Skip to main content

Sebuah Rahasia

“Aduh mantep banget nih ternyata bini temen gue, body nya mulus, rambut nya panjang, ya walupun toketnya sih gak gede-gede banget tapi pas lah kalau cuma sekadar buat di remas” gue berkata dalam hati saat melihat keindahan tubuh Mbak Mita sambil merekam dengan HP android yang gue pegang.
pantes aja temen gue sampe nurut banget kalo istri nya nelpon suruh balik, ternyata karena ini toh.

Pemandangan indah dan wangi harum sabun yang tercium dari tempat gue mengintip membuat gue sampai berfikir yang entah kemana arahnya seakan sudah terhipnotis oleh keadaan yang sedang gue lihat sekarang.

“Ngapain kamu!!!” “byyuuuur” Teriakan yang cukup keras terdengar dari dalam kamar mandi, dan dengan cepat tangan nya meraih handuk guna menutupi keindahan tubuh yang sedang tersuguhkan tepat di depan mata gue, di ikuti dengan siraman air yang tepat mengenai lubang angin tempat dimana gue ngintip.

Tanpa pikir panjang gue langsung lari dan melompati pagar tembok yang berada tepat di belakang rumah Mbak Mita, karena pagar tembok itu tidak terlalu tinggi, jadi dengan cepat gue bisa kabur, dan bersembunyi di dalam kebun yang cukup rimbun. Gue baru sadar kalau muka gue basah akibat air yang mendarat tepat di lubang angin itu.

Pintu belakang terbuka, dan Mbak Mita keluar dengan handuk yang meliliti tubuh indahnya di tambah dengan rambut panjang yang basah dan terurai begitu saja justru membuatnya semakin sexy “Siapa yang udah kurang ajar ngintip saya mandi, dasar bajingan” Mbak Mita berbicara sendiri dengan perasaan yang kesal.
Karena dari tempat gue bersembunyi gue masih bisa lihat paras cantiknya Mbak Mita, wanita yang terbilang ramah dan baik di lingkungan tempat gue tinggal.
“wah ini pasti sendal si bajingan itu nih, saya akan cari tahu siapa pemiliknya” dengan nada perkataan yang diselimuti perasaan yang masih membara dengan amarah, mbak Mita mengabil sepasang sendal jepit gue yang ketinggalan, sambil melihat sekeliling mencari siapa pelaku dan pemilik sendal yang sekarang sudah berada di tangannya.
“aduh gawat gimana nih kalo emang dia sampai tau kalo itu sendal gue” gue baru sadar kalo ternyata pas gue kabur dan bersembunyi gue lupa pake sendal, dengan perasaan yang cemas gue coba mengusap muka gue dari sisa air yang masih ada akibat siraman lambung dari Mbak Mita.

Mbak Mita pun berlalu masuk kedalam rumah lewat pintu belakang, dengan satu tangan menenteng sepasang sendal, dan tangan yang satu nya merapihkan sempilan handuk yang melilit di tubuh indahnya.

Setelah mbak Mita masuk, gue melihat sekeliling untuk benar-benar memastikan apakah ada orang atau tidak, jika ada orang dan curiga sama gue, kelar sudah semua urusan. Di tambah lagi cerita dari mbak Mita yang sebentar lagi pasti akan tersebar ke seluruh warga. Gue keluar dari kebun milik tetangga dan berjalan menyusuri jalan setapak menuju rumah dengan bertelanjang kaki di bawah keadaan jantung yang masih dag dig dug, dan suara-suara serangga yang terdengar bersorak-sorai karena aksi gue hari ini berakhir gagal.

