kecepatan jariku di kedalaman kemaluannya tetap, tidak kupercepat. Tangan kiriku menjelajah ke atas dari balik daster. Kuremas pelan payudaranya bergantian. Tangan kanannya mulai menggerakkan tongkatku atas bawah. Kuhentikan tangan kananku untuk bergabung dengan yang kiri, membuka kait bh-nya. Tess..Dua tanganku meremas payudaranya. Tangan kirinya meremas pantatku kuat. Tongkatku digerak – gerakkan penuh perasaan. Mataku ditatapnya dalam – dalam.
Kukecup kening atasnya. Mata Mb Y menutup sejenak, seakan meresapi. Celana jeansku sudah turun hingga mata kaki. Aku melepasnya dengan berjingkat. Dilihatnya tongkatku. “Mas..penismu mantep juga kayaknya..” Dielusnya pelan – pelan. Sekujur tubuhku sedikit bergetar. “Makasih Mb sayang..” “Bagian pangkal dan batangnya kok nggak ada rambutnya?” “Dari dulu tak bikin gitu Mb..biar makin kerasa” Giliran bola – bolaku dielusnya. Jari tengah kananku kembali mengusap dan menekan kemaluannya. Cairan kasih sayangnya makin membasahi tanganku dan paha dalamnya. Kaosku dilepas. Kuusap – usap punggung mulusnya. Pentilku bergantian disedot dan sesekali dimainkan dalam mulutnya. “Emmm..”, gumamku. Kini tali bh-nya kuturunkan bergantian. “Mas..di sofa situ aja ya..”, pinta Mb Y sambil menunjuk sofa yang ada di ruang makan, tempat menonton teve. Aku berjalan telanjang bulat di belakang Mb Y, dengan tongkat yang sudah benar – benar keras. Sedang payudara dan pantat Mb Y terlihat membayang.
Dua tanganku digenggamnya. Lalu aku dipeluk erat,”Aku juga sayang kamu mas..” Tubuhku didorongnya pelan untuk duduk di sofa. Rambut Mb Y disibakkan yang kanan. “Ooughhh..mbbakk..” Mb Y mengenggam dengan tangan kanan dan mengecup kepala tongkatku. Kami benar – benar seperti sepasang kekasih. Batangku sekarang yang dikecup. Kuelus – elus rambutnya. Kuping kanannya sesekali kuremas pelan. Lalu bola – bolaku yang dikecup. Dari bola – bola, lidahnya menyusuri ke atas. Aku memejamkan mata, meresapi. Sampai di kepala tongkat, lidahnya memutari, dikecup – kecup. Dimasukkan pelan – pelan ke mulutnya. “Mbbaakkk..emmhhpp”, sambil kuremas rambutnya. Hanya sampai setengah batang yang dimasukkan. Kemudian dikeluar masukkan selama 1menit. Mata Mb Y semakin sayu saat menatapku. Kuangkat kepalanya. Aku beringsut maju dari dudukku. Kuberdirikan tubuh Mb Y. Ia masih belum mengerti. Kuangkat bawah dasternya. Lalu kupegang pinggangnya agar maju. Rambutku dielusnya mesra. Kemudian kususupkan kepalaku ke bawah dasternya. Kujilati bibir bawahnya. “Ahhh..mmaasss..jorokkk..” Aku tak menjawab. Pantatnya kupegang erat agar tak lepas.
Kuputari bibir dalamnya dengan lidahku. Kadang kugigit pelan. Rambutku dijambaknya sedikit keras. Kususupkan lidahku makin dalam. “Arrghh..”, erangnya. Cairan Mb Y semakin deras. Kutelan semuanya. “Kamu pinterrr mmaasss..” Tiba – tiba kepalaku ditarik keluar. Lalu tubuhku didorong untuk kembali bersandar. Aku beringsut mundur. Mb Y lalu duduk di pahaku dengan mengangkat bawah dasternya. Dipegangnya tongkatku lalu diposisikan di lubang kemaluannya. Pelan – pelan tubuhnya diturunkan. Kepalaku dipegang erat,”Mmass..oohhh..” “Mmbbakk..eemmm..” Mb Y diam sejenak. Kulihat sebentuk air mengalir dari matanya. Kupeluk erat punggungnya. Kukecup bibirnya. “Kenapa Mb..sakit..?” Pipi kirinya ditempelkan di pipi kananku. Ia menggeleng pelan,”Nggak mas..sudah lama aku nggak merasakan kenikmatan ini. Dan mas pinter mainnya..” “Maafin ya Mb kalo Mb ngrasa aku udah kurang ajar. Makasih Mb sudah mengabulkan keinginanku”. “Aku juga terima kasih mas..nyaman rasanya kamu peluk begini”. 5menit kami berpelukan dengan tongkatku sudah di dalam kemaluannya. “Cup..cup..udah..jangan nangis lagi ya Mb..” “Iya mas..”, diciumnya dalam bibirku.
“T***k Mb enak..anget dan masih rapet”, candaku. Mb Y. “Huu..jorok kamu mas..hehehe. K***l mas juga mantep. Keras dan mentok” Mb Y ganti membalas gurauanku. Pinggangnya kupegang erat dan kumaju mundurkan. “Mmasss..ooughhh..”, dengan kepalanya yang mendongak dan punggung yang melengkung ke belakang. Mb Y mengimbangi dengan memutar pinggul dan menaik turunkan tubuhnya. Kami saling menatap mesra. Pipi kiri kananku dielus – elus. Daster bawahnya kuangkat dan kulepas. Mb Y membantu dengan mengangkat dua tangannya dan melepasnya sendiri. Benar dugaanku. Payudaranya masih lumayan kencang, sedikit turun. Pentil – pentilnya tidak begitu besar, warna coklat, areolanya juga sama. Kudorong punggungnya ke depan. Aku mulai mengecup pentil – pentilnya. Bergantian kujilat, kuputar – putar dengan lidah. Kepala dan rambutku diremas – remas. Pentil kanannya kusedot kuat. “Kamu kok pinter sih masss..” Sekarang yang kiri kusedot kuat. Dua mataku diciumnya lembut.
Mb Y sekarang yang aktif. Ia bergoyang ke atas bawah, maju mundur, kiri kanan. Aku hanya mengelus – elus punggung dan pantatnya. Desah, teriakan kecil dan dengus napas kami menggema di ruang teve. Mb Y sekarang bertumpu pada dua pahaku. Pinggangnya naik turun. Rambutnya tergerai ke belakang. Mulutnya sedikit terbuka dan mata yang terpejam. Tangan kiriku menopang punggungnya. Jempol kananku menggosok – gosok kelentitnya. Gerakan naik turun Mb Y makin kuat. Dihentakkannya ke bawah,”Ooohh..mmaassss..” Kupegang erat punggungnya. Terasa semakin hangat tongkatku. Rupanya ia orgasme. Kuletakkan kepalaku di perutnya. Kepalaku dipeluknya dan dielus – elus. “Makasih mas..aku dapet kebahagiaan lagi darimu..” “Sama – sama Mb..aku seneng kalo Mb bisa puas” Kami masih berpelukan erat. “Mas belum keluar ya?” “Belum Mb..Mb yang dibawah ya sekarang..” Keningku dikecup, lalu Mb Y turun dari tubuhku. Ia berbaring di sofa dengan kepala di sandaran pinggir.

