Skip to main content

Oca Yang Membara


rayakanlan
Semprot Lover
UG-FR+
Thread Starter

Daftar
16 Sep 2014

Post
239

Like diterima
98

10 Aug 2015

#1

Kesamaan nama tokoh dan latar adalah ketidaksengajaan. Ini hanyalah fiktip belaka.
Seorang pemuda kuliah bernama lengkap Geri Ardian, panggil saja Geri. Usianya 21 tahun, tinggi 170 dan berat proporsional, Tinggal di sebuah rumah kosan berisi enam kamar, tiga kamar mandi, dapur dan memiliki ruang tengah serta garasi. Salah satu penghuni rumah tersebut adalah Oca seorang pekerja pabrik di sekitar daerah sana. Geri sedang berada di kosan seperti biasa, dia sedang menjalani hari tenang sebelum ujian akhir semester, selain diisi dengan belajar Geri juga menonton televisi di tengah rumah dan tidur di kamar. Penghuni lain kosan sedang pulang ke kampung halaman masing-masing, sehingga hanya tinggal Oca dan Geri yang berada di rumah kosan itu.

Saat itu hari Sabtu tidak biasanya Geri bangun pagi, Geri keluar kamar menyeduh jus jeruk di dapur dan menuju sofa untuk menyalakan tv, dari arah kamar mandi satu, terdengar suara orang selesai mandi dan membuka pintu, ternyata Oca yang hendak berangkat bekerja baru saja selesai mandi,

"Mau gawe Ca?" tanya Geri yang sebenarnya cukup kaget melihat Oca yang hanya memakai handuk melingkar untuk menutupi badannya dari dada sampai paha, dan handuk lainnya yang rambut.
"Iya Ger, disuruh masuk setengah hari. Kamu tumben udah bangun?" jawab Oca yang kemudian aneh melihat Geri sudah bangun.
"Biasa Ca, tadi mantan aku nelpon, ngajak ketemuan." seru Geri dengan pelan.
"Cie, CLBK nih ye." sindir Oca sambil menuju kamanya.

Oca yang seusia dengan Geri, sudah memiliki pacar. Biasanya pacarnya mampir tiap Sabtu malam. Geri sendiri secara status tidak punya pacar, dia baru putus setelah kisah cintanya hanya berlangsung kurang dari sebulan. Geri jarang melihat Oca tampil seperti tadi, biasanya Oca memakai handuk yang menutupi semua bagian tubuhnya. Untuk sesaat Geri membayangkan kulit putih Oca yang tadi nampak dibagian kaki dan bagian atas dadanya. Geri mengira tinggi Oca sekitar 165cm dan berat ideal untuk seorang gadis seusianya, dengan pengalaman Geri menonton film biru, Oca memiliki ukuran payudara sekitar 32B. Sementara Geri membayangkan Oca, dari kamar Oca keluar dengan wangi khas perempuan sudah siap bekerja.

"Aku berangkat ya Ger."
"Iya, iya, iya Ca" Geri menjawab dengan terkaget.
"Jangan melamun mulu, tar gila lho." kalimat terakhir Oca sambil keluar rumah kosannya.
Geri pun beristirahat sampai siang hari, diisi dengan membaca buku dan menonton TV, tidak lupa mandi. Sekitar jam satu siang, saat Geri hendak ke warung nasi, Geri melihat pertengkaran Oca dengan pacarnya.
"Pokoknya lho jangan muncul lagi di depan mata gua." teriak Oca menunjuk pacarnya, tentu sekarang adalah mantannya, Oca pun menutup gerbang depan dan berlari memasuki rumah, tanpa sempat menyapa tapu hanya sekali menatap Geri sesaat. Mantan pacar Oca pun berangkat dengan motornya menjauh dari rumah tanpa ucapan apapun.

Geri yang melihat situasi seperti itu hanya bisa diam. Karena lapar Geri segera menuju warung nasi. Setelah selesai makan Geri membeli cemilan di toko swalayan. Cemilan yang biasa untuk dimakan saat Sabtu malam. Sekembalinya ke rumah. Geri mendengar teriakan-teriakan dari kamar Oca. Geri tidak berani menegur. Takut terjadi salah paham, apalagi Oca sedang marah besar.

Geri hanya bisa diam di kamar sambil menonton film melalui laptopnya. Setelah selasai meninton film, sekitar jam empat sore, Geri menuju ke sofa untuk menonton tv. Setelah duduk Oca keluar dari kamarnya dengan menggunakan pakai terusan, yang nya menutupi badan sampai paha saja. Sehingga Geri bisa melihat paha Oca yang putih mulus. Tapi mata Oca nampak lebam, karena pasti menangis sedari tadi. Oca menuju ke gerbang mengunci gerbang dan pintu utama. Oca kemudian menghampiri Geri dan duduk di sebelah kiri Geri dan mengambil alih remot tv.