Oiya perkenalkan nama gue Bary, gue tinggal di pinggiran Ibukota, umur gue 26 Tahun, dengan tubuh yang bisa di bilang kurus lah, tinggi gue 174Cm dan berat badan 54Kg. mbak Mita itu Istri temen gue, gue kenal mereka sejak mereka menetap dan menjadi tetangga gue, walaupun tetangga beda RT tapi jarak dari rumah gue kerumah nya hanya berjarak 8 rumah. mbak Mita ini cantik makanya gue betah kalo pas suaminya ngajak ngopi bareng di rumahnya, ya gitu lah kehidupan disini bisa dekat hanya karena segelas kopi, setiap kerumahnya selalu disuguhkan kopi kadang gue suka curi curi pandang ke mbak Mita, ya sebagai Lelaki normal pandangan gue gak akan bisa lepas begitu saja dari wajah nya yang cantik, cara berpenampilannya yang sangat feminim dan sedikit sexy, menjadi nilai tambah pada kecantikannya.

Ketika gue sampai di kamar, gue coba buka hasil video yang sempat gue rekam saat mbak Mita mandi, sungguh memang moment yang sangat indah, apalagi saat mbak Mita melepaskan daster nya dan terlihat sepasang payudara indah yang masih tertutup BH hitam, sangat kontras dengan kulit yang putih dan mulus. Apalagi ketika mbak Mita melepaskan celana dalamnya... sungguh momen yang sangat mendebarkan. “hahaha ini video ini bisa sangat menguntungkan buat gue” gue berdecap senang dalam Hati

mbak Mita mandi seperti biasa, tubuhnya sudah di penuhi oleh sabun, toket indahnya yang terus di usap dengan tangan kanannya dan tangan yang kirinya pun mengusap sabun yang menempel di sela-sela pantat nya, ketika mbak Mita merasa toket dan pantatnya sudah bersih dia pun berjongkok dan mulai membersihkan memek nya sambil sesekali di basahi oleh air yang di ambilnya dengan gayung, gue putar ulang berkali-kali saat dia berjongkok dan membersihkan sisa sabun di memeknya, sayang sungguh sayang karena gue hanya bisa nikmatinya dari layar HP dan tanpa sadar ternyata satu tangan gue udah berada dan mengelus-ngelus kepala kontol gue seakan tangan gue memberi isyarat “sabar yaaa, nanti juga kamu akan masuk ke lubang itu.”

Sedang asik menikmati adegan mandi, tiba-tiba layar HP gue berubah jadi gambar yang menandakan ada telpon yang masuk. “Bar, lo dimana ?” kaget bukan kepalang sampai-sampai hilang semua pikiran kotor yang ada di otak gue sebelumnya, ketika gue nerima telpon dan gue angkat yang ternyata adalah suami dari mbak Mita. Seketika kontol gue yang berdiri ngaceng tegak lurus pun langsung melemah seakan semua nya hilang dan tenggelam dalam palung yang dalam. “Woy bar, gimana jadi gak lo kerumah gue ??” belum sempat gue menjawab, dia sudah mengajukan pertanyaan lagi. “i-iyyaa Mas jadi, nanti gue kerumah lo. Lo udah balik emangnya ?” karena gugup akhirnya gue mengiyakan pertanyaan lelaki itu. “oke gue tunggu ya, soalnya gue gak bisa kerja nih kalo komputer gue mati begini” tambah penjelasan lelaki itu dalam telfon. “oke oke siap Mas Hardi” dengan tengan gue coba menyampaikan kalau diri gue siap untuk datang kerumah mas Hardi. “ok gue tunggu, jangan sampai enggak ya Bar” kata-kata terakhir yang terdengar dari Mas Hardi dan sambungan telfon pun terputus.

Mas Hardi adalah suami dari Mbak Mita, umur gue 8 tahun lebih muda dari umur nya. Mas Hardi tau kalo gue ini memang mengerti tentang perangkat-perangkat komputer makanya dia meminta gue untuk datang kerumahnya, tapi di satu sisi gue ragu kalau mbak Mita cerita tentang apa yang tadi sore terjadi, tapi karena sudah mengiyakan dan sekalian gue mau mencari tahu gimana kabar selanjutnya dari kejadian sore tadi.