Kami berciuman dalam. Tangan kanan Mb Y mengurut – urut tongkatku. “Masukin mas sekarang..ayooo..” “Apanya yang tak masukin Mb..?” “K***l mas ini...” Aku tersenyum nyengir. Dengan tak sabaran dipegangnya tongkatku. Aku menurunkan dan memajukan tubuhku. Pelan kumasukkan tongkatku. Tangan kiri Mb Y menggapai kepalaku lalu mencium bibirku. “Aku sayang kamu mas..” “Aku juga sayang Mb..” Kudorong hingga mentok tongkatku. “Eemmpphh..oohhh” Sedetik kemudian kutambah kecepatan dan daya dorongku. Tubuh Mb Y terlonjak – lonjak. Pantatku dipegang erat. Aku menumpukan diri pada dua sikuku. Paha Mb Y dirapatkan. Suara kecipak paha dan air kenikmatan kami semakin memenuhi udara. Tangan kiri Mb Y memegang kepalaku dan yang kanan mengelusi punggungku. “Oohh..ooohh..oohh..”,suara Mb Y. Kusedot kuat pentil – pentilnya bergantian. “Mmaass..akkuu mauu keluarr lagiiii...” “Tunggu Mb..akuuu juggaa mauuu keluarrr..” Dua tangannya mencengkeram pantatku kuat – kuat dan didesakkan hingga tak ada ruang antar kelamin kami. “Mmaasss...oouuffsstttt..” Aku bergerak naik turun maju mundur lagi. Kuhujamkan sedalam – dalamnya. Tubuhku ambruk di atasnya dan bibirnya kusedot kuat. “Mmbbaakkk..ooohhh...eeemmmm..” Kepalaku kuletakkan di payudaranya. Rambut dan punggungku dielus – elus. Rambut dan pipi Mb Y aku elus – elus. Cukup lama kami berdiam. Aku mendongakkan kepala dan kucium lembut bibirnya. “Makasih Mb..aku bahagia sekali..” Mb Y tersenyum manis,”Aku juga bahagia mas..makasihh sekali..” Kecupan – kecupan ringan dan saling tersenyum masih menghiasi ruangan teve.