"Ger, ga ada acara seru nih?!"
"Ya baru juga aku duduk Ca, remot udah kamu pegang juga."
"Maaf, ya tadi gue teriak teriak di kamar, pasti lo keganggu ya dengan teriakan gue."
Geri kaget karena Oca jadi memakai kata ganti Gue lo dalam percakapan.
"Oh ya ga apa kok Ca, santai aja, aku tadi juga sambil nonton film pake headset kok."
"kaku amat sih lo Ger, gua lo aja lah, ga usah aku kamu, kita udah kaya sodara ini kok. Lo juga udah biasa kan ngomong gitu."
"Iya sih Ca, gue juga biasa ngomong gua lo sama temen di kampus."
Kemudian tv dimatikan oleh Oca, dan Oca sedikit meloncat dan menatap Geri. Geri terkaget, dan menatap balik Oca.
"Ger, lu tadi pagi asyik banget liatin gua habis mandi. Lu demen ya ama gua?"
Geri terasa tersambar seketika mendengar Oca mengucapkan kalimat tersebut. Geri bingung harus menjawab apa. Geri terdiam.
"Iya sih Ca, lu putih banget."
"Kalau suka lo boleh kok pegang, gua ga akan nolak, ga kaya mantan cowo gua! yang gua tawarin malah nolak."

Dari situ Geri tahu kenapa kejadian siang terjadi. Pacar Oca menolak untuk bercinta dengannya. Kemudian tangan Geri dicengkram kuat oleh tangan kiri mungil Oca, diarahkannya tangan Geri menuju paha kanan Oca yang terpampang di atas sofa. Geri merakan kelembutan kulit Oca, walau Oca hanya buruh pabrik. Ternyata dia pandai merawat diri sampai kulitnya lembut.

"Gimana Ger, lo mau nolak atau lanjut?" Tanya Oca sambil mendekatkan mukanya ke muka Geri tanpa melepas pegangan ke tangan Geri. Bercinta bukanlah pengalaman asing bagi Geri, dia sering menonton film biru dan pernah melakukan pelukan-pelukan mesra bersama mantan pacarnya tanpa busana tapi tidak sampai memperawani wanitanya. Kemudian Geri memajukan mukanya dan mencium bibir Oca lembut.

"Jangan disini Ca, di kamar aja." Geri berucap seperti itu selepas ciuman pertama dengan Oca. Dia pun langsung menarik Geri menuju kamarnya. Kemudian Oca memeluk Geri erat dan berusaha berciuman kembali. Mereka berciuman begitu panas, mereka melakukan French kiss begitu lama. Napas mereka saling memburu. Oca pun mulai mendesah
"puasin gua Ger."

Suara itu yang terdengar dibalik deru nafas Oca. Tangan Oca mulai bergerilia berusaha melepas celana Geri. Geri yang erat memeluk Oca, pelukan tangan Geri melalu sela ketiak Oca mengacak rambut sebahu Oca yang tebal tanpa melepas ciuman mereka. Oca berhasil menurunkan celana Geri sampai terlihat penisnya yang sudah menegang menantang. Terperangah sesaat Oca melihat penis Geri yang cukup besar,

"Gede Ger." Oca tersenyum dan mendorong Geri sampai terduduk di pinggir kasur. Oca melepas celana Geri dan melemparnya ke pojok kamar. Kemudian Oca meraih penis Geri dan mulai melakukan pijatan naik turun mengunakan tangan mungilnya, cairan bening mulai keluar dari penis Geri. Lalu Oca melakukan blowjob. Mulutnya penuh dengan penis Geri, dengan tatapan nakal Oca menatap Geri sesaat yang sedang menikmati sensasi permainan Oca yang membuatnya melayang. Geri berkali-kali terbaring dan duduk di pinggir kasur melayani blowjob Oca. Oca bangkit dan mendorong Geri sampai badannya berada di kasur seutuhnya, perlahan Oca membuka kaos Geri dan ternyata Oca tidak memakai celana dalam. Oca menatap muka Geri dalam.

"Ger, pokoknya lo puasin gua sekarang, sekarang girilan lo." Oca menaikan gaunnya dan memposisikan selangkangannya di atas muka Geri dengan bertumpu pada lututnya. Wangi kewanitaan tercium dari vaginanya. Geri mulai menciumi vagina Oca. Lidahnya bermain mencari klistori Oca.
"aaah iya Ger, terus jilatin itil gua. Aah"
Kata itu teucap diantara desahan Oca. Kemudian Oca melepas dressnya sehingga dia telanjang sekarang. Oca meraih penis Geri dan membalikan badannya. Sekarang mereka dalam posisi 69. Tangan Geri berusaha memposisikan agar vaginanya tepat ketika dia jilati. Oca pun kembali melakukan blowjob pada penis Geri.
"Ger Ger Ger, gua sampai Ger... Aaaaaashhhuhuhuhu."

Dengan teriakan panjang Oca meraih orgasme pertamanya dan tubuh Oca terkulai lemas.* Muka Geri dibasahi cairan vagina Oca dan wangi has membuat Geri semakin bergelora. Geri berutumpu pada lututnya denga memposisikan penisnya di depan pantat Oca. Geri meraih pantat Oca dan tangan Oca mengarahakan penis Geri memasuki vagina Oca. Sesaat Oca menggesekan kepala penis Geri, dia langsung menekan, bless, masuklah penis Geri ke Vagina Oca. Geri maju mundur memompa vagins Oca.
"gila lo Ger, enak banget, gede banget kontol lo Ger."
Oca mulai liar menerima sodokan Geri.