Sore pun telah berubah menjadi malam, gue datang kerumah mas Hardi, rumah gue dan dia cukup dengan berjalan kaki, tapi rasa deg-degan akan kejadian sore itu membuat hampir separuh baju gue basah karena keringat.
“Mas Hardi.”
“oiya Bar, masuk Bar buka aja gerbang nya gak di konci kok” Mas Hardi menunggu gue di depan teras rumah nya, sambil bersantai.
“duduk Bar. lo bawa alat-alatnya kan Bar?”
“ya bawa dong” jawab gue santai sambil tersenyum dan meraih bantal yang di sediakan untuk duduk lesehan.
“Saaay,” Mas Hardi memanggil istrinya.
“iya Mas kenapa ?” Mbak Mita menghampiri sang suami yang memanggilnya. Sungguh seorang wanita idaman. Seketika mata gue langsung memandang liar seakan menelanjangi tubuh indah Mbak Mita karena kejadian sore tadi yang gue lihat. “biasa say, kopi hitam buat Bary” seru Mas Hardi ke istrinya, membuat lamunan gue hilang seketika. Tanpa berucap Mbak Mita pun langsung berlalu dan meninggalkan kami berdua. Tak lama berselang Mbak Mita pun kembali dengan membawa segelas kopi dan menyuguhkannya di meja tepat di depan gue duduk, ini adalah momen yang biasa gue liat ketika Mbak Mita meletakan kopi entah dia sadar atau tidak setiap dia meletakan kopi dengan cara membungkuk dan membuat lingkar leher di dasternya menjadi turun, justru saat itu pula toket indahnya selalu gue liat dari balik bajunya, ingin sesekali rasanya gue remas toket itu tapi apalah daya tangan tak sampai. Toket indah itu pun hilang dari pandangan bersama perginya Mbak Mita, namun pandangan lain pun muncul, pantat bulat yang tercetak bentuk celana dalam seakan memanggil-manggil untuk di nikmati seiring berjalannya Mbak Mita.


Kopi sudah habis dan Mas Hardi pun langsung mengajak gue ke ruang kerja di mana komputer nya yang mati berada disana. “ini Bar komputernya lo cek aja dulu ya” Mas Hardi memintaku untuk mengecek kondisi komputernya yang mati, dan tanpa menjawab langsung gue test untuk menyalakan komputernya ternyata memang ada masalah di ram nya. “Mas, ini ram komputer lo nih yang bermasalah” “terus gimana Bar ?” tanya Mas Hardi “kalo mau komputernya nyala malam ini ya lo harus beli ram nya dulu mas” jawab gue dengan memberikan ram yang bermasalah ke Mas Hardi. “ok lo tunggu di sini dulu deh ya, jangan kemana-mana soalnya gue lagi ada deadline,” pinta Mas Hardi “tuh tugas di kantor gue aja gue bawa semua” lanjut berkata dan memberitahu tugas yang berantakan di atas meja kerjanya.

Mas Hardi pun pergi untuk membeli ram karena dia sangat membutuhkan komputernya untuk menyala malam ini, dan gue masih tetap di ruangan kerja dia sambil membersihkan debu-debu yang ada di komputernya. Mas Hardi memang seorang yang sangat pekerja keras, semua telihat di meja Kerja nya yang sangat berantakan karena tumpukan-tumpukan kertas yang selalu di bawanya dari kantor, entahlah.... Wangi aroma therapy di ruangan ini sangat membuat gue nyaman, di tambah udara sejuk dari pendingin ruangan bikin betah berlama-lama disini, dari luar ruangan terdengar suara tv dan orang yang sedang tertawa. Komputer sudah bersih tinggal tunggu ram, dan gue menghampiri sumber ketawa itu.