Popular posts from this blog

Guruku Liar Sekali

Ini pengalaman kencan seksku sebelum aku mengenal internet, tepatnya ketika aku masih duduk di bangku SMA. Sedang teman kencanku adalah seorang guru seni lukis di SMA-ku yang masih terbilang baru dan masih lajang. Saat itu umurku masih menginjak 19-20 tahun. Sedang guru lukisku itu adalah guru wanita paling muda, baru 25 tahun. Semula aku memanggilnya Bu Guru, layaknya seorang murid kepada gurunya. Tapi semenjak kami akrab dan dia mengajariku making love, lama-lama aku memanggilnya dengan sebutan Mbak. Tepatnya, Mbak Yani. Mau tahu ceritanya?

*****

Sore itu ada seorang anak kecil datang mencari ke rumah. Aku diminta datang ke rumah Mbak Yani, tetangga kampungku, untuk memperbaiki jaringan listrik rumahnya yang rusak.

"Cepat ya, Mas. Sudah ditunggu Mbak Yani," ujar anak SD tetangga Mbak Yani.

Dalam hati, aku sangat girang. Betapa tidak, guru seni lukis itu rupanya makin lengket denganku. Aku sendiri tak tahu, kenapa dia sering minta tolong untuk memperbaiki peralatan rumah t…

ISTRI BINAL

Namaku Kevin berumur 33 tahun, dan istriku bernama Risnawati 29 tahun, dia selalu membuatku merasa bangga karena memilikinya. Ya bangga karena semua pria akan berhasil dia paksa untuk menolehkan kepala jika dia lewat dihadapan mereka. Aku selalu merasa bergairah bila melihatnya mengenakan pakaian sexy, terlebih bila pakaiannya bisa dibilang sangat sexy untuk mengundang beribu pria menelan ludah karena melihatnya.

Tiga Wanita Satu Lelaki

Namaku Jackie dan tentunya bukan nama asliku. Aku adalah pria yang kurang beruntung, karena sudah dua kali ingin berniat untuk berkeluarga dan dua-duanya gagal. Aku berasal dari Indonesia, tapi sudah lama sekali tinggal di negerinya "kanguru". Dan atas saran teman-teman, maka aku mensponsori seorang cewek dari Indonesia dengan niat untuk menikah. Tapi setelah wanita itu mendapatkan izin tinggal tetap di negeri ini, wanita itu meninggalkan aku. Begitu juga dengan yang kedua, yang berasal dari Amerika Latin. Nah, karena rumah yang kumiliki ini mempunyai dua kamar dan karena aku hanya tinggal sendiri sekaligus sudah kapok untuk mencari pasangan lagi, maka kamar yang satunya aku sewakan pada seorang pelajar (cowok) dari Jepang. Namanya Gamhashira. Gamha yang playboy ini sudah dua hari pulang ke negerinya untuk berlibur setelah menamatkan SMA-nya.

Pada suatu sore di hari libur (liburan dari kerja) aku buang waktu dengan main internet, lebih kurang satu setengah jam bermain inter…