"enak hah, enak kan gua sodok gini. Kenapa ga dari dulu lo ngajak gua ngewe, Ca."
Sambil tetap memompa, Geri meraih payudara Oca dan meremasnya.
"Iya Ger, terus Ger, kita ngewe terus dari sekarang Ger."
Setelah sekitar lima menit memompa dengan doggy style, Oca membaringkan Geri dan mengambil posisi woman on top. Oca mengarahkan penis Geri ke vaginanya. Ambles dan Oca memompa penis Geri. Geri memainkan dua payudara yang ada dihadapannya. Pompaan Oca semakin lama semakin cepat, dia meraih orgasme kedua.

"srett, plak, plok"

Suara aduan terdengar seperti itu. Oca pun mengerang dan mencium Geri dengan buas. Setelah lemas Oca dibaringkan oleh Geri, dia mengarahkan penisnya ke vagina Oca, posisi misionaris, man on top, dia memompa vagina Oca yang sudah becek,

"aaah ger, aahaha uh ger... Entot terus.. Gua ingin ngewe terus ger..."
Racau Oca, Geri tetap memompa dan mempermainkan temponya.
"Gua keluarin di luar yah?" tanya Geri.
"Di dalam aja, besok gua mens, di dalem aja Ger. Aaaahhah."
Geri mempercepat genjotannya.
"Gua mau keluar Ca.... Aaaaaaah"
"aaaaahhhhhhh.... Gua juga Ger."
Mereka berdua mencapai puncak orgasme bersamaan. Geri masih memompa menghabiskan semua spermanya. Geri terbaring disamping Oca, dia menjilat penis Geri, menghabiskan sisa sperma yang ada.
Setelah berbaring beberapa saat mereka beranjak dan membersihkan diri masing masing. Sabtu malam mereka habiskan dengan menonton tayangan sepakbola di tivi dan memakan cemilan yang tadi siang Geri beli.

Popular posts from this blog

Guruku Liar Sekali

Ini pengalaman kencan seksku sebelum aku mengenal internet, tepatnya ketika aku masih duduk di bangku SMA. Sedang teman kencanku adalah seorang guru seni lukis di SMA-ku yang masih terbilang baru dan masih lajang. Saat itu umurku masih menginjak 19-20 tahun. Sedang guru lukisku itu adalah guru wanita paling muda, baru 25 tahun. Semula aku memanggilnya Bu Guru, layaknya seorang murid kepada gurunya. Tapi semenjak kami akrab dan dia mengajariku making love, lama-lama aku memanggilnya dengan sebutan Mbak. Tepatnya, Mbak Yani. Mau tahu ceritanya?

*****

Sore itu ada seorang anak kecil datang mencari ke rumah. Aku diminta datang ke rumah Mbak Yani, tetangga kampungku, untuk memperbaiki jaringan listrik rumahnya yang rusak.

"Cepat ya, Mas. Sudah ditunggu Mbak Yani," ujar anak SD tetangga Mbak Yani.

Dalam hati, aku sangat girang. Betapa tidak, guru seni lukis itu rupanya makin lengket denganku. Aku sendiri tak tahu, kenapa dia sering minta tolong untuk memperbaiki peralatan rumah t…

ISTRI BINAL

Namaku Kevin berumur 33 tahun, dan istriku bernama Risnawati 29 tahun, dia selalu membuatku merasa bangga karena memilikinya. Ya bangga karena semua pria akan berhasil dia paksa untuk menolehkan kepala jika dia lewat dihadapan mereka. Aku selalu merasa bergairah bila melihatnya mengenakan pakaian sexy, terlebih bila pakaiannya bisa dibilang sangat sexy untuk mengundang beribu pria menelan ludah karena melihatnya.

Tiga Wanita Satu Lelaki

Namaku Jackie dan tentunya bukan nama asliku. Aku adalah pria yang kurang beruntung, karena sudah dua kali ingin berniat untuk berkeluarga dan dua-duanya gagal. Aku berasal dari Indonesia, tapi sudah lama sekali tinggal di negerinya "kanguru". Dan atas saran teman-teman, maka aku mensponsori seorang cewek dari Indonesia dengan niat untuk menikah. Tapi setelah wanita itu mendapatkan izin tinggal tetap di negeri ini, wanita itu meninggalkan aku. Begitu juga dengan yang kedua, yang berasal dari Amerika Latin. Nah, karena rumah yang kumiliki ini mempunyai dua kamar dan karena aku hanya tinggal sendiri sekaligus sudah kapok untuk mencari pasangan lagi, maka kamar yang satunya aku sewakan pada seorang pelajar (cowok) dari Jepang. Namanya Gamhashira. Gamha yang playboy ini sudah dua hari pulang ke negerinya untuk berlibur setelah menamatkan SMA-nya.

Pada suatu sore di hari libur (liburan dari kerja) aku buang waktu dengan main internet, lebih kurang satu setengah jam bermain inter…