“Seru banget kaya nya Mbak” gue mencoba membuka pembicaraan “eh Mas Bary iya nih mas, lucu habisnya, duduk mas” Mbak Mita menjawab dengan ramah dan memperisilahkan gue untuk duduk. Sungguh wanita yang ramah dan sempurna. Gue duduk di sebelah Mbak Mita dengan jarak yang di batasi oleh bantal sofa. Wangi harum tubuh nya pun kini tercium oleh hidung gue, Mbak Mita masih asik dengan serial TV yang seakan-akan lupa akan kehadiran gue di samping nya. Tiba-tiba gue ngerasa kaya ada yang aneh di celana gue karena posisi duduk Mbak Mita yang bersila di atas sofa membuat dasternya naik dan menyuguhkan paha indah nya. Paha mulus yang membuat gue seketika ngaceng gak karuan, seakan sadar karena pandangan mata gue yang memperhatikan paha mulusnya akhirnya Mbak Mita merubah posisi duduknya tanpa bicara. Spontan gue coba alihkan pandangan gue ke arah TV sambilsesekali curi curi pandang ke arah wajahnya yang cantik. “yah iklan, padahal lagi seru banget” dengan nada sedikit berteriak Mbak Mita membubarkan semua khayalan indah gue.

Wangi harum alami tubuh Mbak Mita seakan-akan memacu adrenalin di dalam tubuh gue untuk bisa mencicipi tubuhnya, dengan cepat gue langsung menyingkirkan bantal sofa yang membatasi kita berdua duduk, dan gue coba mendekati Mbak Mita dengan siasat mengambil cemilan di meja, Mbak Mita pun ngerasa biasa aja sampai pas tangan kanan berada di senderan sofa tepat dibelakang pundaknya, baru Mbak Mita mulai agak bergeser ke sudut sofa, “loh kenapa menjauh Mbak ?” gue bertanya untuk mencairkan suasana “gak enak aja Mas, soalnya kita cuma berdua doang dirumah” “kan enak kalo berdua doang Mbak” gue coba mulai menggoda Mbak Mita karena nafsu yang sudah mulai gak bisa di jegal, gue udah gak peduli siapa Mbak Mita ini, Siapa suaminya, ntah dia bakal menerima atau tidak intinya hari ini apa yang gue lihat harus gue rasakan dan gue nikmati. “sudahlah Mbak gak usah menjauh-jauh begitu” gue terus mencoba menggodanya “aku punya rekaman pas kamu tadi sore mandi loh Mbak...” “plaaaak” sambil berdiri dengan reaksi terkejut, sebuah tamparan mendarat di pipi gue “jadi kamu bajingan yang tadi sore ngintip aku?!” Keluar semua amarah yang sejak sore di pendam oleh Mbak Mita, “layani aku sekarang atau video ini akan tersebar ke media sosial” dengan tetap santai memegang HP dan mengeluarkan kontol gue yang sudah tegang karena adrenalin yang terpacu, gue coba mengancam perempuan yang saat ini mulai ketakutan “TOOOLLOOOO...” gue langsung berdiri dan membekap mulut Mbak Mita. Kini posisi Mbak Mita sudah berada di depan gue dengan posisi mulut yang terbekap oleh tangan kanan gue dan tangan kiri gue menahan satu tangannya di belakang punggung nya. “kalo kamu sampai teriak lagi aku akan membuat diri mu seperti orang yang tidak punya tujuan hidup” ancaman dengan nada lembut di telinga Mbak Mita membuat tenaga nya mulai melemah, gue lepaskan tangan kiri gue dari belakang punggung nya tanpa melepas bekapan di mulutnya, telihat jelas air mata mulai mengalir di pipi tirus nya, takut dengan ancaman yang gue berikan Mbak Mita pun kini mulai pasrah ketika tangan gue yang bebas mulai menyentuh dan meremas toket yang sebelumnya hanya bisa gue lihat. Gue bawa Mbak Mita duduk di pangkuan gue, tangan kanan yang gue gunakan untuk mebekap mulut Mbak Mita kini mulai bermain di area paha yang mulus.


Karena Mbak Mita hanya menggunakan daster, dalam waktu singkat salah satu tangan gue pun kini sudah berada di mulut surga yang masih tertutup dengan celana dalam. Sedangkan tangan gue yang satunya terus bermain di toket dan sesekali menghapus air mata yang masih belum bisa berhenti menetes, dari sepasang mata wanita cantik yang kini sudah luluh dengan ancaman dan suasana. Mbak Mita hanya menangis nyaris tanpa suara, mungkin karena tangan kanan gue yang masih melingkar di perutnya sambil memainkan mulut surga yang kini mulai basah. Aroma tubuh Mbak Mita yang sangat harum membuat gue makin bersemangat untuk memluai langkah awal menaklukan istri temen gue ini, dengan kedua tangan yang terus mengeksplor bagian-bagian sensitif Mbak Mita, mulut gue pun ikut bergriliya di area leher jenjangnya. Sesekali terdengar desisan-desisan lirih dari bibir tipisnya seakan menandakan betapa hancurnya pertahanan yang sudah ia jaga, tangan Mbak Mita kini mulaimengikuti gerakan tangan gue yang sedang bermain dari luar celana dalamnya. Semakin liar tangan gue bermain semakin sering juga desahan indah bagaikan harmoni nafsu yang sudah berada pada puncaknya. Gue hentikan semua permainan tangan gue. “kenapa berhenti Mas ? ini kan yang Mas Bary mau ??” sambil menoleh kearah gue “aku sudah tidak peduli Mas dengan apa yang Mas Bary lakukan,” dengan tatapan penuh harapan “asal kan Mas Bary janji tidak akan menyebarkan video ku publik” Mbak Mita meminta gue untuk berjanji dengan suara lirih. Tanpa kata-kata dan karena tergoda dengan bibir tipisnya, dalam hitungan kurang dari satu detik kini gue dan Mbak Mita saling berciuman. Karena nafsu benar-benar sudah berada pada puncaknya dengan cepat gue buka celana dalam Mbak Mita, gue rubah posisi duduknya agar menghadap ke arah gue, gue tatap matanya dalam-dalam sebagai isryat kalau kontol gue akan masuk ke lubang surga yang sudah sangat basah.

Mbak Mita menarik nafas panjang bersaman dengan gerakan kepala menghadap ke atas dan mata yang terpejam seakan bersandar pada kenikmatan saat kontol gue masuk seluruhnya ke dalam memeknya yang terasa sangat licin dan sempit, gue biarkan kontol gue di dalam memeknya beberapa saat untuk menikmati hangatnya isi memek Mbak Mita. Tanpa Baju yang gue buka dan celana yang hanya gue turunkan selutut gue mulai menggerakan pinggul dan mencoba memberi kenikmatan lebih pada Mbak Mita, desahan yang keluar dari bibir tipis nya seirama dengan gerakan kontol gue yang terus gue pompa keluar masuk dengan ritme sedang. Sensai bercinta dengan orang selain suaminya yang mungkin belum pernah Mbak Mita rasakan membuatnya seperti orang yang kehausan akan sebatang kontol perkasa, nafas nya pun kini mulai lebih tak beraturan bagaikan orang yang sedang berlari di dalam lautan nafsu. tubuh indah Mbak Mita bergetar hebat karena orgasme pertama nya, di iringi desahan panjang yang terdengar keras ditelinga gue “aaahhhh Maaasss aku, ahhhh...”. Tanpa peduli dengan lemasnya tubuh Mbak Mita, gue terus memompa kontol gue di memeknya dengan sangat cepat, dan membuat seisi ruangan hanya terdengar jeritan desah Mbak Mita dan suara khas selangkangan yang beradu. “aahhh ampun Mas Bary ampuuunn” Mbak Mita berharap agar gue segara menyelesaikan permainan ini, mendengar apa yang dikatakan Mbak Mita justru malah makin membuat gue menjadi lebih cepat memompa memeknya “aaah aah aah maaasss aku keluar lagiiii...”

Mbak Mita meraih orgasme kedua nya yang hanya berjarak kurang dari 2 menit, sampai-sampai gue harus memeluk tubuhnya agar tidak terjatuh kebelakang dan membuat gue menghentikan sodokan-sodakan yang diterima nya. Baju yang kita gunakan sudah kusut dan basah karena keringat, nampaknya ac pendingin diruangan ini tidak mampu mengalahkan hawa panas nasfu kita berdua, gue buka semua pakaian gue dan daster Mbak Mita, dan gue lepas juga BH yang menutupi toket mungilnya dengan posisi Mbak Mita yang masih di pangkuan gue dan kontol yang masih menancap di memeknya. Kini kita berdua sudah bugil tak ada satu pun benang yang menutupi tubuh kami. Gue cabut kontol gue dari memeknya, dan gue rebahkan tubuh mulus yang sudah nampak tidak berdaya hanya saja wajah cantiknya yang berkeringat dengan rambut panjangnya yang mulai basah semakin membuat gue tidak mau mengakhiri momen indah ini.

Gue arahkan kontol gue ke dalam surga dunia yang sudah mulai mengering dan terasa sangat kesat, dengan perlahan sambil sesekali gue gesek-gesekan kepala kontol gue ke itil nya agar cairan alami pelicinnya keluar, saat bibir memeknya sudah terasa basah dan bisa menerima kontol gue dengan sangat lancar, gue mulai pompa lagi memeknya dengan kedua kakinya yang rapat dan lurus sampai melewati tinggi kepala gue, posisi ini yang kadang membuat gue makin gila untuk menggauli wanita karena semakin di rapatkan kaki nya maka semakin sempit dan kencang jepitan di memeknya. Mbak Mita sudah memulai meracau dengan desahan nya, gue coba perhatikan wajahnya yang cantik dan gue nikmati tubuh nya dengan penuh nafsu yang sudah mulai tidak bisa di kontrol sampai-sampai gue harus lebarkan kedua kaki Mbak Mita agar bisa semakin cepat dan dalam gue menghujamkan kontol gue ke memeknya. Mbak Mita mulai memainkan toketnya sendiri dengan tangannya dan saat itulah gue merasa kalau gue sudah tidak sanggup lagi menjaga pertahanan di kontol gue, “aaah mas aah aaahh...” hanya kata-kata itu yang bisa gue dengar dari bibir tipisnya “aku mau keluar lagi maaass” pernyataan Mbak Mita seakan memecut gue untuk lebih cepat memompa memeknya “Maaass aku aaaahhhh...” “aku juga keluar Mbak” selesai sudah semua nya keluar pada saat bersamaan dan bersatu di dalam memek Mbak Mita.

Dan tubuh gue pun ambruk di atas tubuh Mbak Mita yang juga tak berdaya, gue biarkan kontol gue masih menancap di dalam memeknya sampai gue merasa kalau kontol gue sudah menciut di dalam sana, gue kecup kening Mbak Mita sebagai ucapan terima kasih karena sudah memberika surge dunia yang indah. “Mas Bary kamu janji ya, jangan sebarkan video ku” hela nafas yang panjang seakan menandakan betapa lega dirinya “semoga aku bisa hamil karena perbuatan mu ini ya mas” gue sangat kaget seraya Mbak Mita mengatakan hal itu “suami ku sudah divonis tidak akan bisa memberi ku anak mas” dengan wajah yang pasrah Mbak Mita melanjutkan perkataannya lagi. Gue hanya bisa terdiam mendengar semua perkataan nya, jadi ternyata ini toh alasan kenapa mereka belum mempunyai anak.

Rasa bangga karena Mbak Mita ingin memiliki anak dari gue, rasa malu karena mendengar aib teman sendiri, dan rasa bersalah karena gue menggauli istri teman gue. Semua campur aduk, gue cabut kontol gue yang makin menciut dari memeknya dan gue berdiri sambil memperhatikan Mbak Mita yang sedang bersandar dengan kepala yang tertunduk hampir di atas sofa, seakan dia merasa telah mengkhianati suaminya.

“Mbak aku minta maaf, karena tidak bisa menahan nafsu ku” dalam keadaan kita yang masih bugil gue duduk di samping Mbak Mita dan gue peluk tubuhnya. Mbak Mita hanya terdiam sambil menoleh ke arah gue dengan sedikit senyum yang melebar di bibirnya. “Sekali lagi aku minta maaf” “gak perlu minta maaf mas, aku bisa menerimanya kok” sahut Mbak Mita sambil mengarahkan kepala gue yang tertunduk agar menatap wajahnya “Pakai baju kamu ya mas, sebelum mas Hardi datang” Mbak Mita mengingatkan gue sambil dan mengakhiri perkataan nya dengan ciuman di bibir gue.

Popular posts from this blog

Guruku Liar Sekali

Ini pengalaman kencan seksku sebelum aku mengenal internet, tepatnya ketika aku masih duduk di bangku SMA. Sedang teman kencanku adalah seorang guru seni lukis di SMA-ku yang masih terbilang baru dan masih lajang. Saat itu umurku masih menginjak 19-20 tahun. Sedang guru lukisku itu adalah guru wanita paling muda, baru 25 tahun. Semula aku memanggilnya Bu Guru, layaknya seorang murid kepada gurunya. Tapi semenjak kami akrab dan dia mengajariku making love, lama-lama aku memanggilnya dengan sebutan Mbak. Tepatnya, Mbak Yani. Mau tahu ceritanya?

*****

Sore itu ada seorang anak kecil datang mencari ke rumah. Aku diminta datang ke rumah Mbak Yani, tetangga kampungku, untuk memperbaiki jaringan listrik rumahnya yang rusak.

"Cepat ya, Mas. Sudah ditunggu Mbak Yani," ujar anak SD tetangga Mbak Yani.

Dalam hati, aku sangat girang. Betapa tidak, guru seni lukis itu rupanya makin lengket denganku. Aku sendiri tak tahu, kenapa dia sering minta tolong untuk memperbaiki peralatan rumah t…

ISTRI BINAL

Namaku Kevin berumur 33 tahun, dan istriku bernama Risnawati 29 tahun, dia selalu membuatku merasa bangga karena memilikinya. Ya bangga karena semua pria akan berhasil dia paksa untuk menolehkan kepala jika dia lewat dihadapan mereka. Aku selalu merasa bergairah bila melihatnya mengenakan pakaian sexy, terlebih bila pakaiannya bisa dibilang sangat sexy untuk mengundang beribu pria menelan ludah karena melihatnya.

Tiga Wanita Satu Lelaki

Namaku Jackie dan tentunya bukan nama asliku. Aku adalah pria yang kurang beruntung, karena sudah dua kali ingin berniat untuk berkeluarga dan dua-duanya gagal. Aku berasal dari Indonesia, tapi sudah lama sekali tinggal di negerinya "kanguru". Dan atas saran teman-teman, maka aku mensponsori seorang cewek dari Indonesia dengan niat untuk menikah. Tapi setelah wanita itu mendapatkan izin tinggal tetap di negeri ini, wanita itu meninggalkan aku. Begitu juga dengan yang kedua, yang berasal dari Amerika Latin. Nah, karena rumah yang kumiliki ini mempunyai dua kamar dan karena aku hanya tinggal sendiri sekaligus sudah kapok untuk mencari pasangan lagi, maka kamar yang satunya aku sewakan pada seorang pelajar (cowok) dari Jepang. Namanya Gamhashira. Gamha yang playboy ini sudah dua hari pulang ke negerinya untuk berlibur setelah menamatkan SMA-nya.

Pada suatu sore di hari libur (liburan dari kerja) aku buang waktu dengan main internet, lebih kurang satu setengah jam bermain inter…